Kisah Kasih Tak Sampai

Aku sendiri juga tidak menghiraukan rintiknya hujan yang jatuh. Aku merasakan  air hujan mendarat sangat begitu mulus tanpa hambatan mengalir di jaket yang ku kenakan. (Foto: Sulastri)
Hujan turun begitu membosankan disore itu. Aku yang  disibukan oleh sebuah tugas menjadi komentator untuk sebuah pertandingan bola kaki,terpaksa harus memberanikan diri melawan rintiknya hujan.

Hari itu adalah final penentu merebut kemenangan. Entah siapa yang dapat gelar juara satu masih menjadi sebuah teka-teki. Sebab yang akan bertanding dalam final pertandingan IKAMANU-Bali Cup itu adalah dua tim yang sama-sama kuat.

Baik dilihat dari cara pengaturan strategi serta taktik permainanan. Kedua tim bisa dibaratkan seperti duet maut Barcelona Vs Real Madrid.

Tim itu adalah Manu Fc di bawah asuhan Om Steve Hibur serta Semator Fc di bawah asuhan Om Bona. Merekalah yang akan bertarung untuk merebut piala IKAMANU Cup pertama 2017 yang boleh dikatakan cukup bergengsi pada saat itu.

Waktu masih menunjukkan jam tiga sore, artinya satu jam lagi waktu gelaran final antara Manu Fc melawan Semator Fc itu akan dimulai. Tampak riah-riuh srta sorak-sorai dari masing-masing pendukung dari kedua tim sudah mulai menggema di hampir seluruh stadion.

Ada yang membawa botol air mineral sambil pukul-pukul menyorakan tanda dukungan kepada tim kesayangan mereka. Tak ketinggalan juga pendukung dari tim yang ada sengaja membawa gong serta gendang untuk di bunyikan sebagai simbol dukungan mereka terhadap jagoannya yang akan bertanding.

Hujan rintik-rintik pada saat itu tak dipedulikan oleh mereka. Bahkan tetesan hujan yang turun kala itu dianggap sebagai pengganti air minum. Sebab warung untuk tempat jualan makanan di situ hampir tidak ada sama sekali.

Aku sendiri juga tidak menghiraukan rintiknya hujan yang jatuh. Aku merasakan  air hujan mendarat sangat begitu mulus tanpa hambatan mengalir di jaket yang ku kenakan.

Hujan saat itu kembali mengingatkan diriku ke masa kecil silam. Jujur,aku sangat suka hujan. Dari dulu bahkan sampai sekarang aku masih menikmati hujan. Dan hujan  favoritku ialah hujan yang super lebat. Karena,memberi kenikmatan tersendiri terhadap ku alias membuat aku bisa bermain air bersama teman-teman. Itu cerita dikala waktu masih kecil.

Saat pertandingan itulah aku mengenal dirinya untuk pertama kali. Gadis itu nampak periang dan kelihatanya sedikit humoris dan super aktif bersama teman-temannya.

Sesekali pada saat itu,aku melihatnya berfoto selfi bersama para sahabatnya. Dengan gaya dan tingkah yang lucu, kulihat dari jauh betapa lembutnya dia dengan senyuman yang manis menatap ke arah kamera  hand phone.
Dari sikapnya itulah aku mulai tertarik untuk mengenalnya lebih jauh bahkan lebih dalam. Sedalam danau Rana Mese.

Gadis itu bernama Ana. Dia kuliah di fakultas ilmu sosial dan politik jurusan Sosiologi di salah satu perguruan tinggi negeri di kota Denpasar. Pada waktu dan tempat itulah aku merasakan yang namanya jatuh cinta pada pandangan pertama.

Hatiku berdegup begitu kencang. Sebab mataku tak pernah melihat seseorang yang begitu sempurna. Pada saat itu Ia tampil begitu cantik. Matanya aduhhh,,,demi Tuhan seperti kilauan kristal yang bergelimang di bawah cahaya matahari.

Bulu matanya lentik, seperti ombak yang bergulung di lautan biru. Waktu itu mereka adalah dari ikatan mahasiswa Udayana Manggarai udayana-Bali (Immada-Bali) yang pada saat itu mereka diajak kerja sama dengan panitia pertandingan sepak bola itu.

