Substansi Agama Dan Sains Dalam Tulisan Loanes Rokhmat

Penulis mengatakan bahwa dimana pun, sains tetap menyisahkan misteri sebagai gap atau celah. (Foto: Vicki Datus) Saya memulai sub ju...



Penulis mengatakan bahwa dimana pun, sains tetap menyisahkan misteri sebagai gap atau celah. (Foto: Vicki Datus)
Saya memulai sub judul ini dengan mengutip pernyataan dari seorang fisikawan Niels Bohr. Ia mengatakan demikian, “Salah jika orang berpikir bahwa tujuan fisika ialah menemukan bagaimana alam itu ada. Fisika berkaitan dengan apa yang dapat kita katakan tentang alam.”

Pernyataan ini merupakan bentuk lain dari maksud pernyataan Paus Fransiskus. Pembicaraan tentang Allah merupakan pertanyaan-pertanyaan bagaimana alam itu ada, tentang apa yang oleh sains hanya dilihat sebagai sesuatu yang kebetulan [mungkin dengan maksud menghindari adanya yang Ilahi].

Klaim sains mengenai keadaan tanpa waktu dan oleh karena itu tidak dapat dipahami dan tidak memungkinkan adanya pencipta di dalamnya sebelum big-bang menjadi dasar penolakan akan adanya sosok ilahi sebagai sebab pertama dengan pertimbangan bahwa ia pun harus memiliki sebab. Hal ini menjadi wajar jika sains menemukan bahwa Allah (allah sains) tidak ada. Pembuktian semacam itu (sebab-akibat) hanya mungkin jika Allah hanyalah sesuatu yang 1000 kali lebih hebat dari manusia.

Artinya, Allah masih suatu “apa” dan oleh karena itu terbatas. Sayangnya, hal ini tentu bukan sebagaimana yang dipahami dalam agama (terutama Katolik), salah kaprah tentu saja. Allah adalah yang ‘lain’ yang juga bukan kontradiksi dari apa yang kita pahami sekarang dalam keterbatasan historis manusia (ruang dan waktu).

Allah Bukan Pengisi Gaps

Penulis mengatakan bahwa di mana pun, sains tetap menyisahkan misteri sebagai gap atau celah.

Gap dan celah itu langsung diisi dengan sosok Allah. Ia mengutip pernyataan Stephen Hawking demikian, “Kita akhirnya menemukan sesuatu yang tidak memiliki sesuatu penyebab karena tidak ada waktu bagi suatu penyebab untuk ada di dalamnya.

Bagiku, ini berarti tidak ada kemungkinan bagi adanya suatu pencipta ilahi berhubung tidak ada waktu bagi sang pencipta untuk dulu ada.

Karena waktu itu sendiri dimulai pada momen big-bang, maka big-bang itu sendiri adalah suatu kejadian yang tidak dapat disebabkan atau diciptakan oleh seseorang atau sesuatu apa pun.”

Klaim ini tampak begitu super. Akan tetapi, saya akan berbicara bukan apa yang dibicaraka oleh penulis, melainkan tentang apa yang belum ia tulis [baca: lupa] dalam teorinya.

Pertama, tidak bisa dikatakan atau dengan lugu memahami Allah sebagai pencipta seperti ibu yang melahirkan yang keduanya berada dalam suatu konteks waktu, tertentu, dan historis.

Seandainya demikian, tentu klaim penulis benar. Lalu, bagaimana Allah dibayangkan? Persisnya, Allah tidak dapat kita bayangkan. Kedua, Kita (manusia)  terikat pada waktu dalam segala pikiran kita . Allah tidak bisa dibayangkan sebab Ia sendiri tidak masuk dalam waktu.

Keadaan tak terbayangkan ini punbukan sebuah kontradiksi dari seandainya sesuatu dapat dibayangkan. Andaikata Allah masuk dalam waktu,  sebuah keharusan bangi-Nya untuk berkembang atau berubah, dan itu bukan sifat Allah.

Sekali lagi Allah merupakan yang jika dijelaskan dengan cara kita, bukan Dia. Oleh karena itu, pertanyaan agama-agama mengenai bagaimana alam ini terjadi jelas bukanlah gap yang tidak bisa dijawab oleh sains dan salah jika sains menganggap penjelasan agama mengenai Allah merupakan usaha untuk memberikan jawaban pada gap-gap itu.

