$type=grid$count=4$tbg=rainbow$meta=0$snip=0$rm=0

AKU TELAH KEMBALI

Sesuatu yang telah lama tiada, itu biasanya akan ada dua kemungkinan, dilupakan atau dirindukan (Foto: Istimewa)
Pagi itu, hujan masih mengguyuri kota Makassar. Membasahi jalanan, kendaraan, gedung dan juga jendela dimana Indra berdiri mematung. Ia memandang tetesan air hujan itu dengan getir, dari jendela balkon kamar rawat inap kelas VIP di lantai 5, Rumah Sakit Siloam.

Matanya terpaku pada hujan yang jatuh berderai. Namun, pikirannya sendiri terpaku pada harapan yang telah jatuh tak terurai.

Terngiang kembali kata-kata Dokter yang menangani Dewi, istrinya.

"Maaf, Pak Indra, kanker yang diderita istri anda, telah mencapai stadium 5. Kami sudah tak mampu berbuat apa-apa lagi. Segala usaha telah kami coba untuk menghentikan penjalaran kanker itu, namun sia-sia. Kini, istri anda hanya tinggal menunggu waktu saja. Maafkan kami"

Air mata Indra kembali mengalir, entah untuk yang ke berapa puluh kalinya.

"Ya Tuhan" hanya keluhan lirih yang mampu terucap dari bibirnya. Tanpa permohonan atau doa. Karena, telah kelu lidah dan hati Indra memanjatkan beratus-ratus permohonan dan doa sebelum ini.

"Maaf, Pak Indra istri anda memanggil" suara seorang suster mengejutkan Indra. Menghentakkannya kembali ke alam nyata. Sejenak ia menatap suster itu. Lalu mengangguk lemah dengan senyum dipaksakan. Perlahan, Indra meninggalkan jendela. Melangkah perlahan, dengan sangat berat, memasuki kamar rawat Dewi.

Senyuman Dewi masih terlihat manis walau tak dapat menutupi wajahnya yang putih memucat.
Ia menggenggam erat jemari Indra, saat berkata lirih,
"Pa, Dokter bilang, waktuku tak berapa lama lagi. Boleh aku meminta sesuatu?"

Indra mencoba tersenyum, menutupi hatinya yang menangis tersayat.

"Apapun yang kamu minta, pasti aku akan coba penuhi" jawabnya.

Dewi tersenyum senang, "Mmm... kita sudah puluhan tahun tinggal di kota Makassar ini, sejak kita menikah. Aku ingin pulang ke Manggarai. Aku ingin, memuaskan kerinduanku pada negeriku, menghabiskan sisa waktuku di tanah kelahiranku dan beristirahat di sana, untuk selamanya" katanya dengan mata menerawang.

Indra tetap berusaha tersenyum, walau hatinya kini benar-benar telah hancur luluh lantak.

"Aku teringat semua keindahan Manggarai, apalagi di Manggarai Timur pa. Untuk terakhir kalinya, aku ingin melihat Gua Maria Cincoleng. Menikmati pantai Cepi Watu, Pantai Liang Bala dan Pantai Watu Pajung. Makan nasi jagung lengkap dengan alpukatny. Makan Nalun Kolo (nasi yang dibakar dengan menggunakan bambu kecil) juga mengulangi saat kita berpacaran dulu. Jalan-jalan ke Danau Rana Mese, Danau Rana Kulan, Danau Rana Pokor, dan Danau Rana Tonjong sambil makan kompiang. Aku merindukan itu, ingin menikmati semua untuk yang terakhir kalinya." Dewi berkata sambil tersenyum gembira seakan semuanya nyata ada di hadapannya saat ini.

Indra berjuang mati-matian, menahan terjangan air mata yang seakan hendak menjebol pelupuk matanya.

"Dulu... sewaktu kita pertama datang di Makassar ini, rasanya begitu indah, semua begitu artistik, modern dan mewah. Hingga saudara-saudara kita di Manggarai, selalu terkagum-kagum bila mendengar cerita kehidupan kita di Makassar. Kita pun bangga saat menceritakannya. Namun lambat laun kita sadari, keindahan di sini hanya keindahan semu. Kekaguman pada sesuatu yang lain dari yang biasa kita temui di Manggarai. Setelah lama menikmatinya, baru kita tersadar. Manggarai mungkin kalah dalam kemajuan, kemodernan dan kemewahan. Namun Manggarai adalah kecintaan. Dan dalam kecintaan, maka keindahannya tak kan tergantikan" katanya.

