Natal Dalam Perayaannya Di Tengah Zaman

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Natal Dalam Perayaannya Di Tengah Zaman

24 December 2017

Penggunaan teknologi yang tak terbatas pada waktu dan ruang tertentu, merambah pada ruang lingkup kehidupan gereja. (Foto: Dok.Pribadi)

Natal merupakan suatu hari besar yang di rayakan oleh umat kristiani pada setiap tanggal 25 Desember untuk memperingati hari Kelahiran Sang  Juru Selamat.

Ini merupakan suatu ritus yang kian terus di laksanakan pada musim ini. yang tentunya mempunyai perbedaan dalam menyambutnya dalam setiap tahun.

Perjalanan tradisi ini kian langgeng di taruh dengan perkembangan kehidupan masyarakat hari ini yang serba-serbi canggih. 

Menambah hal tersebut semakin erat melekat dalam jiwa umat Nasrani.
Namun perjalan tradisi ini seakan mengalami tranformasi dari masa yang kian bertahap terjadi.

Hal ini di lihat pada bagaimana umat nasranai yang kian menggembar-gemborkanya pada media yang menjadi sahabat hariannya.

Namun pada realitasnya pada lingkungan fisik tak seperti demikian. Juga di barengi dengan persiapan yang cukup matang. Ini sudah menjadi gambaran kehidupan masyarakat hari ini.

Pernak-pernik natal sangat terlihat megah di pajangkan pada beranda rumah. Namun bagaimana dengan kusucian hidup secara total?

Ini merupakan sebuah  musim euforia bagi umat nasrani hari ini, di mana kelahiran Sang Raja akan segera datang untuk bersama umatnya kembali berduet dalam harapan. 

Perilaku yang baik akan menghasilkan harapan yang baik pula darinya.

Hemat saya dalam hal tersebut. 
Kelahirannya ini di maksudkan agar bagaimana kita mampu merefleksikan diri untuk kemudian melahiran suatu kehidupan atau pemikirian yang baru yang berbasiskan hal-hal positif di tengah kehidupan kita sekarang.

Transformasi jaman tak kalah mampu untuk membendungi. Pengaruh perkembangan virus teknologi  sudah pesat terjadi dalamnmasyarakat.

Perkembangan dan perubahannya sudah merambat di segala bidang kehidupan. Mulai dari kehidupan sosial yang sudah tak lagi netral, hingga kehidupan menggereja pula ikut berpartisipasi dengan pengaruhnya.

Kehadiran teknologi dalam kehidupan gereja mempunyai pengaruh yang amat besar dalam bidangnya sebagai pengembala dan wadah pengembangan iman umat yang seimannya.

Hal ini merupakan sebagai suatu pengaruh akan kebebasan dan ketidak adanya keterbatasan penggunaan teknologi oleh masyarakat.

Penggunaan teknologi yang tak terbatas pada waktu dan ruang tertentu, merambah pada ruang lingkup kehidupan gereja.

Mirisnya  ini cendrung dan sering terjadi pada saat perayaan liturgi berlangsung yang merupakan sebagai puncak peran dan pelayanan gereja terhadap umatnya.

Peran gereja sebagai pengembangan dan pelayanan umat justru tidak di hiraukan oleh umatnya yang membutuhkan. Hal ini menjadi suatu yang sangat aneh ketika bagaimana masyarakat yang tidak mempunyai ambang batas dalam penggunaan teknologi.

Sifat hierarki yang ada dalam kehidupan gereja sudah semacam tidak lagi  mempunyai relasi antara pemimpin dan kaum awam sebagai umat yang di pimpinnya.

Hal ini di lihat dari  bagaimana umat yang tidak mempunyai waktu batas dalam menggunakan teknologi hingga sampai pada ruang lingkup gereja.

Pada tataran ini kehidupan menggereja sudah terpengaruh dengan bagaimana masyarakat yang masih menggunakan gadget pada saat perayaan liturgi berlangsung, hal ini semacam sifat kesatuan umat yang ada dalam gereja tidak terealisasikan dalam proses perayaan tersebut.

Imam dalam hal ini semacam tidak di hiraukan sebagai pewarta iman gereja.

Ajang destinase

Pengaruh lain pula tak terbatas di situ, gereja yang sebenarnya merupakan tempat sakral tapi disini  gereja di jadikan sebagai tempat wisata oleh sebagian kalangan.

Di katakan sebagai ajang destinasi di karenakan bagaimana kita melihat mereka yang ke gereja layaknya mereka yang sedang berwisata.

Apalagi di tambah dengan hari raya besar seperti ini.
Namun  hal ini juga menjadi suatu dorongan bagi sebagian kalangan untuk kegereja. Dengan tujuan yang di maksud diatas yaitu untuk berwisata.

Untuk di dasari pada apa yang di imaninya itu tidak ada. Betapa anehnya perubahan pola pikir manusia masa kini yang tak pernah dengan tepat dalam menanggapi perubahan zaman di era modern ini.

Dalam hal ini fosil masyarakat primitif pun merasa lucu, tertawa dengan kebenciannya terhadap masyarakat yang mengklaim dirinya sebagai masyarakat modern yang tak pernah membedakan mana yang formal dan non formal, dan mana yang sakral dan tidaknya, di katakannya sama saja.

Teknologi berbasis kita suci
Selanjutnya adalah bagaimana pandangan umat terhadap teknologi dengan kitab suci.
Kehadiran teknologi dalam kehidupan menggereja turut mempengaruhi eksistensi kitab suci dalam kehidupan umat katolik sebagai buku iman.

Terlalu banyak fenomena yang terjadi, tentang bagaimana hanphone dan sejenis lainnya yang mampu menyimpan aplikasi kitab suci di dalamnya.

Dalam hal ini hanphone sebagai pengganti kitab suci mempunyai peran besar dalam perayaan liturgi tanpa harus menyedia wujud asli kitab suci.

Hal ini menambah sikap apatis dan kelalaiannya umat terhadap kitab suci, yang kemudian akan mengakibatkan eksistensinya dalam kehidupan gereja sudah mulai pudar.

Demikian hal yang di jelaskanan di atas yang menurut saya di maksudkan bahwa itu merupakan gambaran dari perkembang  jaman yang kadang bertentang dengan nilai yang di anut gereja.

Jika kita melihat lebih jauh  tentang bagaimana dalam pemahaman teori kritis. Yang dimana di artikan bahwa setiap ritus itus selalu di hubungkan dengan kekuasaan.

Di sini peran kaum kapitalis sangat berperan, terutama menyangkut soal stylis, serta pernak-pernik lainnya. Apalagai dalam perayaan natal yang selalu di di kaitkan dengan barang-barang  baru.

Meski demikian jadinya kita terlihat cukup nyantai adanya yang cukup dan cendrung terbawa arus modern. 

Hemat saya dalam hal ini, meskinya kita harus lepas pisahkan dari antara nilai yang di anut gereja dengan pola ajaran jaman. Untuk tidak di samakan.

Penulis: Gordi Jenaru - Alumni SMAN 1 KUWUS-GOLOWELU- Kuliah di Univ. UNDANA Kupang-Fisipol-Jurusan Sosiologi