LDR, Love Different Religion: Sebuah Cerpen
Cari Berita

LDR, Love Different Religion: Sebuah Cerpen

10 December 2017

Ada makna implisit di balik lagu itu. Mungkin pengalaman pribadi sang penyanyi atau sekedar melihat orang yang mengalami hal itu (Gambar: Istimewa)
“Kalau ada yang bilang LDR-Long Distance Relationship itu berat, susah atau apalagi jenis keluhan penganut aliran pacaran jenis itu, aku kurang setuju. Itu karena sebenarnya masih ada jenis LDR yang lebih menyakitkan yaitu, LDR-Love Different Religion” 

“...Tuhan kita Cuma satu, kita yang berbeda...”
Lagu kita yang beda yang dipopulerkan Virzha sore itu mengalun pelan dan memanjakan telinga siapa saja yang mendengarnya. Kopi hitam dan sebatang rokok surya pun turut melengkapi indahnya langit senja, sore itu.
 
Ada makna implisit di balik lagu itu. Mungkin pengalaman pribadi sang penyanyi atau sekedar melihat orang yang mengalami hal itu. Dan, mungkin, sang penyanyi pernah mendengar kisahku, atau cerita pahitku.
 
Kisahku dengan gadis manis berambut poni itu berawal dari suatu kegiatan forum komunikasi antar umat beragama yang dilaksanakan di sebuah daerah terpencil tahun lalu. Kegiatan yang dipelopori kementrian agama itu mempertemukan orang muda dengan latar belakang agama yang berbeda. Aku bertemu dengan gadis rambut poni itu ketika kami dibagikan dalam kelompok-kelompok kecil. Berawal dari say hello sampai pada tukaran nomor handphone.
 
Ada perasaan aneh saat kami saling berjabatan tangan, berkenalan. “ahh, jangan baper..” bisikku dalam hati. “aku muslim Ris..” tuturnya disela-sela percakapan ringan yang lebih banyak aku mengada-ada sekedar mencairkan situasi. “oh ya? Aku Katolik”, balasku. Topik pembicaraanpun semakin banyak. Mulai dari kuliah, tempat pariwisata, hobby, lagu favorite sampai membandingkan rambut. Seiring berjalannya kegiatan, kami semakin akrab. Makan bareng, jalan bareng, dan duduk bareng. Aku merasa sepertinya ada yang mengganjal di hati setiap kali bibir mungilnya mengukir senyum. Ada yang mengganjal di hati setiap kali rambut poninya tertiup hembusan angin. “oh Tuhan, mungkinkah aku jatuh cinta??”.
 
Tibalah kami di penghujung kegiatan waktu itu. Aku tersadar, sebentar lagi kami berpisah. Gadis rambut poni itu mendekatiku. Jantungku berdetak kencang. Iya, lebih kencang dari sebelumnya, bahkan lebih kencang dari detak jantungku ketika aku kelelahan mendaki puncak Merbabu. Padahal tidak ada yang berbeda.
 
Senyumnya masih sama ketika pertama kenalan kemarin. Rambut poninya masih sama. Dia semakin mendekat. Aku linglung dibuatnya. “I will miss you so much Ris..”. aku ingin berteriak. Berteriak sekencang-kencangnya. “I will miss you too..” tanpa sadar, kalimat konyol itu kulontarkan. Tapi, responnya sangat dalam. Senyumnya kali ini lebih manis. Dari sorotan matanya, ada seribu kata yang tak tersampaikan. Mungkinkah itu kata rindunya untukku? Ataukah hanya sekedar kata-kata salamnya untuk kota istimewaku? Entahlah. Aku yakin kalau kata-kata itu adalah untukku. Di benakku juga sebenarnya ada banyak kata yang tak tersampaikan.
 
Ada banyak kisah, pengalaman yang belum kami perbincangkan sekedar memicu tawa. Tapi, apa daya, waktu tak lagi mengizinkan kami berlama-lama.
 
Lama sekali kami tenggelam dalam diam. Mungkin ini yang dinamakan diam seribu kata. Teriakan-teriakan orang-orang disekitarku kudengar seperti dengungan. Aku sadar, aku akan merindukan gadis rambut poni ini yang kini sedang duduk manis disampingku.
 
“Tak terasa yah, kegiatannya udah selesai” sahutku mencairkan suasana. Dia tak menyahut. Tidak sepatah katapun. Dia menatapku dalam. Dalam sekali. Dari matanya aku lihat dua butir cairan yang dengan sekali kedip saja akan menjadi anak sungai yang siap membanjiri pipi merahnya. Aku memberanikan diri memegang tangannya. Dan serentak butiran itu pecah menjadi anak sungai seperti yang kuduga tadi. Dia memelukku. Bersandar dibahuku, dan... Dia menangis. Isak tangisnya mengundang perhatian banyak orang di sekitar kami.
 
Tapi sepertinya, rasa rindu yang tak tersampaikan dari tadi yang menyiksa kalbunya mengalahkan rasa malu. Ditonton banyak orang tidak kami perdulikan. Dan tepat disaat itu, sebagai laki-laki sejati, yang peka, kukumpulkan bertumpuk-tumpuk keberanian. “Aku mencintaimu”. Spontan, singkat namun jelas dan padat. Dia melepas pelukannya. Dia menatapku seakan tidak percaya dengan apa yang aku sampaikan barusan. Dia menampar pipiku pelan. feelingku tidak enak. Aku yakin, dia akan menolak pernyataan cintaku. Sempat aku mencaci diriku. Mencaci kebodohanku. Tapi, “kenapa baru sekarang?”. 

Pertanyaan yang tidak kalah singkat dari pernyataanku itu menjawab semuanya. Sekarang aku yang memeluknya. Aku yang megecup manis keningnya. Untung saja dia lebih pendek dariku. Aku melepas pelukanku. Dia membisikkan sesuatu di telingaku. “kita akan LDR ya.. kamu siap kan??” pertanyaannya cukup memacu otak untuk memikirkan jawabannya. Sanggupkah aku menjalankan hubungan jarak jauh-LDR ini?? Memang ini bukan yang pertama kalinya. Sudah sering aku menganut pacaran jenis LDR itu dan gagal. Apakah kali ini aku masih mengalami hal yahng sama? Tidak. Aku percaya itu. “Aku siap kok. Dan aku yakin, akan berhasil” jawabku. Dia tidak menyahut. Dia tersenyum dan kembali bersandar di bahuku.
 
Perpisahan kami hari itu cukup sedih. Ditemani alunan lembut lagu sampai jumpa dari Endank Soekamti. Aku mengantar DIA-gadis poniKU ke gerbang tempat kegiatan kami. “i love you ris,” itu kalimat terakhir yang keluar dari bibir mungilnya sebelum Dia bersama rombongannya memasuki bus. Aku terus memperhatikannya sampai bus yang Dia dan rombongannya tumpangi itu menghilang di tikungan jalan.
 
Seiring berjalannya waktu, kami saling kontak. Chat, voicecalll, atau terkadang juga vid call. Masih banyak hal-hal konyol yang menjadi topik pembicaraan kami. Sampai pada suatu ketika,
 
“Ris, aku minta maaf. Hubungan kita sampai disini saja. Aku bukannya tak lagi mencintaimu Ris. Jujur, aku sangat mencintaimu. Aku tidak mau kehilangan kamu. Tetapi, kepercayaan kita tidak sama. Bapak dan Ibuku melarang kita berhubungan lagi. Sekali lagi minta maaf Ris. Terima kasih sudah pernah menjadi bagian dari hidupku. Semoga nanti kamu akan mendapatkan yang lebih baik”.
 
Aku diam. Diam dan terpaku. Bingung, bagaimana aku membalas pesan yang cukup panjang itu. Jujur, sebenarnya kalau aku membalasnya, mungkin akan lebih panjang lagi. Aku merasa, ada sebutir cairan yang jatuh dari mataku. Aku perlahan mengusapnya dengan ujung kerah bajuku. Aku tidak pernah menyangka, kalau ending kisah LDR-Long Distance Relationship kami tragis seperti ini. Kami tidak terpisahkan oleh jarak. Kami tidak terpisahkan oleh waktu atau tempat. Tetapi, kami terpisahkan oleh keyakinan. LDR-Long Distance Relationship kami berubah menjadi LDR-Love Different Religion.
 
Aku terbangun dari lamunan panjangku. Aku baru menyadari kalau ternyata rokok di asbak sudah dari tadi padam tertiup angin senja. Aku tersadar kalau kopi hitamku sudah dingin. Dan, senja baru saja berlalu dijemput malam. Aku berdiri dan beranjak dari tempat dudukku.

Pesembahan khusus buat mereka yang menganut paham LDR.

Oleh : Aristo
Alumni SMA St. Klaus Kuwu