Still Love You
Cari Berita

Still Love You

MARJIN NEWS
2 December 2017

Hujan itu datang lagi, membasahi bumi Yogyakarta, tak mampu kusangkal hujan dan kenyataannya adalah hal yang kubenci (Foto: Dok. Pribadi)
Izinkan aku berkisah tentang sosok ini, sosok pemacu adrenalinku, penggugah rasaku, sang masterpiece sastra, dia sosok terdekat di mimpiku, meskipun jauh di dunia nyataku, dia sosok keras kepala tapi matanya mampu mengalirkan keteduhan yang menyejukan hatiku, dia sosok pengembara mencoba mencari apa yang ingin diraihnya, dia segalanya yang aku dambakan. Dia adalah A laki-laki yang memiliki nama terpendek selama aku di muka bumi ini.

Hujan itu datang lagi, membasahi bumi Yogyakarta, tak mampu kusangkal hujan dan kenyataannya adalah hal yang kubenci. Butiran-butirannya jatuh pelan, tapi menyisahkan jejak di bumi. Basah yah itu jejaknya di bumi  walaupun sebentar, tapi dia memberikan bukti bahwa dia hadir. Hujan menggambarkan sosok yang sempat kukugami. Dia karismatik, sempurna menurut dunia imajinasiku. 

Pernah suatu waktu dia mengajakku untuk berjalan menelusuri hujan. Mengajakku untuk merasakan dinginnya air hujan di tubuhku. Awalnya aku tak mau, aku tak mengikuti langkahnya yang berjalan menembus hujan. Dia menoleh dan menghampiriku, menggenggan erat tanganku dan berbisik: “Semua kan baik-baik saja, hujan tak akan menyakitimu.” Aku tersenyum mendengar suara bisikannya, aku hanya mengangguk dan tanpa ada perintah lagi, dia menarik tanganku, menuntunku untuk melangkah diantara indahnya bunyi dewaian butir hujan. 

Dia mendongakan kepalanya, menutup sejenak matanya dan berteriak: “Angel, aku mencintaimu dan selama akan tetap seperti ini.” Aku diam dan hanya bisa tersenyum, adrenalinku bekerja lebih cepat lagi. Aku hanya mampu berucap dengan suara lirihku, “Aku milikmu dan selamanya milikmu.” Dia tersenyum, senyum yang mampu mengalihkan duniaku, dia menariku membawaku dalam pelukannya, dia tertawa, yah dia tertawa lepas, dia mempererat pelukanya, dia berbisik lagi, “Jangan tinggalkan aku, walau apapun yang terjadi.” Aku hanya mengangguk tak mampu aku berucap kuingin resapi saja memori ini, biar selalu kubawa dalam jejak langkahku.

Aku tersenyum miris bila kuingat lagi kenangan itu. Suatu hal yang ingin kulupakan tapi tak pernak berhasil. Aku meraih diaryku, yang hari ini genap dua tahun aku sudah tak bersamanya lagi, hari ini genap dua tahun masa-masa aku berkabung dengan luka yang sudah diberikanya, hari ini genap dua tahun aku sendiri, yah masih sendiri menatapi masa-masa depan yang tak ku bisa tebak, hari ini genap dua tahun aku terkukung dalam penantian dan hari ini genap dua tahun aku masih memimpikannya tuk kembali. 

Aku menulis sajak sederhana “biar rindu yag tersisa kini, karena raga sudah tak mampu tuk bersama, biarkan doa yang kini kulantunkan karena pada nyatanya kita tak akan berjumpa lagi”. Aku menutup lagi diaryku, bergegas untuk keluar dari kamarku untuk bertemu lagi apda realita yang harus kulalui. Angel, panggil temanku, Ini ada surat untukmu, tanpa pengirim hanya namamu yang ada di amplop luarnya. Aku mengambil surat itu, menyimpannya di kamar, aku tak punya waktu lagi untuk membacanya. Kuambil tasku dan pergi.

Kenyataan ini tak mampu aku sembunyikan, aku menajdi seorang yang palsu, di mata semua orang. Aku tersenyum dan bahagia saat bersama mereka, seperti yang kulakukan saat ini, aku duduk bersama meraka, menikmati hidangan makan siangku. Aku kalut dan  tak berdaya, aku terlalu mencintainya dan sulit bagiku untuk melupakan semua yang sudah kulalui,aku hancur hanya dengan melihat apa yang berhubungan dengannya, aku memang gila seperti yang dikatakan teman dekatku, tapi apa yang harus kulakukan? Aku rindu dan masih sangat cinta.

“Angel, kenapa? Ada masalah?” Aku mendongakan kepalaku, dia di sana dengan senyum yang sama, senyum yang sesejuk embun, tapi tak mampu mengalahkan senyumnya.”Aku engga apa kok Dodi Cuma melamun adja.” Dia hanya tersenyum tak menanggapi lagi. 

