Segerombolan Iblis Muda
Cari Berita

Segerombolan Iblis Muda

24 December 2017

Aku melihat sang Kakek tak berkotek sedikitpun dengan tingkah segerombolan remaja itu. Kakek tua itu tampak pasrah dengan usil yang mereka buat. ( Foto: Dok. Pribadi)

Terinspirasi dari Waktu yang singkat Untuk Menuju Kehidupan yang panjang.

Sore tadi, tepatnya dilampu merah menuju Ke Pelabuhan Benoa Denpasar-Bali.
Aku melihat seorang Kakek, yang badannya, kurus, keriput, lusuh dan lapuk di makan waktu.

Aku tidak tahu Ia hendak kemana?
Namun, yang aku tahu Ia berjalan terentah- entah menuju sebuah lorong. Menenteng sebuah jinjingan dan berjalan berkaki tiga dibantu oleh tongkat yang mungkin sudah menjadi andalannya setiap hari.

Lalu ada segerombolan anak muda yang menghampirinya. Betapa bahagianya diriku karena mungkin mereka mau membantunya, pikirku dalam hati.

Karena waktu itu aku mau beranjak pulang dari kegiatan. Dan masih banyak aktifitas di kos yang belom aku selesaikan.
Dengan terpaksa, aku tidak bisa membantu kakek tua rentah itu.

Ketika aku berangkat pulang, dari kejauhan aku memandang dan nampak pula tiba-tiba kesenanganku hilang seketika.

Betapa Kagetnya aku, segerombolan anak muda itu malah membuat kakek itu kesusahan. Tongkat Kakek itu diambil sama mereka. Kemudian, main gila-gilaan di depan kakek itu. Jinjinga dari sang kakek itu juga diambil sama anak-anak yang tadi itu. 

Padahal isinya adalah roti. Yang mungkin saja sebagai makanan dari sang Kakek tua tadi. Pikiranku dalam hati, mungkin saja itu roti untuk menyambung kehidupannya untuk sore itu.

Dengan sedikit senang teman yang satunya dari kelompok remaja itu terlihat merampas roti dari tangan temannya, lalu melahapnya rakus sekali.

Aku sampai menangis pada saat melihat kejadian itu. Jangan di lenceng ya, ini bukan lebai. Coba kalian pada situasi ini, pasti merasakan hal yang sama seperti yang ku alami ini.

Aku melihat sang Kakek tak berkotek sedikitpun dengan tingkah segerombolan remaja itu. Kakek tua itu tampak pasrah dengan usil yang mereka buat.

Hingga akhirnya segerombolan iblis muda itu merasa puas menyusahkan Kakek rentah itu. Lalu mereka beranjak pergi, aku tidak tahu perasaan mereka seperti apa.

Akhirnya aku mencoba mendekati sang kakek. " kenapa kamu belum pergi juga?" Kata kakek padaku. Kakek itu mengira, bahwa aku adalah salah satu teman mereka yang tadi itu.

Aku menjelaskan bahwa aku bukan teman dari segerombolan iblis muda tadi yang mengganggu Kakek.

Lalu kakek itu akhirnya mengerti juga.
Kek, aku melihat kakek tadi, digangguin sama segerombolan Pemuda tadi.
Apa yang kakek rasakan?

"Ahahhahaha " dia menjawab ku dengan ketawa khasnya, suaranya kedengaran serak.

"Kenapa ketawa Kek? Tanyaku lagi.
"Aku bahagia Nak, mereka sudah membuat cerita di ujung umurku. Aku doakan semoga mereka kelak nanti tidak seperti saya".

Jawabnya dengan cukup gemetar seakan membuat aku merinding.
Lanjutnya, "saya bahagia".
Aku kaget mendengar ucapan dari Kakek tua itu. Sang Kakek ternyata merasa bahagia bukannya marah.

"Oh Iya Kek, Rumah kakek di mana?" Saya antar. Boleh kan Kek? Tawar ku.
Sementara saya menawarinya pulang tiba-tiba Kakek lusuh itu berjalan.

Dia mengambil tongkatnya lalu berangkat tanpa menggubris lagi tawaran ku. Dia pergi tanpa saya tau lagi tempat tinggalnya dimana.


Pengarang : Zakarias H. Ngari
Mahasiswa Fakultas Hukum Univ. Warmadewa Denpasar.