Kedai Kopi


Kopi tak perlu diminum buru-buru nanti kepanasan, kopi juga tak perlu diminum terlalu lama nanti kedinginan. Jadi, harus pas, nikmati hidupmu seperti kau menikmati kopi itu. (foto :dok pribadi)


Ndri entalah, semenjak kukenal dirimu kedai kopi ini menjadi tempat aku bersembunyi dari rindu. Bukan pada kedainya, tapi pada setiap tetesan kopi yang kuseruput tersimpan sejuta kenangan bersamamu. Pada jarak ribuan kilo kita berpisah, setiap tetesannya bisa menyembuhkanku dari sakit rindu yang menggebu. Kadang aku berpikir biar aku saja yang merindu, karena aku tahu rindu itu kejam Ndri.
Kuingat saat pertama kali kau mengajakku ke sini, kau bilang kopi pada kedai ini bisa memberikan kenyamanan saat kau lagi pusing menyelesaikan tugas sekolah yang menumpuk. Lalu kau bercerita tentang guru yang jutek, teman kelasmu yang bikin risih, keluhan akan tugas sekolah yang menumpuk, dan masih banyak lagi yang kita bicarakan. Aku juga ingat saat kau bilang, “Pin, kopi itu harus dinikmati sepenuh hati. Biarkanlah kopi itu memberi banyak rasa bagi penikmatnya. Kopi tak perlu diminum buru-buru nanti kepanasan, kopi juga tak perlu diminum terlalu lama nanti kedinginan. Jadi, harus pas, nikmati hidupmu seperti kau menikmati kopi itu”. Kau tahu Ndri, kini aku telah mengikuti saranmu itu. Oh iya aku juga ingat saat kau merayuku, “Pin, kopi pesananmu pahit”, “benarkah? Biar saya tambahkan gula?”, lalu kau bilang “tidak perlu Pin, manisnya kamu yang ambil”. Hahaha aku kalah denganmu Ndri.
Ndri, sepertinya dingin kota Ruteng semakin menusuk kulit, gadis semanis dirimu tak bisa hilang dari pikiranku setiap kali aku menyeruput setiap tetesan kopi ini. Boleh saja kau lupakan diriku, tetapi kuharap kau tak lupa akan dinginnya kota ini. Kau harus ingat bahwa setiap sore kau harus menyeruput kopi sepeti yang sering kita lakukan bersama di sini, paling tidak agar kau selalu ingat akan kota ini di mana saja kau berada dan ada kenangan bersamaku di salah satu kedai kopi di kota ini.
Maafkan aku Ndri, setiap kali aku melihat sepucuk surat yang pernah kita tulis di kedai kopi ini dan kita sebut “empat tahun” aku sangat benci pada diriku. Aku telah melanggar janji yang pernah kita buat. Ada yang bilang bahwa cinta itu buta, tetapi ini bukan soal cinta Ndri, ini janji!! Janji!! Bodohnya aku bisa berpaling dari janji. Kita sepakat akan bertemu di kedai ini bila kita sudah membalas surat kita itu, tetapi aku sudah memperburuk surat yang kau tulis untukku, sedangkan kau sudah membalas surat yang kutulis bahkan lebih indah dari yang kutulis.

Untukmu Pin 25 tahun
Datang dihadapanku dengan tampang yang gagah. Mengenakan kemeja berlengan panjang di masukan ke dalam dan menggunakan celana tisu hitam beralaskan sepatu hitam dengan tubuh yang berpostur tinggi mengenakan tas samping dan membawa buku. Berbeda dengan opin yang dulu. Berharap ada peluang besar untuk bertemu denganmu “25 tahun”
Tampang lelaki idaman.
Dari Ndri 4 tahun yang lalu

Aku telah membuka surat janji yang kau tulis untukku sesuai dengan waktu yang kita tentukan. Maafkan aku, aku tak seperti yang kau tulis. Aku telah membuang percuma lima tahun itu. Janji tinggalah janji, aku hilaf dan terlalu bodoh. Aku tak menghargai setiap kesempatan yang ada. Aku lupa dan aku tak sadar.
Kemarin adalah waktu kita bertemu kembali di kedai kopi ini, tetapi aku malu padamu juga pada diriku. Kemarin kulihat kau duduk menungguku sambil menyeruput kopi, sedangkan aku hanyalah pecundang yang pandai bersembunyi dan menatap punggungmu dari kejauhan. Semestinya kemarin kita bercerita tentang empat tahun selama kita berpisah. Sejujurnya aku juga rindu menatap wajah manismu, mendengar tawamu, dan mendengar rayumu. Kau masih seperti yang dulu meski aku hanya menatapmu dari belakang. Hanya saja kini ada yang istimewa dari dirimu, yaitu kau adalah orang yang menepati janji, sedangkan aku adalah orang yang berpaling dari janji.
Kini sudah waktunya untuk kita berpisah, berjuanglah untuk apa yang kau tulis, sedangkan aku, mungkin ada kesempatan untuk memperbaiki. Jika nanti adalah waktu keberuntungan, kita pasti bertemu lagi. Di kedai kopi ini.


Penulis : Fransiskus Opileoanus Sanjaya
Mahasiswa Tingkat 3 Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP St. Paulus Ruteng