Malapetaka di Pernikahanku

Kini aku benci cinta. Aku hanya ingin menikmati hidup dengan caraku tanpa kenal cinta yang buta. (Foto: Dok.Pribadi)

Kami berpacaran sejak lama yaitu sudah Tiga tahun. Hari-hari dilalui  dengan baik dan rasa semangat.

Canda tawa, suka duka, di jalani bersama menikmati dunia yang penuh damai dan sengsara.

Karena hujan yang tidak puas membasahi bumi. Kami berjanji akan jalani hubungan ini dengan baik dan sehat.

Berjanji memakai seloyor putih indah dan tempelan bunga  mewah mempesona pada dadamu ketika masuk rumah Tuhan nanti.
Janji kami pun masih utuh sampai sekarang.

Bertahun-tahun kami jalanni hubungan ini.
Sekarang aku sudah bekerja dan profesiku sekarang ialah sebagai guru
Aku mengajar di Sekolah Menengah Pertama di suatu Daerah.

Sementara Dia kekasihku itu adalah seorang yang masih bersetatus mahasiswi semester delapan.
Waktu berlalu begitu cepat. 

Usiaku semakin bertambah, rambut putih kian tumbuh satu-satu dikepala dan ingin di dampingi.

Ingin melamar, dompet belum penuh. Hewan peliharaan  juga belum besar, dan masih banyak kendala lainnya.

Pikirku, disaat membuka jendela menikmati  senja.
Motivasi ingin melamar selalu menjadi harapan yang hanya sia-sia. Seperti ingin jadi kaya tetapi tidak bekerja.

Di suatu pagi yang indah ketika aku menikmati santapan untuk mengisi perut sebelum pergi mengajar.

Suara dari dapur berisik dan sangat asing untuk di dengar. "kapan kamu mencari seorang yang bisa membantumu?
Hubunganmu dengan dia sudah terlalu lama, cepatlah melamarnya". Ucap ibu dari belakang dapur sambil mencuci piring.

Aku hanya diam sambil menelan kopi menghembuskan asap rokok dan berjalan berangkat ke sekolah. kegiatan hari itu berjalan lancar.

Dalam perjalanan pulang aku teringat ucapan ibu tadi pagi itu. Segera aku untuk melamarnya secepat mungkin. Pikirku dalam hati.

Sesampai dirumah aku sampaikan sama ayah dan ibu. Lalu Ayah informasikan ke keluarga hadir dirumah dan berunding. Keluarga menyetujui sambil memberikan uang seadanya.

Singkat cerita semua persiapan sudah maksimal. Malam hariniya aku dan ayahku mengunjungi keluarganya untuk menyampaikan hal yang di maksud.

"Maaf bukannya menolak tapi demi kebaikan nasib anak kita, selesaikan dulu sekolahnya apalagi waktu tidak lama. Tinggal dua tahun lagi" Jawabnya ayahnya.

Aku dan ayahku mengiyakan semuanya.
Aku sangat senang menerima keputusan itu dengan tulus hati. walaupun ada penyesalan, tapi demi kebaikan kami berdua juga.

Banyak hal yang mereka bicarakan malam itu. Setelah semuanya di bicarakan, aku dan dia pun duduk di ruang tamu.

Lalu aku membacakan puisi yang selama ini aku sengaja tulis untuknya ketika kenalan perama kali.

Payung Bercerita Klasik
Musim basah tanah
Bidadari berjalan menggigil
Angin kencang meniup derasnya
Berlari, menoleh mencari persinggahan
Duduk di persinggahan
Sosok misterius sedang berjalan
Bidadari mendekat, menyapa
Bolehkah payungmu
mengantarku? Menutup tubuhku dan tubuhmu?
Misterius kaget, gemetar, dan mengangguk kepala
Peganglah payung ini, jalan ke rumahmu
Berjalan dalam bisu terasa berbicara
Percikan air menyentuh kaki terasa hangat
Sampailah, ini rumahku
Payungmu penuh cerita klasik
Hujan jatuh cinta pada tanah.

"Terimakasih" ucapnya, menatap ku. Dia ketawa ketika aku selesai membaca puisi itu. Dan mengingatkan kembali ketika kami bertemu pertama kali.

Tak terasa bantal mengundang kami untuk berbaring. Aku dan ayah tidur diruang tamu.

Malampun berlalu begitu cepat. Pagi tiba seakan menyuruh aku dan ayah untuk pulang.

Tahun berganti tahun, akhirnya dia sudah menyelesaikan kuliahnya
Namanya juga bertambah panjang karena gelar sarjana yanh raihnya.

Orang tuanya bangga begitupun aku yang selama ini menjaga dengan baik.
Acara besar-besaran diadakan untuk mengharagai kelulusannya itu.

Betapa bahagia diriku, bisa mendapatkan dia yang begitu sederhana. Aku sepakat akan melamarnya lagi secepat mungkin, pikirku sambil minum sopi si kios milik Om tetangga.

Beberapa Minggu kemudian aku sepakat untuk melamarnya lagi. Kesepakatan itu pun di setujui keluaragaku dan keluarganya.

Tanggal pun di tetapkan untuk melaksanakan acar tunangan. Acaranya pun berlansung meriah.

Sapi, babi, uang, dan utang tidak dipikirkan lagi. Yang dipikiran hanyalah rasa bahagia. Sebab dia menjadi bagian hidupku yang diimpikan selama ini.

Acara tunangan selesai. Dia kemudian diantar ke rumahku. Rasa bahagia menyelimuti kami.

Begitupun yang dialami keluarga. Malam menyelimuti bumi, suara bisingan di jalan merasa terganggu.

Ah, tidak usah dipikirkan, apalah, dan saatnya untuk tidur.
Kami tidur di ranjang yang sama, aku hanya memegang tangan dan menempelkan mulutku pada keningnya itu saja yang harus di lakukan setiap malam, karena aku masih ingat janji kami.

Dua tahun kami melakukan hal yang sama.
Suatu hari ketika selesai makan siang, aku duduk di kamar sambil membaca novel yang belum tuntas-tuntas untuk di baca.

Dia mendekatiku, dengan suara lembutnya aku ingin menggendong anak, ucapnya.
Aku diam dan menglihkan pembicaraan itu dengan segala cara, agar keingininnya itu jangan terlalu cepat.

Kenapa kamu selalu mengalihkan pembicaraanku! Kenapa kamu tidak pernah membahagiakanku ? Apa kamu tidak ingin punya penggantimu, ketika engkau mati nanti? Ucapnya. 

Ada saatnya nanti. Sabarlah sayangku.
Ketika kita selesai menikah dulu.Itukan jnji kita dulu. Apalagi kita sudah lima tahun bersama ucapku.

Dia hanya menganggukan kepalanya.
Setiap hari aku berusaha membahagikan dia dengan begitu sederhana, seperti puisi yang di tulis oleh kakek Sapardi.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan kata yang tak sempat di ucapkan kayu kepada api yang menjadikannnya abu.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan isyarat yang tak sempat di sampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.

Waktu tak terasa, kami tinggal bersama sudah lima tahun.
Suatu hari aku dan dia membahaskan tentang pernikahan.

Kami sepakat akan menikah Minggu depan. Aku informasikan semua keluarga dan mempersiapakan sebaik-baiknya.

Mulai dari hal paling kecil sampai yang terbesar
Rasa lelah dirasakan dengan kebahagian yang luar biasa demi kebaikan dan ketulusan dalam mengartikan cinta.

Semuanya di persapkan secara matang.Tibalah hari pernikahan itu. Kami menggunakan mobil mewah, walaupun pinjaman  untuk bisa pergi ke Rumah Tuhan.

Rasa kebahagianku sungguh luar biasa, betapa bahaginya hidup ini, pikirku.
Tibalah di rumah Tuhan, sorotan kamera, membuat bibir susah senyum dan mata rabun cahaya.

Ketika berjalan masuk, dia tidak menutup wajahnya menggunakan seloyor anggun yang begitu indah.

Kakiku yang biasanya melangkah dengan cepat, seperti ada paku yang di tusuk.
"kenapa kamu tidak menutup wajahmu dengan kain seloyor indah itu?" Tanyaku.

Lalu dia menarikku, "Maafkan aku, selama ini membohongimu. Aku terlalu sayang dan sangat mencintaimu. Maafkan tubuhku yang pernah di telanjangi oleh sosok sebelum engkau jadi milikku.

Aku sengaja merahasiakan hal pedih ini selama selama lima tahun ini.
Karena aku takut melukaimu. Izinkanlah aku tetap menikah denganmu. Tebuslah kesalahanku di rumah Tuhan ini.
Aku sangat mencintaimu.

Aku diam, mulut tidak bisa mengucapkan apa-apa hanya bisa meminta hadirin dalam pernikahan pulang. Pernikahan di batalkan.

