Ursula, Gadis Penikmat Senja di Persimpangan Jalan
Cari Berita

Ursula, Gadis Penikmat Senja di Persimpangan Jalan

9 December 2017

Teruntuk gadis manis penikmat senja, Senja di persimpangan jalan. Kepadamu kukirim secarik kertas, kertas yang kau simpan dalam bunga, yang berisi curahan perasaanmu (Foto: Istimewa)
“....setiap kali semburat cahaya manjanya muncul bak fatamorgana dari ujung barat, hatiku damai. Hatiku tenang, dan hatiku merasa dipuaskan. Namun, secepat malam menjemputnya, secepat itupun hatiku pilu...”

Catatan kegiatan live in  kemarin masih tercatat rapi dalam benakku. Dua hari, namun penuh kenangan, penuh pengalaman. Tidak seperti live in sebelumnya, tempat live in kali ini sepetinya sangat istimewah. Sebuah kampung kecil, tenang dan damai di sebelah barat kota tempat tinggalku. Pemilihan tempat live in waktu itupun cukup unik, yaitu melalui voting. Pilihan tempatnya ada dua yaitu tempat yang aku ceritakan tadi dan di pusat kota. 

Alasanku bertahan memilih kampung kecil di ujung barat waktu itu hanya satu. Aku bisa leluasa menikmati indahnya sunset. Entah sejak bertemu gadis penikmat senja dalam mimpi beberapa bulan yag lalu, ataupun mungkin karena senja menjadi saksi bisu perpisahanku dengan mantan pacarku yang terakhir. Dan aku menikmati itu disana.

******

“Teman-teman, tempat live in kita kali ini, berdasarkan hasil voting kita bersama, adalah di Kampung Barat”. Pernyataan ketua panitia pelaksaan live in itu sontak menimbulkan berbagai jenis respon dan ceplosan-ceplosan dari peserta live in. Aku diam. Suara-suara teriakan sana-sini, entah itu yang senang ataupun yang kecewa terdengar sayup-sayup di telingaku. Penjelasan lanjutan mengenai kegiatan tak kugubris sama sekali. 

Pikiranku langsung tertuju pada indahnya langit senja di kampung barat nanti seperti yang diceritakan banyak orang selama ini. “Persiapkan diri kalian baik-baik, dan jangan lupa bawa obat-obatan bagi teman-teman yang punya penyakit khusus..” dan ini kalimat penutup ketua panitia sekaligus kalimat yang bisa menembus sampai di otakku.

Di Kampung Barat, kami disambut dengan hangat oleh penduduk kampung. Mulai dari acara penyambutan, makan siang bersama sampai pembagian tempat penginapan selama dua hari. Aku dan seorang teman perempuanku mendapat bagian tempat penginapan di rumah seorang janda yang mempunyai dua orang anak. Anak pertamanya kira-kira kelas lima SD kalau dilihat dari postur tubuh dan gaya bicaranya. 

Temanku langsung bercerita banyak dengan ibu pemilik rumah. Aku kurang tertarik dengan topik pembicaraan mereka dan memilih untuk menikmati kopi soreku di depan rumah. Aku memanggil anak pemilik rumah dan bertanya tempat menikmati matahari sore itu dimana. “Di persimpangan jalan dekat rumah pak RT, Kak.”.bla bla bla... aku tak mendengar jelas penjelasan lanjutannya. Aku langsung bergegas menuju tempat itu. Dan Dari sinilah awal aku bertemu Ursula.

Persimpangan jalan sepi. Sepi sekali. Aku serentak merinding. Aku tengok kiri-kananku, tak kutemukan bayangan siapapun. Desiran angin yang meniup dedaunan pohon disekitarku terdengar jelas dikupingku. Tempatnya cukup strategis. Pohon dengan daun warna-warni yang mebelah jalan. Dan satu lagi, dipan kecil yang entah siapa yang membuatnya dan tujuannya untuk apa aku tidak tahu. Kilauan sinar senja sudah menyemburat dari ujung barat. 

