Tuhan yang Berkebudayaan Manggarai

Karenanya kekuatan agama adalah kekuatan moral, yang lahir dari gagasan-gagasan dan perasaan-perasaan yang timbul dari dalam diri kita karena pengamatan (spectacle) masyarakat (Foto: Floresa.co)
Ketuhanan yang berkebudayaan adalah ketuhanan yang berbudi pekerti yang luhur, ketuhanan yang hormat-menghormati satu sama lain. Yang pertama kali mencetuskan tentang ketuhanan yang berkebudayaan ini adalah presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno.

Tanggal 1 Juni 1945, Soekarno memberikan dasar filosofi negara Indonesia yang belum merdeka. Ia menyebutkan lima dasar utama, yaitu Kebangsaan Indonesia, Internasionalisme atau Perikemanusiaan, Mufakat atau Demokrasi, Kesejahteraan Sosial, dan Ketuhanan yang berkebudayaan atau Ketuhanan Yang Mahaesa.

Soekarno meneyebut “Ketuhanan Berkebudayaan,” artinya kehidupan spiritual yang berkembang maju seirama dengan perkembangan kebudayaan.

Makna Ketuhanan Yang Berkebudayaan?
Sukarno memang tidak pernah menyebut atau menyinggung Emile Durhkeim (1858-1917) dalam pidatonya tanggal 1 Juni itu. Namun jika kita mencermati bagaimana Pancasila itu “dilahirkan” dan menjadi konsensus bersama yang melampaui sekat-sekat keagamaan, maka menurut saya ada kemiripan pandangan dengan Durkheim dalam memandang agama. Bagi Durkheim, agama merupakan “sesuatu yang sesungguhnya berwatak sosial.

Gambaran keagamaan adalah gambaran kolektif yang mengekspresikan kenyataan kolektif (Durkheim, 1915:22). Gambaran kolektif ini merupakan hasil kerjasama luar biasa yang tersebar pada suatu waktu dan tempat tertentu. Karena itu menurut Durkheim, masyarakat adalah sui generis, sesuatu yang unik, yang tidak bisa dijumpai sama di tempat lainnya (1915:29). Bagi Durkheim, agama (keagamaan) lahir dari tengah situasi mental yang luar biasa (effervescent) dari lingkungan sosial.

Karenanya kekuatan agama adalah kekuatan moral, yang lahir dari gagasan-gagasan dan perasaan-perasaan yang timbul dari dalam diri kita karena pengamatan (spectacle) masyarakat. Jadi agama adalah suatu kenyataan unik dari suatu masyarakat tertentu. Karena itu, dalam kedudukan seperti inilah agama dapat fungsional secara positif bagi masyarakatnya (Titaley, 1989).

Sukarno, sosok yang berkharisma ini dengan tegas mengatakan prinsip kelima bagi Negara Indonesia merdeka adalah “K e t u h a n a n!… Hatiku akan berpesta raya, jikalau saudara-saudara menyetujui bahwa Negara Indonesia Merdeka berdasarkan ke-Tuhanan Yang Maha Esa!” (Bahar, dkk, 1998:101).

Sebelum sampai pada usulan Sila ini, Sukarno dengan bahasa retorika yang penuh karisma menyatakan “bukan saja bangsa Indonesia ber-Tuhan, tapi masing-masing orang Indonesia hendaknya ber-Tuhan. Tuhannya sendiri…Hendaknya negara Indonesia ialah negara yang tiap-tiap orangnya dapat menyembah Tuhannya dengan cara yang leluasa.

Segenap rakyat hendaknya ber-Tuhan secara berkebudayaan yakni, dengan tiada ‘egoisme agama’.” Pernyataan ini setidaknya mengindikasikan 2 makna, yakni:

1). Negara Indonesia sebagai satu bentuk kehidupan bersama, diharapkan dapat memberikan kebebasan dan keleluasaan tiap-tiap warganya untuk melaksanakan kehidupan keagamaannya;
2). Harapan yang ditujukan kepada penganut agama yang diberi keleluasaan itu agar mau menjalankan agamanya secara berkebudayaan.

Dalam perspektif seperti inilah saya mengatakan bahwa Sukarno memiliki kemiripan dengan Durkheim ketika ia berbicara tentang Pancasila yang di dalamnya terdapat ide “Kebangsaan” dan “ke-Tuhanan” dari sebuah masyarakat (bangsa) baru yang hendak dibentuk itu.

Memang kata “berkebudayaan” itu memiliki makna yang cukup luas. Karena itu, orang dapat memperdebatkannya. Sukarno sendiri tidak memberikan batasan yang tegas tentang hal itu, kecuali ungkapan lain seperti “tiada egoisme-agama” atau Ketuhanan yang berbudi pekerti luhur; Ketuhanan yang hormat-menghormati satu sama lain.

Namun jika kita dengan cermat membaca keseluruhan pidato itu, termasuk dinamika dalam sidang BPUPKI 29 Mei–1 Juni itu, maka akan tersingkap tabir gagasan-gagasan dibalik pernyataan tersebut. Tentu ide tentang ke-Tuhanan yang berkebudayaan tidak bisa dilepaspisahkan dari ide kebangsaan.

Karenanya kerangka kehidupan beragama perlu “disusun” agar tidak memporak-porandakan kesatuan bangsa. Ini berarti di dalam beragama, seharunya orang tidak mengamini dan melakukan sesuatu secara membabi buta tanpa penalaran.
Lalu bagaimana dengan Tuhan yang Berkebudayaan Manggarai?

Menurut analogi penulis, hubungan agama dan Tuhan bagaikan dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Berbicara tentang Tuhan berarti berbicara tentang agama. Sebaliknya berbicara agama berarti bicara tentang Tuhan.

Keyakinan umat beragama  bahwa segala sesuatu yang ada di bumi adalah hasil ciptaan Tuhan. Begitu juga dengan gagasan budaya yang lahir. Semua itu nampak ada karena kuasa Tuhan. Budaya Manggarai lahir dari gagasan orang Manggarai itu sendiri.

Patut di yakini bahwa ketika Tuhan hadir dan menciptakan orang  Manggarai dengan segala aktifitasnya otomatis Tuhan itu berkebudayaan Manggarai.

1.Budaya/Kebudayaan

Pada hakikatnya budaya adalah sistem yang kompleks perilaku, nilai-nilai, keyakinan, tradisi dan artefak, yang ditularkan melalui generasi. Mari kita menemukan makna budaya, dan signifikansi dalam kehidupan individu dan masyarakat.

Tanpa budaya, dan kebebasan relatif menyiratkan, masyarakat, bahkan ketika sempurna, tapi hutan. Inilah sebabnya mengapa setiap ciptaan otentik adalah hadiah untuk masa depan (Albert Camus)

Budaya adalah pola belajar perilaku, dan merupakan cara di mana seseorang hidup hidupnya. Ini merupakan bagian integral dari setiap masyarakat, dan menciptakan rasa memiliki dan kebersamaan di antara warga masyarakat tersebut. Budaya meliputi berbagai aspek komunikasi, sikap, etika, keyakinan, nilai-nilai, adat istiadat, norma, makanan, seni, perhiasan, gaya pakaian, dll Setiap masyarakat memiliki budaya yang berbeda, yang memberikan identitas dan keunikan.

Budaya menurut Koentjaraningrat (1987:180) adalah keseluruhan sistem, gagasan, tindakan dan hasil kerja manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik manusia dengan belajar.

Jadi budaya diperoleh melalui belajar. Tindakan-tindakan yang dipelajari antara lain cara makan, minum, berpakaian, berbicara, bertani, bertukang, berrelasi dalam masyarakat  adalah budaya. Tapi kebudayaan tidak saja terdapat dalam soal teknis tapi dalam gagasan yang terdapat dalam fikiran yang kemudian terwujud dalam seni, tatanan masyarakat, ethos kerja dan pandangan hidup. Yojachem Wach berkata tentang pengaruh agama terhadap budaya manusia yang immaterial bahwa mitologis hubungan kolektif tergantung pada pemikiran terhadap Tuhan. Interaksi sosial dan keagamaan berpola kepada bagaimana mereka memikirkan Tuhan, menghayati dan membayangkan Tuhan (Wach, 1998:187).

Lebih tegas dikatakan Geertz (1992:13), bahwa wahyu membentuk suatu struktur psikologis dalam benak manusia yang membentuk pandangan hidupnya, yang menjadi sarana individu atau kelompok individu yang mengarahkan tingkah laku mereka. Tetapi juga wahyu bukan saja menghasilkan budaya immaterial, tetapi juga dalam bentuk seni suara, ukiran, bangunan.

Terlepas dari keragaman budaya yang luas, ada unsur-unsur tertentu dari kebudayaan yang bersifat universal. Mereka dikenal sebagai universal budaya, yang terdiri dari ciri-ciri perilaku tertentu dan pola yang dimiliki oleh semua budaya di seluruh dunia. Misalnya, mengklasifikasi hubungan, memiliki beberapa bentuk seni dan musik, penggunaan perhiasan, mengelompokkan orang sesuai dengan jenis kelamin dan usia, dll, yang umum di semua budaya di dunia.

2. Agama
Kata agama sendiri berasal dari bahasa Sansekerta dari kata a berarti tidak dan gama berarti kacau. Kedua kata itu jika dihubungkan berarti sesuatu yang tidak kacau. Jadi fungsi agama dalam pengertian ini memelihara integritas dari seorang atau sekelompok orang agar hubungannya dengan Tuhan, sesamanya, dan alam sekitarnya tidak kacau. Karena itu menurut Hinduisme, agama sebagai kata benda berfungsi memelihara integritas dari seseorang atau sekelompok orang agar hubungannya dengan realitas tertinggi, sesama manusia dan alam sekitarnya. Ketidak kacauan itu disebabkan oleh penerapan peraturan agama tentang moralitas,nilai-nilai kehidupan yang perlu dipegang, dimaknai dan diberlakukan.

Pengertian itu jugalah yang terdapat dalam kata religion (bahasa Inggris) yang berasal dari kata religio (bahasa Latin), yang berakar pada kata religare yang berarti mengikat. Dalam pengertian religio termuat peraturan tentang kebaktian bagaimana manusia mengutuhkan hubungannya dengan realitas tertinggi (vertikal) dalam penyembahan dan hubungannya secara horizontal (Sumardi, 1985:71)

Agama itu timbul sebagai jawaban manusia atas penampakan realitas tertinggi secara misterius yang menakutkan tapi sekaligus mempesonakan  Dalam pertemuan itu manusia tidak berdiam diri, ia harus atau terdesak secara batiniah untuk merespons.Dalam kaitan ini ada juga yang mengartikan religare dalam arti melihat kembali kebelakang kepada hal-hal yang berkaitan dengan perbuatan tuhan yang harus diresponnya untuk menjadi pedoman dalam hidupnya.

Agama sebagai salah satu unsur inti dalam kebudayaan akan memberikan arti penting bagi manusia. Seperti halnya kebudayaan, agamapun dapat digambarkan sebagai suatu “rancangan dramatis”, yang berfungsi “untuk mendapatkan kembali sense of flux atau gerak yang sinambung dengan cara menanamkan pesan dan proses serrentak dengan penampilan tujuan, maksud dan historis. Agama sebagai mana kebudayaan, merupakan tranformasi simbolis pengalaman.

Seperti halnya kebudayaan agama juga merupakan sistem pertahanan, dalam arti sebagai seperangkat kepercayaan dan sikap yang akan melindungi kita melawan kesangsian, kebimbangan dan agresi. Agama juga merupakan suatu sistem pengarahan(directive system) yang tersusun dari unsur-unsur normatif yang membentuk jawaban kita pada berbagai tingkat pemikiran, perasaan, dan perbuatan.

Agama juga mencakup simbol ekonomi, ia menyangkut pengalokasian nilai-nilai simbolis dalam bobot yang berbeda-beda(Nelson dalam Odea, 1996: 216, 217). Kuncoro mengemukakan bahwa semua aktifitas manusia yang bersangkutan dengan religi berdasarkan atas suatu getaran jiwa, yang biasanya disebut emosi keagamaan, atau religious emotion.

