SURAT UNTUK AYAH

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

SURAT UNTUK AYAH

MARJIN NEWS
13 December 2017

Entah sudah berapa tahun diriku ini selalu berkutat dengan kenangan. Kenangan menjadi masalah dalam diriku dan air mata adalah hadiah yang dia berikan di kala malam (Gambar: Istimewa)
Untukmu yang selalu ku doakan:
Ayah, bagaimana kabarmu? ku harap saat ini engkau masih duduk bersama mereka yang selalu kami sebutkan dalam doa. Jika nanti ayah tak sibuk,  sempatkan diri untuk bertanya pada Tuhan tentang apa arti sebuah kebahagiaan? Sebab begitu banyak orang yang aku temui, namun tak satu pun yang memberiku sebuah pencerahan untuk kesakitan ini.

Maaf Ayah,  malam ini aku harus menangis lagi. Entah sudah berapa tahun diriku ini selalu berkutat dengan kenangan. Kenangan menjadi masalah dalam diriku dan air mata adalah hadiah yang dia berikan di kala malam.

Ayah tahu, saat menjelang natal dua tahun lalu, sekolah kami mewajibkan untuk memanggil orang tua untuk menerima raport hasil kerja kerasku selama satu semester. Saat-saat seperti itu, aku seperti terjebak dalam sebuah kebingungan dan kesedihan. Ku lihat teman-temanku dengan bangganya menujukkan kepada teman-teman saat orang tua mereka datang.

"Bapa, saya punya bapa sudah datang” kata seorang temanku saat melihat bapaknya berjalan di sekitar sekolah. Yang lebih menyakitkan bagiku saat dengan kesatrianya seorang laki-laki memeluk anaknya yang sedang berlari lantas mencubit kedua pipi anaknya. Romantis bukan?

Ah, air mata kembali menetes dan kedua bola mata coba mencari peruntungan somoga dalam ketidakmungkinan ini saya bisa mendapati sosok yang aku rindukan saat ini.

"Dimana ayah?” aku menunduk, dalam hati amarah berjalan secepat angin dan butiran air mata seperti memberhentikan waktu   dan semuanya berputar ke tompo lalu.
 
Ayah, lelaki terhebatku,
Masihkan engkau mengingat, kala aku masih kecil engkau sering memarahi karena tingka laku yang selalu membuatmu jengkel padaku
 
“Lia, kenapa kamu nakal sekali. Cepat tidur siang apalagi besok kamu ujian” kata Ayah dengan ekspresi yang begitu menggelikan, kerutan di dahi menandakan bahwa amarah sedang naik dalam dirinya.

Kadang ketika beranjak dewasa, mengingat kembali tentang kenangan bersama ayah membuatku tertawa sendiri. Menyuruhku tidur siang karena alasan besok ujian menjadi salah satu memori yang sangat menggelikan .

Ayah tahu, pernah sekali di saat hujang aku menyempatkan diri untuk melihat fotomu dalam dompet dan harus ku akui mata ini kembali kalah untuk menahan air mata. Hujan sore itu bukan hanya membawa basah bagi bumi, tetapi juga pilu dalam hatiku kala kenangan dan gambaran wajahmu membayangiku.

Ayah, lelaki yang paling kucintai:
Sampai sekarang hal yang paling aku benci adalah kenangan. Saat aku sudah mulai dewasa seperti sekarang ini banyak yang memuji parasku.  Ayah tahu, sampai sekarang hanya satu lelaki yang mengisi hatiku yaitu Ayah. Di kampus begitu banyak lelaki yang memberikan perhatiannya yang lebih kepadaku bahkan ada juga yang sampai membuatku tertawa. Pernah seorang pemuda yang yang kenal denganku menyuruhku makan dalam pesan singkatnya, ayah tahu yang membuatku tertawa adalah ketika pesannya itu kuterima jam 10 pagi.

Tapi, justru yang paling kurindukan adalah kemarahan dan kerasnya ayah ketika dengan kenakalanku selalu melawan perintahmu dan sialnya Tuhan tidak pernah kirim lelaki seperti itu selama ini. bukankah itu egois. Sampai saat ini pun, aku masih merindukan suara keras ayah yang melarangku untuk keluar malam atau ketika kenalanku tak wajar.
 
Maaf ayah, ijinkan aku menangis lagi. Aku merindukanmu malam ini dan semua hal yang belum pernah kutemukan lagi kala engkau telah beranjak ke Rumah Bapa.
 
Akhirnya, aku hanya berdoa untukmu lelaki terhebatku. Berilah aku kekuatan agar aku bisa menjadi wanita kuat yang tidak meneteskan air mata hanya karena memandang foto-fotomu
 
Taga, 8 Desember 2017

Oleh: Klaudius Marsianus Juwandy
Penulis adalah mahasiswa Prodi Bahasa Indonesia STKIP Santu Paulus, Ruteng