Sepanjang aku duduk manis di dipan bawah pohon itu, aku belum melihat satu orangpun sekedar lewat ataupun datang menikmati senja dan sebagainya. Mungkin dari sekian banyak rombongan live in, sekian banyak warga kampung sini, aku saja penikmat senja. Aku saja yang selalu menunggu sinar merah itu muncul dari ujung barat. Atau mungkin, aku yang datang di waktu yang salah. entahlah. Aku mengabadikan momen indah itu dengan kamera handphoneku. Malam sudah perlahan menjemput senja. 

Suara ayam berkokok, harimau mengaum, jangkrik dan berbagai suara binatang hutan lainnya mulai kedengaran dan sangat jelas dikupingku. Seram. Tinggal ditambah alunan melodi musik horor dan kamera-kamera besar, lengkaplah sebuah film horor tercipta dari tempat ini. Ketika aku menoleh, aku dikagetkan oleh sebuah bayangan. Dan aku yakin saekali kalau itu adalah bayangan manusia. Dan dugaanku benar. Itu adalah sesosok manusia, seorang gadis rupanya. Itu terlihat dari geraian rambut panjanngya yang perlahan di belai oleh angin. Suasana di tempat itu semakin gelap. 

Aku merinding. Tetapi karena dalamnya rasa penasaranku, aku memberanikan diri mendekati sosok gadis misterius itu. Mungkin karena mendengar derap langkahku, Dia menoleh. Aku berhenti dan perlahan mundur selangkah, dua langkah. Dia menatapku aneh. Tatapannya dalam. Aku tak percaya dengan penglihatanku. Apakah aku terhipnotis? Apakah aku sedang bermain di alam bawa sadar? “hey...” bibir seksinya bergerak dan aku yakin, suara hey itu berasal dari bibir itu. 

Cantik, seksi, manis dan sebagainya. Sungguh ciptaan Tuhan yang luar biasa. Akupun perlahan menjadi pemberani. “hey...” balasku. Lalu kami berkenalan, dan dari percakapan singkat sore itu aku mengetahui kalau dipan di bawah pohon di persimpangan jalan itu adalah tempatnya. Kalau saja waktu mengizinkan, kami pasti akan perbincangkan banyak hal malam itu. Penutup cerita malam itu, dia menyuruhku pulang dan kami berjanji bertemu di senja selanjutnya. Aku pulang dengan sejuta tanda tanya di benakku. Perasaanku tak karuan. Pertanyaan-pertanyaan ibu pemilik rumah dan teman perempuanku tak jelas aku menjawabnya. Dari sorot mata mereka, aku melihat ada kebingungan di sana. Entahlah. Mandi, makan malam bersama lalu tidur. 

Kegiatan hari ini cukup padat. Mulai dari bakti sosial membersihkan sampah di sekitar kampung tersebut, sosialisasi tentang kesehatan sampai pada kegiatan pembenahan di rumah tempat penginapan masing-masing. Lelah. Tetapi, aku berusaha jangan sampai lemah. Minum air secukupnya lalu sejenak berbaring di dipan depan rumah tempat penginapanku. Teman perempuanku datang dan menyodorkan kehadapanku secangkir teh hangat dan sepiring kecil donat, yang aku tidak tahu kapan itu dibuat atau dibawah dari tempat asalnya. Aku hampir saja keceplosan menceritakan gadis kemarin ke temanku itu. Untung saja dia tak terlalu serius rupanya menanggapi pembicaraanku. 

Aku tersadar ketika senja rupanya telah tiba. Kilauan sinarnya dari ujung barat sudah mulai nampak. Tanpa berlama-lama lagi, aku berlari sekencang-kencangnya menuju persimpangan jalan. Nafasku ngos-ngosan seperti anjing yang baru saja mengejar mangsa. Langkah kakiku terhenti. Pak RT menghalangi langkahku. “jangan kesana nak, berbahaya”. Setelah berdebat cukup lama dengan pak RT akhirnya beliau kalah dengan pesan terakhir, “cepat berlari ke rumah jika terjadi sesuatu”. Aku mengiyakan lalu belari lagi. 

