Natalan di Monas sebagai Ukuran Toleransi adalah Kegagalan Bertoleransi
Cari Berita

Natalan di Monas sebagai Ukuran Toleransi adalah Kegagalan Bertoleransi

MARJIN NEWS
9 December 2017

Foto: Natalan bersama OMK. St. Lukas Samarinda dan Orang Muda Lintas agama bersama Gusdurian Kaltim pada 05-01-2014 di Aula Bina Warga-Paroki St. Lukas Samarinda
Membaca sebuah tulisan yang diposting oleh seorang yang bernama Zen Wei Jian di akun facebooknya pada tanggal 05 December 2017 yang dimuat dalam salah satu media online dengan judul: Izin Monas Untuk Perayaan Natal, Betapa Tolerannya Gubernur Anies”, bagi saya justru sebuah Kegagalan Toleransi.

Bagi saya pribadi, Zen Wei Jian yang adalah salah satu dari sekian banyak pendukung Pak Anies selaku Gubernur DKI Jakarta, seharusnya memainkan peran toleransi yang cerdas dan dinamis bagi keutuhan bangsa Indonesia.

Dengan menuliskan; “Betapa Tolerannya Gubernur Anies” karena memberikan izin Monas untuk Perayaan Natal, justru pujian itu berbalik menjadi sebuah sikap merendahkan bahkan melecehkan sosok Pak Anies sebagai Gubernur. Mengapa saya mengatakan merendahkan dan melecehkan Pak Anies sendiri; karena sayang kalau seorang Gubernur dinilai toleran hanya ketika memberikan izin monas untuk perayaan natal bersama atau perayaan keagamaan lain.

Dengan kata lain; tindakan toleran Pak Anies hanya dilihat dalam konteks izin untuk monas dan tidak dalam konteks Indonesia secara keseluruhan dalam seluruh aspek kehidupan. 

Catatan dan sekaligus pesan saya untuk saudara Zen; bahwa Toleransi adalah sikap terbuka untuk menerima perbedaan tanpa ada prasangka dan curiga serta melihat perbedaan bukan sebagai ancaman dalam kehidupan beragama dan bernegara. Dengan kata lain Toleransi adalah Sikap sekaligus Tindak beriman untuk menerjemahkan kebaikan-kebaikan dalam kehidupan beragama untuk membangun kehidupan bernegara.

Toleransi itu sederhananya seperti Pesan Kyai Mustofa Bisri (Gus Mus); “Bagaimanapun juga, umat beragama lain pada dasarnya sama seperti umat muslim, yaitu sedang berusaha menuju-Nya. Semua pilihan orang lain harus dihargai, seperti diri kita ingin dihargai memilih wasilah agama Islam”.

Jika Zen menilai toleransi Pak Anies hanya karena memberikan izin monas untuk perayaan Natal, Zen yang memposisikan dirinya bersama pak Anies sebagai orang yang toleran justru melegitimasi setiap tindakan penyegelan rumah ibadah, penolakan pembangunan rumah ibadah dan sweeping yang dilakukan oleh kelompok-kelompok radikal sebagai sesuatu yang wajar dan biasa. Gak apa-apa disegel, ditolak, toh diberi izin monas untuk perayaan keagamaan seperti Natal bersama.

Bahwa pihak dan lingkup pemerintah daerah mengadakan natal bersama sebagai satu keluarga pemerintahan daerah DKI Jakarta, silahkan dan sah-sah saja tanpa harus mengobral keluar bahwa saya juga akan memberikan izin monas untuk perayaan natal. Sesuatu yang kelihatan baik namun justru menjadi buruk karena diobral.

Kita bisa melihat beberapa pemimpin sebelumnya; meski perayaan natal bersama atau keagamaan lain tidak dilaksanakan di monas, mereka toh tetap hadir dan berada bersama di tengah-tengah rakyatnya. Jangankan perayaan keagaman, perkawinan saja ketika mendapat undangan dan tidak ada jadwal yang sibuk sang pemimpin pasti datang.

Saya malah kasihan dengan Zen, yang memuji pak Anies dan hendak mengajak masyarakat dalam sebuah perbandingan dengan pemimpin-pemimpin sebelumnya, namun justru membangkitkan pujian dan rasa bangga banyak orang pada pemimpin-pemimpin sebelumnya yang justru hadir di tengah-tengah rakyatnya meski itu hanya sebuah perkawinan biasa. 

Sebagai rakyat, banyak orang tidak berharap pada sebuah izin yang sekedar pamer bahwa dulu tidak bisa, sekarang bisa. Tapi yang dibutuhkan adalah kehadiran seorang pemimpin untuk berdiri di tengah rakyatnya di manapun tempatnya ketika diundang dan cukup berkata; Kita Jaga NKRI, Kita Bela Pancasila dan jadikan perbedaan sebagai anugerah yang mempersatukan. Cukup itu saja sangat luar biasa.

Perayaan Natal bersama atau perayaan keagamaan lain adalah Nafas Toleransi Bangsa tanpa tergantung pada tempat dimana hal itu dilaksanakan. Natal bersama, demikian juga perayaan keagamaan lain dengan sendirinya adalah Toleransi karena di sana hadir pemimpin dan sesama serta umat beragama lain. Natal bersama dan juga perayaan keagamaan lain adalah Kebhinekaan karena disana ada Solidaritas dan Komitmen untuk menjaga Keutuhan NKRI dan Pancasila.

Maka siapapun seperti Zen Wei Jian yang menganggap izin Natalan bersama atau kegiatan keagamaan agama lain di monas sebagai bentuk toleransi, bagi saya itu justru sebuah KEGAGALAN BERTOLERANSI. 

Manila: 10-Desember-2017
RP. Yohanes Tuan Kopong MSF