"Seindah apapun Losari, tak bisa menggantikan keindahan Mbolata. Seindah apapun Bili-bili tak bisa menggantikan Tetes Tana (Jembatan alam), seindah apapun air terjun Bantimurung tak bisa menggantikan air terjun Cunca Rede dan Cunca Ncuar. Keindahan Liang Witu dan juga  Gua Alam Liang Toge ( Benteng Rajong), Selezat apapun Pisang Epe, tak bisa mengalahkan Kompiang. Aku merindukan Manggarai. Aku ingin meninggal di tempat aku di lahirkan. Boleh ya, pa...?" Lanjut Dewi manja.

Tenggorokan Indra bagai tercekat batu. Tiada kata yang mampu ia ucapkan. Hanya anggukan lirih disertai linangan air mata yang tak sanggup lagi ia tahan.

"Terima kasih pa. Aku senang. Papa mestinya jangan menangis, karena aku akan bahagia bila bisa melihat lagi Manggarai" kata Dewi lirih.

"Kamu pasti melihat lagi Manggarai, Dewi. Aku janji," sahut Indra dengan suara bergetar menahan gejolak jiwa.

Esok paginya, dengan penerbangan yang pertama, mereka berangkat. Dalam perjalanan, tiada henti-hentinya Dewi berbicara tentang Manggarai. Kebetulan pula di pesawat itu menyediakan berbagai menu masakan Manggarai. Maka, Dewi pun memuaskan diri, memesan berbagai makanan khas Manggarai yang ia rindukan.

"Ibu ini, suka sekali masakan Manggarai ya?" seorang pramugari tak bisa menahan diri untuk bertanya, melihat begitu banyaknya masakan yang Dewi pesan.

Dewi tersenyum, lalu menjawab, "Sesuatu yang telah lama tiada, itu biasanya akan ada dua kemungkinan, dilupakan atau dirindukan. Tapi untuk Manggarai, cuma ada satu kemungkinan, yaitu dirindukan. Dan, mbak tak akan bisa menerka seberapa rindunya saya pada Manggarai." Pramugari itu tersenyum senang.

"Saya bisa menerka, Bu. Walaupun mungkin tak sebesar rindu Ibu, saya pun selalu merindukan Manggarai setiap kali saya tugas terbang ke luar kota," jawabnya dengan penuh kebanggaan.

"Oh ya?" Dewi tersenyum senang," Kita orang Manggarai, lahir dan besar di Manggarai. Di mana pun kita berada, tetap akan merindukan Manggarai". Si pramugari mengangguk setuju.

"Nah. Ini kita mulai akan memasuki wilayah Manggarai bu," katanya lagi.
Dewi terbelalak senang.

"Betulkah? Mana... mana? Permiisi, pak... aku mau melihatnya dari jendela!" katanya riang.

Lalu dengan napas terengah-engah, ia beringsut mendekati jendela pesawat. Indra hanya tertawa kecil melihat tingkah Dewi.

"Aku kembali, Manggarai," ucap Dewi lirih sambil tak lepas memandangi dari jendela, kepulauan luas yang terhampar tertutup awan putih berarak.

"Mohon perhatian. Para penumpang yang terhormat, sesaat lagi kita akan mendarat di Bandar Udara  Satar Tacik. Dimohon untuk mengenakan dan mengencangkan sabuk pengaman anda," suara merdu pramugari terdengar memberi pengumuman.

Indra mendekati Dewi, dan perlahan berkata, "Wi... kita sudah hampir sampai. Pasang sabuk pengamannya."

Dewi hanya diam saja....
"Dewi, Ayo pasang dulu sabuknya. Sebentar lagi kita akan mendarat."
Dewi tetap diam menatap jendela. Indra tersenyum seraya mengela napas.
"Dewi...," katanya sambil menyentuh perlahan pundak Dewi. Dewi pun terkulai.
"Wiii ..! Dewiii ...! Deewiiiii ...!"
Dewi tetap diam. Telah terdiam, untuk selamanya. Namun senyum bahagia tersungging di wajahnya.

"Aku telah kembali."

Oleh: Heribertus Kandang
marjinnews.com Makassar

Catatan: Cerita ini hanya fiktif belaka, bila ada kesamaan nama tokoh dan tempat itu hanya kebetulan saja.