Emosi keagamaan ini biasanya pernah dialami oleh setiap manusia, walaupun getaran emosi itu mungkin hanya berlangsung untuk beberapa detik saja, untuk kemudian menghilang lagi. Emosi keagamaan itulah yang mendorong orang melakukan tindakan-tindakan yang bersifat religi. Pokoknya emosi keagamaan menyebabkan sesuatu benda, suatu tindakan, atau suatu gagasan, mendapat suatu nilai keramat, atau sacred value, dan dianggap keramat.

Demikian juga benda-benda, tindakan-tindakan, atau gagasan gagasan yang biasanya tidak keramat, yang biasanya profane, tetapi apabila dihadapi oleh manusia yang dihinggapi oleh emosi keagamaan, sehingga ia seolah-olah terpesona, maka benda-benda, tindakan-tindakan, dan gagasan-gagasan tadi menjadi keramat.

Suatu sistem religi dalam suatu kebudayaan selalu mempunyai ciri-ciri untuk sedapat mungkin memelihara emosi keagamaan itu di antara pengikut-pengikutnya. Dengan demikian emosi keagamaan merupakan unsur penting dalam suatu religi bersama dengan tiga unsur yang lain, yaitu: sistem keyakinan; sistem upacara keagamaan; dan suatu umat yang menganut religi itu.

Dapatlah disimpulkan bahwa budaya yang digerakkan agama timbul dari proses interaksi manusia dengan kitab yang diyakini sebagai hasil daya kreatif pemeluk suatu agama tapi dikondisikan oleh konteks hidup pelakunya, yaitu faktor geografis, budaya dan beberapa kondisi yang objektif.

Tuhan itu berkebudayaan Manggarai tercermin lewat upaca-upacara adat dan tradisi orang Manggarai misalnya: 
Upacara penti adalah upacara syukur
Penti dilakukan sebagai tanda syukur kepada Mori Jari Dedek (Tuhan Pencipta) dan kepada arwah nenek moyang atas semua hasil jerih payah yang telah diperoleh dan dinikmati. Ada keyakinan bahwa jika acara ini tidak dilakukan, akan membuat Mori Jari agu Dedek (Tuhan Yang Maha Kuasa) marah. Kalau hal itu terjadi, akan ada bencana-bencana yang menimpa masyarakat Manggarai.
Peresmian Gereja dengan Ritual Adat Manggarai
Sebagai bentuk penyatuan yang harmonis antara Tuhan pemilik kehidupan serta nenek moyang  sebagai perpanjangan tangan Tuhan dalam merawat dan melestarikan  karya budaya, maka wajib hukumnya ritual adat dilaksankan bertujuan agar terjadi keseimbangan antara iman dan budaya.
Ritual ‘Kepok’ dengan tuak  untuk menyapa imam baru yang baru ditabiskan
Tak jarang juga sebagai ungkapan syukur orang manggarai akan menyelenggaraka caci sebagai bentuk luapan syukur atas pristiwa pentabisan tersebut.

Congko Lokap untuk presmian rumah adat baru
Ritual ini diyakini sebagai upacara bersyukur dan berterima kasih kepada leluhur atas bantuan mereka sehingga rumah adat bisa dibangun sekaligus mengucapkan terimakasih kepada Sang Pencipta.

Dari beberapa contoh di atas semuanya bermuara pada satu keyakinan sistem religius (homo religius) orang manggarai. Sistem religious merupakan produk manusia sebagai homo religius.

Manusia yang memiliki kecerdasan pikiran dan perasaan luhur tanggap bahwa diatas kekuatan dirinya terdapat kekuatan lain yang maha besar. Karena itu manusia takut sehingga menyembahnya dan lahirlah kepercayaan yang sekarang menjadi agama.

Pada dasarnya orang Manggarai menganut sistem religi yakni “Monoteis”  adanya kepercayaan terhadap wujud tertinggi yang di sebut  “Mori Kraeng-Mori jari dedek”.


