Budaya “Lejong” dan Pengaruh Tren “Cyberspace” Masa Kini

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Budaya “Lejong” dan Pengaruh Tren “Cyberspace” Masa Kini

25 January 2018

Berbicara mengenai dampak buruk, saya merasa tertarik untuk membahas budaya 'lejong' (bertamu) yang memiliki hubungan  sangat erat dengan sifat sosial masyarakat Manggarai, Flores, NTT (Foto: Dok. Pribadi)
Cyberspace jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia yaitu dunia maya. Cyberspace  atau dunia maya merupakan media elektronik yang ada dalam jaringan komputer dan banyak dipakai oleh orang-orang untuk keperluan komunikasi, mengakses halaman dan menyebarkan informasi secara online dan terhubung langsung tanpa batasan waktu.

Gempuran arus globalisasi semakin terasa di akhir-akhir ini. Masyarakat dituntut untuk lebih bijak dalam penggunaan media di dunia modern ini, karena selain dihadapkan dengan beragam kemudahan, kita juga tidak luput dari berbagai ancaman yang kemungkinan terjadi apabila kita tidak arif menyikapi kemudahan yang di tawarkan oleh kemajuan zaman seperti sekarang ini.

Oleh karena kemudahan ini, kita seakan terlena karena sudah terbiasa diperlakukan 'manja' dengan berbagi tawaran-tawaran yang sangat menarik. Kita bebas untuk berekspresi, bahkan banyak dari kalangan pengguna media yang  kerap kali memanfaatkan media sebagai salah suatu pilihan untuk mengungkapkan segala bentuk perasaan dan isi hati (curhat).

Memang benar, kehadiran internet memiliki keuntungan (sisi positif) dengan memberi ruang kebebasan bagi kita sebagai generasi yang tengah  menikmati kemajuan zaman. Namun, di sisi lain tentu ada dampak buruk atau resiko (sisi negatif) dari lahirnya teknologi canggih ini.

Berbicara mengenai dampak buruk, saya merasa tertarik untuk membahas budaya 'lejong' (red-bertamu) yang memiliki hubungan  sangat erat dengan sifat sosial masyarakat Manggarai (Flores, NTT).

Dulu, sebelum lahirnya teknologi ini, 'lejong' merupakan sebuah kebiasaan yang dilakukan oleh hampir semua masyarakat  Manggarai. Mungkin hanya untuk sekedar bersenda gurau atau hanya sekedar menghabiskan waktu dari 'leso gula' (berjemur di mata hari pagi) sebelum berkebun atau sore hari sepulang dari kebun sembari menyaksikan keindahan matahari terbenam di kala senja,  sambil ditemani segelas 'kopi pa’it' (red-bubuk kopi tanpa campuran gula) yang sebentar lagi diganti suasana sunyi dan gelap (suasana di desa).

'Lejong' dalam kehidupan orang Manggarai merupakan suatu momentum untuk mendiskusikan beragam topik mulai dari membahas masalah politik, masalah sosial, dan masalah-masalah lain berdasarkan sudut pandang 'ata beo' (red- warga  kampung).

Kebiasaan ini yang diwariskan secara turun-temurun tanpa ada warisan tertulis. Hal itu akhirnya semakin hari semakin menjadi budaya yang identik dengan rasa peduli sesama orang Manggarai.

Lejong memberikan ruang bagi kaum muda untuk belajar beretika dan bertutur kata dengan sesama dilihat dari sudut pandang budaya Orang Manggarai. Lejong juga memberikan kesempatan bagi orang tua untuk menanam nilai-nilai luhur budaya Manggarai secara lisan (tanpa melalu proses belajar-mengajar di lembaga pendidikan).

Singkatnya, lejong menjadi wadah bagi orang Manggarai untuk bersosialisasi dan membentuk karakter sebagai 'uwa weru' (anak muda) penerus Nuca lale.
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi  khususnya sejak lahirnya internet, sangat berdampak pada hilangnya kebudayaan lokal  yang menjadi kebanggaan tersendiri yang selalu diagung-agungkan oleh orang Manggarai.

Sejak mengenal internet dan keseringan eksis di dunia maya, hal itu menjadikan uwa weru bukan lagi menjadi pribadi yang selalu berinteraksi dengan sesama melainkan menjadi sosok yang kuper (kurang pergaulan) karena cenderung menutup diri.
Kehadiran facebook, twitter, instagram, whatsapp, BBM, dan media sosial lainnya bukan lagi menjadi katalisator dalam mempererat budaya lejong, melainkan menjadi pembunuh untuk menghilangkan budaya lokal ini.

Itulah faktor yang menjadikan uwa weru cenderung lupa dan bahkan tidak tahu yang namanya lejong karena selalu sibuk dan asyik berkhayal dengan dunianya sendiri, dunia maya.

Media sosial atau yang lebih keren disebut “medsos” sudah menjadi kekasih pilihan yang sangat sulit dipisahkan dari kehidupan uwa weru Manggarai. Hal tersebut dikarenakan dengan hadirnya medsos yang dianggap mampu menjawab semua kesulitan dan masalah sosial yang sedang melandai pikiran kaum 'uwa weru'. Itu terbukti ketika kaum muda cenderung  meng-update semua hal yang mereka lakukan, termasuk masalah pribadi sekalipun ke akun jejaring sosial miliknya.

Sejuta harapan semoga ada yang mampu menemukan solusi (jalan keluar), pada hal kita lupa bahwasannya kita sudah memiliki budaya yang sangat bagus yakni 'lejong' yang seharusnya menjadi wadah bagi kaum muda untuk berdiskusi termasuk membahas masalah pribadi sekalipun tanpa harus mengumbar ke publik.

Kehadiran dunia maya ini sangat mengurangi sifat sosial dan empati 'uwa weru', sudah tidak lagi  ditemukan rasa memiliki sebagai seorang 'ase kae' (Red-saudara), yang ada hanya ego dan ingin menang sendiri. Hal itu karena cenderung lebih suka berhubungan lewat internet dari pada bertatap muka secara langsung (face to face). Faktor perubahan sifat sosial yang berubah dapat mengakibatkan pola pikir 'uwa weru'  dalam hal berinteraksi.

Masalah itu akan dengan mudah membuat kita terjerumus ke dalam kejahatan dunia maya, seperti menipu dan mencuri dikarenakan kriminal tersebut dapat diprogram melalui internet yang sedang  viral  di dunia maya. Terkadang uwa weru dengan mudah jatuh dan boleh dibilang sebagai seorang pecandu, terutama menyangkut pornografi. Faktor ini yang dapat menghabiskan uang karena hanya untuk melayani kecanduan dan hawa nafsu.

Perubahan sifat sosial juga terlihat dari tutur kata kaum muda cenderung kasar, tidak tahu sopan-santun dan tidak dapat menempatkan diri dalam berinteraksi dengan sesama, baik itu di dunia maya maupun di dunia nyata meskipun hanya segelintir kaum muda. Perubahan sifat sosial ini merupakan dampak dari lahirnya teknologi canggih.

Uwa weru terkadang merasa dirinya sebagai pribadi yang paling sempurna dari orang lain, sehingga jarang dan bahkan memilih untuk tidak berinteraksi juga bersosialisasi di dunia nyata (lejong) karena lebih akrab dengan dunia maya.

Namun terkadang kita sebagai uwa weru lupa kalau sebenarnya medsos yang selalu dipuji itu, bisa saja membawa kita ke dalam sebuah tantangan yang cukup serius.

Namun sangat disayangkan, kaum muda (Red-uwa weru) sudah terlanjur jatuh cinta dan dengan mudah mempercayai medsos sebagai 'pemuas' dari berbagai macam kebutuhan dan persoalan dalam hidup. Akibatnya, budaya 'lejong' perlahan mulai hilang dan kian terkubur bersama keriuhan arus globalisasi dan tren masa kini.
Sekian!!

Pesan saya untuk uwa weru: “Tidak semua persoalan mendapatkan solusi dari media sosial, karena ada hal-hal tertentu yang tidak mampu dijawab oleh media sosial tapi bisa dijawab oleh adanya budaya lejong.

Oleh: Oswaldus Sirno
Marjinnews Surabaya