Kisah Cinta di Lembah Kuwus
Cari Berita

Kisah Cinta di Lembah Kuwus

24 December 2017


Seakan membuat hati ku tambah bergelora. Cinta itu pun tumbuh tanpa panjang waktu. sekejap aku melintas dengan cepat melewati ruangan kelas itu.( Foto: Dok. Pribadi)

Rasa ini seakan terasa sudah luntur. Aku teringat akan mula dari rasa cinta yang pernah hadir dalam hati ini.

Dia yang begitu tulus  mencintai ku. Hingga kini aku kembali untuk mengenangkan cintanya itu.

Cinta yang begitu menyejukan hati. Membahagiakan setiap celah- celah hari ku. Hingga aku merasakan sesuatu yang berbeda dari cinta yang ku jalani setelah cinta mula itu berakhir.

Awal kisah ketika aku masih duduk di bangku kelas satu di sebuah Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP).

Di sana aku mengalami seseuatu rasa yang berbeda dari rasa yang sebelumnya ada. Rasa yang  baru pertama kali ada dan hadir dalam hidup ini.

Dan ini merupakan sesuatu yang selalu di kenang dimana rasa cinta itu hadir untuk pertama kalinya dalam hidup ku.

Usia yang belum sebegitu tepatnya untuk merasakan hal itu. Kini dengan cepatnya. Gelora rasa dan cinta hadir seakan memaksa untuk giat memikirkan hal itu.

Suatu pagi. Di kala fajar masih bersandar dalam pelukan sang bukit. Tepat di pukul enam. Kami yang satu asrama hilarius yang merupakan sebagai siswa baru, turun bersamaan menuju gerbang sekolah. Sebagai anak baru. Tentunya semua berpakaian rapi. Apalagi kala itu kami masih dalam proses masa orientasi siswa (MOS).

Suatu ketika. Ketika semuanya masuk dalam ruangan kelas. Untuk mengikuti kegiatan. Sempat terdengar sebuah isu yang sedang sedang hits di kalangan usia kami. Di mana dalam isu tersebut bahwa salah seorang sahabat kami sudah memiliki pacar.

Maklum masa pubertas masa itu memang sedang dalam penjajakan. Hal inilah seakan rasa ku ingin mengikuti apa yang sedang ia rasakan tentang cinta itu. Di sanalah seakan kami sedang belajar tentang bagaimana itu cinta.

Dan ternyata cinta itu tumbuh ketika orang di sekitar kita pun mengalami hal tersebut. Dan kita pun seakan mengikuti jejak cinta mereka.
Hahahahaha. ..ternyata perilaku cinta juga sudah tergolong dalam plagiarism.

Berawal dari sanalah. Rasa cinta ku tumbuh subur seiring berjalannya usia ku untuk menikmati dan meraskan hal itu.

Ketika waktu itu aku melintasi sebuah pintu sebuah ruangan kelas di sekolah itu. Aku melihat dengan tak sengaja meliriknya. Seorang gadis yang begitu cantik.

Seakan membuat hati ku tambah bergelora. Cinta itu pun tumbuh tanpa panjang waktu. sekejap aku melintas dengan cepat melewati ruangan kelas itu.

Dengan cepatnya aku pun memasuki ruangan kelas ku. Dan ku ceritakan pada teman-teman dekat. Dengan penuh harapan rasa ini akan cepat sampai.

Dalam cerita itu. Dimana aku menceritakan bahwa aku  menemukan seorang gadis di kelas sebelah. Dan dalam hal itu pun saya mencerita tentang bagaimana saya mempunyai sesuatu rasa untuknnya. Tanpa panjang kata pun.

Sahabat saya bernama florida menyuruh saya untuk mencari gadis itu dan menunjukan kepadanya. Setelah  kami mencari dan menemukannya. Kami pun kembali dan berjalan berpisah. Namun ternyata.

Saya berjalan kedepan. Florida kembali dan menghampiri gadis yang saya cintai itu dari belakang. Dengan tujuan untuk menyampaikan perasaan saya yang sedang di mabuk cinta.

Tak lama aku sampai dalam ruangan kelas. Florida kemudian menyusul lari dengan cepat sambil ketawa memasuki ruangan kelas.

Semua mereka yang berada dalam ruangan kelas pun tercengang dengan tingkahnya itu. “Ada apa ini?”, kata teman-teman. Sedikit ia melihat kemudian menunduk melihat ekspresi teman-teman kelasnya itu. Saya sendiri pun tak tau apa yang terjadi dengannya.

Dengan perlahan pun dia segera menghampiri ku. Lalu saya pun dengan cepat menanyakanya, “ada apa dengan mu florida, tingkah mu sungguh membuat teman-teman bingung?”.

Lalu dia pun menjawab, “Maafkan aku gordi, hampir aku keceplosan tentang rasa dan jalinan  cinta mu dengannya  di depan teman-teman”.

Lalu ku tanya kembali padanya, “memang ada apa sebenarnya?”. Lalu dia pun kembali menjawab, “rasa cinta mu padanya telah ku sampaikan, dan itu dia terimanya dengan tulus”.

Saya pun tercengang dengan jawabannya. Antara bahagia dan bingung sedang membaluti ku saat itu. Sementara aku belum begitu tau bagaimana itu cinta.

Lalu ku berkata padanya, “mengapa engkau begitu cepat menyampaikanya, itu hanya sebatas suka ku padanya dan aku belum sebegitu siapnya untuk menjalani itu.

Lalu dengan lembutnya bisikan gadis sang sahabat itu, seakan membuat ku untuk tetap semangat dan bahagiai dalam menjalani itu, “ahhh.... kau ni.

Jalani sajalah. Nanti juga kamu akan tau bagaimana itu cinta, bersama dengan alur yang begitu setia menuntuni  cinta mu itu”. Dengan secara terpaksa pun saya mencoba membangunkan cinta itu.

Dalam hati saya berpikir dan berkata,”Ah, inikah awal cinta yang sesungguhnya?, yang bermula malu ternyata berlanjut bahagia”.

Di suatu senja sepulang studi sore dari sekolah. Saya pun dengan cepat kembali asrama. Sesampai di asrama ternyata ketiga gadis yang salah satunya adalah orang yang saya cintai menyusul saya dari belakang.

Ternyata mereka sedang mengejar saya, dengan tujuan untuk memberikan sepucuk surat sebagai  ungkapan awal atas rasa yang telah di jalinkan sejak itu. Disinilah saya merasa malu.

Antara apa yang seharusnya di ungkapkan padanya saat itu. Namun ternyata malu itu berlalu. Karna ternyata diantara kami berdua masih berpegang pada malu-malu. Mereka pun hanya menitipkan surat itu lewat teman seasrama saya yang bernama florida tadi, lalu kemudian pergi.

Florida pun pergi temui saya untuk memberikan surat tersebut. Dan berkata, “selamat membaca ya, semoga cinta mu abadi selamanya”.

Lalu  saya pun merespon sambil tertawa, ”hhhhha... terimaksih ya untuk mu. Semoga engkau tetap menjadi jembatan penghubung yang tangguh dalam mempertemukan setiap cinta”. Lalu dia pun merespon hanya dengan tersenyum.

Lalu ku pergi jauh dan mencari tempat yang tenang untuk membacainya. Lalu ku coba membukainya. Lipatan kertas yang begitu lipit dengan jejer tulisan yang begitu rapi membuat aku semakin mengagumi akan cintanya.

Cinta mu bagaikan angin sejuk di lembah pocoh kuwus. Pada permukaan surat itu bergambarkan simbol cinta dengan tulisan Gardi Love angela. Dalam hati ku saat itu berkata, “aku juga mencintai mu.

Pada bukit dan senja ini telah ku maknai, setiap perasaan yang telah kau titipkan pada sehelai kertas ini. Semoga cinta kita akan abadi selamanya”.

Layaknya poco kuwus yang dengan setianya berdiri dan selalu menghadirkan angin sejuk dalam setiap waktunya.

Penulis: Gordi Jenaru - Alumni SMAN 1 KUWUS-GOLOWELU- Kuliah di Univ. UNDANA Kupang-Fisipol-Jurusan Sosiologi