Dari kejauhan aku memperhatikan sosok Ursula yang duduk manis di dipannya sambil sesekali merapikan rambutnya yang tertiup angin. Aku memperlambat langkahku. Aku ingin menikmati pemandangan indah itu. Dari samping, aku sempat mengabadikannya dengan kamera handphoneku. Aku berani bersumpah kalau senja kali ini dikalahkan oleh wajah ayu dan manisnya Ursula. Ursula sama sekali tidak menyadari kehadiranku pikirku. Tiba-tiba mataku tanpa sengaja menangkap sebuah pemandangan aneh, seram sekaligus mengherankan. 

Dibawah dipan Ursula, aku melihat berbagai benda tajam dengan berbagai ukuran. Dan yang lebih menyeramkan lagi, setiap benda tajam itu dibalut darah segar. Mungkinkah Ursula itu pemburu? Atau jangan-jangan Ursula ini pembunuh? Yang terakhir ini yang membuat aku ingin menoleh dan berlari. Ketika hendak menoleh, suara Ursula dengan keras menghentikanku. “jangan lari!!” suara Ursula yang kencang itu menghentikan denyut nadi dan detak jantungku. Sungguh Diluar ekspektasi. 

Tatapan Ursula kali ini benar-benar tajam. Setajam benda tajam yang terbaring di bawah dipannya. Aku tak berani membalas tatapannya. Dia tertawa renyah. Tertawa penuh kemenangan. Dia menarik lenganku duduk di dipannya. Pikiranku sudah tidak waras lagi. Aku pasrah. Aku sudah siap menjemput mautku kalau saja Ursula dengan cekatan membunuhku dengan peralatan tajam miliknya.aku terkejut ketika dua bola mata Ursula mengeluarkan anak sungai yang perlahan membanjiri pipinya. 

Aku tidak percaya. Ku kedipkan mataku berkali-kali, namun pemandangan yang sama belum berubah. Perlahan isakan tangis Ursula semakin terdengar jelas. Bahkan mengalahkan bunyi jangkrik di sekitar kami. Aku memberanikan diri memegang bahu Ursula dan, Ursula jatuh di pelukanku. Suara tangisan Ursula semakin terdengar jelas. Aku mengusap air matanya. Setelah beberapa saat, tangisan Ursula sudah mulai reda. Aku melepas pelukanku. Ursulapun kini duduk tegak namun tetap manis di sampingku. Dia mulai bercerita. 

Prolog ceritanya dimulai sejak kematian ibundanya dibunuh orang karena tidak sanggup melunasi hutang keluarga yang ditinggalkan almarhum ayahnya. Aku ingin menangis. Kalau saja di sela-sela pembicaraan sedih itu ursula tidak mengumbar senyum manisnya. Epilog, dia menjadi pembunuh untuk membalas kematian ibundanya. 

“Aku akan membunuh siapa saja yang melewati tempat ini” katanya. Aku baru sadar kalau itu adalah alasan mengapa tempat seindah itu menjadi sepi. Ternyata dibalik keindahannya, ada duka yang teramat dalam. 

“Aku sudah terbiasa menikmati luka. Aku sudah terbiasa menyantap pahitnya kehidupan. Dan karena itulah, aku ingin supaya semua orang terluka, semua orang bersedih. Aku sadar, aku salah. Membalas lukaku dan dukaku kepada orang yang salah. Tapi, kepada siapa lagi kalau bukan mereka aku membalas luka dan dukaku? Dan setiap kali kamu memandang senja, kamu pasti bahagia. Begitupun aku. Ketika aku membunuh, hatiku bahagia. Ketika malam menjemput senja, aku yakin pasti ada kesedihan yang muncul di benakmu. Begitupun aku. Ketika seseorang sudah terbunuh oleh tanganku, aku sedih”. Tuturnya panjang lebar. 

