$type=carousel$cols=3

Menyelisik Makna Belis Manggarai Yang Sesungguhnya

Membahas tentang konsep belis orang Manggarai tidak terlepas dari bagaimana pemahaman dan pandangan orang Manggarai tentang perkawinan. ...

Membahas tentang konsep belis orang Manggarai tidak terlepas dari bagaimana pemahaman dan pandangan orang Manggarai tentang perkawinan. (Foto: Rati Dimung)

Jillis Verheijen dalam kamusnya mengartikan "paca" sebagai emas kawin, pembayaran pihak laki-laki kepada pihak pengantin wanita. 

Paca dalam tradisi lazimnya diberikan dalam bentuk hewan dan kemudian ketika orang Manggarai mengenal uang juga dalam bentuk uang yang diistilahkan “pe’ang tana agu one mbaru” atau “wa loce” (apa yang ada di luar rumah berupa hewan dan dalam rumah berupa uang).

Membahas tentang konsep belis orang Manggarai tidak terlepas dari bagaimana pemahaman dan pandangan orang Manggarai tentang perkawinan.

Pada galibnya, perkawinan merupakan sesuatu sacral dan diarahkan untuk mencapai kebahagiaan kedua mempelai, mempersatukan dua keluarga besar dan memperoleh keturunan.

Belis tidak lebih dari sarana dan tanda untuk menghargai rahim, mempersatukan ikatan perkawinan dan menjadi tanda bukti bahwa keluarga besar memiliki kemampuan ekonomis yang baik.

Khusus untuk tanda yang terakhir ini, kiranya perlu dicermati secara sungguh bahwa kemampuan ekonomi genetis dan berciri kelompok sosial mulai ditinggalkan.

Setiap pribadi sebenarnya memiliki potensi dan kemampuan yang bisa jadi lebih besar, oleh pengalaman dan pendidikan, dibandingkan yang disebabkan oleh factor keturunan. Karena itu, konsekuensi logisnya, mengukurkan kemampuan seseorang hanya berdasarkan factor ekonomi komunal dan klan bukanlah tindakan yang rasional.

Kendati demikian, perkawinan membutuhkan tanda dan symbol-simbol tertentu.
Menghasilkan sebuah prosesi perkawinan yang sacral, khidmat dan membahagiakan merupakan impian semua orang. Itulah sebabnya, kesadaran akan mempersiapkan perkawinan dengan segala konsekuensinya, yang dimulai dengan perencanaan yang matang, jauh lebih baik daripada menyalahkan konsep budaya yang sudah ada.

Jikapun merunut pada konsep baku, salah satu sifat budaya adalah dinamis. Tak ada salahnya kita memperbaiki nilai-nilai tertentu dalam budaya untuk memenangkan kehidupan yang leibuh bermutu dan bermartabat.

Belis Merupakan Kewajiban Mutlak Pihak “anak wina” kepada “pihak anak rona.” 

Ada filosofi yang tersembul dalam ungkapan orang Manggarai “le Mbau teno” artinya, belis atau paca akan diberikan kepada pihak yang berhak menerimanya (anak rona) sembari menanti hasi kerja suami istri.

Formulasi permintaan belis dalam upacara “Umber” sebelum peresmian adat misalnya; 2 ekor kerbau ditambah dengan 5 ekor kuda serta uang 40 juta. Misalnya disanggupi secara tertentu dalam; 1 ekor kerbau, 2 ekor kuda dan 1 ekor kerbau (kaba ute/ khusus untuk dimakan “lebong”).

Biasanya permintaan yang tertuang sebagai “paca atau belis”tidak harus disanggupi pada saat pengesahan perkawinan adat, yakni saat “Nempung” atau “wagal”.
Karena belis Manggarai bukan suatu sistem “bayar tuntas” sebab merujuk pada filosofi “wae teku tedeng” atau mata air abadi.

Bagi pasangan yang dikukuhkan dalam pengukuhan adat dikenakan peribahasa: “du pa’ang le mai-cako agu reha lesak penong pa’ang.”(suatu pesta meriah yang melibatkan seluruh kampung). 
Si perempuan disanjung-sanjung dengan ritual “sendeng atau sompo.”
Terbersit bahwa dalam upacara ini ada penghargaan terhadap martabat wanita dan keluarganya.

Jawaban permintaan belis ada Dua

Pertama, untuk menyatakan kesanggupan atas tuntutan adat ada tuturan adat sbb: “ho’o ca libo, dumpu ca sora mata, titut nggitu deng hitu, o hae gereng sala = hanya ada satu kolam kecil, kudapati satu udang kecil, terimalah dulu, sambil mencari yang lain kemudian”.

Itu berarti belis merupakan suatu kelanjutan yang menandai hubungan kekerabatan “Woe-Nelu.”
Belis bukan “beli mati” melainkan suatu budaya yang melanggengkan hubungan itu.
“Sida” (tuntutan adat) dari pihak peminta belis secara berkelanjutan akan meminta respon dari pihak penerima belis.

Kedua, untuk memohon pengertian baik pihak wanita karena si laki-laki tidak mampu; “eme tenang laku lalo, retang nanggong du kakor lalong. Eme nuk laku kasi asi, one ritak laing, momang koe, cala di’a diang, baeng koe, cala jari tai.” Intinya memohon pengetian baik dari pihak wanita agar tuntutan adat diperlunak mengingat hidup bukan hanya hari ini, mungkin besok keluarga ini akan menjadi baik.

Penentuan Belis Orang Manggarai.

Pada zaman dahulu, pemberian paca disesuaikan dengan status sosial. Ada empat kelompok sosial dengan konsekuensinya masing-masing. Kelompok pertama, raja. Kelompok kedua, dalu. Ketiga, kelompok gelarang. Keempat masyarakat biasa. Konsekuensinya, besaran dan jumlah belis untuk keempat kelompok itu tidaklah sama.

Dalam perjalanan waktu, ada semacam adopsi otomatis terhadap tingkat sosial yang baru. Pahun dalam kajiannya memperlihatkan bahwa makin tinggi pendidikan dan kedudukan sosial seorang perempuan di Manggarai, makin banyak dan besar paca yang diminta.

Bahkan jika dinominalkan angka uang mencapau ratusan juta rupiah. Hal mana dianggap sangat fantastic dan menakutkan para pria di Manggarai.
Dalam kenyataan, ruang kompromi dibuka lebar.

Meskipun sudah diputuskan dalam upacara pongo/tuké mbaru tentang jumlah paca pada kenyataannya, karena factor-faktor ekstern, maka pihak yang berhak menerima mas kawin (anak rona), memahami kedaan pihak pemberi mas kawin (anak-wina).

Hal ini sangat diperjelas dalam ungkapan adat:  ”bom salang tuak-maik salang waé” (bukan jalan air tuak yang hanya memberikan airnya sesaat, tetapi sumber air yang senantiasa memberikan airnya sepanjang masa).

Ini berarti bahwa semua kekurangan atau “tunggakan” mas kawin atau belis akan diperhitungkan kemudian. Ada pengandaian bahwa mas kawin itu tidak akan hilang tetapi masih tersimpan baik di bawah naungan pohon teno.

Pepatah adat melansirnya secara padat dengan berkata “lé mbau teno”. Lé mbau teno itu sendiri mengandung arti : belis atau paca akan diberikan kepada pihak yang berhak menerimanya (anak-rona) menanti hasil kerja suami-isteri sendiri.

Di sinilah serentak diperlihatkan kelebihan dari proses perkawinan adat, dimana pihak laki-laki (anak wina) secara resmi masuk minta/melalaui tahap pongo. Bila tahap ini dilalui secara baik, akan tersibak pula harapan bahwa pihak anak rona “mengasihi”(momang) anak wina. Hal ini bukan rekaan. Tetapi ada pautan adat yang tersimpul dalam ungkapan “pasé sapu-sélék kopé, weda rewatuké mbaru”.

Khusus untuk peroslan wanita yang diculik atau dibawalarikan, sudah terdapat tata aturan untuk pacanya. Dahulu hanya laki-laki yang kaya dapat menculik (roko, wéndo) seorang gadis.

Sebab bila pihak keluarga si gadis menyusul atau mencarinya maka pada saat itu pihak laki-laki harus melunasi belis atau mas kawin yang diminta oleh pihak keluarga si gadis (anak rona).

Terlebih bila si gadis sudah dipinang pemuda lain, dan sebagaian belisnya sudah diterima oleh pihak keluarganya, maka pihak laki-laki harus melunasi mas kawin secara tuntas, seberapa saja yang dimintakan, mulai dari “belas gendang-biké nggong” sampai kepada “paca wekinya”.

Dalam kasus wanita yang sudah bersuami dibawa lari atau diculik oleh seorang laki-laki (roko wina datawéndo wina data), pihak laki-laki harus berani membayar belis dua kali lipat (tala tumpa), mengingat orang tua si wanita yang diculik harus membayar atau mengembalikan mas kawin suaminya yang pertama/yang ditinggalkannya.

Refleksi Filosofis dari Belis

Nilai-nilai filosofis perkawinan adat Manggarai dapat digambarkan dalam beberapa ungkapan berikut:

Pertama, perkawinan mengungkapkan kebutuhan dasar manusia untuk berada bersama dengan Yang Lain dalam suatu ranah kehidupan yang sejahtera, subur dan berkembang, seperti ungkapan “saung bembang ngger eta, wake seler ngger wa”.

Kedua, perkawinan bertujuan agar manusia dapat melanjutkan subsistensi dirinya lewat keturunan. Seperti suatu ungkapan seorang suami, “wua raci tuke,lebo kala ako” (: istriku sudah hamil).

Ketiga, perkawinan membuka sosialitas manusia agar terhubung dengan Orang Lain dan kelompok lain sehingga terjalinlah suatu kekeluargaan dan persaudaraan manusia seperti ungkapan “cimar neho rimang, cama rimang rana, kimpur kiwung cama lopo (persaudaraan itu ibarat lidi yang tak mudah dipatahkan, kuat seperti batang enau)”.

Keempat, perkawinan merupakan ruang pembentukan keluarga yang nantinya akan menjadi ruang transimisi nilai budaya dan moral, seperti tanggung jawab dan jiwa besar. Itu tersembul dalam ungkapan “Nai nggalis tukaNgengga (kearifan dan jiwa besar)” Atau ungkapan “Mese bekek, langkas nawa” (pribadi yang bertanggung jawab dan bermoral).

Kelima, perkawinan menjadikan kebebasan manusia terlembagan dalam suatu tatana moral dan etika, seperti menghargai perempuan yang sudah bersuami. Seperti ungkapan “lopan pado olo, morin musi mai (sudah ada yang punya).

Makna dan Tujuan Belis dalam Perkawinan Manggarai

Paca dalam adat istiadat orang Manggarai mempunyai tiga makna dan tujuan.

Pertama, merupakan bentuk penghargaan terhadap tuka wing de ende (rahim). Hanya perempuanlah yang memiliki rahim.
Dalam rahim kehidupan manusia pada awalnya terbentuk. Tidak akan ada manusia jika ia tidak bertumbuh dan berkembang dalam rahim perempuan. Karena itu, penghargaan terhadap rahim dinyatakan lewat paca.

Kedua, sarana pengukuhan kehidupan suami istri. Melalui paca secara resmi kehidupan suami-istri dikukuhkan. Dalam banyak pernyataan, permintaan paca juga dimaksudkan untuk menghindari perceraian atau anggapan yang menggampangkan perkawinan yang telah direstui.

Ketiga, sebagai bentuk tanda bahwa lelaki (dan keluarganya) berkemampuan dan dapat bertanggungjawab menghidupkan istri dan anak. Paca sebagai symbol kemampuan memberikan rasa aman kepada pihak wanita dan keluarganya.

Peran Belis dalam Perkawinan Manggarai

Dalam kehidupan sehari-hari, belis dimanfaatkan untuk urusan adat istiadat yang dapat dinyatakan sebagai berikut:

Pertama, hewan yang diberikan pihak anak wina dipakai untuk memenuhi kebutuhan keluarga besarnya. Misalnya, kerbau yang dibawa anak wina dipelihara ataupun dijual.
Kenyataan juga memperlihatkan bahwa tak jarang jarang ko kaba paca (kuda atau kerbau) yang dibawa dijual untuk memenuhi kebutuhan keuangan dari acara perkawinan.

Kedua, uangnya dipakai untuk menyelesaikan urusan perkawinan yakni seremoni adat (memberi sejumlah uang kepada pihak anak rona, keluarga dan konsumsi) dan perayaan pesta perkawinan (konsumsi, tenaga kerja, gedung, dekorasi, music, dll).

Penulis: Remigius Nahal.

Sumber:
http://kanisiusdeki.blogspot.co.id/2017/03/konsep-belis-orang-manggarai.html

Jillis Verheijen, Kamus Manggarai-Indonesia.
Leiden: Koninklijk Institute Voor Taal-Land-En Volkenkunde, 1967.
Petrus Janggur, Butir-butir Adat Manggarai Jilid 2. Ruteng: Yayasan Siribongkok, 2011.

Komentar

loading...
Name

1 Tahun Berkarya,1,Agama,3,Ahmad Dhani,1,Ahok,25,Aktivis,2,Alam,3,Anak,8,Anak Muda,27,Anggaran,1,Antikorupsi,1,Aparatur Negara,1,Arjen Robben,1,Artikel,227,Asmat,4,Asusila,5,Badung,9,bahasa,1,Bali,100,Bali Utara,2,Bandara Bali Utara,2,banjir,1,Bantuan CSR,1,Batam,16,BBM,1,Bedah Buku,1,Bencana Alam,2,Berita,3,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,1,BPJS,1,Budaya,42,Buku,1,BUMN,1,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,141,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,453,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Demokrasi,22,Denpasar,11,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Dilan 1990,1,Donny Isman,1,DPR RI,2,DPRD,1,E-KTP,4,Editorial,41,Edukasi,1,Ekonomi,5,Emi Nomleni,1,Ende,5,Entrepreneur,1,Feature,39,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,13,Focus Discussion,6,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,Gedged,1,Gempa,5,Gereja,4,Gereja Katolik,4,Gerindra,1,Gizi Buruk,1,GMKI,1,GMNI,1,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,2,Hiburan,24,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,44,Human Trafficking,5,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,2,Indonesia,2,Indonesian Idol,11,Inspirasi,3,Internasional,15,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,9,Jatim,3,Jawa Tengah,1,JK,1,Jodoh,1,Jogyakarta,3,Jokowi,16,Jomblo,2,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,241,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,2,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemanusiaan,68,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,139,kepemudan,11,Kepri,1,kerohanian,2,Kesehatan,15,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,58,KPK,13,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,55,Kritik Sastra,4,Kupang,23,Kuta,1,Labuan Bajo,41,Lakalantas,9,langka,1,Larantuka,1,Lebu Raya,1,Lembata,2,Lifestyle,8,Lingkungan Hidup,16,Literasi,15,lombok,1,LP Cipinang,1,Madiun,1,Mahasiswa,36,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,1,Malang,3,Manggarai,86,Manggarai Barat,8,Manggarai Timur,20,Marianus Sae,1,Marion Jola,10,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,6,Media,2,Media Sosial,4,Medsos,3,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Motang Rua,1,Muda Petani,1,Munir,1,musik,1,Narkoba,6,Nasional,238,Natal,19,Ngada,4,Novanto,1,Novel,15,NTT,116,Nyepi,2,Olahraga,12,Opini,341,Orang Muda,16,Otomotif,1,OTT,2,pacaran,6,Papua,21,Pariwisata,24,Partai Politik,23,Paskah,4,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,1,Pencurian,2,Pendidikan,87,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,23,Perindo,1,Peristiwa,859,Peritiwa,1,Perlindungan Anak,2,Pers,3,Perzinahan,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,41,Pilkada,101,Pilpres 2019,21,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,23,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Polisi,30,politik,80,Politikus,6,POLRI,6,Pristiwa,25,Prosa,1,PSK,1,Puisi,63,Puteri Indonesia,4,Radikalisme,1,Refleksi,16,reformasi,1,Regional,6,Religi,5,Remaja,2,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,9,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,23,Sajam,1,Sam Aliano,1,Sastra,2,Sejarah,2,Sejarah Manggarai,1,Serial Story,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosok,3,Sospol,42,Start Up,1,Sumba,12,Surabaya,32,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,10,Tenun Manggarai,2,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Tokoh,15,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,3,traveling,4,traveller,1,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,4,Viral,1,Wisuda,1,WNA,1,Yogyakarta,4,
ltr
item
Muda Membaca Dunia: Menyelisik Makna Belis Manggarai Yang Sesungguhnya
Menyelisik Makna Belis Manggarai Yang Sesungguhnya
https://3.bp.blogspot.com/-kCDsKgtlfUo/Wi5w7MgkrNI/AAAAAAAAAZQ/xAF8iVX4i9Mg0aUwN2KXlHIy-sq1n_m5wCLcBGAs/s320/FB_IMG_15129928833700817.jpg
https://3.bp.blogspot.com/-kCDsKgtlfUo/Wi5w7MgkrNI/AAAAAAAAAZQ/xAF8iVX4i9Mg0aUwN2KXlHIy-sq1n_m5wCLcBGAs/s72-c/FB_IMG_15129928833700817.jpg
Muda Membaca Dunia
http://www.marjinnews.com/2017/12/menelisik-makna-belis-manggarai-yang.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2017/12/menelisik-makna-belis-manggarai-yang.html
true
971126874416220402
UTF-8
Tampilkan Semua Artikel Belum Ada Tulisan Lihat Semua Selengkapnya Balas Batal Balas Hapus Penulis Home Halaman Tulisan Lihat Semua Rekomendasi LABEL Arsip CARI Semua Tulisan Tidak Ditemukan Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Mgu Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy