Surat Kecil untuk Bapak Muhadjir
Cari Berita

Surat Kecil untuk Bapak Muhadjir

MARJIN NEWS
7 December 2017


Aku pun tak ingin masuk dalam barisan 'sakit hati' menanggapi  pernyataanmu. Apa pun bentuk pernyataan Bapak sekiranya menjadi koreksi untuk pendidikan Indonesia dan NTT (Foto: Dok. Pribadi)
Apa kabar Bapak Muhajir yang terhormat? Kiranya Bapak sehat dan tetap berada dalam lindungan-Nya Maaf, Bapak Mendikbud karena malam-malam aku mengganggu aktivitasmu dengan surat yang bodoh. Doaku, agar niat Bapak untuk memajukan pendidikan di Indonesia terutama di NTT dapat berjalan dengan baik

Bapak Muhajir, apakah Bapak sadar dengan pernyataan pedas di media massa dan media online yang mendadak viral itu? Aku harap, Bapak belum amnesia! Aku, salah satu dari sekian banyak anak NTT menerima pernyataan itu dengan senang hati. Aku pun tak ingin masuk dalam barisan 'sakit hati' menanggapi  pernyataanmu. Apa pun bentuk pernyataan Bapak sekiranya menjadi koreksi untuk pendidikan Indonesia dan NTT

Bapak, jika aku boleh bertanya:  apa benar survey PISA itu? Apakah benar sampel yang digunakan PISA untuk mengukur pendidikan Indonesia adalah NTT? Apakah benar NTT menjadi buntutnya kualitas pendidikan di Indonesia? Ataukah pernyataan itu muncul ketika Bapak 'menghayal', atau galau dan menjatuhkan pilihan pada NTT yang menjadi tameng buruknya pendidikan kita?

Bapak, masih bisakah diperbaiki sistem pendidikan kita dibawah kendalimu sebagai mendikbud Ahh, tidak penting! Bapak tidak perlu menjawab pertanyaan konyol ini. Jawablah dalam meditasi vertikal dan horizontal!

Bapak, satu lagi pertanyaanku! Indikator apa yang Bapak gunakan dalam menilai buruknya pendidikan di NTT?

Bapak Mendikbud yang saya kasihi.
Cakrawala Pendidikan Indonesia adalah untuk membuka tabir-tabir kelam dalam genggamanmu,
Kami adalah anak-anak Negeri yang sama cintanya akan Bumi Pertiwi, Tidak ada perbedaan dalam rahim pendidikan walaupun beda karakter setiap daerah di negeri ini, namun kita satu dalam karakter ke-Indonesia-an termasuk NTT yang bagi bapa menjadi biang kerok dari bobroknya kualitas pendidikan Nasional kita.

Tapi sejarah mencatat, anak-anak dari negeri Savana itu tidak pernah absen mengabdi pada negara setiap jalannya waktu di negeri tercinta ini. 

Bapak Mendikbud yang saya hormati.
Pendidikan adalah oase bagi tandusnya segala dimensi kehidupan kita, Ia bukanlah penjara yang menjadikan manusia-manusia robot untuk mengabdi pada kaum borjuasi, namun oase bagi tandusnya cita-cita negeri yang masih utopis. Janganlah bapak memantik genderang perbedaan pada mimpi anak negeri yang pada akhirnya mematikan imajinasi pengabdian dalam skala pembangunan dan cita-cita bangsa.

Jalan panjang yang melelahkan dalam mendekap kualitas pendidikan di bumi Pertiwi ini, hendaknya menjadi refleksi yang terus dikumandangkan agar kecerdasan menjumpai kesetaraan pada tiang merah putih. 

Jika Bapak menempatkan diri sebagai Bapak Pendidikan maka bapak tahu bagaimana menjadi ayah yang baik untuk mengasah kemampuan anak demi masa depan rumah Indonesia yang baik. Bapak harus tahu menempatkan diri untuk menahkodai jutaan anak di negeri ini. Jangan bapak menjadikan salah satunya sebagai anak tiri karena mereka adalah tombak untuk merobek bekunya cita-cita bangsa.

Namun jika bapak telah menempatkan diri sebagai ayah yang tak bisa menerima perbedaan lalu menyalahkan "kebodohan" yang tak pernah bapak tahu alasannya dari muara kebodohan itu. Izinkan saya mengusap keringat kelam dalam wajah kedurhakaanmu.

Istirahatlah bapak dari bangku Mendikbud, karena saya ingin seorang ayah adalah ia yang tak harus membedakan anaknya namun terus menyemaikan segala kebaikan pada tunas-tunas muda harapan Bangsa.

Oleh: Joseph Epifanus
Sekjen PMKRI Marauke