Sepucuk Surat Untuk Ibu Megawati
Cari Berita

Sepucuk Surat Untuk Ibu Megawati

18 December 2017

Ibu Megawati, Putri Proklamator, Presiden RI Ke-5, Sekaligus Ketum DPP PDI Perjuangan. (Foto: Istimewa)


Ibu, kami sungguh  berterimkasih kepadamu. Berita hari kemarin sungguh sangat menyejukkan. Engkau sudah menjawab cukup lugas dan tegas kegelisahan kami selama ini.

Meski kerap mengulur waktu, ternyata pada akhirnya dikau menunjuk Marianus Sae sebagi Calon Gubernur kami. Hati kami sangat gembira mendengar akan hal itu.

Di kampung kami, Hand Phone saya adalah satu-satunya alat yang bisa mengakses berita media lokal online.

Hp saya kemarin hampir saja jatuh diperebutkan tetangga. Itu semua karena mereka mau membaca berita pencalonan Bapak Marianus Sae yang Ibu umumkan kemarin.

Aduh Ibu, sungguh engkau tak salah pilih. Sedikit bercerita Ibu, sebelum ini Ibu (mungkin) sedikit salah pilih.

Sepuluh tahun Kami dibuat mabuk Bu. Mabuk karena anggur merah, yang kami di NTT biasa sebut itu minuman perdamaian. 

Anggur itu kami putar,  hingga ketika sudah habis kami masih mabuk dan tidak melakukan apa-apa. Kami terlena dalam buaian anggur merah, pemberian pilihanmu.

Setelah 9 tahun lebih, saat kami belum bangun pagi, tiba-tiba, pintu rumah kami sudah diketok oleh orang berseragam, katanya tagih uang anggur. 

Aduh, kami pusing Bu. Kami pikir, minumannya gratis, eh, ternyata berbayar. Kalau tahu begitu mending kami jalan-jalan ke Cepi Watu, di sana ada tempat hiburan tempat untuk bisa minum-minum dan cepat sadar.

Kali ini, kami angkat topi Bu. Masih mungkin, memang. Tapi setidaknya, suara kami ini bisa juga engkau dengar di sana. Orang bilang dia fenomenal, iya! Sangat fenomenal malah.

Saking fenomenalnya, tetangga saya di sini sampai lupa bersih-bersih habis buang kotoran, buru-buru mau lihat dia lewat dengan trail-nya. Ah, trail hanya itu yang bisa menjangkau wilayah kami Bu.

Bayangkan, setelah 72 tahun Indonesia merdeka, jangankan listrik, aspal saja susah kami dapatkan.

Yang kemarin kan, orangnya Ibu to? Kader lagi. Tapi meski berstatus jalan provinsi, Ia kayaknya enggan mengindahkan keluh kesah kami, Bu.

Di situ kadang kami merasa sedih.
Bai de wai, Ibu sudah baca surat dari pemuka kami kemarin kah?

Surat dari Elar kah Ibu. Surat buat kadernya ibu yang sekarang Presiden, Pak Jokowi. Terlalu kalau Ibu tidak membaca itu surat. Itu surat muat di Kompas Bu.

Atau mungkin Ibu tidak langganan Majalah Kompas? Itu suara kami Ibu, kami titip lewat mereka.

Oh ya ibu, kembali ke topik awal tadi, ke sang fenomenal. Ibu e, pernahkah ibu dengar dia blokir Bandara? Aduh, waktu itu saya hampir tidak percaya ibu. Orang banyak yang caci maki dia tetapi setelah dia memberi penjelasan kami semua jadi malu sendiri. Tapi ah sudahlah. Nanti ibu panggil saja dia, jelaskan duduk soalnya. Ibu kan punya kuasa to? Hehehehe.

Ibu juga pernah baca majalah online detiknews ka? Kalau ibu searching nama MS, Ibu akan menemukan satu topik berita di situ tentang MS, Ahok dari NTT. Itu karena saking fenomenalnya, Bu.

Pergi pesta sekolah pake celana pendek, hadir kondangan tanpa pengawal, minum tuak sistim melingkar putar gelas, aduh keren bingit, Ibu. Apalagi dia pe, suka daging bakar. Ibu pernah menari Ja'i ka? Dia kalau menari Ja'i, talalu keren Bu, Hehehe.
Ibu e, begitu saja dulu e. Bai de wei, terimakasih hae. Sudah menunjuk Dia si MS itu untuk Cagub kami di Pilgub NTT 2018 nanti. Kami siap menangkan Dia Bu. Percaya deh. Kami janji pada Ibu. Memang Dia belum jadi hanya banyak yang mendukung Dia pe. Lime ponggo, untuk ibu dari para pendukungnya.

Penulis: RA
Catatan: Segala bentuk isi dalam tulisan ini adalah murni opini penulis dan tidak mewakili pendapat siapa pun.