Cegah Kekurangan Pangan, Yohana Yambise Ajak Ibu-ibu Asmat Tanam Sagu
Cari Berita

Cegah Kekurangan Pangan, Yohana Yambise Ajak Ibu-ibu Asmat Tanam Sagu

31 January 2018

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Yohana Yambise (Foto: Muhajir Arifin)
Jakarta, marjinnews.com - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Yohana Yembise mengajak ibu-ibu di Kabupaten Asmat, Papua menanam sagu. Tujuannya untuk mencegah kekurangan bahan makanan.

"Saya harus mendekati ibu-ibu supaya kita bisa ajak. Seribu ibu tanam seribu pohon sagu atau seribu ibu tanam seribu ubi mungkin," kata Yohana di Kantor Menko PMK, Jalan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Rabu (31/1/2018).

Menurut Yohana, sebelum adanya program beras miskin (raskin), warga di Asmat menanam sagu untuk bahan makanannya. Namun saat raskin mulai disalurkan, mereka malah tergantung dan saat pasokan terhambat, bisa menyebabkan kelaparan.

 "Cukup banyak tadi masalah. Pertama masalah kebersihan, itu perlu diperhatikan, termasuk masalah makan yang memang karena stok makanan sudah habis. Ubi-ubi, kan mereka biasa budaya tanam ubi, sagu, kan sudah tidak. Mereka bergantung pada raskin. Jadi bilamana raskin tidak ada, ya pasti mereka sulit dapat makanan," ungkap Yohana seperti dilansir detik.com.

Selain soal stok makanan, Yohana menyebut rencana relokasi warga Asmat yang dicetuskan Presiden Joko Widodo (Jokowi) masih perlu kajian. Hal itu berkaitan dengan adat istiadat masyarakat yang masih kuat.

"Rencana Pak Presiden untuk merelokasi, saya sebagai seorang akademisi itu memang ide yang sangat baik. Cuma menurut saya, mungkin harus dikaji dulu karena budaya orang Papua kan cukup banyak," sebut Yohana.

"Ada sekitar 200 hampir 300 budaya dan bahasa di sana yang punya adat yang cukup kuat sekali. Ini memang harus dikaji dulu sebelum dibuat itu menjadi suatu kebijakan untuk merelokasi. Perlu ada kajian akademik dulu," imbuhnya.

Selain soal stok pangan dan relokasi, Yohana juga merencanakan penerapan kabupaten layak anak di Asmat. Tujuannya untuk mencegah gizi buruk dan masalah kesehatan pada anak terjadi lagi.

"Kalau saya sudah launching Kabupaten Asmat menuju kabupaten layak anak (KLA), maka ada 24 indikator yang harus dicapai oleh pemda setempat bekerja sama dengan semua OPD, tokoh adat, tokoh agama, dan lain-lain. Di dalamnya ada tadi dikatakan mengakhiri adanya gizi buruk, termasuk campak dan lain-lain yang berhubungan dengan kesehatan karena KLA ini berhubungan dengan tumbuh kembang anak. Hak anak, dan juga perlindungan khusus bagi anak," pungkasnya. (AA/DC/MN)