Kini aku benci cinta. Aku hanya ingin menikmati hidup dengan caraku tanpa kenal cinta yang buta.

Penulis : Yohanes Jefrianto Nabor
Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indoneia STKIP St. Paulus Ruteng

COMMENTS

Name

Artikel,140,Bali,114,Batam,1,Bedah Buku,1,Ben Senang Galus,1,Bencana Alam,1,Berita,151,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,3,BPJS,1,Budaya,41,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,176,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,545,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Dari Kami,3,Demokrasi,22,Denpasar,18,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Donny Isman,1,DPR RI,4,E-KTP,4,Editorial,35,Ekonomi,5,Ekspresi,1,Ende,6,Entrepreneur,1,Feature,36,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,11,Focus Discussion,4,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,gaya hidup,4,Gedged,1,Gempa,6,Gereja,3,Gereja Katolik,3,Gerindra,1,GMKI,1,GMNI,4,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hiburan,26,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,59,Human Trafficking,4,IBT Expo,1,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,1,Indonesia,1,Indonesian Idol,8,Inspirasi,13,Internasional,16,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,5,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jawa Timur,1,JK,1,Jogyakarta,2,Jokowi,18,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,273,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,4,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,kecelakaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,2,Kemanusiaan,62,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,155,kepemudan,8,kerohanian,2,Kesehatan,8,Ketahanan Nasional,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,60,KPK,12,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,51,Kritik Sastra,4,Kupang,24,Labuan Bajo,51,Lakalantas,9,Larantuka,1,Lembata,2,Lifestyle,6,Lingkungan Hidup,15,Literasi,14,lombok,1,LP Cipinang,1,Luar Negeri,4,Mahasiswa,42,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,4,Malang,3,Manggarai,113,Manggarai Barat,20,Manggarai Timur,24,Marianus Sae,1,Marion Jola,3,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,7,Media,2,Media Sosial,3,Medsos,2,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Milenials,52,Motang Rua,1,Muda Petani,1,musik,1,Narkoba,8,Nasional,278,Natal,19,Ngada,7,Novanto,2,Novel,16,NTT,206,Nyepi,2,Olahraga,11,Opini,403,Orang Muda,15,Otomotif,1,OTT,2,Papua,15,Pariwisata,26,Partai Politik,25,Pasangan,16,Paskah,2,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,Penerbangan,4,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,20,Perindo,1,Peristiwa,1046,Peritiwa,2,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,41,Pilkada,102,Pilpres 2019,23,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,22,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Pojok Redaksi,35,Polisi,25,politik,90,Politikus,6,POLRI,5,PP PMKRI,1,Pristiwa,31,Prosa,1,PSK,1,Puisi,85,Puteri Indonesia,2,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,4,Refleksi,15,reformasi,1,Regional,6,Religi,2,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,27,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,9,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,2,Sekilas Info,23,seleb,1,Selebritas,18,Sidoarjo,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,19,Sospol,39,Start Up,1,Suara Muda,49,Sumba,8,Surabaya,36,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,11,Tentang Mereka,44,Tenun Manggarai,1,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Togar Situmorang,7,Tokoh,17,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,1,traveling,9,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,2,Viral,3,Wisata,4,Wisuda,1,WNA,1,
ltr
item
Muda Membaca Dunia: Malapetaka di Pernikahanku
Malapetaka di Pernikahanku
https://4.bp.blogspot.com/-PpCc3zVB22c/Wi_oVVNGJBI/AAAAAAAAAd0/gOckN4CiJCg9dckdbWLs9oam0Yrs_vyHgCLcBGAs/s320/20171212_222244.jpg
https://4.bp.blogspot.com/-PpCc3zVB22c/Wi_oVVNGJBI/AAAAAAAAAd0/gOckN4CiJCg9dckdbWLs9oam0Yrs_vyHgCLcBGAs/s72-c/20171212_222244.jpg
Muda Membaca Dunia
http://www.marjinnews.com/2017/12/malapetaka-di-pernikahanku.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2017/12/malapetaka-di-pernikahanku.html
true
971126874416220402
UTF-8
POSTINGAN LAIN Not found any posts LAINNYA Selengkapnya Reply Cancel reply Delete Oleh Home PAGES Kiriman Baca Semua Rekomendasi untuk Anda LABEL ARCHIVE CARI Semua Kiriman Tidak Ditemukan Apa yang Anda Cari Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 Jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Pengikut Ikuti THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy