Virginitas, Hak Istimewa Seorang Lelaki sebagai Suami?
Cari Berita

Virginitas, Hak Istimewa Seorang Lelaki sebagai Suami?

10 December 2017

Seperti yang telah banyak orang yakini bahwa virginitas atau keperawanan diibaratkan sebuah nilai atau kehormatan yang harus dipertahankan oleh seorang perempuan (Gambar: Istimewa)
Sejak sekian lama hubungan antara perempuan dan seksualitas selalu terkorelasi erat satu sama lain. Perempuan menjadi objek, sebuah benda, atau pun komoditas yang seringkali memposisikan perempuan di tempat yang lebih inferior. Laki-laki selalu memiliki otonomi penuh atas tubuhnya sendiri sedangkan perempuan tidak memiliki kekuasaan penuh sebagai ‘self-being’ atau tubuh tunggal (Brenda dalam Beauvoir 1970:26). 

Perempuan menjadi ‘the other-being’ atau tubuh yang lain karena dominasi laki-laki yang begitu kuat menjadikan perempuan sebagai obyek, yang mana tidak memiliki pilihan atau haknya sendiri tanpa adanya campur tangan laki-laki (ibid 1970:28). 

Foucault menjelaskan mengenai konsep mengenai “tubuh” (body) dan “kekuasaan” (power), ia menggunakan konsep bahwa hubungan antara body dan power sedemikian rupa telah dikonseptualisasi dan dikonstruksi di dalam dunia patriarki yang mana memproduksi tubuh perempuan sebagai tubuh yang lemah (docile) dan secara tidak langsung mengharuskan tubuh perempuan bersifat feminin (1988:78). 

Seperti yang telah banyak orang yakini bahwa virginitas atau keperawanan diibaratkan sebuah nilai atau kehormatan yang harus dipertahankan oleh seorang perempuan. Perspektif mengenai keperawanan memang memiliki banyak sisi. Namun benang merah yang bisa diambil jika kita mengacu kepada jawaban beberapa responden dalam penelitian Bruce Dame Laoera berjudul “Membaca Konstruksi Seksualitas: Sebuah Kajian Resepsi Mahasiswi Santri Terhadap Film Perempuan Punya Cerita” ketika ditanya siapa atau seperti apa kehormatan yang dimaksud para santri seperti pernyataan penulis sebelumnya, arah jawabannya sederhana yaitu mereka (perempuan) menjaga keperawanan mereka untuk suami mereka kelak. 

Dalam hal ini keperawanan menjadi ‘syarat utama’ dari pihak laki-laki yang menjadi tertuduh utama dengan bias sekaligus erospatriarkalnya, yang selalu merasa memiliki ‘hak istimewa’ untuk membuat berbagai penilaian atas tubuh perempuan (Sundari, 2016).

Pandangan seperti ini menurut penulis agak sedikit menyudutkan perempuan sebagai seorang manusia. Maksudnya adalah atas kuasa  apa pun laki-laki tidak bisa serta merta mengklaim apa yang sejatinya kondisional itu sebagai haknya. Hal ini berkaitan dengan korelasi antara beberapa penyimpangan seksual yang justeru lebih banyak dilakukan laki-laki dari pada perempuan.

Jika kita melihat pandangan Foucault yang menjelaskan bahwa seks selalu terhubung dengan dua titik pusat dalam pengaturan kehidupan yang mana aturan-aturan itu dibuat untuk membedakan yang mana seks sebagai kebutuhan biologis dan seks yang diatur dengan norma (1988:101). Maka penting untuk kemudian kita pahami bahwa konsekuensi logis seks sebagai kebutuhan biologis dan seks yang diatur dengan norma adalah keterbukaan diri terhadap segala bentuk penyimpangan seksual baik yang dilakukan oleh perempuan maupun laki-laki itu sendiri.

Hal ini memang akan berbenturan dengan beberapa norma yang berlaku dalam masyarakat kita. Seperti kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) misalnya. KDRT yang sebenarnya dipicu akibat ketidakmampuan menjalin komunikasi antar dua orang yang telah secara sadar menyepakati menjalin sebuah hubungan membentuk keluarga dalam upaya pemenuhan kebutuhan moral dan materiil akan menjadikan persoalan virginitas seorang perempuan sebagai tameng pembelaan sebuah pelarian dari tanggungjawab.

Kejadian semacam ini memang tidak terlalu banyak ditemukan, namun perlu kita sadari juga bahwa untuk beberapa kasus serupa bagi penulis adalah sebuah bentuk kekuasaan laki-laki yang tidak perlu atas perempuan.  

Oleh: Andi Andur