Oleh: Remigius Nahal

COMMENTS

Name

Artikel,140,Bali,110,Bedah Buku,1,Ben Senang Galus,1,Bencana Alam,1,Berita,145,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,3,BPJS,1,Budaya,41,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,175,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,538,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Dari Kami,2,Demokrasi,22,Denpasar,18,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Donny Isman,1,DPR RI,4,E-KTP,4,Editorial,34,Ekonomi,5,Ekspresi,1,Ende,6,Entrepreneur,1,Feature,36,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,11,Focus Discussion,4,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,gaya hidup,4,Gedged,1,Gempa,6,Gereja,3,Gereja Katolik,3,Gerindra,1,GMKI,1,GMNI,3,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hiburan,25,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,61,Human Trafficking,4,IBT Expo,1,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,1,Indonesia,1,Indonesian Idol,8,Inspirasi,13,Internasional,16,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,5,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jawa Timur,1,JK,1,Jogyakarta,2,Jokowi,18,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,272,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,4,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,kecelakaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,2,Kemanusiaan,62,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,154,kepemudan,8,kerohanian,2,Kesehatan,8,Ketahanan Nasional,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,60,KPK,12,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,51,Kritik Sastra,4,Kupang,24,Labuan Bajo,51,Lakalantas,9,Larantuka,1,Lembata,2,Lifestyle,6,Lingkungan Hidup,15,Literasi,14,lombok,1,LP Cipinang,1,Luar Negeri,4,Mahasiswa,41,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,4,Malang,3,Manggarai,112,Manggarai Barat,20,Manggarai Timur,24,Marianus Sae,1,Marion Jola,3,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,7,Media,2,Media Sosial,3,Medsos,2,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Milenials,52,Motang Rua,1,Muda Petani,1,musik,1,Narkoba,8,Nasional,275,Natal,19,Ngada,7,Novanto,2,Novel,16,NTT,200,Nyepi,2,Olahraga,11,Opini,400,Orang Muda,15,Otomotif,1,OTT,2,Papua,15,Pariwisata,26,Partai Politik,25,Pasangan,16,Paskah,2,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,Penerbangan,4,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,20,Perindo,1,Peristiwa,1032,Peritiwa,2,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,41,Pilkada,102,Pilpres 2019,23,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,22,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Pojok Redaksi,34,Polisi,25,politik,90,Politikus,6,POLRI,5,PP PMKRI,1,Pristiwa,31,Prosa,1,PSK,1,Puisi,85,Puteri Indonesia,2,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,4,Refleksi,15,reformasi,1,Regional,6,Religi,2,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,26,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,9,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,2,Sekilas Info,23,seleb,1,Selebritas,18,Sidoarjo,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,19,Sospol,39,Start Up,1,Suara Muda,45,Sumba,8,Surabaya,36,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,11,Tentang Mereka,44,Tenun Manggarai,1,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Togar Situmorang,5,Tokoh,17,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,1,traveling,9,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,2,Viral,3,Wisata,4,Wisuda,1,WNA,1,
ltr
item
Muda Membaca Dunia: Tuhan yang Berkebudayaan Manggarai
Tuhan yang Berkebudayaan Manggarai
https://1.bp.blogspot.com/-lMHe4cIWkok/WiWBJ_fxSqI/AAAAAAAAANs/HSwsCjxAekUzMiScZoUiG5Z6RATxoJDQACLcBGAs/s320/Gereja%2Bbudaya%2Bmanggarai.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-lMHe4cIWkok/WiWBJ_fxSqI/AAAAAAAAANs/HSwsCjxAekUzMiScZoUiG5Z6RATxoJDQACLcBGAs/s72-c/Gereja%2Bbudaya%2Bmanggarai.jpg
Muda Membaca Dunia
http://www.marjinnews.com/2017/12/tuhan-yang-berkebudayaan-manggarai.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2017/12/tuhan-yang-berkebudayaan-manggarai.html
true
971126874416220402
UTF-8
POSTINGAN LAIN Not found any posts LAINNYA Selengkapnya Reply Cancel reply Delete Oleh Home PAGES Kiriman Baca Semua Rekomendasi untuk Anda LABEL ARCHIVE CARI Semua Kiriman Tidak Ditemukan Apa yang Anda Cari Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 Jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Pengikut Ikuti THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy