Sudahi Baku Cekcok, Mari Menatap Bersama Untuk Hari Esok
Cari Berita

Sudahi Baku Cekcok, Mari Menatap Bersama Untuk Hari Esok

24 December 2017


Pada akhirnya terjadilah pada pak menteri menurut perkataannya sendiri, yaitu menemui PENA dan Amanat Bali untuk memberikan klarifikasi. ( Foto: Dok.Pribadi)

"Hai kamu angkatan yang tidak percaya dan sesat, berapa lama lagikah aku harus tinggal di antara kamu dan sabar terhadap kamu? (luk 9:41)

Kedatangan Mendikbud Muhadjir Effendy menemui PENA (Perhimpunan Jurnalis NTT) Bali dan Amanat-Bali (Aliansi Mahasiswa NTT) Bali merupakan kesempatan menuntaskan kegaduhan yang menguak di beberapa pekan terakhir.

Bagi PENA NTT dan Amanat- Bali tidak ada kata akhir tanpa ada kata mulai. Kedatangan Mendikbud yang kebetulan menjelang Natal, sangatlah penting untuk direfleksikan sebab tidak sedikit orang yang menutup hatinya untuk mengupas tuntas nilai rasa di balik kata yang terkandung di dalam pernyataan Mendikbud tersebut. 

Sebagaimana yang tertulis di Jawa Pos, sampai-sampai gerakan yang digelorakan oleh PENA NTT dan Amanat-Bali dianggap sekedar pamer slogan dan logo belaka.

Mereka percaya semua itu hilang lenyap tak berbekas, bagaikan butiran gula yang larut menjadi manis dalam air. Mereka hanya memikirkan gula yang lenyap sekejap dalam air dengan tidak berpikir tentang hasil akhir yang terjadi pada air.

Bagi saya anggapan ini, sangatlah perlu untuk merefleksikan teguran Yesus kepada murid-muridnya dalam Luk 9:41"hai kamu angkatan yang tidak percaya dan sesat, berapa lama lagi aku harus tinggal di antara kamu dan sabar terhadap kamu?

Saya percaya kata-kata ini tidak terucap dari mulut Yesus jika saja Dia memiliki murid-murid seperti PENA-NTT dan Amanat-Bali yang  adalah angkatan yang percaya terhadap apa yang mereka perbuat.

Melewati proses yang cukup panjang, di bawah teriknya matahari di bumi dewata ini, teriakan yang dikumandangkan oleh PENA NTT dan Amanat- Bali terdengar hingga ke sudut-sudut Bumi Pertiwi ini, pun pula menyasar menembus dinding Istana dan terdampar di telinga sang Kepala Negara.

Rupanya memang Ibu Pertiwi tak sudi melihat siswa/i NTT dihujat oleh orang yang berpangkat, meski tidak jahat namun mengusik nalar sehat, semangat yang melekat pada PENA- NTT dan Amanat- Bali, Ibu Pertiwi seolah mengkawalnya dengan ketat sampai tamat.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan akhirnya  kelabakan menahan kecaman yang kian bermunculan hingga tak enggan mengirim utusan untuk membeberkan penjelasan.

Sungguh malang memang, utusan yang datang harus dipersilahkan pulang oleh PENA yang telah menanti dengan tenang, lantaran tak membuat hati girang.

Hari demi hari nama PENA rupanya terbayang di langit-langit kamar sang menteri, dan terasa mengusik ketentramannya jika tak kunjung punya pilihan sebagai sebuah pertanggungjawaban.

Pilihan-pilihan yang ada di tangan adalah jalan yang harus digunakan, sebab desakan PENA yang selalu didengungkan, seakan membuat menteri tak nyaman hingga tak mampu melihat ke depan demi mengakhiri persoalan, hanya mampu bertahan di meja kementerian untuk mencari jawaban.

Hidup enggan mati tak mau,desakan tak lagi mampu dibendung, Pak Menteri tidak siap menerima kenyataan jika berkata " terjadilah padaku menurut perkataanmu.

Pada akhirnya terjadilah pada pak menteri menurut perkataannya sendiri, yaitu menemui PENA dan Amanat Bali untuk memberikan klarifikasi.

Kegaduhan yang telah terjadi adalah momentum untuk berbenah nasib pendidikan di NTT, maka mari kita sudahi polemik ini,kita lanjutkan cerita masa depan pendidikan NTT, adalah kata akhir dari pak mendikbud.

Beliau berjanji meningkatkan mutu pendidikan NTT di sisa masa jabatannya menjadi ke 10 dari terakhir,dana  442 miliar di tahun 2018 untuk NTT menjadi impian kebangkitan masa depan pendidikan NTT.

Sebagaimana kata Yesus tersebut di atas,dan melihat hasil di balik perjuangan PENA, maka bagi mereka yang telah terjebak untuk tidak percaya, saya sarankan untuk memperbaharui hati dalam momentum Natal ini.

Dan memperbaharui gagasan dalam memandang nasib NTT ke depan, saya sarankan untuk membaca seruan Yohanes pembaptis dalam Luk 3:3 "Bertobatlah  dan berilah dirimu dibaptis, maka Allah akan mengampuni dosamu.

Penulis: Vitalis Jebarus - Aktivis PMKRI Cab. Denpasar/ Mahasiswa FKIP Jurusan Bahasa Inggris Univ. Mahasaraswati Denpasar.