Gubernur Bali: Ciri-Ciri Orang Kena "AIDSS" Adalah Memonopoli Kebenaran

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Gubernur Bali: Ciri-Ciri Orang Kena "AIDSS" Adalah Memonopoli Kebenaran

22 January 2018

Uskup Denpasar Mgr Dr Silvester San, Pr (kiri) dan Gubernur Bali Made Mangku Pastika (kanan), usai menghadiri acara Natal dan Tahun Baru Bersama PENA NTT. (Foto: RN)
DENPASAR, Marjinnews.com. Uskup Denpasar Mgr Dr Silvester San, Pr, menyampaikan Pesan Natal dalam acara Natal dan Tahun Baru Bersama Perhimpunan Jurnalis Nusa Tenggara Timur (PENA NTT) Bali, di Gedung Nari Graha Denpasar, Bali, Sabtu (20/1/2018). 

Uskup secara khusus menggarisbawahi pentingnya kedamaian dan suka cita bagi semua umat manusia. Pesan Natal ini pun diapresiasi Gubernur Bali Made Mangku Pastika, dalam sambutannya pada acara tersebut. 

Menurut dia, apa yang ditekankan oleh Uskup Denpasar, adalah dambaan semua orang. "Betul yang dikatakan (Uskup Denpasar) bahwa kita semua bersaudara, harus selalu membagi suka cita dan kedamaian. 

Saudara - saudara sekalian, kita semua mendambakan damai. Tadi dikatakan, shanti shanti shanti, itu artinya damai damai damai," ucapnya. Menurut Pastika, tidak ada yang lebih penting dari umat manusia selain kedamaian dan sukacita. Semua manusia mendambakan itu. 

"Persoalannya adalah, seperti dikatakan Bapa Uskup bahwa banyak di antara kita perbedaan-perbedaan dan sebagaianya. Perebutan sumber daya, dan lainnya," tandas Pastika. 

Mantan Kapolda Bali ini menambahkan, untuk bisa berdamai maka terlebih dahulu dari diri sendiri, baru bisa berdamai dengan orang orang lain. 

"Kalau kita tidak bisa berdamai dengan diri sendiri, kita tidak mungkin bisa berdamai dengan orang lain. Bagaimana caranya agar bisa berdamai? Ini yang sering kita lupakan," tegasnya. 

"Yang jelas yang pertama adalah harus mengikuti ajaran-ajaran agama. Agama telah mengajarkan cinta kasih, toleran, kita semua bersaudara," imbuh Pastika. 

Menariknya, pada kesempatan yang sama, Pastika juga mengingatkan salah satu penyakit yang jauh lebih berbahaya dari AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome), yakni AIDSS. 

"Salah satu penyakit yang paling ditakuti yaitu AIDS. Tetapi bagi saya, AIDSS lebih berbahaya lagi bagi diri kita," ujarnya. Lalu apa itu AIDSS? "Pertama A, itu Amarah. Kedua I, itu Iri. Ketiga D, itu Dendam. Keempat S, itu sombong. Dan Kelima satu lagi S, yaitu Serakah," papar Pastika. 

AIDSS, lanjutnya, adalah penyakit yang lebih berbahaya dari AIDS, dan sebenarnya ada obatnya. "Bagaimana caranya menaklukan amarah kita? Bagaimana supaya kita tidak iri? Penyakit iri ini sudah sangat berbahaya. Orang lain naik pangkat, kita naik darah. 

Orang lain ganti mobil, kita ganti kulit, karena stres gatal semua, karena iri. Kemudian dendam. Dendam ini beranak pinak. Banyak sekali beranak pinak, kebencian, beranak juga kepada amarah, beranak juga kalau kita sudah dendam," urai Pastika. 

Yang tak kalah berbahaya menurut dia adalah penyakit sombong. Kadang-kadang merasa paling hebat sendiri, paling kaya sendiri, paling pintar sendiri. Semuanya merasa paling hebat. "Satu lagi, serakah. 

Sumber segala masalah di dunia adalah kebencian dan keserakahan. Manusia serakah, sering memonopoli kebenaran karena kita serakah. 

Serakah dengan harta benda, serakah dengan nama baik, serakah dengan kehormatan, serakah dengan kebenaran. Kita memonopoli kebenaran bahwa kita merasa paling benar, yang lain salah semua. 

Kita memonopoli kebenaran, karena kita serakah," tandasnya. Bagaimana caranya agar menghilangkan AIDSS? "Amarah misalnya, dengan kesabaran. Tidak mudah menjadi orang sabar, hanya orang kuat yang bisa sabar. 

Tapi kita yakin, kesabaran adalah sebatang pohon yang nanti berbuah manis," jelas Pastika. 

Ia pun menyontohkan kesabaran PENA NTT saat berpolemik dengan Mendikbud RI Muhadjir Effendy.  

"Coba kalau PENA tidak sabar, buah pasti akan pahit. Karena sabar, akhirnya bisa menyelesaikan masalah, dan buahnya manis bahwa ada anggaran pendidikan Rp 442 miliar dari Kemendikbud untuk NTT," pungkas Pastika.(RN/MN)