Biarkan kudeskripsikan sedikit tentang Dodi. Tingginya sekitar 172 cm, posturnya proporsional, warna kulitnya putih terawat. Dia teman kantorku, bekerja pada bidang yang sama dengaku  bagian pemasaran, orangnya  luwes dan telaten. Bekerja dengannya  sungguh mengasyikan, candaannya bikin aku tertawa dan satu lagi dia punya kebiasaan membaca. Membaca apa saja. “Dodi, ayo pulang, masih banyak yang harus kita kerjakan” kataku. 

Dia hanya mengangguk dan pamitan sama teman-teman yang lain. Aku berjalan mendahului Dodi, dia dibelakangku. Dodi, aku menoleh dan mendapati dirinya sedang melihatku, aku tersenyum, Dodi aku ingin pulang, izinkan aku pada boss yah, aku engga enak badan. Dia berjalan menghampiriku, tangannya menyentuh dahiku, 

“Kenapa? Dimana yang sakit?” katanya. Aku hanya diam kaget melihat sikapnya, aku mencoba untuk tersenyum, “aku hanya kecapekan”. 
“Aku yang akan menghantarmu pulang” katanya. 
“Enggak usah Dodi, aku bisa sendiriku.” 
“Ayolah Ngel, aku yang antar.” 
“Baiklah Dodi, kita pulang sekarang”.
“Angel, kamu kenapa?Akhir-akhir ini kamu engga konsen sama kerjaanmu. Ada masalah? Ayo berbagi lebih baik daripada disimpan sendiri.” 
“Aku baik-baik kok Dodi, aku hanya kecapean akhir-akhir ini”. 
“Tapi perasaanku mengatakan lain Angel, ada sesuatu yang kamu sembunyikan, tell me”. Aku menarik napas dalam, mungkin benar kata Dodi, berbagi lebih baik dari ada menyimpannya sendiri.’’ 

“Aku punya masa lalu. Masa-masa di mana aku belajar untuk mencintai. Aku punya masa lalu, sebuah masa yang sulit dan terlalu sulit dilupakan. Aku pernah memiliki kekasih. Namanhya A. Dia sosok sempurna yang pernah kukenal, sosok pertama tempat ini beradu, laki-laki yang selalu ada untuk menguatkanku. Laki-laki pertama yang juga mengajarkanku arti sebuah luka karena dilepas. Dia pergi dod, hanya dengan secarik kertas berisi ucapan selamat yang ia simpan di depan kamarku. Dia tak pernah menghubungiku lagi, dia menghilang yang tersisa hanya luka. Aku mencoba menahan air mataku, dan yang paling bodoh adalah aku masih mengharapkannya sampai saat ini.” Dodi masih diam, dia menggenggam erat tanganku, dan hanya berkata, “Ayo, kita pulang”. 

Aku berbaring di tempat tidurku, ingin rasanya aku tidur. Tapi surat tadi pagi yang belum sempat aku baca mengganggu pikiranku. Aku membuka amplop surat itu dan betapa terkejutnya aku saat kubaca isi suratnya. Itu lirik lagu the Overtunes “I Still loving you”

If someday you feet can”t touch the ground
If your arms can”t feel my touch
If one day your  eyes can”t see my face
I carry you, be there for you, any time of day
Forever is a long time
But i keep my words that i say to you
Together we can go far
As long as i”m with you

Aku duduk di tempat tidurku, jantungku bergetar tak karuan, siapa yang mengirimi surat ini? Mengkinkah A yang mengirim ini? Aku bingung, tapi aku juga bahagia. Ada sesuatu yang kurasakan saat membaca lirik lagu dalam surat ini. Aku beralih pada diaryku, menyelip surat itu diantaranya, biarkn ini jadi sebuah kenangan dari sekarang.

Aku berangkat kerja seperti biasa, mencoba menahan rasa ingin tahu pengirim suratku. Biarkan semua berjalan seperti biasa, tanpa rasa ingin tahuku. Aku duduk di ruangan kerjaku, menyalakan laptop dan lagi-lagi aku menemukan surat yang sama. Isinya berbeda.

I want grow old with you. Aku mencoba mencari petunjuk nama pengirimnya, tapi tak ada. Aku diam dan larut dalam lamunanku, sebuah suara mengagetkanku suara yang sering tak asing lagi, suara yang selama ini selalu kudengar, suara seraknya yang percaya diri berdiri tepat di depanku sekang membawakan lagi lagu the Overtunes I Still love you, 

You’ll never be alone
Now look me in the eyes
I still love you
Til’ forever

Aku hanya diam, aku tak mampu berkata lagi. Dodi tersenyum dan menggenggan erat tanganku, ”izinkan aku untuk melewati masa tuaku bersamamu.” Aku mencoba ingin membuka mulutku, tapi dia melarangku, jangan sekarang, kapan kau siap untuk menjawab itu, “aku setia menunggunya, dan rasa ini tetap sama, tetap mencintaimu.” Dia memelukku dan berbisik lagi “together we can go far as long as i with you”.

Oleh: Angela Seriang
marjinnews Yogyakarta