Pesan Kasih Untuk Pilkada 2018, Jadilah Politisi Dan Pemilih Katolik Yang Kekatolikan

Untuk itu politisi Katolik harus berakar kuat ke dalam sehingga ia bertunas subur dan membuahkan hasil yang positif keluar untuk kebaikan bersama (bonum commune). (Foto: Dok. Pribadi)

Untuk Para Politisi Katolik

Katolik artinya umum atau universal. Namun Katolik itu pun khas, unik dan khusus.

Maka sesungguhnya, Katolik itu suatu konteks partikularitas (kekhususan) sekaligus universalitas (keumuman). Katolik itu eksklusivitas sekaligus inklusivitas.

Katolik itu indah dan strategis karena memungkinkan kita untuk bermain antara (playing between).

Karena berada antara titik partikularitas dan universalitas, maka menjadi polisiti Katolik itu das sollen (seharusnya) cerdas bermain dalam pusaran arus partikularitas dan universalitas.

Politisi Katolik harus lihai melakukan playing between (permainan antara).

Politisi Katolik harus bermain antara kekhususan dan keumuman. Namun ini bukan karena konsekuensi posisi Katolik sebagai entitas minoritas di negeri ini, melainkan semata-mata karena nama KATOLIK itu sendiri yang artinya umum, publik dan universal.

Menarik juga karena politik berkaitan dengan urusan pengaturan hidup bersama menuju kebaikan bersama bangsa dan negara. 

Politik membuat seseorang populer dalam hidup berbangsa dan bernegara. Ia dikenal dari level bawah hingga sentral kekuasaan di tingkat atas.

Menggoda karena politik itu menantang. Menantang karena panggung politik menghadirkan berbagai rayuan gombal godaan yang menggiurkan tentunya.

Politik dapat saja membelokkan seseorang jadi pribadi berhati lurus menuju pribadi berhati bengkok manakala ia dihadapkan pada godaan-godaan politik seperti uang (harta, korupsi) dan kekuasaan (takta/abuse of power) yang dapat membutakan mata iman kekatolikan seseorang.
Maka di sini politisi Katolik harus memiliki kecerdasan Katolik yang mumpuni.

Cerdas akan Nilai kekatolikan

Ketika politisi Katolik bermain dalam konteks khusus, artinya politisi Katolik harus bermain cerdas di dalam kelompok Katolik. Ia harus bisa memahami Katolik dari dalam Katolik itu sendiri.

Ia mengenal dan memahami nilai-nilai Katolik, berakar dalam nilai-nilai Katolik dan bertumbuh dalam nilai-nilai Katolik itu sendiri.

Nilai-nilai Katolik itu apa?
Banyak sekali nilai Katolik yang dapat dipelajari dalam Kitab Suci dan Magisterium Gereja seperti ensiklik para paus dan ajaran sosial gereja yang lain.

Menjadi politisi Katolik artinya cerdas untuk dapat melayani pada dua (2) aras.
Melayani ke dalam (dunia Katolik) dan melayani keluar (masyarakat umum). 

Untuk itu politisi Katolik harus berakar kuat ke dalam sehingga ia bertunas subur dan membuahkan hasil yang positif keluar untuk kebaikan bersama (bonum commune).

Politisi Katolik mengharuskan dan mewajibkan dirinya agar kuat dalam pemahaman nilai-nilai Kekatolikan sehingga dirinya dapat mewartakan karakteristik kekatolikan itu kepada others, yang lain.

Pemahaman akan nilai-nilai kekatolikan merupakan suatu conditio sine qua non (kondisi yang tidak bisa tidak)!

Ia harus am agar cerdas dalam mengimplementasikan kekatolikan itu. Ia harus cerdas sehingga tidak salah arah, tidak sesat, tidak buta dan tidak keliru berjalan dalam mengaktualisasikan nilai-nilai Katolik di panggung politik praktis kekuasaan.

Politisi Katolik tidak boleh gagal paham. Ia harus cerdas secara Katolik dan sekaligus memiliki hati dan tindakan Katolik yang jitu-tepat untuk nasib Katolik dan kukuhnya entitas bangsa ini.

Ada banyak nilai-nilai Katolik yang dapat kita endus dalam Kitab Suci Magisterium Gereja. Saya menyitir ajaran kitab suci yang dianggap relevan dan urgen.

Nilai-nilai politisi Katolik itu seperti pemimpin pelayan menurut teladan Sang Yesus Kristus yang datang untuk melayani dengan kerendahan hati dan bukan dilayani (ingat kisah perjamuan malam terakhir ketika Yesus membasuh kaki para rasul).

Juga pada bagian lain Santo Petrus memberikan nasihat bijak “Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah (1 Petrus 4: 10). 

Petrus menasihati agar setiap politisi (pengurus) melayani dengan kasih karunia. Kasih karunia itu kebenaran, kebaikan dan kejujuran serta cinta kasih.

Kita pun melayani sesama dengan karunia yang diberikan Roh Kudus yang sudah ada pada kita ketika kita menerima Sakramen Baptis dan Krisma untuk mewartakan Kekatolikan kepada sesama dan dunia. Dengan ini kita menjadi ragi, garam dan terang dunia.

Berakar dalam spiritualitas melayani, maka politisi Katolik akan memposisikan diri berbeda dengan politisi lain yang mungkin saja menanti untuk dilayani alias bermental bos. 

Politisi Katolik akan dengan sendirinya memiliki dorongan roh untuk bertindak katolik: reflektif dalam situasi, cepat bersikap, dan bertindak tepat untuk menciptakan kebaikan Katolik dan kebaikan masyarakat bangsa secara keseluruhan.

Adalah tabu menjadi politisi Katolik itu yang tidur terlelap dalam romantisme arus partai dan dogmatisme politik yang bermain menurut arus keinginan partai yang dimasukinya.

Politisi Katolik jangan mengorbankan idealisme nilai Katolik untuk kepentingan partai yang dapat saja membuat nilai-nilai kekatolikan menjadi kabur bahkan redup dan padam.

Politisi Katolik yang gagal bertindak Katolik di dalam partai adalah politisi yang maaf, tidak setia dalam berpolitik secara Katolik. Tidak setia artinya tidak konsisten dengan nilai-nilai Katolik. 

Tidak konsisten dengan nilai-nilai katolik artinya juga gagal berpolitik secara katolik di panggung politik Indonesia.

Apakah dengan ini orang Katolik takut dan tidak mau berpolitik? 
Karena takut nanti tidak dapat berjuang melawan keinginan partai?

Tidak! Sebab menjadi politisi Katolik itu tidak boleh juga merasa tinggal dalam status quo. Artinya jabatan dan posisi di panggung politik itu bukan untuk dilestarikan dan dijaga agar kita tetap berkuasa di situ.

Namun orang seharusnya menggunakan jabatan politis atau posisi kekuasaan itu untuk sebanyak mungkin melakukan kebaikan kekatolikan dengan cara spiritualitas melayani dengan piawai bermain antara (playing between). Piawa dan cerdas bermain antara kekatolikan dan keindonesiaan.

Piawai bermain secara kekatolikan artinya politisi Katolik berpolitik untuk nilai-nilai Katolik seperti kebaikan, kejujuran, tanggung jawab, dan cinta kasih untuk option for the poor (pilihan untuk orang miskin papa) dan juga voice of the voiceless (suara kaum yang tak bersuara).

Ia ibarat nabi yang menyuarakan kebenaran dan nilai-nilai kekatolikan tanpa takut tidak populer atau bahkan ditolak sekalipun.

Ia berpolitik berbasis idealisme nilai Katolik dan bukan pada pertimbangan pragmatisme politik yang sering kali tidak fair dan tidak santun dalam bermain.

Ia mencintai kitab suci, akrab dengan Yesus, dekat dengan hirarki dan terlibat dalam komunitas-komunitas Katolik. 

Ia dikenal dan aktif dalam kegiatan internal Katolik di organisasi katolik: di gereja, di wilayah, di stasi, di komunitas umat basis dan di tengah keluarga sebagai gereja mini.

Piawai bermain secara keindonesiaan artinya ia berpolitik untuk bonum commune atau kebaikan bangsa Indonesia secara keseluruhan. 

Ia berjuang untuk NKRI, Pancasila, Bhineka Tunggal dan UUD 1945 sebagai nilai yang patut dijunjung tinggi dalam hidup berbangsa dan bernegara.

Piawai bermain untuk Indonesia artinya ia menjadi negarawan sejati. Ia menjadi politisi yang memiliki visi dan misi jauh ke depan untuk Indonesia abadi, Indonesia jaya, Indonesia lestari.

Berpolitik untuk membasmi korupsi dengan jujur dalam berpolitik, menyuarakan kebenaran dan keadilan dengan lantang mengkritik hal yang tidak etis dan melawan hukum, bertindak profetis untuk menyelamatkan Indonesia dalam kondisi yang tidak menguntungkan bangsa dan negara ini.

Apa itu artinya menjadi politisi katolik. Ya, jadilah politisi Katolik yang mengindonesia demi keindonesiaan dan kekatolikan. Ini tugas mulai yang menanti bagimu hai politisi katolik saat ini. Bukan esok atau lusa.

Untuk Lembaga Gereja.

Setiap kali berhadapan dengan masalah politik, Gereja terkadang tak jelas pandangan dan sikapnya. 

Di satu sisi gagap karena lemahnya pendidikan politik bagi para pemimpin dan umat. Di sisi lain, Gereja bersikap pragmatis, cari selamat sendiri, memilih tinggal di zona nyaman, bahkan oportunis dan hedonis.

Pandangan dan sikap Gereja terhadap politik harus jelas dan Alkitabiah. 

Pertama, Gereja harus memfokuskan diri sebagai lembaga/pemerintahan illahi (spiritual government) dengan tugas menggembalakan umat Tuhan dan memberitakan Injil bagi dunia – mandat pembaruan rohani (Mat 28:19-20). 

Kedua, negara (civil government) yang ideal harus dipandang sebagai hamba Tuhan yang bertugas untuk mensejahterakan rakyat (Rm 13:4) – mandat pembagunan kultural (Kej 1:28). 

Ketiga, Gereja dan negara berdiri sendiri-sendiri, terpisah, tidak dicampur aduk. 

Keempat, implikasinya, Gereja sebagai lembaga illahi tidak berpolitik praktis, misalnya tidak mendirikan parpol atau mendukung salah satu parpol (Lugo, 2009). Para pemimpin Gereja semestinya tidak berpolitik praktis karena fokusnya adalah memimpin umat. 

Kelima, Gereja harus mempengaruhi dunia politik dengan suara kenabiannya. Gereja menjadi pembimbing rohani tanpa berkepentingan politik praktis.

Kepentingan Gereja adalah membarui kerohanian negara (civil government) sehingga – meski belum menjadi Kristen – takut akan Tuhan dan menjadi hamba Tuhan (Rom 13:4). Inilah yang disebut Calvin sebagai Cristiana Republica, yaitu pemerintahan sipil yang dikelola oleh masyarakat yang takut akan Tuhan.

Dengan pandangan seperti itu, para pemimpin Gereja harus berani aktif melakukan kontrol sosial dan menanamkan nilai-nilai Kristiani. Ketika Pemerintah korup, para pendeta harus berani mengkoreksi.

Di sisi lain, jemaat Kristen (bukan pendeta/pemimpin Gereja) justru harus aktif berkarya di dunia politik (dan di berbagai bidang lainnya) dalam rangka menjadi garam dan terang dunia. Jadi, politisi Kristen semestinya adalah “misionaris di dunia politik”, bukan sekedar mencari nafkah di dunia politik, apalagi sekedar mengejar kekuasaan untuk kepentingan diri sendiri.

Gereja juga harus waspada terhadap dunia politik yang sarat dengan berbagai kepentingan dan sikap rakus dalam berebut kekuasaan, termasuk dengan memakai kuasa iblis (okultisme). Karena itu, Gereja harus berdoa dan melawan roh-roh jahat yang bekerja di antara para pemimpin negara dan di antara para politisi.

Menghadapi pemilu atau pemilukada, Gereja harus berwibawa dan bersikap jelas dan tegas sebagai lembaga illahi. Harus berani berbicara. Berani menyampaikan suara kenabian. 

Harus cermat dan cerdas dalam menilai kualitas para kandidat pemimpin. Untuk itu Gereja harus melek politik dan peka secara rohani (berdoa, menangkap petunjuk Roh Kudus). Gereja jangan mau dikelabuhi dangan janji-janji politik, apalagi dibeli suaranya dengan kekuatan politik uang. Gereja jangan mau dimanfaatkan oleh parpol atau politisi untuk mendukung kepentingannya.

Gereja jangan golput. Namun, keikutsertaan Gereja (pemimpin dan umat) dalam pemilukada adalah dalam rangka melahirkan pemimpin-pemimpin politik yang berkualitas “hamba Tuhan” seperti kata Paulus. 

Gereja harus melancarkan kekuatan tawar (bargaining power) untuk mempengaruhi para kandidat supaya memiliki visi dan komitmen kehambaan, dan tetap konsisten setelah terpilih menjadi pemimpin.

 Untuk Umat Katolik

Untuk Umat yang merupakan pemegang kedaulatan hak Pilih diharapkan agar untuk tetap bersikap tenang dan jernih dalam menyikapi keadaan. Umat diminta ikut mendukung segala upaya pemerintah dalam menjaga ketenangan dan kedamaian.

Pilkada penting dalam kehidupan bermasyarakat, karena itu umat yang memiliki hak pilih dapat menggunakan hak pilihnya sesuai hati nurani.
Didalam menentukan pilihan, umat diharapkan untuk mengedepankan rasa persaudaraan dan rasa kekeluargaan.
Sebab dewasa dalam berpolitik terceemin lewat Pemilukada yang aman damai dan tentram.

Umat diharapkan terus berdoa agar Tuhan selalu menjaga negara dan bangsa kita; agar para pemimpinnya senantiasa diberi terang kebijaksanaan, sehingga kita sama-sama maju menjadi masyarakat yang damai dan sejahtera.

Dan yang paling penting Umat diharapkan tetap mengikuti Hukum yang diajarkan oleh Yesus yaitu hukum Cinta Kasih.


Penulis: Remigius Nahal

COMMENTS

Name

Artikel,140,Bali,108,Bedah Buku,1,Ben Senang Galus,1,Bencana Alam,1,Berita,142,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,3,BPJS,1,Budaya,41,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,174,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,529,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Dari Kami,2,Demokrasi,22,Denpasar,18,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Donny Isman,1,DPR RI,4,E-KTP,4,Editorial,34,Ekonomi,5,Ekspresi,1,Ende,6,Entrepreneur,1,Feature,36,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,11,Focus Discussion,4,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,gaya hidup,4,Gedged,1,Gempa,6,Gereja,3,Gereja Katolik,3,Gerindra,1,GMKI,1,GMNI,3,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hiburan,25,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,59,Human Trafficking,4,IBT Expo,1,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,1,Indonesia,1,Indonesian Idol,8,Inspirasi,13,Internasional,16,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,5,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jawa Timur,1,JK,1,Jogyakarta,2,Jokowi,18,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,272,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,4,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,kecelakaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,2,Kemanusiaan,62,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,154,kepemudan,8,kerohanian,2,Kesehatan,8,Ketahanan Nasional,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,60,KPK,12,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,51,Kritik Sastra,4,Kupang,24,Labuan Bajo,51,Lakalantas,9,Larantuka,1,Lembata,2,Lifestyle,6,Lingkungan Hidup,15,Literasi,14,lombok,1,LP Cipinang,1,Luar Negeri,4,Mahasiswa,41,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,4,Malang,3,Manggarai,112,Manggarai Barat,20,Manggarai Timur,24,Marianus Sae,1,Marion Jola,3,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,7,Media,2,Media Sosial,3,Medsos,2,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Milenials,51,Motang Rua,1,Muda Petani,1,musik,1,Narkoba,8,Nasional,275,Natal,19,Ngada,7,Novanto,2,Novel,16,NTT,199,Nyepi,2,Olahraga,11,Opini,400,Orang Muda,15,Otomotif,1,OTT,2,Papua,15,Pariwisata,26,Partai Politik,25,Pasangan,15,Paskah,2,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,Penerbangan,4,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,20,Perindo,1,Peristiwa,1021,Peritiwa,2,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,41,Pilkada,102,Pilpres 2019,23,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,22,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Pojok Redaksi,34,Polisi,25,politik,89,Politikus,6,POLRI,5,PP PMKRI,1,Pristiwa,31,Prosa,1,PSK,1,Puisi,84,Puteri Indonesia,2,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,4,Refleksi,15,reformasi,1,Regional,6,Religi,2,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,26,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,9,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,2,Sekilas Info,23,seleb,1,Selebritas,18,Sidoarjo,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,18,Sospol,39,Start Up,1,Suara Muda,43,Sumba,8,Surabaya,36,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,11,Tentang Mereka,43,Tenun Manggarai,1,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Togar Situmorang,5,Tokoh,17,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,1,traveling,9,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,2,Viral,3,Wisata,4,Wisuda,1,WNA,1,
ltr
item
Muda Membaca Dunia: Pesan Kasih Untuk Pilkada 2018, Jadilah Politisi Dan Pemilih Katolik Yang Kekatolikan
Pesan Kasih Untuk Pilkada 2018, Jadilah Politisi Dan Pemilih Katolik Yang Kekatolikan
https://1.bp.blogspot.com/-QICw29dfxXY/WjWQSxVqA_I/AAAAAAAAAG8/vOUJVR6XdVAWxA7WBqW0sTHeThB70IstQCLcBGAs/s320/FB_IMG_15134596601942492.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-QICw29dfxXY/WjWQSxVqA_I/AAAAAAAAAG8/vOUJVR6XdVAWxA7WBqW0sTHeThB70IstQCLcBGAs/s72-c/FB_IMG_15134596601942492.jpg
Muda Membaca Dunia
http://www.marjinnews.com/2017/12/pesan-kasih-untuk-pilkada-2018-jadilah.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2017/12/pesan-kasih-untuk-pilkada-2018-jadilah.html
true
971126874416220402
UTF-8
POSTINGAN LAIN Not found any posts LAINNYA Selengkapnya Reply Cancel reply Delete Oleh Home PAGES Kiriman Baca Semua Rekomendasi untuk Anda LABEL ARCHIVE CARI Semua Kiriman Tidak Ditemukan Apa yang Anda Cari Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 Jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Pengikut Ikuti THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy