Surat Kecil untuk Mama
Cari Berita

Surat Kecil untuk Mama

MARJIN NEWS
13 December 2017

Untuk Mama yang setiap waktunya mengajarkanku sebuah kekuatan, yang di setiap baris doanya tak pernah lupa mengucap nama anak-anaknya, terima kasih tak terhingga Ma (Foto: Dok. Pribadi)
24 angka yang sangat fantastis sekali untuk seorang wanita yang masih bergantung hidup di bawah ketiak orang tua.

Aku menyadari ini, dan sangat menyadari. Mau bergaya ala ABG salah-salah. 24 itu sudah bukan ABG lagi, mau menjadi sok tua eh nyatanya sampai sekarang masih rajin meminta di tanggal tua. Dibilang masih kecil tentu tidak mungkin di usia ini banyak orang yang sudah memiliki 2 dan 3 anak. Dibilang sudah tua lebih tidak mungkin lagi, satu alasan karena ketiak orang tua masih menjadi tempat pencarian saat uang saku menipis. Seperti apapun aku menyangkalnya, aku tetap gadis kecil kesayangan mama.
Banyak hal yang ku lewati selama ini, pengalaman suka dan duka bergantian seperti pergantian siang dan malam. Terkadang aku sering berterimakasih untuk hidup yang berjalan diluar harapan. Itu semua menjadikanku kuat, itu semua menjadikanku dewasa.
Dewasa bahwa tidak semua yang direncanakan akan berjalan sesuai dengan imajinasi terindah sekali pun, dewasa untuk menerima bahwa terkadang hal yang sering dianggap mataharipun akan tiba titik di mana dia berubah menjadi lentera yang kecil lalu saat angin menerpa perlahan meredup dan gelap, dewasa untuk hidup lebih baik, serta selalu belajar dari pengalaman yang pernah menempa di tanah, merangkak, berdiri, jatuh lalu bangun kembali.
Dan lebih dari semua itu, pelajaran yang dapat kupetik adalah setiap kebahagian yang tercipta aku belajar menghargai hidup, dan setiap dilanda kesedihan aku belajar mencintai hidup.
Untuk Mama yang setiap waktunya mengajarkanku sebuah kekuatan, yang di setiap baris doanya tak pernah lupa mengucap nama anak-anaknya, terima kasih tak terhingga Ma. Meski Rambutmu kini tak lagi legam berubah perlahan putih bak kapas, dan wajahmu tak lagi ranum seperti awal mula saat Ayah berkenalan denganmu dan kini berubah menua bersama waktu, tetapi kasih dan cintamu,tak menua sejalan usia. Untuk Ayah yang setiap hari mengajarkan kami menjadi bijaksana. Kini keriput dan garis tua menghias wajahmu, tak terhitung entah sudah berapa kisahmu yang pernah kau bagikan untuk kami. Setua apapun kami saat ini kami tetap rindu dengan dongeng pengantar tidurmu Ayah.
Di umur yang baru ini ada banyak yang mendoakan, aku bersyukur memiliki mereka. Tuhan tidak pernah mengirimkan orang lain di sekitar kita hanya karena sebuah kebetulan. Tuhan selalu memiliki alasan, seperti Tuhan selalu menjawab persoalan.
Dan mereka semua adalah titipan Tuhan yang berharga dan alasannya agar aku memiliki kenangan yang indah, yang bisa kuceritakan di dunia kelak.

Terima kasih mama, terima kasih sudah mengizinkan aku berdiam di dekat jantungmu dahulu, menenun aku di buah pinggangmu hingga tiba saatnya aku berpijak pada semesta.
Oleh: Odilia Jayanti Mahu
Tulisan ini didedikasikan untuk dia yang selalu menjadi wanita terhebat dalam hidupku