Aku ingin menyanggah. Tapi aku tidak mau menyinggung perasaannya. “lalu mengapa engkau tidak membunuhku kemarin atau hari ini?” pertanyaan konyol itu tiba-tiba mendarat mulus dari bibirku. Dia tidak menjawab pertanyaanku. Tiba-tiba dari kejauhan, banyak orang datang dipimpin oleh pak RT datang menuju tempat itu. Ursula terkejut. Perasaan yang sama juga dirasakan olehku. Aku sadar, pasti mereka datang mencari aku karena belum pulang. Aku menyuruh Ursula berlari atau bersembunyi. Dia menolak. 

Tiba-tiba dia berlutut dan mengangkat kedua tangannya persis seperti penjahat yang tertangkap petugas keamanan. Aku bingung. Lalu warga kampung itu menyeret Ursula masuk kampung dan yang lainnya menyeret aku. Aku berontak. Aku ingin menyelamatkan Ursula. Tetapi teman-temanku menenangkanku. mereka mengantarku pulang ke rumah penginapanku. Pikiranku sudah tidak karuan lagi. Ursula. Bagaimanakah nasib gadis malang itu sekarang?

Tibalah kami di penghujung kegiatan live in kami. Setelah kemas dan benah rumah tempat tinggal masing-masing, kami berkumpul di rumah pak RT. Yang paling mengejutkanku pagi itu adalah, aku mendengar perbincangan teman perempuanku dengan ibu pemilik rumah kalau keputusan warga semalam adalah Ursula dihukum mati. Aku ingin menemui Ursula, tapi kemana? Bertanya di warga kampung pasti akan membuat masalah baru. Ketika kami semua berkumpul di rumah pak RT, tanpa sengaja mataku menangkap sesuatu. Ursula dengan posisi tangan diborgol duduk manis menunggu mautnya menghadap keluar jendela di salah satu kamar. Aku ingin sekali menghiburnya. 

Menenangkannya, atau sekedar say goodbye sebelum aku pulang. Tetapi, dalam situasi seperti itu, tidak memungkinkan aku bertemu Ursula. Setelah mendengarkan arahan ketua panitia, kami bergegas menuju bus yang sudah siap mengantar kami pulang. Banyak teman-temanku menangis. Akupun sempat menangis. Tetapi alasanku dengan teman-temanku menangis berbeda. Mereka merindukan tempat ini dan segala kehangatan warga kampungnya. Tetapi aku, alasan air mataku jatuh adalah Ursula. 

Ketika hendak menaiki bus, aku dikejutkan oleh suara yang memanggilku. Aku langsung berpikir kalau itu adalah Ursula. Namun, dugaanku salah. Anak pak RT yang memanggilku. “mas, bisa bersabar sebentar? Ada yang mau bertemu mas”. Aku tidak menanyakan lagi siapa itu, tetapi langsung bernegosiasi dengan supir bus untuk menunggu aku. Setelah bernegosiasi, aku menoleh dan....... air mataku jatuh. Aku menangis. Ursula dengan kedaan tangan dan kakinya diborgol, dikawal oleh hansip dan pak RT datang menghampiriku. Aku langsung berlari menjemputnya dan memeluk Ursula erat. 

Lama sekali. Ursula melepas pelukanku dan memberikanku sekuntum bunga mati. Entah dia beli dimana, aku tidak tahu. Aku memeluknya lagi. Setelah lama berpelukan, bercipiki-cipika ria, sampai say goodbye, aku pulang. Ursula akan dihukum mati. Dan aku tidak ingin menyaksikan itu. Bagiku, Ursula masih ada, sampai kapanpun. Setiap senja datang, Ursula pasti ada di sana...Aku terbangun dari lamunan panjangku. Aku perhatikan sekelilingku, sepi. Oh, sudah larut malam rupanya..

Teruntuk gadis manis penikmat senja, Senja di persimpangan jalan. Kepadamu kukirim secarik kertas, kertas yang kau simpan dalam bunga, yang berisi curahan perasaanmu. Di kertas yang sama juga, Perasaanku kucurahkan AKU JUGA MENCINTAIMU.
Sampai kapanpun itu.

Yogyakarta, 7 Desember 2017
  
Oleh : Risto Tulus
marjinnews.com Yogyakarta
Divisi Media KOPERASI Yogyakarta