Tangisan Rakyat Manggarai Timur
Cari Berita

Tangisan Rakyat Manggarai Timur

15 December 2017

Ribuan manusia yang tinggal di Manggarai Timur tidak memiliki akses pembangunan seperti yang terjadi di daerah lain. Jika musim hujan tiba, Akses jalan dari kampung satu ke kampung sekitarnya putus total. ( Foto: Istimewa)


Menarik untuk dibahas.
Nasip Manggarai Timur hari ini memang sungguh begitu miris.

Dinding group-group di Facebook tak henti-hentinya menampilkan serta memamerkan gambar-gambar tentang kondisi jalan yang begitu parah di Manggarai Timur.

Kondisi jalan yang begitu parah seakan membuat facebooker disuruh untuk memotret.

Kemudian di upload dengan ragam caption yang intinya menggambarkan kondisi yang sangat memperihatinkan.

Mereka seakan seperti fotografer jalanan. Bahkan lebih dari seorang wartawan yang mencari berita.

Tiap detik, tiap menit, gambar-gambar dengan caption beragam itu selalu menghiasi dinding facebook.

Yang lebih menariknya lagi. Baik media lokal maupun media Nasional telah banyak kali memberitakan untuk menyoroti kondisi infrastruktur yang begitu parah di Manggarai Timur.

Banyak suara-suara menggebu dan menggema. Suara-suara itu tak segan-segan mengkritisi Pemerintah yang sedang berkuasa saat ini.

Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur 
di nilai tidak menempatkan perbaikan infrastruktur menjadi skala prioritas pembangunan.

Sehingga hampir seluruh ruas jalan di Manggarai Timur sulit diakses baik kendaraan roda dua maupun kendaraan roda empat.

Berbicara Manggarai Timur, seakan membuat saya untuk pingin menengok visi-misi Pemerintahan Kabupaten Manggarai Timur yang di pimpin oleh Yosef Tote dan Agas Andreas ini.
Atau yang sering disebut" YOGA".

Kita ketahui semenjak Manggarai Timur mekar dari Kabupaten Induk, Kabupaten Manggarai. Setidaknya daerah ini telah dipimpin oleh seorang Bupati yang cukup lama menjabat. Sepuluh Tahun.

Bayangkan, dua priode dalam memimpin adalah sebuah waktu yang cukup panjang. Namun, kembali menengok kemasalah infrastuk bak api jauh dari panggang.

Pemkab Matim selama dua periode gagal merealisasikan visi misinya, yang dimana Istilah Cengko Ceko (membuka daerah terisolir,red) hanyalah politik pencitraan bagi masyarakat Matim semata.

Mengapa?

Inrastruktur belum diperhatikan dan tetap menjadi utang yang belum terbayar lunas.
Itulah masalahnya.

Yang kadang jadi momok lambatnya pembangunan ekonomi dan masalah lain di Manggarai Timur.

Seperti kita ketahui bersama.
Visi besar Manggarai Timur adalah TERWUJUDNYA MANGGARAI TIMUR YANG LEBIH SEJAHTERA, CERDAS,
KREATIF, INOVATIF,SEHAT, RAMAH LINGKUNGAN, DEMOKRATIS, BERMARTABAT DENGAN MENJUNJUNG TINGGI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA MENUJU MASYARAKAT YANG LEBIH MANDIRI.

Kemudian untuk masalah infrastruktur dipanjang lebarkan dalam Misi yang berbunyi, "Membuka Isolasi Daerah dan Membangun Infrastruktur secara Merata.

Jaringan infrastruktur wilayah yang handal sangat penting dalam meningkatkan aksesibilitas dan mobilitas faktor-faktor yang mendukung berkembangnya aktivitas produksi.

Oleh karena itu pemerintah daerah  perlu membuka isolasi daerah serta membentuk kawasan-kawasan pertumbuhan baru dalam mewujudkan pembangunan yang merata di seluruh Manggarai Timur.

Terpenuhinya kebutuhan perumahan rakyat layak huni yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas pendukungnya juga merupakan syarat mutlak yang harus diwujudkan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat Manggarai Timur.

Meratanya pembangunan  kebutuhan prasarana dan sarana pelayanan dasar di seluruh wilayah perdesaan dan perkotaan di seluruh Manggarai Timur akan mendorong peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat.

Pemaparan kalimat yang begitu panjang diatas seakan hanya menjadi slogan belaka. Selogan ini seakan berbanding terbalik dari kondisi yang terjadi hari ini.

Lantas, apakah kita boleh mengatakan bahwa apa yang dipaparkan diatas adalah sebuah  kebohongan?

Jika lihat dari kondisi infrastruktur Manggarai Timur hari ini, visi-misi diatas bisa saja dikategorikan sebagai sebuah kebohongan besar.

Mengapa?

Ribuan manusia yang tinggal di Manggarai Timur tidak memiliki akses pembangunan seperti yang terjadi di Daerah lain.

Jika musim hujan tiba, akses jalan dari kampung satu ke kampung sekitarnya putus total. Jika musim kemarau tiba debu bertebaran seakan seperti asap di dapur.

Ini adalah fakta dan tidak bisa dinafikan serta dibantahkan.
Inilah kondisi sesungguhnya yang tengah terjadi. Dan menjadi potret buram kondisi infrastruktur Manggarai Timur hari ini.

Dua periode kepemimpinan paket Yoga (Yoseph Tote dan Andreas Agas) dalam memimpin Manggarai Timur, dianggap masih belum cukup mampu untuk membangun infrastruktur di kabupaten Manggarai Timur.

Ada begitu banyak keluhan dari Masyarakat Matim selama ini yang disampaikan, baik keluhan yang disampaikan secara langsung maupun tidak langsung tentang ketidakadilan Pemkab Matim dalam hal pembangunan infrastruktur seperti jalan raya dan jembatan di daerah Matim seakan diabaikan.


Penulis: Remigius Nahal