$type=carousel$cols=3

Menakar Cara Pikir Sesat Pernyataan Kemendikbud

Banyak orang terperangkap dengan argumentum ad hominem, salah satu sesat pikir dalam logika, sebab tidak sanggup bertarung dalam tatara...


Banyak orang terperangkap dengan argumentum ad hominem, salah satu sesat pikir dalam logika, sebab tidak sanggup bertarung dalam tataran argumentasi dan substansi persoalan yang diperdebatkan. (Foto: Vitalis Jebarus-Aktivis PMKRI Cab. Denpasar)

Sejak pernyataan menteri pendidikan Muhadjar Effendy yang kontroversial disikapi PENA (Perhimpinan Jurnalis) NTT Bali, sejumlah komentar bermunculan.

Ada yang setuju dan ada juga yang tidak. Saya secara pribadi menyampaikan salam hormat dan tentunya berterima kasih kepada PENA NTT Bali yang memotori gerakan memprotes pernyataan mendikbud tersebut. Pasalnya PENA beranggapan bahwa pernyataan mendikbud tersebut bermuatan diskriminatif terhadap siswa/i NTT.

Positif tidaknya pernyataan mendikbud tersebut, lepas dari persoalan tafsir yang melatarbelakangi semua pihak ikut berkomentar,yang paling pertama bagi saya adalah soal nilai rasa di balik kata.

Apapun maksud yang terkandung dalam pernyataan tersebut tentunya perasaanlah yang relatif tersentuh dengan cepat. Wajar saja gejolak perasaan itu digelorakan sebelum diklarifikasi oleh yangbersangkutan. Kalau saya mengkritik seseorang dengan tajam, orang yang saya kritisi tersebut mungkin saja merasa bahwa kritikan tersebut adalah sebuah penghinaan.

Namun dia akan memahaminya jika saya menjelaskan maksud kritikan saya, dan yang bersangkutan tentunya memberontak sebelum sayamenjelaskannya. Jika tidak berangkat dari sudut pandang ini, maka saya anggap hal inilah yang menjadi penyebab bagi mereka yang menolak mempersoalkan pernyataan mendikbud tersebut.

Ada yang bertanya, apa yang salah dari pernyataan mendikbud tersebut? Pernyataan mendikbud sebagaimana tertulis di jawa pos”saya khawatir yang dijadikan sampel adalah siswa/i dari NTT semua.

Pertama, mendikbud memulai pernyataannya dengan kata khawatir. Saya mulai dengan mengatakan bahwa ini konyol. Kekahawatiran yang dimaksud adalah mendikbud cemas dan tidak yakin bahwa survei PISA menggunakan metodologi penelitian yang benar.

Mengapa ini konyol dan saya anggap ini bodoh, sebab di koran jawa pos tersebut sebelum kalimat yang kontroversial itu, kalimat sebelumnya dari mendikbud adalah mengeritik metodologi penelitian PISA, dasar kritikan itu tentunya karna dia mengetahui metodologi penilitian yang dipakai.

Sementara dasar kekhawatiran adalah karena tidak mengetahui dengan jelas. Dalam kata kekhawatiran itu seolah-olah mendikbud belum mengetahui metode penelitian yang dipakai, sedangkan dia sudah mengritik metodenya terlebih dahulu.

Misalnya "saya mengeritik cara  orang menendang bola, tentunya karena saya tahu lebih dahulu cara dia menendang itu tdk benar '.

Saya khawatir dia menendang bola tidak benar makanya bola itu tidak gol, pernyataan ini tentu karena saya tidak tau bagaimana dia menendang bola.

Yang kedua, survei PISA tersebut dilakukan terhadap 6.516 siswa/i yang berumur 15-15 tahun 11 bulan dari 236 sekolah di seluruh Indonesia.Pertanyaannya apakah 236 sekolah tersebut semuanya dari NTT?

Ketiga, NTT berada di urutan ketiga dari terakhir menurut Badan Pusat Statistik tentang kualitas pendidikan di Indonesia. Pertanyaanya kenapa mendikbud tidak mengungkapkan pernyataan khawatirnya atas sampel yang diambil adalah dari propinsi yang kedua dari terakhir atau yang paling terakhir, kok NTT yang bukan di urutan terakhir?

SESAT PIKIR

Tidak sedikit orang yang meramaikan media sosial mengemukakan pandangan tentang pernyataan mendikbud tersebut. Ada yang tertuju kepada mendikbud ada juga yang tertuju kepada mereka yang mengecam pernyataan mendikbud terutama PENA NTT Bali. Perlu diketahui bahwa nyaris sehari setelah pernyataan mendikbud terungkap, PENA NTT Bali lah yang pertama bereaksi.

Saya percaya bahwa polemik pernyataan mendikbud bergema di seluruh tanah air khususnya di telinga orang NTT tentu berawal dari PENA NTT Bali dan bukan yang lain.

Saya teringat pidato perpisahan Barack Obama, dia mengatakan bahwa jika anda kalah berdebat dengan seseorang di dunia maya,maka ajaklah dia untuk berdebat face to face di dunia nyata.

Maka dari itu saya ingin mengajak semua yag terlibat berkoar-koar menolak reaksi yang dilancarkan PENA dan sejumah mahasiswa NTT Bali beberapa hari  yang lalu untuk bernalar menakar prahara  di balik pernyataan mendikbut, agar tidak semata-mata berkomentar hanya berlandaskan asas kebebasan berpendapat.

Saya menganggap semua yang tidak menemukan persoalan dalam pernyataan itu adalah mereka yang sedang sesat pikir. Mereka berpandangan bahwa dalam pernyataan itu tidak ada persoalan, atau jelasnya mereka mempertanyakan apa yang salah dari pernyataan itu. Saya mau buktikan bahwa pada saat utusan mendikbud datang menemui PENA NTT Bali, utusan mendikbud tersebut tidak mengakui pernyataan tersebut diucapkan oleh Pak Muhadjir.

Nah kalau pernyataan itu tidak mengandung masalah kenapa mereka tidak mengakui saja pernyataan itu? Tinggal saja jika benar adanya pernyataan itu mereka jelaskan saja apa maksud dari pernyataanitu.Namun mereka tidak memilih untuk menjelaskan maksud dari pernyataan itu melainkan mereka memilih untuk tidakmengakuinya.

Hemat saya alasan mereka tidak mengakui itu karna mereka tau pernyataan itu fatal, maka mereka memilih untuk berbohong. Saya anggap point inilah yang perlu menjadi dasar kita bernalar memahami konteks persoalanitu. Sebab banyak orang terperangkap dengan argumentum ad hominem, salah satu sesat pikir dalam logika, sebab tidak sanggup bertarung dalam tataran argumentasi dan substansi persoalan yang diperdebatkan, akhirnya PENA pun diserang.

Parahnya lagi adalah soalargumentum auctoritatis, yang juga adalah sesat pikir berikutnya yang ingin saya kemukakan, sebab sudah tidak ada cela untuk menyerang penalaran orang lain akhirnya status sosial, jabatan dan usia menjadi senjata untuk menyerang.

Semoga saja PENA NTT Bali mampu membereskan Mendikbud RI ini,agar berbuah manis untuk dunia pendidikan di NTT, dan semoga tidak lupa untuk membereskan mereka-mereka yang otaknya sedang tersesat.

