Atin, Menyanyi itu Sarana untuk Memaknai Filosofi Hidup
Cari Berita

Atin, Menyanyi itu Sarana untuk Memaknai Filosofi Hidup

26 January 2018

Qui bene cantat bis orat. Kira-kira demikian pepatah Latin yang berarti "bernyanyi dengan baik sama dengan berdoa doa kali" untuk menggambarkan sosok seorang gadis belia pemilik nama lengkap Martina Antonia Yatinsi Tenkudi atau Atin dalam dunia tarik suara. Mulai bernyanyi sejak umur tiga tahun, Atin sangat mencintai talentanya itu untuk sesuatu yang dia sebut hidup. Penulis sendiri mengenal gadis kelahiran Cancar, 11 November 1998 ini ketika ia masih duduk di bangku sekolah dasar.

Terpilih sebagai salah satu siswi Program Khusus (Progsus) yayasan Ernesto, buah tangan seorang pastor asal Swiss Pater Ernst Wasser, Atin berhasil membuat banyak orang terkagum dan jatuh cinta dengan suaranya yang tidak hanya menghibur tetapi juga mampu membuat mereka menjadi ingin bernyanyi terus menerus ketika ia membawakan sebuah lagu daerah Manggarai dalam sebuah acara di SMP/SMAK St. Klaus Werang, Manggarai Barat.

Inspirasi Atin dalam hal menyanyi adalah kedua orang tuanya. Atin kecil yang selalu melihat kakak-kakaknya menyanyi dan selalu mendapat sanjungan banyak orang membuatnya semakin ingin menjadi seorang penyanyi.

"Orang tua saya yang pertama kali membuat saya terinspirasi untuk menyanyi. Kakak-kakak saya yang memiliki bakat menyanyi juga selalu mendapat sanjungan banyak orang membuat saya ingin seperti mereka. Menyanyi dan membuat banyak orang menikmati setiap nada-nada yang keluar dari suara saya adalah mimpi saya sejak kecil" jelas Atin ketika ditanyai soal orang-orang yang paling menginspirasinya dalam hal bernyanyi. 

Memang tidak semua orang mengenal Atin. Gadis yang sekarang ini tengah menjadi asisten guru  Bahasa Jerman di St. Klaus Werang itu mengaku dirinya tidak perlu dikenal banyak orang. Semakin banyak orang terhibur dan mengingat ia karena suaranya itu adalah sesuatu yang tidak ternilai harganya.

"Mengenal bukan berarti kita dicintai. Saya pikir ketika saya menyanyi dan banyak orang terhibur dengan suara saya lantas selalu mengingatnya merupakan sesuatu yang luar biasa dan tidak ternilai harganya" ungkap Atin.

Ketika ditanya apakah ia berniat menjadi seorang penyanyi profesional suatu saat nanti, Atin hanya tertawa dan mengaku belum kepikiran untuk kesana. Menurutnya siapa saja bisa menjadi penyanyi profesional asalkan ia fokus untuk kualitas suara yang ia tawarkan, bukan hanya popularitas semata. Ia juga berharap bisa terus menyanyi untuk lebih banyak orang lagi jika masih diberi kesempatan.

"Saya tidak pernah kepikiran untuk menjadi seorang penyanyi profesional. Semua orang bisa saja bermimpi demikian, yang penting mereka tidak hanya mementingkan popularitas semata tetapi benar-benar memberikan kualitas suara yang baik untuk pendengar lagu-lagu mereka" jelas Atin.

"Saya berharap bisa terus bernyanyi untuk lebih banyak orang lagi jika diberi kesempatan. Bukan hanya untuk menghibur, tetapi untuk meyakinkan mereka bahwa musik dan menyanyi itu adalah soal filosofi hidup" lanjutnya.

Predikat Singing Society bagi masyarakat Flores, memang tidak bisa dipungkiri lagi. Banyak talenta-talenta muda seperti Atin yang tidak terekspos untuk bisa mengembangkan karunia Tuhan yang indah dalam diri mereka. Kekuatan nada-nada yang terbentuk dari pita suara hingga merambat ke gendang telinga kita adalah bukti bahwa ketika kita bernyanyi dengan baik untuk orang lain, maka kita sudah berlakukan kewajiban doa dua kali sekaligus untuk diri kita sendiri dan orang lain.

Yakin masih tidak mau bernyanyi? Mungkin ini saat yang tepat untuk anda bisa berpikir ulang.

Oleh: Andi Andur