Petrus Salestinus: Ray Fernandes Semestinya Rendah Hati
Cari Berita

Petrus Salestinus: Ray Fernandes Semestinya Rendah Hati

22 December 2017

"Keputusan Strategis dan Penting yang dilalui dengan pertimbangan berdasarkan hasil survei dalam berapa forum rapat, termasuk Rapat Pleno DPP Partai," kata Petrus (Foto: Istimewa).
JAKARTA, marjinnews.com - Ketua Umum DPP PDIP telah mengumumkan secara resmi nama Pasangan Calon Gubernur NTT 2018-2023, yaitu Marianus Sae dan Emi Nomleni. Marianus adalah Kader Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), sementara Emi  merupakan kader PDIP. Pasangan ini diusung oleh dua Partai Politik yakni PDIP dan PKB.

Pasca pengumuman paslon tersebut, beberapa pihak sontak mengungkapkan kekecewaan, terutama Ray Fernandes, kader PDIP yang juga Ketua DPC. PDIP TTU.

Pilihan Ray Fernandes beralasan. Menurutnya PDIP meninggalkan kader-kader yang berkeringat dan telah bersikap pragmatis, tanpa memberikan alasan logis. 

Namun, sikap Bupati TTU itu menuai respon dari Koordinator TPDI, Petrus Selestinus.

Menurut Petrus, keputusan yang diambil PDIP tentu melalui prosedur dan pertimbangan yang matang.

"Keputusan Strategis dan Penting yang dilalui dengan pertimbangan berdasarkan hasil survei dalam berapa forum rapat, termasuk Rapat Pleno DPP Partai," kata Petrus.

Petrus menjelaskan bahwa sebuah tradisi yang berlaku dan diterapkan terus menerus oleh DPP. PDIP hingga saat ini adalah penggunaan "Wewenang Khusus" atau "Hak Prerogatif" kepada Ketua Umum Partai untuk digunakan dalam keadaan tertentu.

"Ketua Umum Partai dapat kesampingkan semua Keputusan Forum Rapat Pengambilan Keputusan Partai untuk memutuskan hal-hal yang bersifat strategis demi keikutsertaan Partai dalam Pemilu dll., sebagaimana diamanatkan oleh AD & ART Partai," ucap Petrus. 

Ia mengatakan, Megawati Soekarnoputri sebagai Ketua Umum Partai telah mengambil keputusan penting dan strtegis demi keikutsertaan Partai dalam mengikuti dan memenangkan Pemilu/Pilkada yang harus segera diputuskan.

"Keputusannya itu sah dan mengikat termasuk mengikat Ray Fernandes selaku Kader dan Ketua DPC. PDIP TTU," tegas Petrus.

Ia menambahkan, para kader PDIP selama ini pasti mengenal tradisi Megawati ketika mengambil keputusan strategis.

"Tradisi menggunakan Kewenangan Khusus bagi Ketua Umum DPP. PDIP sudah dipahami dan dihafal betul oleh setiap kader Partai PDIP atas apa yang bakal terjadi dan dilakukan oleh Ibu Megawati Soekarnoputri ketika menghadapi hal-hal penting, strategis dan urgent termasuk soal Pilkada/Pilgub," ujar Petrus. 

Petrus menuturkan, model pengambilan Keputusan seperti itu sah dan mengikat secara hukum bagi setiap kader Partai dan Partai PDIP sendiri. 

"Secara historis dan yuridis, Kewenangan Khusus inilah yang membawa PDIP pada saat awal berdirinya hingga sekarang berdiri kokoh dan selalu lolos dari upaya pihak lain termasuk kader Partai yang mencoba memaksakan kehendak untuk mempersulit Partai dalam mewujudkan tujuan nasional, terutama soliditas kader Partai dalam menghadapi dinamika pragmatisme yang melanda sebagian besar kader Partai Politik di Indonesia," terang tokoh asal NTT ini.

Petrus mengatakan pilihan Megawati mengusung Bacalon Gubernur NTT dari kader Partai lain bukanlah sesuatu hal yang baru. Karena itu, sebagai kader PDIP, Ray Fernandes seharusnya dapat menerima keputusan tersebut.

"Yang namanya Kader PDIP apalagi mengaku sebagai kader yang telah berdarah-darah dan berkeringat untuk membesarkan Partai, sebetulnya Keputusan Ketua Umum DPP. PDIP mengusung Bacalon Gubernur NTT dari kader Partai lain untuk digadeng dengan kader PDIP secara berpasangan, bukanlah sesuatu hal yang baru dan bukan pula sesuatu yang tidak bisa diprediksi dan bukan pula sesuatu yang salah atau dilarang," kata Petrus.

Ia mengatakan, keputusan ini memiliki legitimasi yang tinggi, karena telah melalui proses yang panjang dengan mempertimbangkan segala aspek, tanpa ada maksud untuk menegasikan peran dan posisi kader-kader yang mengaku berkeringat darah dan air mata untuk PDIP. (AA/MN)