Penulis: Vitalis Jebarus
Aktvis PMKRI Cabang Denpasar

Komentar

loading...
Name

1 Tahun Berkarya,1,Agama,3,Ahmad Dhani,1,Ahok,25,Aktivis,2,Alam,3,Anak,8,Anak Muda,27,Anggaran,1,Antikorupsi,1,Aparatur Negara,1,Arjen Robben,1,Artikel,227,Asmat,4,Asusila,5,Badung,9,bahasa,1,Bali,100,Bali Utara,2,Bandara Bali Utara,2,banjir,1,Bantuan CSR,1,Batam,16,BBM,1,Bedah Buku,1,Bencana Alam,2,Berita,3,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,1,BPJS,1,Budaya,42,Buku,1,BUMN,1,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,141,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,453,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Demokrasi,22,Denpasar,11,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Dilan 1990,1,Donny Isman,1,DPR RI,2,DPRD,1,E-KTP,4,Editorial,41,Edukasi,1,Ekonomi,5,Emi Nomleni,1,Ende,5,Entrepreneur,1,Feature,39,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,13,Focus Discussion,6,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,Gedged,1,Gempa,5,Gereja,4,Gereja Katolik,4,Gerindra,1,Gizi Buruk,1,GMKI,1,GMNI,1,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,2,Hiburan,24,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,44,Human Trafficking,5,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,2,Indonesia,2,Indonesian Idol,11,Inspirasi,3,Internasional,15,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,9,Jatim,3,Jawa Tengah,1,JK,1,Jodoh,1,Jogyakarta,3,Jokowi,16,Jomblo,2,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,241,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,2,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemanusiaan,68,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,139,kepemudan,11,Kepri,1,kerohanian,2,Kesehatan,15,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,58,KPK,13,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,55,Kritik Sastra,4,Kupang,23,Kuta,1,Labuan Bajo,41,Lakalantas,9,langka,1,Larantuka,1,Lebu Raya,1,Lembata,2,Lifestyle,8,Lingkungan Hidup,16,Literasi,15,lombok,1,LP Cipinang,1,Madiun,1,Mahasiswa,36,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,1,Malang,3,Manggarai,86,Manggarai Barat,8,Manggarai Timur,20,Marianus Sae,1,Marion Jola,10,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,6,Media,2,Media Sosial,4,Medsos,3,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Motang Rua,1,Muda Petani,1,Munir,1,musik,1,Narkoba,6,Nasional,238,Natal,19,Ngada,4,Novanto,1,Novel,15,NTT,116,Nyepi,2,Olahraga,12,Opini,341,Orang Muda,16,Otomotif,1,OTT,2,pacaran,6,Papua,21,Pariwisata,24,Partai Politik,23,Paskah,4,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,1,Pencurian,2,Pendidikan,87,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,23,Perindo,1,Peristiwa,859,Peritiwa,1,Perlindungan Anak,2,Pers,3,Perzinahan,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,41,Pilkada,101,Pilpres 2019,21,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,23,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Polisi,30,politik,80,Politikus,6,POLRI,6,Pristiwa,25,Prosa,1,PSK,1,Puisi,63,Puteri Indonesia,4,Radikalisme,1,Refleksi,16,reformasi,1,Regional,6,Religi,5,Remaja,2,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,9,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,23,Sajam,1,Sam Aliano,1,Sastra,2,Sejarah,2,Sejarah Manggarai,1,Serial Story,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosok,3,Sospol,42,Start Up,1,Sumba,12,Surabaya,32,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,10,Tenun Manggarai,2,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Tokoh,15,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,3,traveling,4,traveller,1,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,4,Viral,1,Wisuda,1,WNA,1,Yogyakarta,4,
ltr
item
Muda Membaca Dunia: Menakar Cara Pikir Sesat Pernyataan Kemendikbud
Menakar Cara Pikir Sesat Pernyataan Kemendikbud
https://3.bp.blogspot.com/-XE7-DAzPxCw/Wi6Q9q3GiEI/AAAAAAAAAaE/NIdCybXAk64pGB47uq6XZkfSA8upNKpyACLcBGAs/s320/IMG-20171211-WA0013.jpg
https://3.bp.blogspot.com/-XE7-DAzPxCw/Wi6Q9q3GiEI/AAAAAAAAAaE/NIdCybXAk64pGB47uq6XZkfSA8upNKpyACLcBGAs/s72-c/IMG-20171211-WA0013.jpg
Muda Membaca Dunia
http://www.marjinnews.com/2017/12/menakar-cara-pikir-pernyataan.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2017/12/menakar-cara-pikir-pernyataan.html
true
971126874416220402
UTF-8
Tampilkan Semua Artikel Belum Ada Tulisan Lihat Semua Selengkapnya Balas Batal Balas Hapus Penulis Home Halaman Tulisan Lihat Semua Rekomendasi LABEL Arsip CARI Semua Tulisan Tidak Ditemukan Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Mgu Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy