Friendship Never End

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Friendship Never End

24 January 2018

Album ini berkisah tentang aku dan mereka yang selalu ku kenang, bahkan sampai detik ini. Mereka adalah kakak satu tahun di atasku, tapi aku sering menganggap mereka seperti sahabatku (Foto: Dok. Pribadi)
Aku merangkak bangun, mentari pagi menampakkan semburat indahnya, dengan keteduhan pagi, aku mengagumi semua karya yang kini telah ada. Siang penanda jadikan hari terang, malam yang jadikan hari gelap. Aku menatap sejenak sebuah sampul biru yang kuletakkan di meja samping tempat tidurku.

Yah, album itu, tentang sebuah perjalanan yang luar biasa, tentang sebuah arti kesetiaan dan tentang arti sebuah pengorbanan. Album itu mungkin kini sudah kusut, warna sampulnya tak seindah seperti dulu lagi, gambar di dalamnya sudah tak semolek dulu karena dimakan waktu, tapi kenangan setiap gambar di dalamnya punya ceritanya sendiri.

Aku mengusap lagi album foto itu, untuk kesekian kalinya  aku tak bosan-bosannya bernalar tentang semua kisah ini dalam foto lama itu. Aku bercerita sendiri kala aku membuka setiap halaman foto-foto itu.

Album ini berkisah tentang aku dan mereka yang selalu ku kenang, bahkan sampai detik ini. Mereka adalah kakak satu tahun di atasku, tapi aku sering menganggap mereka seperti sahabatku. Mereka punya keunikan masing- masing, dengan gayanya sendiri mempresentasikan hidup yang mereka anggap sebagai  sebuah kompetensi. Mereka punya ambisi masing- masing tentang kuliah, pekerjaan dan juga tentang masalah jodoh. Mereka adalah gadis dengan nama Theresia dan Gisel. Wanita kebanggaan yang aku punya, karena aku melalui banyak masa dengan mereka.

Slide demi slide  kenangan itu kembali muncul dengan nuansa rindu pada klimaksnya.

“Angel, ayo kita hang out”, kata There. Aku masih saja meringkuk di selimutku, masih tak ingin beranjak dari imajinasi yang aku bangun saat ku berbaring.

“Yo, Ngel kita keluar dulu, udah bosan aku di kos terus”, kata Gisel. Aku bangun sambil merajuk, menyiapkan diri untuk bertarung dengan malam yang akan aku lalui bersama sahabat- sahabatku ini.

“Kita rencananya mau  ke mana?” tanyaku.

"Kita jalan-jalan di sekitar Malioboro, selama ini kita jarang ke situ, mungkin ada hal baru yang kita temui di sana, suasana yang lebih menyenangkan dan mungkin juga status baru,” kata Gisel sambil tertawa. Aku dan There hanya mengedipkan mata sudah maklum dengan sikap Gisel yang tak henti- hentinya mengaitkan semua hal dengan percintaan.

Kami menelusuri Malioboro dengan semangat layaknya sang laskar dengan mengabadikan momen yang kami lakukan di sana, ending perjalanan kami tutup dengan sebuah foto yang sambil memandang langit, entah apa yang kami pikirkan, foto itu diambil dengan bantuan tangan kreatif sesama pengunjung Malioboro.

"Kenapa kita memandang langit saat foto,  ekspresi apa itu?" tanyaku pada mereka.

“Kita ingin menggambarkan diri sebagai sosok pemimpi yang ingin selalu melihat dunia dengan rasa ingin tahu", kata There menjelaskan. Aku dan Gisel langsung memeluknya, kami tahu diantara kami bertiga sosok yang paling bijaksana adalah There.

"Mulai sekarang kita harus fokus dengan apa yang ingin kita capai, menata yang masih agak berantakan saat ini, dan mencoba untuk memposisikan diri mana yang baik menurut sudut pandang kita.” Aku lagi-lagi tersenyum, kata- kata There membius ku dan Gisel, aku semakin sayang dengan mereka ini.

Petualangan masih berlanjut, dengan liburan yang masih panjang, kami tak ingin membuang kesempatan yang ada. Ambarawa menjadi destinasi selanjutnya. Keteduhan Ambarawa menghantarkan kami pada suasana perziarahan. Keheningan yang tercipta membuat kami bertiga sadar, untuk selalu bersyukur dengan semua yang terjadi, kesenangan yang menghasilkan tawa, kesedihan yang menghantarkan kita pada air mata.

Satu foto diambil di bawah salib Yesus, dengan kepala menunduk serta tangan yang terkatup di depan dada. Aku bahagia bersama mereka di tempat suci nan indah ini.

Liburan tinggal beberapa hari lagi, kami tahu apa yang harus kami lakukan, adalah pada akhirnya kami harus kembali ke habitat masing- masing untuk menyiapkan diri dengan tantanagan kuliah yang ada di depan mata. Satu foto lagi dengan tawa lebar yang diambil dengan selfie.

”Kita akan  seperti ini, dengan senyum dan tawa seperti ini, kita akan berkumpul lagi bulan depan dengan cerita yang berbeda, dan mungkin sebuah harapan berbeda", kataku.

Kami berpelukan tanda perpisahan sejenak untuk kembali beradu dengan impian masing-masing.

Tak terasa, waktu melukiskan setiap kebersamaan kami, memetakan cinta yang selalu hadir dalam persahabatan yang kami bina. Waktu juga menjadi saksi pakaian wisuda yang dipakai, senyum tanpa paksaan dan tawa yang merekah kala kami menuntaskan kuliah kami.

Yah, masing-masing sama. Ada canda di sana, dalam cerita yang kami ukir. Ada tawa di sana di setiap langkah yang kami tapaki. Waktu juga menjadi saksi, setiap momen yang kami abadikan, dengan kamera yang tak cukup bagus, kami abadikan momen kami.

“Ini untuk meninggalkan jejak, tentang peristiwa yang kita alami,” kata Gisel.

Kami tahu, waktu untuk berpisah tak bisa kami elak,  kami harus kembali ke tanah kelahiran kami, mencoba membangun apa yang sudah kami tuai, merajut asa baru yang sempat kami impikan.

Kami berjanji untuk saling menyapa lewat media perantara komunikasi, dan berjanji bertemu lagi tepat bulan Desember untuk setiap tahunnya. Aku percaya pada janji itu, percaya pada waktu yang menjadi saksi untuk sebuah ikatan yang tak mampu kujelaskan dengan logika.

***
Aku kembali lagi ke realita, bangun dari kenangan yang sempat kubangun. Aku menutup album foto itu, menaruhnya di tempat biasanya. Kenangan itu, masa-masa yang sulit kulupa. Kenangan itu masa dimana kutemukan jati diri. Masa dimana aku belajar untuk memahami betapa pentingnya sebuah kesetian, pengorbanan dan pentingnya untuk saling menepati.

Aku membuka handphoneku, sebuah notifikasi pesan masuk,

Kita bertemu di tempat biasa yah,,ingat ini bulan Desember.

Aku hanya tersenyum dan aku bersyukur, pada kenyataannya kesetiaan itu masih ada. Pekerjaan yang kami tekuni, tak menjadi sekat untuk bersua lagi. Si Gisel yang manja kini sudah menjadi seorang akutan di sebuah perusahan swasta. Si Theresia yang bijaksana, kini menjadi kepala desa seperti yang dia idamkan. Dan aku gadis riang yang mengabdikan diri menjadi pendidik di salah satu sekolah swasta. Kami bercerita lagi dimasa yang berbeda dan kami percaya semua akan baik-baik saja.

Oleh: Angela Seriang
Mahasiswa Sanata Dharma Yogyakarta
marjinnews.com Yogyakarta
Anggota KOPERASI Yogyakarta