Diskusi Bupati Manggarai Barat Mencari Pemimpin

Name

anak muda,2,Badung,1,Bali,135,Ben Senang Galus,2,Bencana Alam,2,Berita,186,Bhineka,2,Birokrasi,2,BNI,1,Bola,3,bom,1,Bom Bunuh Diri,3,Borong,4,BPJS,1,Budaya,34,Bung Karno,1,Bunuh Diri,4,Bupati Mabar,2,Camilian,1,Celoteh,3,Cerpen,202,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,646,Dana Desa,1,Dari Kami,3,Demokrasi,22,Denpasar,19,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,3,Donny Isman,1,DPR RI,4,E-KTP,5,Editorial,51,Ekonomi,5,Ekspresi,1,Ende,6,Entrepreneur,1,Feature,35,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,10,Focus Discussion,1,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,gaya hidup,8,Gedged,1,Gempa,7,Gereja,3,Gereja Katolik,3,Gerindra,1,GMNI,4,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,2,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hiburan,27,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,68,Human Trafficking,4,IBT Expo,1,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,1,Indonesia,1,Indonesian Idol,8,Inspirasi,17,Internasional,17,Internet,2,Investasi,1,IPD,3,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,5,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jawa Timur,4,JK,1,Jogja,2,Jogyakarta,3,Jokowi,18,JRUK Sumba,2,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,308,Kata Mereka,2,KDRT,1,Keagamaan,6,kebakaran,4,kebudayaan,3,kecelakaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,6,Kemanusiaan,55,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,155,kepemudan,7,kerohanian,2,Kesehatan,5,Ketahanan Nasional,1,Keuangan,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,55,KPK,11,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,52,Kritik Sastra,3,Kupang,25,Labuan Bajo,51,Lakalantas,11,Larantuka,1,Legenda,1,Lembata,2,Lifestyle,3,Lingkungan Hidup,13,Literasi,14,lombok,1,LP Cipinang,1,Luar Negeri,15,Mahasiswa,47,Makasar,6,Makassar,4,Malang,4,Manggarai,121,Manggarai Barat,21,Manggarai Timur,27,Marianus Sae,1,Marion Jola,3,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,7,Media,1,Media Sosial,3,Medsos,2,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Milenials,102,MMC,1,musik,1,Narkoba,8,Nasional,350,Natal,18,Ngada,8,Novanto,2,Novel,16,NTT,345,Nyepi,2,Olahraga,13,Opini,560,Orang Muda,7,Otomotif,1,OTT,2,Padang,1,Papua,16,Pariwisata,26,Partai Politik,25,Pasangan,25,Paskah,2,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,19,Pemuda,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,Penerbangan,4,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,19,Perindo,1,Peristiwa,1365,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Petrus Selestinus,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,40,Pilkada,98,Pilpres 2019,25,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,23,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Pojok Redaksi,50,Polisi,24,politik,89,Politikus,6,POLRI,8,PP PMKRI,1,Pristiwa,39,Prosa,1,PSK,1,Puisi,100,Puteri Indonesia,2,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,4,Refleksi,9,reformasi,1,Regional,6,Religi,2,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,2,Ruteng,30,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,14,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,1,Sekilas Info,42,Sekolah,2,seleb,1,Selebritas,28,selingkuh,1,Sidoarjo,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,31,Sospol,35,Spesial Valentine,1,Start Up,1,Suara Muda,235,Sumba,8,Surabaya,36,Tahun Baru,10,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,9,Tentang Mereka,68,Tenun Manggarai,1,Terorisme,14,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Togar Situmorang,11,Tokoh,16,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,1,Ujian Nasional,1,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,2,Viral,3,Wisata,21,Wisuda,1,WNA,1,
ltr
item
MARJINNEWS.COM: AKU TELAH KEMBALI
AKU TELAH KEMBALI
https://4.bp.blogspot.com/-sJj9JW6Hgis/WnAyGOC-9UI/AAAAAAAACw0/jMw93J6CTOECrpQGUwAP9W5WSL6PZpPhgCLcBGAs/s320/Aku%2Bkembali%2Bmarjin%2Bnews.jpg
https://4.bp.blogspot.com/-sJj9JW6Hgis/WnAyGOC-9UI/AAAAAAAACw0/jMw93J6CTOECrpQGUwAP9W5WSL6PZpPhgCLcBGAs/s72-c/Aku%2Bkembali%2Bmarjin%2Bnews.jpg
MARJINNEWS.COM
http://www.marjinnews.com/2018/01/aku-telah-kembali.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2018/01/aku-telah-kembali.html
true
971126874416220402
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy