Pendidikan yang Mendidik

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Pendidikan yang Mendidik

5 December 2017

Kerap kali persoalan-persoalan itu muncul akibat melemahnya komitmen pemerintah dalam mengelola sistem pendidikan yang benar-benar memberikan perubahan terhadap tingkah laku dan kepribadian bagi anak didik di sekolah (Foto: Dok. Pribadi)
Waktu itu tepatnya 23 Juli 2010, masih teringat saya menjajakan kaki pertama kali di tempat ini.  Merasa asing sekaligus menakutkan adalah kesan yang pertama kali  saya rasakan. Entahlah, kompleks yang luas, jauh dari kampung halaman, penuh dengan tembok tinggi, gerbang dimana-mana, membuat saya merasa bahwa sekarang saya berada dalam sebuah gua pengabdian. Bagi segelintir orang tempat ini sudah tidak asing. Rupanya perasaan itu sudah tidak lagi bersahabat dengan diriku. 

Bagi anak seusia saya, yang terhitung masih kecil  tempat ini adalah tempat paling serem yang dijumpai.  Kembalinya sang mentari pagi akan ditutupi oleh rindangnya pohon mahagoni sekitar komunitas.  Dentuman suara klakson dari gedung bawah tanah semakin menemani risaunya hatiku saat itu.  Masihkah saya tetap pada perasaan ini??  Aku mencoba merapatkan tubuh pada jalur evakuasi sebelah kanan tempatku berdiri saat itu. Ya, tempat ini juga dipenuhi tangga berjejer sebagai jembatan silang gedung berikutnya.

Ku mencoba lempar pandang pada sebuah gedung yang berada disisi sudut kompleks itu.  Warnanya sedikit kusam sembari bercak lumut menghiasi pertanda kayunya sudah berusia tua. Walaupun begitu  masih terdapat aktivitas dalam gedung tersebut. Boleh saya menamakan “gedung tua”.  Mencoba menjajakan kaki pada lorong gedung tua terhenyak aku pada pemandangan sekitarnya. Sebuah gedung bercat putih diwarnai dengan warna-warni alat makan yang sangat fantastis sekaligus mengunggah selera untuk segera dinikamti. Ada santapan apa dibaliknya.  Masih ada juga aktivitas ibu-ibu diseberang gedung tetangga tempat itu. Bercanda ria sembari memegang tongkat pusaka pencampur nasi kuali besar untuk masyarakatnya. 

Warung makan juga tidak. Jangan mengira ini warung makan. Warung padang apalagi. Ini adalah tempat makan warga komunitas berasrama yang dalam jumlah banyak. Makanannya gratis lo!!! Masakannya khas ala saung daeng khas tanah Manggarai tercinta. Yang penting jangan lupa membayar beras dan unag sayur saja diawal semester. Selanjutnya silahkan menikmati masakan khas warung mandiri ala Santu Klaus. Lahap dan enak ketika saya mencoba menikmatinya apalagi di temani senyum dan reges mama yang dari dapur. Aduhaaaiii!! Kini aku hanya mampu bercerita tentang kisah ini. Dibalik kisah ini ada begitu banyak yang boleh kupetik sekarang.

Kalau kita berani kembali ke belakang, begitu banyak persolan menghiasi wajah dunia pendidikan kita. Kerap kali persoalan-persoalan itu muncul akibat melemahnya komitmen pemerintah dalam mengelola sistem pendidikan yang benar-benar memberikan perubahan terhadap tingkah laku dan kepribadian bagi anak didik di sekolah. Tidak jarang  bila banyak terjadi tawuran antarpelajar yang menyebabkan kerugian mendasar  bagi dunia pendidikan yang pada hakikatnya mempunyai tanggungjawab untuk membina  anak didik agar menjadi generasi potensial dan berkepribadian luhur. 

Lebih mirisnya lagi tawuran antarpelajar menjadi sebuah kebiasaaan dan suatu sistem yang seakan diturunkan pada setiap generasi. Tawuran bukan lagi sebuah kekersan malah berubah menjadi sebuah kebiasaan yang patut dipuji. Hemat saya, ini adalah awal bergesernya tujuan awal pendidikan. Lemahnya pembinaan tersebut  menyebabkan adanya kepincangan dan ketidakseimbangan dalam membangun kepribadian dan kecerdasan seorang anak didik sehingga semakin menambah persoalan baru dalam dunia pendidikan. 

Tentu, dengan adanya kepincangan dalam membangun karakter anak didik secara tidak langsung akan berimpilkasi pada kegagalan pendidikan semakin mengalami penurunan secara siginifikan. Namun, ini seakaan sebagai wacana semata ketika tidak adanya usaha untuk mencoba keluar dari problematika tersebut oleh lembaga yang mempunyai kewajiban membenah dalam hal ini adalah pemerintah.  Seandaianya kita jeli melihat suatu konsep yang faktual tuntutan terhadap kemajuan pendidikan menjadi sangat mendesak untuk digalakkan mengingat peranan penting pendidikan masih dianggap strategis dalam membina tunas-tunas muda bangsa dalam mengelola sumber daya yang ada dan menjawab tantangan modernisasi yang tidak bisa terelakan lagi. Namun apa yang menjadi kenyataan sekarang? 

Idealismenya pendidikan yang kita idamkan, tampaknya telah mengalami suatu penurunan. Menjadi insan pendidik kita perlu memahami setiap makna yang ingin kita perjuangkan. Para pendahulu memiliki tujuan yang sangat mulia terhadap pendidikan dinegeri ini. Penddikan yang mempunyai tujuan untuk membantu anak didik agar berkembang menjadi manusia yang utuh, yang berbahagia. Oleh karenanya, kesempurnaan manusia hanya mungkin dengan alamnya, maka pendidikan itu harus mampu membantu orang muda berbaik dan berelasi saling membantu dengan orang-orang lain. Dan salah satu cara mengembangkan orang lain adalah kita harus menghargai oranglain sebagai pribadi yang bernilai, kita mau berelasi baik dengan mereka, bekerjasama dengan mereka membangun dunia yang lebih baik dan sempurna.

Dryarkara (1980:127) mengungkapkan bahwa pendidikan itu bertujuan untuk memanusiakan manusia, akan membantu proses hominisasi dan humanisasi. Menurut Driyarkara, apa yang kita sebut pendidikan (mendidik dan dididik) bukanlah suatu perbuatan tertentu, melainkan kompleks dari banyak perbuatan-perbuatan yang sebagai keseluruhan dijuruskan ke arah tertentu yaitu memanusiakan manusia.

Hominisasi adalah proses pemanusiaan pada umumnya. Manusia berbeda dengan makhluk lainnya, seperti binatang ataupun tumbuhan, manusia tidak akan sampai pada fase ‘ke-manusiawi-an-nya’ tanpa pendidikan. Hemat saya ketika insan pendidikan memahami atau mencoba menerapkan bukan tidak mungkin setiap pribadi akan kita dekati, jangan sampai ada pembatas anatara kaum pendidik dan kaum terdidik. Perbedaan akan terlihat dari segi tanggungjawab yang ada, namun sebagai kaum pendidik insan pendidikan harus mampu mengimplentasikannya ditengah dunia pendidikan. Sedangkan humanisasi merupakan proses lanjutan setelah hominisasi.

Menjadi orang muda untuk semakin menjadi manusia, manusia yang berbudaya tinggi dan bernilai tinggi. Bukan hanya hidup sebagai manusia makan minum tetapi juga menjadi manusia yang bermoral, berwatak, bertanggungjawab dan bersosialitas.

Jadi pendidikan sebisa mungkin membantu manusia muda paling tidak menjadi manusai yang terdidik dan utuh dari setiap aspek. Dengan demikian saya dapat mengerti bahwa pendidikan manusia muda, bukan hanya soal pendidikan dan pengembangan penegtahuan,apalagi sebatas mempunya otak untuk berpikir. Karena itu tidak cukup, karena hal itu hanya membawa manusia mengerti, tetapi belum pasti keempat hal yang sudah saya sebutkan sebelumnya sudah selaras.

Oleh : Edid Theresa
Marjinnews.comYogyakarta
Anggota Komunitas Pecinta Literasi Jogjakarta