Pemeriksaan Propam Polda NTT, Mengikuti Lirik Lagu Frangky Sahilatua, " Yang Salah Dipertahankan Yang Benar Disingkirkan


Anomali Penegakan Hukum di Kepolisian, sudah bukan lagi menjadi rahasia umum, Penegakan Hukum dengan cara; "yang salah dipertahankan dan yang benar disingkirkan" seperti lirik lagu penyanyi balada Franky H. Sahilatua yang berjudul "perahu retak" yang diangkat dari realitas anomali Penegakan Hukum kita. ( Foto: Istimewa)

Propam Polda NTT masih gamang untuk menetapkan siapa sesungguhnya tersangka dalam OTT Propam Polda NTT, meskipun yang tertangkap tangan adalah Iptu Aldo Febrianto, Kasatreskrim Polres Manggarai yang terjadipada tanggal 11 Desember 2017 yang lalu.

Publik NTT muali cemas melihat arah pemeriksaan Propam Polda NTT, meskipun tetap memberikan aspresiasi kepada KAPOLDA NTT karena telah melakukan OTT terhadap Iptu Aldo Febrianto.

Namun Kegamangan Penyidik karena belum menetapkan Status Tersangka terhadap Iptu Aldo Febrianto telah menimbukkan kecemasan di kalangan Masyarakat Manggarai dan NTT pada umumnya.

Karena dikhawatirkan sikap gamang Polda NTT akan melahirkan polarisasi di kalangan masyarakat dan di internal Polda NTT di antara yang pro dan kontra terhadap Penetapan Iptu Aldo Febrian menjadi Tersangka.

Hingga saat ini, Iptu Aldo Febrianto, hanya disebut telah dimutasi dari jabatan Kasatreskrim Polres Manggarai, namun akal sehat publik memaknai bahwa mutasi adalah persoalan Administrasi dan Managemen yang rutin dan normatif dalam setiap organisasi, termasuk dalam lingkungan Polda NTT.

Apalagi mutasi tidak memiliki implikasi hukum apapun terhadap Iptu Aldo Febrianto, sebagai orang yang tertangkap tangan dalam OTT, disertai dengan temuan barang bukti uang Rp. 50 Juta saat OTT berlangsung.

Publik berharap bahwa OTT terhadap Iptu Aldo Febrianto harus berimplikasi hukum, terlebih-lebih setelah diperiksanya saksi Sdr. Yustinus Mahu, Direktur PT. IMM yang secara yuridis memberikan modal berupa sekurang-kurangnya dua alat bukti bahkan lebih, untuk menetapkan Iptu Aldo Febrianto menjadi tersangka.

Uang Rp. 50 juta di tangan Iptu Aldo Febrianto, adanya pesan SMS via HP dan Keterangan Saksi Yustinus Mahu dkk. terkait permintaan uang jatah proyek, telah memastikan pemberian status tersangka kepada Iptu Aldo Febrianto tidak dapat dihindari lagi.

Beberapa analisis mengatakan bahwa kegamangan Propam menyerahkan kasus OTT Iptu Aldo Febrianto, ke tangan Penyidik Tipikor Polda NTT, untuk sebuah Penyidikan dan menjadikan Iptu Aldo Febrianto sebagai Tersangka, karena Penyidik Propam ingin menerapkan pandangan Hakim Cepi Iskandar dalam putusan Praperadilan Setya Novanto bahwa Penetapan Status Tersangka diujung Penyidikan.

Sementara analisis lain menyatakan bahwa Propam Polda NTT sedang berupaya menyelamatkan Iptu Aldo Febrianto dengan hanya menjadikannya Saksi.

Sehingga Penyidikannya akan diarahkan kepada tindak pidana percobaan suap dengan menjadikan Yustinus Mahu, sebagai tersangka. Analisis yang ketiga yaitu kasus Iptu Aldo Feberianto, hanya akan dijadikan sebagai kasus pelanggaran Etika Profesi.

Sehingga cukup memerlukan proses penyelesaian diinternal Polda NTT dengan sanksi administratif.

Dalam keadaan dimana publik tengah menanti sikap tegas Polda NTT dalam menindak anggotanya yang melakukan tindak pidana, maka, Polda NTT justru memilih jalan penyelesaian secara internal, hanya dengan menjadikan kasus Iptu Aldo Febrianto, sebagai pelanggaran Etika Profesi.

Jika ini yang terjadi, maka ini jelas telah memutarbalikan kebenaran, membalikan fakta-fakta hukum, terutama adanya temuan uang Rp. 50 juta dari tangan Iptu Aldo Febrianto dan kesaksian Yustinus Mahu, bahwa Iptu Aldo Febrianto memerasnya melalui Aiptu Komang Suita, yang saat ini uangannya sudah berada di tangan Propam Polda NTT.

Pertanyaannya adalah, kapan Polda NTT memulai Penyidikan terkait pemerasan yang terjadi sebagai buah dari OTT Propam?

Anomali Penegakan Hukum di Kepolisian, sudah bukan lagi menjadi rahasia umum, Penegakan Hukum dengan cara; "yang salah dipertahankan dan yang benar disingkirkan" seperti lirik lagu penyanyi balada Franky H. Sahilatua yang berjudul "perahu retak" yang diangkat dari realitas anomali Penegakan Hukum kita.

Adanya fakta hukum berupa OTT dimana seorang Kasatreskrim dengan pangkat Iptu tertangkap tangan dalam OTT karena sedang menguasai uang Rp. 50 juta yang bukan miliknya, bukan milik Institusi Polri tetapi proses hukumnya hanya beruptar pada persoalan pelanggaran Etika Profesi.

Padahal uang Rp. 50 juta yang diduga sebagai hasil pemerasan, telah disita dan diklarifikasi kepada Yustinus Mahu sebagai korban, tetapi mengapa hingga saat ini tidak ada tersangkanya.

Begitu kuatkah jaringan Iptu Aldo Febrianto, dkk. di Polda NTT, pertanyaan ini muncul karena pasca terjadi OTT pada tanggal 11 Desember 2017 yang lalu, Iptu Aldo Febrianto masih bergerak bebas bahkan masih memberikan komentar kepada sejumlah wartawan, bahwa dirinya dimutasi ke Polda dan menyangkal adanya OTT Propam Polda NTT.

Pernyataan Iptu Aldo Febrianto itu sekaligus membantah penjelasan, Jules Abraham Abas, Kabid Humas Polda NTT pada tanggal 12 Desember 2014, bahwa Propam Polda NTT telah melakukan OTT di Manggarai atas perintah Kapolda dan yang terkena OTT adalah Iptu Aldo Febrianto, Kasatreskrim Polres Manggarai.

Namun pada hari-hari ini, mulai terjadi pergeseran sikap Polda NTT dari yang semula mengakui OTT, sekarang mulai secara perlahan-lahan Polda NTT mengikuti alur penjelasan Iptu Aldo Febrianto, bahwa Iptu Aldo Febrianto tidak kena OTT tetapi hanya dimutasi ke Polda NTT di bagian Pamma Yanma. Kabid Humas Polda NTT, Jules Abraham Abas, dalam penjelasannya tanggal 15 November 2017 kepada sejumlah media,  semakin memperjelas posisi Polda NTT  menghadapi kasus OTT terhadap Iptu Aldo Febrianto hanya menjadi urusan internal Polda NTT.

Keberadaan Iptu Aldo Febrianto di Ruteng saat ini hanya urusan pindahan dan mengambil barang-barang miliknya karena ybs. dikenakan mutasi ke jabatan lain di Polda NTT sebagai Pamma di Yanma.
Propam Polda NTT seharusnya tidak boleh samakan OTT terhadap Iptu Aldo Febrianto dengan OTT Propam Polda NTT terhadap anggota Polri yang sedang minum miras di club malam, sehingga hanya dikenakan pemeriksaan dan penindakan berupa pelanggaran Etika Profesi dan diberi sanksi administratif.

Dalam kasus OTT Iptu Aldo Febrianto tentu OTT Propam Polda NTT seharusnya diapresiasi oleh KAPOLDA, karena yang semula hanya ingin menangkap ikan teri, ternyata yang didapatkan adalah ikan kakap.

Yang didapatkan bukan pelanggaran Etika Profesi tetapi yang didapat adalah sebuah Perbuatan Pidana yang dapat dikualifikasi sebagai Tindak Pidana Korupsi atau setidak-tidaknya Tindak Pidana yang disebut sebagai pemerasan dalam jabatan atau dalam bahasa KPK diistilahkan dengan "Mendagangkan Pengaruh".

Penulis Petrus Selestinus: KOORDINATOR TPDI & ADVOKAT PERADI


Catatan: Segala bentuk aspirasi yang termuat didalam tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis.

COMMENTS

Name

Artikel,140,Bali,114,Batam,1,Bedah Buku,1,Ben Senang Galus,1,Bencana Alam,1,Berita,151,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,3,BPJS,1,Budaya,41,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,176,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,545,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Dari Kami,3,Demokrasi,22,Denpasar,18,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Donny Isman,1,DPR RI,4,E-KTP,4,Editorial,35,Ekonomi,5,Ekspresi,1,Ende,6,Entrepreneur,1,Feature,36,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,11,Focus Discussion,4,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,gaya hidup,4,Gedged,1,Gempa,6,Gereja,3,Gereja Katolik,3,Gerindra,1,GMKI,1,GMNI,4,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hiburan,26,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,59,Human Trafficking,4,IBT Expo,1,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,1,Indonesia,1,Indonesian Idol,8,Inspirasi,13,Internasional,16,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,5,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jawa Timur,1,JK,1,Jogyakarta,2,Jokowi,18,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,273,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,4,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,kecelakaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,2,Kemanusiaan,62,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,155,kepemudan,8,kerohanian,2,Kesehatan,8,Ketahanan Nasional,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,60,KPK,12,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,51,Kritik Sastra,4,Kupang,24,Labuan Bajo,51,Lakalantas,9,Larantuka,1,Lembata,2,Lifestyle,6,Lingkungan Hidup,15,Literasi,14,lombok,1,LP Cipinang,1,Luar Negeri,4,Mahasiswa,42,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,4,Malang,3,Manggarai,113,Manggarai Barat,20,Manggarai Timur,24,Marianus Sae,1,Marion Jola,3,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,7,Media,2,Media Sosial,3,Medsos,2,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Milenials,52,Motang Rua,1,Muda Petani,1,musik,1,Narkoba,8,Nasional,278,Natal,19,Ngada,7,Novanto,2,Novel,16,NTT,206,Nyepi,2,Olahraga,11,Opini,403,Orang Muda,15,Otomotif,1,OTT,2,Papua,15,Pariwisata,26,Partai Politik,25,Pasangan,16,Paskah,2,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,Penerbangan,4,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,20,Perindo,1,Peristiwa,1046,Peritiwa,2,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,41,Pilkada,102,Pilpres 2019,23,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,22,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Pojok Redaksi,35,Polisi,25,politik,90,Politikus,6,POLRI,5,PP PMKRI,1,Pristiwa,31,Prosa,1,PSK,1,Puisi,85,Puteri Indonesia,2,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,4,Refleksi,15,reformasi,1,Regional,6,Religi,2,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,27,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,9,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,2,Sekilas Info,23,seleb,1,Selebritas,18,Sidoarjo,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,19,Sospol,39,Start Up,1,Suara Muda,49,Sumba,8,Surabaya,36,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,11,Tentang Mereka,44,Tenun Manggarai,1,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Togar Situmorang,7,Tokoh,17,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,1,traveling,9,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,2,Viral,3,Wisata,4,Wisuda,1,WNA,1,
ltr
item
Muda Membaca Dunia: Pemeriksaan Propam Polda NTT, Mengikuti Lirik Lagu Frangky Sahilatua, " Yang Salah Dipertahankan Yang Benar Disingkirkan
Pemeriksaan Propam Polda NTT, Mengikuti Lirik Lagu Frangky Sahilatua, " Yang Salah Dipertahankan Yang Benar Disingkirkan
https://4.bp.blogspot.com/-83P4XpXLEPI/WjUS22BDDYI/AAAAAAAAAGc/TC3Q4n2zBb0_2YMH8RNwC45w6FxtGEJUACLcBGAs/s320/Petrus-Selestinus.jpg
https://4.bp.blogspot.com/-83P4XpXLEPI/WjUS22BDDYI/AAAAAAAAAGc/TC3Q4n2zBb0_2YMH8RNwC45w6FxtGEJUACLcBGAs/s72-c/Petrus-Selestinus.jpg
Muda Membaca Dunia
http://www.marjinnews.com/2017/12/pemeriksaan-propam-polda-ntt-mengikuti.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2017/12/pemeriksaan-propam-polda-ntt-mengikuti.html
true
971126874416220402
UTF-8
POSTINGAN LAIN Not found any posts LAINNYA Selengkapnya Reply Cancel reply Delete Oleh Home PAGES Kiriman Baca Semua Rekomendasi untuk Anda LABEL ARCHIVE CARI Semua Kiriman Tidak Ditemukan Apa yang Anda Cari Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 Jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Pengikut Ikuti THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy