Mengurai Benang Merah Perjuangan PENA NTT Soal Komentar Kemendikbud

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Mengurai Benang Merah Perjuangan PENA NTT Soal Komentar Kemendikbud

MARJIN NEWS
9 December 2017

Sebagian menyatakan bahwa sesungguhnya Pak Muhadjir tidak perlu mengelak apalagi melokalisir Provinsi tertentu terhadap penilaian itu (Foto: Istimewa).
Nama Muhadjir Effendy, menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia menjadi sorotan publik belakangan ini.

Hal ini disebabkan oleh karena pernyataannya di salah satu koran Nasional Jawa Pos tanggal 6 Desember yang lalu menyikapi hasil survei Program For Internasional Student Assesment (PISA) yang menempatkan Indonesia paling buncit dari Negara-Negara lain masalah kwalitas Pendidikkan.

"Saya kwatir yang dijadikan sampel Indonesia adalah semuanya siswa-siswi NTT" terangnya sebagaimana berita yang telah bererdar luas dan menyebabkan keriuhan di kalangan Masyarakat.

Pernyataan ini pun dipandang kontroversi oleh sebagian Masyarakat Indonesia. Sebagian menyatakan bahwa sesungguhnya Pak Muhadjir tidak perlu mengelak apalagi melokalisir Provinsi tertentu terhadap penilaian itu.

Sesungguhnya jadikan itu sebagai bahan evaluasi untuk disikapi sekaligus mengambil langkah-langkah atrategis untuk memperbaiki simpul-simpul kekurangannya. Dan secara legowo mengakui itu karena memang bagian dari masalah yang harus dipertanggungjawabkan bukan malah mengelak.

Yang paling menarik dan cukup menyita perhatian, statemen Effendy menimbulkan persoalan baru oleh kelompok masyarakat yang lain. Sebagaimana yang kita ketahui, ada kelompok masyarakat yang menamakan diri Persatuan Jurnalis NTT Bali (PENA NTT), mengecam keras atas ucapannya.

Kelompok kecil yang beranggotakan 38 orang, yang berasal dari NTT domisili di Bali dan berprofesi wartawan ini menilai apa yang disampaikan Effendy benar-benar melukai hati rakyat NTT.

Kami kelompok kecil tapi perjuangan kami mewakili masyarakat NTT yang tentu tidak terima dengan anggapan itu. Perjuangan kami, sambung Emanuel Dewata Oja, Koodinator PENA, bukan soal tersinggung dengan mutu Pendidikkan NTT, tetapi seolah-olah survei PISA yang menyebut Indonesia posisi paling buncit masalah mutu Pendidikkan penyebabnya NTT ini yang kami tidak terima terangnya.

Pak Muhadjir ini kan seorang Menteri yang dimana penilaian PISA bagian dari tanggungjawabnya, bukan malah mempermasalahkan seakan-akan siswa-siswa yang ada di NTT bodoh.

Merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan Indeks Pembangunan Manusia NTT berada di posisi 32 dari 34, mengungguli Provinsi Papua dan Papua Barat, dengan angka 63,13 jauh dibawah angka rata-rata Nasional 70,8.

Kondisi ini tentu sangat memprihatinkan bagi kita semua. Ada banyak kendala yang terjadi di sana. Infrastruktur, seperti gedung Sekolah, listrik, laboratorium yang tidak ada,dll. Sementara di tempat lain sudah memadai.

Apa yang terjadi, semestinya pak Menteri hadir di sana, datang ke Desa-Desa melihat persoalan itu untuk ditindaklanjuti dan membuat regulasi seturut kondisi yang ada.

Debat soal pernyataan Pak Muhardji dan  aksi protes kawan-kawan PENA NTT adalah pokok materi aduan yang perlu diklarifikasi untuk menghindari spekulasi yang kurang berkenan. Apa sesungguhnya manfaat dari perseteruan ini bagi mutu Pendidikkan NTT?

Mengacu pada data statistik tentang mutu pendidikkan NTT, sesungguhnya ada persoalan serius dan kronis yang mesti disikapi bersama.

Menteri sudah mengakui itu, kawan-kawan PENA juga demikian dengan alibi, Muhadjir sebagai pemangku kebijakan perlu menyentuh, terlibat langnsung jangan seakan malah menyalahi.

Merujuk pada kondisi yang terjadi, momentum bagi kita semua untuk merefleksi, apa yang salah dengan mutu pendidikkan kita?

Kita sesungguhnya berbesar hati dan tidak perlu tersinggung dengan menimpali semua tuduhan yang ditujukkan kepada daerah kita. Guru, Kepala Sekolah, Pemerintah dan semua pihak mulai memikirkan ini. Kita punya sumber daya yang memadai. Di tingkat Nasional banyak saudara-saudara kita yang disegani.

Sudahi argumentasi pembelaan, optimalkan anggaran yang telah tersedia demi peningkatan mutu pendidikkan kita. Semoga efek dari perjuangan PENA, menyentuh nurani kita semua siapa pun, dimana pun, untuk lebih giat lagi memikirkan pembangunan manusia NTT. Bravo NTT.

Penulis: Fabianus Dius
Penggiat Sosial Manggarai
Saat ini tinggal di Denpasar-Bali.