Jika demikian, penjelasan itu hanya merupakan bentuk kontradiksi dari apa yang diterangkan sains. Allah seolah sesuatu yang ‘lain’ sebagai kontradiksi dan oleh karena itu masih terbatas. Gap-gap sains tersebut tetaplah urusan sains yang belum selesai dengan dirinya, sedangkan agama selalu berbicara melampaui itu.

Meskipun demikian, dalam memahami kemahakuasaan Allah yang begitu kompleks, akal budi tidak begitu diremehkan. Segala klaim sains yang mengarah pada penciptaan merupakan paham dari cara yang berbeda yang tetap saja mengarah pada suatu kenyataan bahwa alam emesta merupakan sebuah karya maha agung, tetapi bukan satu-satunya.

Oleh karena itu, agama menerima sains dengan tetap menyadari sesuatu yang berbeda bahwa Allah tidak akan pernah bisa didefinisikan sebagai sebuah akibat sebagaimana hukum sains sebab Ia sandiri bukanlah sesuatu atau “apa”. Maka, jawaban yang diberikan agama pun bukan sebagai usaha untuk membuktikan adanya Tuhan, melainkan mencoba memberi pertimbangan rasional yang wajar dalam terang akal budi [fides quaerens intellectum] .

Jika demikian, apakah klaim penulis bahwa “Ihwal bagaimana jagat raya itu ada kini bisa sepenuhnya dijelaskan oleh sains” bisa dipercaya?

Kitab Suci Sebagai Refleksi Iman, Bukan Laporan Sejarah

Bagian terakhir dari tanggapan ini ialah mengenai perbandingan antara kitab suci dan fakta sains yang menjadi salah satu titik pemberatan oleh penulis.

Ia menulis demikian, “Bagaimana pun kita semua bisa memaklumi Paus Fransiskus, sebab Gereja (dan komunitas keagamaan apa pun) tidak ingin teks-teks kitab suci mereka tidak terpakai lagi bayangkan, apa yang terjadi atas teks-teks kitab Kejadian dalam Tanah Yahudi yang mengisahkan penciptaan langit dan bumi dalam hitungan hari jika big-bang terjadi dengan sendirinya sebagai suatu peristiwa fisika?”

Klaim ini keliru karena seolah menempatkan kitab suci sebagai laporan sejarah terbentuknya jagat raya. Inilah kesalahan paling besar yang sudah lama disadari oleh para saintis maupun Gereja, namun belum bagi Ioanes Rakhmat.

Tafsiran secara historis-harafiah belaka akan menemukan kebingungan dan kerap kali tidak masuk akal. Hal ini lalu diambil untuk dicela.

Orang yang melakukan ini lupa bahwa kejanggalan bisa saja menunjukkan maksud lain. Ia seharusnya sadar bahwa kejanggalan atau sesuatu yang tidak masuk akal bisa saja berarti bahwa bukan itu yang dimaksudkan kitab suci.

Alkitab merupakan kumpulan tulisan, refleksi iman dan pengalaman akan Allah dengan pengarang dan jenis sastra yang berbeda. Untuk itu, membaca alkitab yang cukup baik mesti mencakup kompleksitas berikut, seperti nama pengarang, konteks budaya, situasi politik, tujuan penulisan, dll.

Hal inilah yang dilupakan penulis. Dengan demikian, ia tidak pernah sampai pada kritik teks yang sesungguhnya dan dengan sendirinya seluruh pernyataan terkait kebenaran alkitab subjektif.

Penulis: Vicki Datus
Mahasiswa Prodi Sastra Inggris STIBA Saraswati Denpasar

COMMENTS

Name

1 Tahun Berkarya,1,Agama,3,Agraria,1,Ahmad Dhani,1,Ahok,25,Aktivis,3,Alam,3,Anak,8,Anak Muda,27,Anggaran,1,Antikorupsi,1,Aparatur Negara,1,Arjen Robben,1,Artikel,231,Asmat,4,Asusila,5,Badung,9,bahasa,1,Bali,100,Bali Utara,2,Bandara Bali Utara,2,banjir,1,Bantuan CSR,1,Batam,16,BBM,1,Bedah Buku,1,Ben Senang Galus,1,Bencana Alam,2,Berita,9,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,1,BPJS,1,Budaya,45,Buku,1,BUMN,1,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,157,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,453,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Demokrasi,23,Denpasar,11,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Dilan 1990,1,Donny Isman,1,DPR RI,2,DPRD,1,E-KTP,4,Editorial,41,Edukasi,1,Ekonomi,6,Emi Nomleni,1,Ende,5,Entrepreneur,1,Feature,39,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,13,Focus Discussion,6,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,Gedged,1,Gempa,5,Gereja,4,Gereja Katolik,4,Gerindra,1,Gizi Buruk,1,GMKI,1,GMNI,2,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,2,Hiburan,24,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,45,Human Trafficking,5,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,2,Indonesia,2,Indonesian Idol,11,Inspirasi,4,Internasional,15,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,9,Jatim,3,Jawa Tengah,1,JK,1,Jodoh,1,Jogyakarta,3,Jokowi,16,Jomblo,2,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,259,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,4,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,2,Kemanusiaan,68,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,6,Kepemudaan,151,kepemudan,11,Kepri,1,kerohanian,2,Kesehatan,15,Ketahanan Nasional,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,59,KPK,13,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,56,Kritik Sastra,4,Kupang,23,Kuta,1,Labuan Bajo,42,Lakalantas,9,langka,1,Larantuka,1,Lebu Raya,1,Lembata,2,Lifestyle,8,Lingkungan Hidup,16,Literasi,15,lombok,1,LP Cipinang,1,Madiun,1,Mahasiswa,41,Makanan Khas,1,Makasar,7,Makassar,1,Malang,3,Manggarai,88,Manggarai Barat,8,Manggarai Timur,20,Marianus Sae,1,Marion Jola,10,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,6,Media,2,Media Sosial,4,Medsos,3,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Motang Rua,1,Muda Petani,1,Munir,1,musik,1,Narkoba,7,Nasional,240,Natal,19,Ngada,5,Novanto,1,Novel,15,NTT,117,Nyepi,2,Olahraga,12,Opini,352,Orang Muda,16,Otomotif,1,OTT,2,pacaran,6,Papua,22,Pariwisata,25,Partai Politik,24,Paskah,4,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,1,PenaBiru,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,23,Perindo,1,Peristiwa,864,Peritiwa,2,Perlindungan Anak,2,Pers,3,Perzinahan,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,2,Pilgub,41,Pilkada,102,Pilpres 2019,22,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,23,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Polisi,30,politik,81,Politikus,6,POLRI,6,PP PMKRI,1,Pristiwa,26,Prosa,1,PSK,1,Puisi,67,Puteri Indonesia,4,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,1,Refleksi,16,reformasi,1,Regional,6,Religi,5,Remaja,2,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,10,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,26,Sajam,1,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,2,Sejarah Manggarai,1,Serial Story,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,3,Sospol,42,Start Up,1,Sumba,12,Surabaya,32,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,10,Tenun Manggarai,2,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Tokoh,17,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,3,traveling,7,traveller,1,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,4,Viral,1,Wisuda,1,WNA,1,Yogyakarta,4,
ltr
item
Muda Membaca Dunia: Substansi Agama Dan Sains Dalam Tulisan Loanes Rokhmat
Substansi Agama Dan Sains Dalam Tulisan Loanes Rokhmat
https://1.bp.blogspot.com/-MSwI7gyNwT4/Wi6qBS5qEjI/AAAAAAAAAbA/Y8a-bTwBEXMCrcXKNfcMzXdsSw98SumMgCLcBGAs/s320/IMG-20171211-WA0018.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-MSwI7gyNwT4/Wi6qBS5qEjI/AAAAAAAAAbA/Y8a-bTwBEXMCrcXKNfcMzXdsSw98SumMgCLcBGAs/s72-c/IMG-20171211-WA0018.jpg
Muda Membaca Dunia
http://www.marjinnews.com/2017/12/substansi-agama-dan-sains-dalam-tulisan.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2017/12/substansi-agama-dan-sains-dalam-tulisan.html
true
971126874416220402
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy
close