Tidak tahu serta merasa heran saja. Kenapa hatiku selalu merasa berbeda di saat aku menatapnya. Sudah empat kali pertandingan digelar. Selama itu juga aku jadi sering sekali bertemu dengannya. Entah itu di gerbang stadion saat masuk, di antara para penonton, atau pun di panggung panitia tempat diriku berdiri mengomentari jalannya pertandingan.

Aku pun mulai sedikit memberanikan diri untuk  mencari tau informasi tentang dirinya. Tanpa basa-basi aku bertanya dengan salah satu temannya yang sering kali saya melihat dia berkumpul bersama dengan mereka.

Namanya Hanis.
Aku memang berteman dengan Hanis  sudah lama. Sejak dulu bertetangga kos di daerah Denpasar. Jadi wajar jika kami dekat sebagai teman akrab. Karena setiap hari waktu itu tak jarang saya dengan Hanis bertemu dan bahkan sering ngobrol bareng jika tidak ada sibuk.

Sepanjang perjalanan pulang ke rumah setelah selesai acara  pertandingan di hari pertama, aku bernyanyi-nyanyi merasakan kegirangan. Bagaimana tidak sebab aku sedang bersuka cita dengan apa yang sedang kurasakan yaitu "Jatuh Cinta".

Seluruh energi positif kosmis telah memberiku kekuatan ajaib. Semua seperti terasa adil kalau kita sedang jatuh cinta. Didalam perjalanan waktu pulang itu aku bersiul dengan lagu yang tak jelas. Lagu tanpa harmoni. Lagu yang belum pernah tercipta. Karena yang menyanyi bukan mulutku. Tetapi hatiku.

Jika sedang tak bersiul di telingaku tak henti-henti berkumandang lagu Jatuh Cinta karya Baron Soulmate. Saat itu yang ada di pikiranku hanyalah cewek itu. Cewek  itu, cewek  itu saja. Ketika cinta terus bermasyur dan terus membayangkan. Seandainya saja ada suasana romantis yang tercipta.

Dan celakanya situasi itu membuat aku hampir saja menerobos lampu merah dan disenggak pengendara lain. Ah, semua itu membuatku merasa menjadi pahlawan cinta. Dengan pikiran aku jatuh atau kecelakaan karena mabuk cinta.

Dalam setiap pertandingan berlangsung, jika waktu setengah main bergulir pandangan saya selalu beralih memandang dirinya. Mungkin dia ga sadar, tapi ya ngga apa-apalah. Mengagumi seseorang diam-diam tanpa ada yang tau itu rasanya asik, greget, pokoknya ga bisa di ungkapin secara jelas. Kecuali nanya ke dukun hahaha.

Dari semenjak ada rasa itu saya selalu kepikiran "Gimana cara untuk mengungkap ini ke dia. Terhadap apa yang kurasakan ini. Entah lagi saat berkomentar para pemain di lapangan, di kos, bahkan lebih seringnya saat sebelum tidur. Saya selalu memikirkan hal itu.

Sampai pada suatu hari. Yaitu pada saat pertandingan pengisihan group usai yakni sore minggu kedua. Saya yang lagi asyik menunggu pemulangan sound sistem yang di gunakan pada saat pertandingan itu. Aku mulai memberanikan diri. Bagaimana pun caranya. Saat ini juga harus direalisasi.

Entah kenapa, saya kemudian berfikir buat mengungkapkannya lewat si Hanis teman ku tadi. Saya sadar memang saya  adalah seorang lelaki lemah. Dengan sedikit basa-basi aku meminta bantuan kepadanya untuk mengungkapkan isi hati ku kepada wanita yang dambaan ku itu.

Temanku itu akhirnya melaksanakan permintaanku itu. Balasan dari itu cewek pada saat itu memang tidak menyakitkan sih. Suara lembut yang begitu syahdu terdengar keluar dari mulutnya dan masuk dengan jelas ke telingaku yang kebetulan berada agak di atas dari tempat mereka duduk. Saat itu aku mendengar suara yang keluar dari mulutnya yang mungil bunyinya begini"emang dia siapa". Menjawab temanku si Hanis itu tadi.

Mendengar ucapan seperti itu ke teman ku. Aku langsung timbul sebuah pertanyaan. Apakah saya harus berani mengungkapkannya sendiri untuk memperkenalkan diriku secara langsung kepadanya?Oh Tuhan, itu sangat sulit.

Minggu lima November pukul 16.00. Laga final akan segera di mulai. Setelah basa basi  menyapa seluruh para penonton yang hadir untuk menyaksikan jalanya laga final. Aku tak lupa juga membantu para panitia mempromosikan barang dagangan mereka seperti rokok dan kopi pada saat itu.

Kedua kesebelasan yang akan bermain sudah bersiap-siap di ruangan pemeriksaan pemain. Saya yang menjadi komentator pertandingan pun  mulai beraksi. Dengan gaya bahasa ku yang khas, cukup membuat para penonton sedikit terhibur sore itu.

Lima belas menit pertandingan sudah berlangsung suaraku agak terdengar kecil di sound sistem. Akibatnya menimbulkan sebuah pertanyaan bagi panitia partandingan. Sedikit-sedikit menyela komentar saya karena dianggap kurang bersemangat dan meminta untuk mengeluarkan suara lebih keras lagi.

Saya pun menjawabnya dengan langsung menunjuk ke operator sound sistem agar sedikit dinaikan volume mic yang ku pegang. Sang panitia itu pun paham dan tampaknya mengerti bukan karena volume mic. Tetapi karena dingin dan hujan. Dengan situasi seperti itu akhirnya dia berinisiatif meminta kepada rekan panitia untuk buatkan kopi untuk saya.

Dengan meminta bantuan anak-anak mahasiswi dari panitia akhirnya kopi pun tiba. Suara yang begitu lembut terdengar dari belakang ku yang lagi asyik  berdiri di depan panggung mengomentari para pemain "om....ini kopinya".

Saya langsung membalikan badan. Terasa sangat kaget sekali diriku saat itu. Ternyata yang mengantarkan kopi itu adalah dia. Dia yang ku kagum selama ini. Dia yang telah menumbuhkan perasaan cinta selama ini. Dia yang telah merasuk hati ini selama ini.

Sedikit senang sebab dia yang ku kagumi yang mengantar kopinya. Tetapi senangku itu sedikit bercampur kecewa. Kekecewaan diriku saat itu ialah mendengar sapaannya tadi. Sapaan yang memanggil diriku Om.

Aku tak lama-lama ingin berlarut dengan hal itu. Karena yang terdapat dalam pikiranku saat itu mungkin hanyalah sebuah candaan belaka dari dia. Sebab saya membaca raut mukanya sedikit ada aura kehumoran yang nampak keluar ditambah senyumannya yang manis kaya gula Kolang dari Manggarai Barat.

Mulai saat itulah kami mulai ada pendekatan yang cukup baik. Sesekali kami bercanda gurau. Sambil mengomentar para pemain yang sedang bermain. Dengan sifat kehumoran yang ku buat untuk menghibur mereka. Tak sedikitnya merekapun ikut tertawa terbahak-bahak.

Mulai dari saya menyebut tustel di sambung lagi tambahan dari dia menyebut kodak. Untuk mengilustrasikan para fotografer yang berusaha mengambil gambar para pemain pada saat iti. Memang pada saat itu para pemegang kamera sangat dihalangi oleh anak-anak kecil yang sulit sekali di atur dan di kasi tau untuk duduk. Dan jangan berdiri kocar-kacir didepan. Dengan itu semua bertambahlah semaraknya nonton bareng final bola kaki IKAMANU cup pada saat itu.

Pada saat setengah main. Ceritanya kami berperan ganda. Saya yang menjadi komentator berperan juga untuk membantu menjadi para medis. Begitu juga dia yang bertugas menjajakan kopi ke para penonton ikut juga menjadi tim medis.

Saya bersama-sama dengan dia akhirnya membantu para pemain yang banyak cedera saat itu. Karena stadion licin akibat hujan tadi. Saat itu aku mulai bergoyang. Tak segan-segan lewat pengeras suara saya berucap. Tolong beri itu para pemain yang cedera minyak Nona Mas atau remason agar cepat sembuh.

Gelak tawa penonton seisi stadion menggelegar. Situasi pun kembali semarak. Tak menghiraukan hujan yang tak kunjung reda. Diriku sengaja pada saat itu. Biar tidak ada ketegangan di antara masing-masing pendukung. Mengingat pertandingan semakin sengit dan seru.

Membuat saya dan dia tertawa seru pada saat itu ialah ketika saya menyebut pucek. Saya berbisik kepadanya jika para pemain meminta pengobatan spesial dari kamu yaitu pucek,apakah dirimu mau?
Dengan tertawa terbahak-bahak dia pun menjawab''aduh...sori sekali. Kalau mereka minta saya untuk pucek,saya tidak mau beri welu masu (Kemiri Bakar). Tetapi saya memasukan botol ini aja biar cepat sembuh". Sambil menunjukan botol kecil yang di pegangnya. Saya pun kaget saat melihat botol kecil itu.

Saya membayangkan seandainya botol kecil itu di masukan. Bagaimana sih rasanya. Merasa lucu dan tak tahan juga diriku untuk tertawa.

Saya merasa penasaran dengan botol yang dia pegang itu tadi. Saya mencoba untuk melihatnya. Ternyata,setelah saya perhatikan dan baca tulisan luarnya. Botol itu adalah botol cairan untuk semprot kaki para pemain yang cedra. Pertandingan akhirnya berakhir. Kemenangan diraih oleh Manu Fc.

Riak gembira dari para suporter manu fc membanjiri seluruh isi stadion. Saya yang sudah sangat merasa terlalu capeh akhirnya naik ke atas tempat soud sistem. Untuk istirahat sejenak minum air sembari menyaksikan pembagian hadiah kejuaraan dari panitia.

Seiring perjalanan waktu semua tatanann acara finall akhirnya selesai. Saya kemudian membantu pamanku yang menjaga soud sistem membereskan dan mengangkutnya semuanya masuk ke dalam mobil.

Perasaanku yang ada selama pertandingan itu terhadapanya dia akhirnya hilang sekejab. Bak di telan bumi. Saya berkeyakinan pada saat itu. Selesainya ikamanu cup maka, berakhir pula semua rasa itu.

Ada bekas. Ada bayang sampai saat ini. Namun aku yakin dan percaya semuanya telah usai. Tidak ada gunanya mengulangi kembali. Namun sedikit ada harapan jika waktu berkenan. Bumi dan langit merestui. Serta sang Tuhan mengijinkan. Saya senantiasa menunggu ditempat. Tunggu dia yang punya rasa untuk saya.

Saya pun mengakhiri cerpen ku ini dengan sebuah kutipan yang cukup bermakna dari First Lady dan kolumnis dari Amerika Serikat 1884-1962 Eleanor Roosevelt ''Anda selalu mengagumi apa yang Anda benar-benar tidak mengerti''

Sebelum saya tutup Cerpen ini. Saya terlebih dahulu mempersembahkan sebuah puisi untuk dirinya. Untuk dia yang ku kagumi.

Mengagumi Dirimu

dalam sepihnya waktu

tak jeddah ku sulam rindu di jiwa

dalam sunyinya lara

tak sirna ku rajut kasih di muara kalbu

bahwasanya akulah pengagum

di balik tabir rahasia

setiap senyum karismamu

melekat erat di benak malamku

menghantarkan hasratku ke tepi bahagia

walau aral nan jadi ruang pemisah

mengagumimu bukanlah dosa

lelah cucuran keringat dalam munajat

tiada terbilang oleh hitungan dalam angka ,dalam aksara

tuk cumbui bayangmu pda rembulan

tuk datangi jiwamu dalam impian

meski terkadang dalam bisu

ku kemas tetes -tetes bening yang jatuh

meski terkadang dalam senyumku

ku basuh luka merona oleh rajam lakumu

aku tetaplah sang bidadari rahasia

yang menyulam sebuah harapan

di balik tirai yang menerungku

dalam bias malam- malam sepihku

sampai bila airmataku kering

sampai bila napasku henti

ku masih di sini dalam malamku

merajut sejuta impian indah

bersama bayanganmu


Demikianlah kisah kasih yang ada selama gelaran Ikamanu cup Pertama 2017. Sengaja saya buatkan dalam bentuk cerpen biar ada kenangan.

Oleh: Remigius Nahal

Catatan:
*Pucek adalah sebuah pengobatan tradisional Manggarai. Mengobati sakit demam,capek,dll.
*Cerita pendek ini adalah hasil imajinasi, mohon maaf bila ada kesamaan kisah dan kesamaan nama. Tentu, itu hanya kebetulan.

COMMENTS

Name

Artikel,140,Bali,108,Bedah Buku,1,Ben Senang Galus,1,Bencana Alam,1,Berita,142,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,3,BPJS,1,Budaya,41,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,174,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,529,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Dari Kami,2,Demokrasi,22,Denpasar,18,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Donny Isman,1,DPR RI,4,E-KTP,4,Editorial,34,Ekonomi,5,Ekspresi,1,Ende,6,Entrepreneur,1,Feature,36,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,11,Focus Discussion,4,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,gaya hidup,4,Gedged,1,Gempa,6,Gereja,3,Gereja Katolik,3,Gerindra,1,GMKI,1,GMNI,3,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hiburan,25,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,59,Human Trafficking,4,IBT Expo,1,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,1,Indonesia,1,Indonesian Idol,8,Inspirasi,13,Internasional,16,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,5,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jawa Timur,1,JK,1,Jogyakarta,2,Jokowi,18,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,272,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,4,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,kecelakaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,2,Kemanusiaan,62,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,154,kepemudan,8,kerohanian,2,Kesehatan,8,Ketahanan Nasional,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,60,KPK,12,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,51,Kritik Sastra,4,Kupang,24,Labuan Bajo,51,Lakalantas,9,Larantuka,1,Lembata,2,Lifestyle,6,Lingkungan Hidup,15,Literasi,14,lombok,1,LP Cipinang,1,Luar Negeri,4,Mahasiswa,41,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,4,Malang,3,Manggarai,112,Manggarai Barat,20,Manggarai Timur,24,Marianus Sae,1,Marion Jola,3,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,7,Media,2,Media Sosial,3,Medsos,2,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Milenials,51,Motang Rua,1,Muda Petani,1,musik,1,Narkoba,8,Nasional,275,Natal,19,Ngada,7,Novanto,2,Novel,16,NTT,199,Nyepi,2,Olahraga,11,Opini,400,Orang Muda,15,Otomotif,1,OTT,2,Papua,15,Pariwisata,26,Partai Politik,25,Pasangan,15,Paskah,2,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,Penerbangan,4,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,20,Perindo,1,Peristiwa,1021,Peritiwa,2,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,41,Pilkada,102,Pilpres 2019,23,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,22,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Pojok Redaksi,34,Polisi,25,politik,89,Politikus,6,POLRI,5,PP PMKRI,1,Pristiwa,31,Prosa,1,PSK,1,Puisi,84,Puteri Indonesia,2,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,4,Refleksi,15,reformasi,1,Regional,6,Religi,2,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,26,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,9,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,2,Sekilas Info,23,seleb,1,Selebritas,18,Sidoarjo,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,18,Sospol,39,Start Up,1,Suara Muda,43,Sumba,8,Surabaya,36,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,11,Tentang Mereka,43,Tenun Manggarai,1,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Togar Situmorang,5,Tokoh,17,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,1,traveling,9,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,2,Viral,3,Wisata,4,Wisuda,1,WNA,1,
ltr
item
Muda Membaca Dunia: Kisah Kasih Tak Sampai
Kisah Kasih Tak Sampai
https://3.bp.blogspot.com/-CmRXS3Yerms/WitpZerIgdI/AAAAAAAACZM/SL5QgeXT3_kLcq7h_IC32DLekiYaY6i1wCLcBGAs/s320/IMG-20171209-WA0028.jpg
https://3.bp.blogspot.com/-CmRXS3Yerms/WitpZerIgdI/AAAAAAAACZM/SL5QgeXT3_kLcq7h_IC32DLekiYaY6i1wCLcBGAs/s72-c/IMG-20171209-WA0028.jpg
Muda Membaca Dunia
http://www.marjinnews.com/2017/12/kisah-kasih-tak-sampai.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2017/12/kisah-kasih-tak-sampai.html
true
971126874416220402
UTF-8
POSTINGAN LAIN Not found any posts LAINNYA Selengkapnya Reply Cancel reply Delete Oleh Home PAGES Kiriman Baca Semua Rekomendasi untuk Anda LABEL ARCHIVE CARI Semua Kiriman Tidak Ditemukan Apa yang Anda Cari Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 Jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Pengikut Ikuti THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy