Gubernur Bali Siapkan Sekolah Terbaik untuk Siswa Miskin NTT

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Gubernur Bali Siapkan Sekolah Terbaik untuk Siswa Miskin NTT

22 January 2018

Kepala Ombudsman RI Perwakilan Bali Umar Ibnu Al Khatab, Uskup Denpasar Mgr. Dr. Silvester San, Pr, Gubernur Bali Made Mangku Pastika dan Ketua Komisi III DPRD Bali I Nengah Tamba saat menghadiri Nataru PENA NTT. (Foto: RN)
DENPASAR, Marjinnews.com. Gubernur Bali Made Mangku Pastika berjanji akan memberi kesempatan kepada siswa miskin asal NTT untuk melanjutkan pendidikan di SMA/SMK Bali Mandara. 

Pastika akan berkoordinasi dengan gubernur NTT untuk merealisasikan janjinya. Sekolah yang dirintis gubernur Pastika yang hanya berada di kabupaten Buleleng itu merupakan salah satu sekolah dengan kwalitas terbaik di Bali. Semua siswa tinggal di asrama. 

Bahasa pengantar yang digunakan adalah bahasa Inggris. Lulusannya sudah banyak yang bekerja di luar negeri. Tak ada sama sekali pungutan biaya kepada siswa. 

Namun, syarat untuk diterima di sekolah tersebut sangat ketat. Calon siswa harus berasal dari keluarga miskin. Untuk memastikan calon siswa tersebut miskin, Tim dari pemprov melakukan verifikasi langsung ke rumah calon siswa tersebut. 

Janji Pastika itu disampaikan saat menyampaikan sambutan pada acara Natal dan Tahun Baru Perhimpunan Jurnalis Bali asal NTT (PENA NTT-Bali) di Gedung Narigraha, Denpasar, Sabtu (20/1/2018) malam. 

“Tadi dikasih tahu sama ketua Ombutsman, bisa nggak anak-anak NTT yang miskin bisa masuk sekolah SMA/ SMK Bali Mandara. Saya bilang boleh, boleh. Nanti saya akan bicara sama Gubernur (NTT), saya akan bicara sama pak gubernur, berapa yang akan direkrut, berapa persen gitu dari NTT. 

Dari NTB juga harus harus ada,” kata Pastika. Saat masih berada di tempat duduknya sesaat sebelum menyampaikan sambutan, Pastika mengaku ditanya oleh putra NTT yang menjabat sebagai Kepala Ombudsman RI Perwakilan Bali Umar Ibnu Al Khatab, apakah membolehkan siswa miskin asal NTT mengenyam pendidikan di SMA/SMK Bali Mandara. 

Pastika menyanggupinya. Posisi duduk kedua tokoh ini saat berbincang tersebut mengapit Uskup Denpasar Mgr. Dr. Silvester San. Pastika mengatakan, kebijakannya membolehkan siswa miskin asal NTT dan NTB melanjutkan pendidikan di sekolah faforit tersebut, sebagai bukti persaudaraan antara Bali, NTT dan NTB. Tak hanya itu, menurut Pastika, hal itu juga merupakan hikmah natal. 

“Itulah bukti dari persaudaraan kita. Itulah hikmah natal hari ini saya kira. Kalau kita bicara damai, kita harus hilangkan amarah, kita tidak boleh iri, kita harus toleran, tidak boleh dendam, memaafkan, tidak boleh sombong, selalu rendah hati. 

Kita tidak boleh serakah, kita harus dermawan, sharing, berbagi dengan orang lain yang memerlukannya. Itulah jalan damai. Tanpa itu tidak ada damai di muka bumi ini,” ujar mantan Kapolda NTT ini. 

Menurut dia, harus ada keberpihakan kepada yang lemah, termasuk dalam hal kebijakan oleh pemerintah di bidang pendidikan. Pastika pun mengingatkan hal itu kepada utusan Mendikbud yang menghadiri Natal dan Tahun bersama PENA NTT. “Itulah keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” ujarnya. 

Pastika memberi contoh ketidakadilan dalam aturan mendikbud tentang penerimaan siswa SMA/SMK Negeri favorit di Bali, yang dilawannya. “Contoh di Denpasar. Sekolah menengah atas favorit hanya menerima anak-anak yang NEM-nya tinggi. 

Anak NEM tinggi pasti bapaknya punya duit. Pasti anak itu gizinya baik, pasti anak itu bisa les, pasti anak itu punya komputer, punya sarana belajar yang baik. Dan karena itu maka NEM-nya tinggi. Karena NEM-nya tinggi maka dia diterima di sekolah favorit, antara lain adalah sekolah Negeri. 

Dan sekolah Negeri itu yang gratis, sekolahnya dibayar oleh Pemerintah, alat belajarnya dibayar oleh Pemerintah, gaji gurunya dibayar oleh Pemerintah. Nah, anak-anak yang NEM-nya rendah, karena gizinya rendah, sangat tidak punya kesempatan belajar, karena tidak pernah les, karena tidak punya sarana dan prasarana belajar, dia tidak punya kesempatan belajar, disuruh orang tuanya membantu bekerja, dan sebagainya. 

Dan karena itu dia masuk sekolah Sewasta. Dan sekolah swasta yang gaji gurunya dibiaya oleh murid-murid tersebut. Jadi dia harus bayar, padahal orang tuanya miskin. Orang tuanya kaya, terhormat, sekolahnya gratis (di sekolah negeri). 

Anak sekolah yang miskin, terbelakang harus sekolah di sekolah yang kurang baik mutunya, dan harus bayar. Itukah keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia? Kita biacara Pendidikan, mohon kalau bapak ketemu, saya sebenarnya urusan ini sudah sempat bicara dengan bapak Joko widodo. 

Tidak ada keadilan di situ.Saya katakan keadilan sosial adalah keberpihakan kita pada yang lemah, kepada yang miskin, supaya dia terangkat. Kalau tidak ada action, dari pemerintah, tidak mungkin mereka bisa terangkat,” kata Pastika. 

Ia melanjutkan, saat menjadi Kapolda NTT, ia memprioritaskan untuk menerima putra daerah NTT. “Ketika sya menjadi Kapolda di NTT, walaupun cuma empat bulan, kebetulan ada penerimaan mahasiswa STM jadi Polisi. Apa yang saya lakukan, kalau putra daerahnya dibiarkan bersaing, dengan anak-anak dari Bali, dari Jawa, dari Medan, dari Makasar, mereka pasti kalah. 

Pasti kalah, paling tidak beberapa orang yang masuk. Itu paling tidak ada keberpihakan di situ. Apa yang kita lakukan, saya bilang kepada Kapolri, boleh saya merekrut 80% anak anak, putra daerah. Bagaimna caranya, saya turunkan indeksnya, dan saya suruh Kapolres untuk mengajarkan mereka sebelum ujian. Dan itu berhasil. 

Di Papua pun saya lakukan. Dari 600 Mahasiswa paling tidak 20, 30 orang anak yang masuk. Pada waktu saya, 500 anak Putra daerah yang masuk. Itu yg saya lakukan. Kuncinya adalah keberpihakan kepada yang lemah, yang miskin. 

Kuncinya itu. Itu adalah keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia,” katanya. Atas pertimbangan keadilan sosial itu, lanjut Pastika, ia memberi kesempatan kepada siswa miskin di Bali untuk mendapat pendidikan terbaik. 

Selain membangun SMA/SMK Bali Mandara, Pastika berani melawan keputusan Mendikbud, dengan mewajibkan SMA/SMK negeri di Bali menerima siswa miskin. “Itulah makanya anak-anak miskin di Bali saya sempatkan untuk mendapatkan sekolah yang terbaik. 

Saya agak-agak melawan sedikit surat keputusan Mentri kemarin. Saya langgar itu Bapak, saya katakan, SMK/SMA negeri harus menerima anak-anak miskin, walaupun NEM-nya rendah. Prioritaskan mereka. Jadi itu dilakukan, itu (pengelolaan SMA/SMK) kewenangan gubernur sekarang, itu sejak tahun 2017. 

Itu sudah dilakukan, itu sudah sangat baik. Bagi yang kaya silakan dia masuk ke Swasta, orang dia mampu kok bayar. Tidak adil orang miskin harus sekolah di sekolah yang bayar,” tegasnya. Pada kesempatan itu, Pastika menyampaikan apresiasi atas perjuangan PENA NTT yang berbuah peningkatan anggaran dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI untuk pendidikan NTT menjadi Rp400 Miliar lebih. 

Hanya saja menurut Pastika, perlu anggaran yang lebih besar lagi dari pusat untuk pendidikan NTT. “Saya kalau ketemu Pak Mentri, pasti saya akan sampaikan itu. Itu kurang itu. Kurang itu, betul kurang pak, kurang itu.

 Saya tau, karena saya waktu empat bulan saya menjelajah ke seluruh NTT. Saya datangi semuanya. Tadi ada sekolah-sekolah yang ada ditayangkan itu, lantainya tanah dan dindingnya beratap rubiah itu, gurunya juga mungkin asal-asal. 

Jumlahnya harusnya sepuluh mungkin jimlahnya hanya tiga. Anak dikasih bola kaki saja, mungkin main bola terus. Bagaimana bisa bersaing. Ini fakta, ini fakta. Nah tugasnya PENa harus tulis itu terus menerus,” kata Pastika. (RN/MN)