Keresahan Hati Soal Ucapan Kemendikbud, Catatan Dari Kuasa Hukum PENA NTT

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Keresahan Hati Soal Ucapan Kemendikbud, Catatan Dari Kuasa Hukum PENA NTT

MARJIN NEWS
9 December 2017

Persoalannya adalah pernyataan beliau disampaikan dalam konteks menanggapi (kritik) terkait metodologi yang digunakan sehingga muncul hasil survei dari UNESSCO yang menempatkan Negara Indonesia pada posisi bawah (Foto: Dok. Pribadi)
Apabila dalam sebuah forum atau dalam rangka mengevaluasi tingkat pendidikan di Indonesia, seorang pejabat selevel Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia menyampaikan kepada publik bahwa mutu pendidikan di NTT buruk, tentu tidak sampai memantik aksi protes sebagaimana dilakukan oleh sejumlah jurnalis asal NTT yang tergabung dalam Perhimpunan Jurnalis (PENA) NTT di Bali. 

Sebab, secara ex officio beliau berwenang menyampaikan hal tersebut apalagi didukung oleh data yang akurat. Justru apabila seorang Mendikbud sampai mengeluarkan pernyataan bahwa mutu pendidikan di NTT masih rendah, dapat diartikan bahwa beliau hendak memberikan perhatian lebih terhadap peningkatan mutu pendidikan di NTT. Maka pada poin ini kita semua yang merasa warga NTT dimanapun berada patut menyampaikan rasa terima kasih kepada Bapak Menteri. 

Nah... mengapa sampai ada aksi protes hingga demo yang dilakukan oleh PENA Bali menyikapi pernyataan Bapak Mendikbud Muhadjir Effendy??? Persoalannya adalah pernyataan beliau disampaikan dalam konteks menanggapi (kritik) terkait metodologi yang digunakan sehingga muncul hasil survei dari UNESSCO yang menempatkan Negara Indonesia pada posisi bawah. Judul artikel dalam surat kabar harian Jawa Pos edisi 5/12/2017 tersebut "Kwalitas Pendidikan RI Masuk Ranking Bawah". 

Pernyataan Bapak Menteri adalah "Saya kwatir yang dijadikan sample Indonesia adalah siswa-siswa dari NTT semua" Menyimak dan meresapi pernyataan tersebut, izinkan saya menyampaikan sumbangan pemikiran ala Advokat Muda NTT yang sedang belajar. Bahwa dalam benak saya Bapak Mendikbud sebetulnya hendak membantah hasil survei tersebut dengan berguyon, namun tanpa disadari pernyataan Bapak Mendikbud tersirat sebuah pengakuan bahwa kwalitas pendidikan di NTT paling rendah dibanding propinsi lainnya di Indonesia dan celakanya rendahnya kwalitas pendidikan di NTT inilah seolah-olah sebagai biang kerok hasil survei yang menempatkan Indonesia sebagai negara dengan predikat kwalitas pendidikan yang buruk di dunia. 

Dengan demikian, menurut hemat saya Pak Mendikbud telah menjadikan buruknya mutu pendidikan di NTT sebagai bahan guyonan untuk membantah hasil survei tersebut sekaligus menjadikan potret buruknya mutu pendidikan di NTT sebagai penyebab bangsa Indonesia mendapatkan predikat yg buruk di mata dunia. Kalau pun benar bahwa yang dijadikan sample adalah mutu pendidikan di NTT, maka cambuk yang keluar dari hasil survei tesebut sejatinya dijadikan momentum oleh Bapak Mendikbud untuk memberikan perhatian lebih pada peningkatan mutu pendidikan di NTT, agar predikat Bangsa Indonesia menjadi lebih baik di mata dunia. Bukan malah menanggapi hasil survei dengan pernyataan yang dapat melukai perasaan masyarakat NTT. 

Andaikata hasil survei menempatkan Indonesia sebagai predikat kwalitas pendidikan terbaik di dunia, apakah Pak Mendikbud akan mengeluarkan pernyataan yang sama? Akhirnya, saya ingin mengatakan bahwa Bapak Menteri Tidak Salah karena bukan domain saya untuk menilai tentang salah atau benarnya pendapat seseorang, hanya saja saya harus jujur dari hati yang paling dalam bahwa pernyataan Bapak Mendikbud telah melukai perasaan saya pribadi sebagai salah satu masyarakat NTT. 

Salam Bangga Saya untuk semua pahlawan dan pemerhati pendidikan di Republik Indonesia, Denpasar: 08 Desember 2017

Oleh: Yulius Benyamin Seran
Kuasa Hukum PENA NTT