Pada Ratap Pena Biru, Puisi Seorang Luka
Cari Berita

Pada Ratap Pena Biru, Puisi Seorang Luka

MARJIN NEWS
13 December 2017

Bagaimana mungkin bahagiaku ada, jika dititik terakhir cerita kita kau goreskan luka?  (Foto: Dok. Pribadi)
Kenangku luka
Padamu kecup yang kukenang lagi,
Padamu peluk yang akhirnya tak kunikmati lagi.
Padamu garis tangan yang tak bergenggam lagi
dan padamu resah yang mengalir dipipi, aku disini sendiri.

Bagaimana mungkin bahagiaku ada, jika dititik terakhir cerita kita kau goreskan luka?
Bagaimana mungkin aku tawa sendiri, jika tanpamu yang ada hanyalah resah?
Bagaimana mungkin aku merindu, jika hnya padamu rinduku bisa singgah?
Bagaimana mungkin?
 
Desember 2017

Tak ada cinta "lagi"

Untukmu yang memilih berpindah hati,
risauku bukan karena kehilanganmu, 
bukan juga karena KITA yang tinggal kenang.

Resahku karena rasa yang kian dalam aku tanam.
mungkin terlalu dalam,
hingga tak ada nafas berhembus tanpa namamu.

Mungkinkah aku terlalu percaya pada cinta,
hingga secemas itu aku tanpa kabar darimu.
Bahkan hingga setakut itu aku lihat kau luka.
Dan pada akhinya,
kau memilih pergi,
pamit dengan kata maafmu.
Salahku, tak pernah sadar diantara kita cinta memang tiada.

Salahku, aku tak pernah sadar bahwa untukmu,
aku hanyalah tempat teduh sampai kau temu cintamu yang baru.
Mungkin benar aku harusnya tiada
Mungkin benar, kau tak seharusnya aku rindu.
Maaf, tak ada sedetikpun kau bahagia bersamaku.
 
Desember 2017

Jejak


Aku berlabuh pada hati yang kaku,
merebah pada rindu yang lupa berteduh.
Jejak jejak kisah retak tak terurai
Menerpa, mati terkurung pedih.

Pada ratapan tangis, jejak adalah satu satunya rindu.
Pada kisah kemudian, jejak adalah kenang.
Kenang yang akhirnya menepi sebagai perih dipipi.

Jogja, 09 Desember 2017.


Oleh : Vicky Purnama 

Marjinnews.com Yogyakarta