Manusia Sebagai Makhluk Ekologis Dalam Perspektif Anre Naess (Sebuah Kritik Terhadap Paradigma Lingkungan Berbasis Antroposetris Yang Merusak Alam)


Deep Ecologi atau pandangan ekosentrisme sebagaimana yang diusung Naess, memandang berbagai kepentingan, nilai serta etika diberlakukan bagi seluruh komponen lingkungan, seluruh komunitas ekologis, baik yang hidup maupun tidak. (foto : doc. pribadi)

Dalam kata pengantar buku Indeks Kualitas Lingkungan Hidup Indonesia yang diterbitkan oleh Kementrian Lingkungan Hidup Dan Kehutanan RI (2014), menteri Siti Nurbaya mengakui bahwa upaya pemerintah pusat maupun daerah dalam upaya mengurangi laju kerusakan dan pencemaran kualitas lingkungan belum mampu mencapai suatu kondisi sebagaimana yang kita harapkan bersama. Kita masih mengalami berbagai bencana lingkungan hidup seperti banjir, kekeringan, longsor, pencemaran dan kerusakan lingkungan lainnya.
Hal ini sekiranya telah menggambarkan sebuah kondisi yang memang kita alami hari ini. Kerusakan lingkungan seperti krisis air bersih, pembabatan hutan sampai pada pembakaran ribuan hektar lahan sudah menjadi trending topik dalam pemberitaan media nasional bahkan turut mendapat perhatian dari dunia international.
Dalam The Politics (2000), Artistoteles menyatakan “tumbuhan disiapkan untuk kepentingan binatang dan binatang disediakan untuk kepentingan manusia”. Dengan demikian, maka kalimat ini telah mengisyaratkan makhluk hidup adalah ciptaan yang hierarkirs dan bahwa ciptaan yang lebih rendah telah sengaja diciptakan untuk kepentingan ciptaan yang lebih tinggi. Sejalan dengan Aristoteles, Thomas Aquainas (2007:92-100), Rene Descartes dalam Fitzerald Kennedy Sitorus (2016) dan Immanuel Kant menyatakan bahwa manusia lebih tinggi dan terhormat dibandingkan dengan makhluk ciptaan lainnya, karena manusia adalah satu-satunya makhluk bebas dan rasional (the free and rational being). Manusia adalah satu-satunya makhuk hidup yang mampu menggunakan dan memahami bahasa, khususnya bahasa symbol untuk berkomunikasi. Dalam perkembangannya dikemudian hari, pandangan ini dijadikan dasaran filosofis terhadap salah satu paradigma lingkungan hidup yaitu paradigma antroposentrisme.
Antroposentrisme menempatkan manusia sebagai pusat alam semesta yang akan mencapai nilai tertingginya pada pemenuhan kepentingannya. Antroposentrisme menganggap bahwa hanya manusialah yang memiliki nilai sementara alam dan lingkungan hanya diciptakan sebagai pemenuh hasrat kepentingan mausia.
Hal inilah yang kemudian berlanjut pada terciptanya pola hubungan antara manusia dengan alam yang tampak bersifat instrumentalistik dan egoistis serta menumbuhkembangkan superioritas manusia terhadap alam. Sifat yang demikian kemudian tercermin dalam relasi yang dibangun manusia dengan  alam yang cenderung mempertontonkan eksploitasi serta pengurasan terhadap alam demi kepentingan manusia. Pembukaan areal perkebunan, pertambangan ataupun pembersihan lahan melalui pembabatan hutan dan pembakaran lahan merupakan aktivitas manusia yang telah menegasi pola hubungan bersifat mutual dengan alam dan sebaliknya telah memposisikan diri sebagai, penulis menyebutnya preman ekologi.
Dihadapkan pada situasi demikian, penulis berasumsi bahwa kita membutuhkan sebuah perubahan fundamental nan radikal terkait cara pandang yang kita gunakan dalam membangun relasi dengan alam. Perubahan ini menuntut perombakan terhadap sikap dan tindakan manusia dalam memperlakukakan alam yang tidak sebagaimana adanya (konservasi) namun cenderung sebagaimana seharusnya atau kelola.
Seorang filsuf Norwegia, Arne Naess (1973) memperkenalkan sebuah konsep etika lingkungan yang dikenal dengan istilah deep ecology, yang kemudian mengalami perkembangan dan menjadi tonggak lahirnya pandangan baru yang dinamakan ekosentrisme. Naess sebagaimana dikutip oleh  Sonny dalam Etika Lingkungan (2006) memperkenalkan sebuah cara padang baru dalam menyikapi persoalan lingkungkungan yang terjadi zaman ini. Deep Ecology Naess menuntut sebuah revolusi cara berpikir manusia dalam memperlakukan alam; segala bentuk nilai, kepentingan maupun moral tidak lagi terpusat pada manusia (2006,144). Dalam hal ini Naess mengecam superioritas manusia yang meposisikan diri sebagai pusat segalanya dan tercipta untuk mengeksploitasi ciptaan lain.
Deep Ecologi atau pandangan ekosentrisme sebagaimana yang diusung Naess, memandang berbagai kepentingan, nilai serta etika diberlakukan bagi seluruh komponen lingkungan, seluruh komunitas ekologis, baik yang hidup maupun tidak. Secara ekologis, makhluk hidup dan benda-benda abiotis lainnya saling terikat satu sama lain. Karena itu kewajiban dan tanggungjawab moral tidak hanya dibatasi pada makhluk hidup tapi pula pada lingkungan tidak hidup.
Naess menekankan perlunya perubahan gaya hidup khususnya dalam relasi yang dibangun dengan alam yang telah melahirkan krisis ekologi seperti sekarang ini sebagai akibat dari pola produksi dan konsumsi yang sangat eksesif, tidak ekologis, dan cenderung konsumeristis.  
Ekosentrisme menghadirkan refleksi kritis bagi manusia. Manusia sebagaimana entitas lain yang ada di alam merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan sebagai bagian dari eksistensi ekologis.
Alam dalam pandangan ekosentrisme tidak bisa direduksi sebatas pada instrument semata, namun lebih dari itu alam merupakan wadah bagi keberadaan manusia dan penyedia (provider) kehidupan bagi manusia.
Deep ecology sebagai pijakan ekosentrisme mengajak manusia untuk memposisiskan diri tidak pada ruang sempit yang mendefinisikannya sebatas sebagai makhluk social semata, Pandangan ekosentrisme menggugat kesadaran manusia melalui tinjauan reflektif untuk menemukan diri yang juga merupakan bagian dari makhluk ekologis. Artinya bahwa persoalan kehidupan tidak direduksi sebatas pada pemenuhan serta pencapaian kebutuhan ataupun kepentingan manusia, namun juga merupakan sebuah persoalan yang lebih komprehensif terkait balance antara pemenuhan kebutuhan manusia juga kebutuhan alam.
Dengan menempatkan dirinya sebagai bagian dari makhkuk ekologis, maka sejatinya manusia ditantang untuk berjuang agar keberadaannya tidak sebatas parasit ekologi, begitulah penulis menyebutnya. Parasit ekologi yang dimaksudkan disini adalah tiap cara pandang serta pola prilaku yang mereduksi eksistensi alam yang sebatas pada instrument bagi kepentingan manusia yang berakar pada ketidaksadaran manusia sebagai bagian yang turut ditentutakan keberadaannya oleh dinamika alam.
Menempatkan manusia tidak semata sebagai makhluk social tetapi juga merupakan makhluk ekologi pada hakikatnya merupakan sebuah usaha untuk merekonstruksi cara pandang antroposentrisme terhadap alam yang terbukti telah menjadi obyek dari keganasan ciptaan bernama manusia. Menempatkan manusia sebagai makhluk ekologi dalam spectrum yang lebih komprehensif juga merupakan perjuangan gagasan yang sejatinya menjadi antithesis terhadap sikap totaliter, keserakahan, dan merontokkan dominasi superioritas serta ingin membendung krisis tanggungjawab manusia terhadap alam. Alam yang memberikan system kehidupan tidak sepatutnya mendapat sikap unrespect dari manusia yang telah diberikan penghidupan olehnya.
Susilo (2008) menyatakan ekosentrisme sebagai paham yang memperjuangkan keseimbangan secara holistic dalam keseluruhan konteks global manusia, alam dengan kehidupan dan budaya yang beragam. Keseimbangan holistic dalam hal pengelolaan alam ini mengandung arti kelestarian fungsi ekosistem alam secara utuh dan menyeluruh, mulai dari kelestarian kawasan ekosistem, kelestarian kualitas dan produktifitas serta kelestarian fungsi ekonomis – ekologis – serta social ekosistemnya.
Sebagai ciptaan yang behutang kehidupan pada alam, revolusi cara pandang dalam relasi ekologis sudah merupakan agenda yang urgen untuk segera digerakkan oleh manusia dizaman ini. Alam bukan lagi terbatas pada pemahaman tentang instrument pemenuhan kepentingan manusia semata tetapi lebih jauh merupakan wadah serta penyedia kehidupan yang didalamnya juga memiliki nilainya tersendiri. Manusia pun didefinisikan bukan semata-mata sebagai makhluk social, tetapi pada konteks relasi yang lebih kompleks manusia harus dipahami pula sebagai makhluk ekologis yang memiliki segudang tuntutan tanggugjawab terhadap alam yang didalamnya terdapat nilai yang tidak bisa direduksi dengan asumsi apapun.


Penulis : Cristian Syukur
Mahasiswa Ilmu Pemerintahan STPMD “APMD” Yogyakarta
Catatan: tulisan ini pernah dimuat di kolom essay Qureta tanggal 17 April 2017 dan diterbitkan ulang atas izin penulis.


COMMENTS

Name

Artikel,140,Bali,114,Batam,1,Bedah Buku,1,Ben Senang Galus,1,Bencana Alam,1,Berita,151,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,3,BPJS,1,Budaya,41,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,176,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,545,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Dari Kami,3,Demokrasi,22,Denpasar,18,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Donny Isman,1,DPR RI,4,E-KTP,4,Editorial,35,Ekonomi,5,Ekspresi,1,Ende,6,Entrepreneur,1,Feature,36,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,11,Focus Discussion,4,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,gaya hidup,4,Gedged,1,Gempa,6,Gereja,3,Gereja Katolik,3,Gerindra,1,GMKI,1,GMNI,4,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hiburan,26,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,59,Human Trafficking,4,IBT Expo,1,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,1,Indonesia,1,Indonesian Idol,8,Inspirasi,13,Internasional,16,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,5,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jawa Timur,1,JK,1,Jogyakarta,2,Jokowi,18,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,273,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,4,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,kecelakaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,2,Kemanusiaan,62,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,155,kepemudan,8,kerohanian,2,Kesehatan,8,Ketahanan Nasional,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,60,KPK,12,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,51,Kritik Sastra,4,Kupang,24,Labuan Bajo,51,Lakalantas,9,Larantuka,1,Lembata,2,Lifestyle,6,Lingkungan Hidup,15,Literasi,14,lombok,1,LP Cipinang,1,Luar Negeri,4,Mahasiswa,42,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,4,Malang,3,Manggarai,113,Manggarai Barat,20,Manggarai Timur,24,Marianus Sae,1,Marion Jola,3,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,7,Media,2,Media Sosial,3,Medsos,2,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Milenials,52,Motang Rua,1,Muda Petani,1,musik,1,Narkoba,8,Nasional,278,Natal,19,Ngada,7,Novanto,2,Novel,16,NTT,206,Nyepi,2,Olahraga,11,Opini,403,Orang Muda,15,Otomotif,1,OTT,2,Papua,15,Pariwisata,26,Partai Politik,25,Pasangan,16,Paskah,2,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,Penerbangan,4,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,20,Perindo,1,Peristiwa,1046,Peritiwa,2,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,41,Pilkada,102,Pilpres 2019,23,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,22,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Pojok Redaksi,35,Polisi,25,politik,90,Politikus,6,POLRI,5,PP PMKRI,1,Pristiwa,31,Prosa,1,PSK,1,Puisi,85,Puteri Indonesia,2,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,4,Refleksi,15,reformasi,1,Regional,6,Religi,2,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,27,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,9,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,2,Sekilas Info,23,seleb,1,Selebritas,18,Sidoarjo,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,19,Sospol,39,Start Up,1,Suara Muda,49,Sumba,8,Surabaya,36,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,11,Tentang Mereka,44,Tenun Manggarai,1,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Togar Situmorang,7,Tokoh,17,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,1,traveling,9,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,2,Viral,3,Wisata,4,Wisuda,1,WNA,1,
ltr
item
Muda Membaca Dunia: Manusia Sebagai Makhluk Ekologis Dalam Perspektif Anre Naess (Sebuah Kritik Terhadap Paradigma Lingkungan Berbasis Antroposetris Yang Merusak Alam)
Manusia Sebagai Makhluk Ekologis Dalam Perspektif Anre Naess (Sebuah Kritik Terhadap Paradigma Lingkungan Berbasis Antroposetris Yang Merusak Alam)
https://2.bp.blogspot.com/-wHqBaZDW_vo/Wj7KEWpsHiI/AAAAAAAAAEY/KWTpfuPdEVsp4dL3M7l1lTWukxmbAPXMwCLcBGAs/s320/20160920_102142.jpg
https://2.bp.blogspot.com/-wHqBaZDW_vo/Wj7KEWpsHiI/AAAAAAAAAEY/KWTpfuPdEVsp4dL3M7l1lTWukxmbAPXMwCLcBGAs/s72-c/20160920_102142.jpg
Muda Membaca Dunia
http://www.marjinnews.com/2017/12/manusia-sebagai-makhluk-ekologis-dalam.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2017/12/manusia-sebagai-makhluk-ekologis-dalam.html
true
971126874416220402
UTF-8
POSTINGAN LAIN Not found any posts LAINNYA Selengkapnya Reply Cancel reply Delete Oleh Home PAGES Kiriman Baca Semua Rekomendasi untuk Anda LABEL ARCHIVE CARI Semua Kiriman Tidak Ditemukan Apa yang Anda Cari Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 Jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Pengikut Ikuti THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy