Pelagia Vlasov, Sosok Ibunda dalam Gerakan Pena Maxim Gorki
Cari Berita

Pelagia Vlasov, Sosok Ibunda dalam Gerakan Pena Maxim Gorki

22 December 2017

Sosok Pelagia Vlassov dalam novel ibunda tidaklah di gambarkan sebagai seorang wanita dengan keindahan fisik. Badannya bengkok dan miring, wajahnya kerut merut dan alisnya terbelah oleh bekas luka. (Foto: Dok. Pribadi)
Ibunda dalam penggambaran Gorki adalah seorang ibu militan dalam situasi revolusi demokratik di Rusia awal abad 20. Ibunda, seperti perempuan pada umumnya di seluruh dunia, mulanya menjadi korban penganiayaan suaminya- sebuah tindakan yang diwajarkan oleh kultur feodal. Ia hidup miskin sebagai istri buruh pabrik, kemudian memiliki kesadaran politik dalam proses mendampingi kegiatan bawah tanah anak dan kawan-kawannya yang berujung pada perjuangan melawan tirani feodal-kaum penindas rakyat miskin.

Sosok Pelagia Vlassov dalam novel IBUNDA terjemahan Pram mengajak kita untuk menyelami perasaan ibu-ibu korban kerusuhan 1998 dan kekerasan lainnya lalu menyaksikan tahap demi tahap proses metamorfosa kehidupan mereka yang dahulunya gemetar dan kwatir, selalu di landa duka atas pengalaman kepahitan hidup keluarganya setiap hari, yang sebelumnya tak beranjak dari lingkup dapur dan tetangga, menjadi orang yang tanpa ragu maju di forum-forum publik, membagikan pamflet, turun ke jalan menyuarakan hati nurani mereka.

Dengan latar daerah industri Rusia membuat Maxim Gorki berhasil memicu ingatan kita tentang adegan-adegan yang rasanya baru kemarin terjadi. Aksi aktivis perempuan yang berhasil mempecundangi mahasiswa tahun 1998, perempuan Kendeng yang berjalan ratusan kilo meter untuk bertemu Presiden, Teriakan Siti Aisyah yang di anggap melawan pemerintah setelah menolak pembangunan waduk di Kabupaten Nagekeo, NTT. Serta perjuang Marsinah yang berujung kehilangan nyawanya memperjuangkan hak-hak buruh.

Sosok Pelagia Vlassov dalam novel ibunda tidaklah di gambarkan sebagai seorang wanita dengan keindahan fisik. Badannya bengkok dan miring, wajahnya kerut merut dan alisnya terbelah oleh bekas luka. Penampilannya lebih tua dari umurnya yang masih empat puluhan bukan saja akibat kerja berat, tapi karena sepanjang perkawinannya ia hidup di antara pukulan dan caci maki suaminya. Matanya kelam memancarkan kesedihan dan ketakutan.

Pelagia mewakili sosok perempuan yang bukan saja tercabik-cabik oleh kemiskinan tetapi terkukung oleh tatanan yang tidak menghargai perempuan. Praktek kekerasan dalam rumah tangga di gambarkan sebagai sesuatu kebiasaan yang sudah di terima sebagai kenyataan hidup, bagi anak gadis pun seakan-akan tidak punya pilihan lain.

Keseharian Pelagia dan buruh-buruh dikendalikan oleh peluit pabrik dan di gilas oleh kemiskinan, situasi kumuh sekitaran pabrik membuat para buruh lari pada minuman keras dan menyalurkan rasa getir kehidupan dan amarah mereka kepada orang-orang yang lebih lemah yaitu perempuan dan anak-anak.

Kematian suaminya menjadi angin segar bagi Pelagia, ia semakin dekat dengan anaknya yang sering dia abaikan. Pavel Vlassov seorang pemuda dengan semangat luar biasa mencari kebenaran yang berujung pada kemerdekaan mereka atas kepasrahan kehidupan.

Seiring dengan berjalannya waktu Pelagia mengalami perubahan yang sangat pesat. Perubahan itu datang bukan dari kesadaran pikiran melainkan di awali oleh kepekaan seorang ibu terhadap perasaan-perasaan positif yang dirasakannya muncul ketika anak dan kawan-kawannya berkumpul.
Metaforis yang menggambarkan perspektif dan cara seorang ibu mendapatkan kekuatan adalah, “bagaimana hari demi hari lewat bagaikan manik-manik Rosario yang jatuh di antara sentuhan jari”. Melalui mata dan telinga seorang ibulah segala sesuatunya akan baik adanya.

Ada dua hal yang paling menarik bagi penulis setelah membaca novel ini yaitu bagaimana Pelagia dengan usianya yang sudah terlampau tua untuk belajar masih mau dan antusias untuk memulai lagi dari awal membaca dan menulis, dengan ketekunan anak asuhnya Chochol ia mendapat energi positif tentang posisinya begitu sangat berarti bagi kelompok-kelompok pejuang hak kaum buruh di sekitarnya.

Selain itu perubahan ideologi dalam diri Pelagia tidak memiliki pengaruh berarti terhadap kehidupan religiusitasnya. Pelagia dapat mengaitkan faham persaudaraan kaum buruh dengan sosok yang diimaninya, yakni Kristus yang mengorbankan dirinya bagi orang kecil. Tetapi pada saat yang sama, mata Pelagia mulai terbuka untuk membedakan ajaran mencitai dengan praktek-praktek Gereja yang memanfaatkan kekuasaan atas orang miskin.

Maka Pelagia tidak lagi menjadi sekedar seorang yang patuh terhadap ritual-ritual dan dogma agama, melainkan seorang yang menggali dasar-dasar kepercayaannya dengan kritis tanpa tergoyahkan oleh kaum revolusioner sekitarnya yang tidak lagi mempercayai Tuhan.

Hal ini sudah banyak mengemuka di Indonesia, namun selalu luput dari definisi perjuangan perempuan. Para pejuang perempuan sudah sepatutnya membangun pijakan pada kaum ibunda, dan belajar padanya mengambil inisiatif yang bermakna.

Oleh: Andi Andur