I'm Fall in Love
Cari Berita

I'm Fall in Love

MARJIN NEWS
2 December 2017

Hingga gadis itu beranjak dari tempat itu, sekata pamit pun tak terucap darinya. Aku mengerti cinta memang suka becanda (Ilustrasi: Istimewa)
November 2017, hujan deras yang mengguyur kota yogyakarta menyebkan banjir disebagian besar wilayah daerah istimewa itu. Kejadian alam ini menjadi perbincangan hangat diantara ratusan kepala yang kalah itu menikmati sahdunya lagu sendu disalah satu caffe.

"Oh hujan, jika memang engkau ciptaan Tuhan, mengapa engkau harus hadir sebagai duka bagi ciptaan Tuhan lainya?" keluh salah satu pemuda dikananku sembari menghanguskan jantung dan paru-parunya dengan sebatang rokok. 

Sementara itu, aku tertuju pada satu kursi yang diduduki seorang gadis berbaju merah. Senyumnya ramah, rambutnya dibiarkan merebah pada bahu hingga punggungnya. Wajah gadis itu seperti tak asing bagiku.

Aku teringat pada jejak lalu, aku pernah bertatap pada layar smartphone untuknya, bahkan pernah berniat mencintainya tanpa harus tahu seperti apa rupanya. Sungguh, ini dirinya. Aku sungguh ingat jelas foto diakun media sosial miliknya. Karena memang, hampir  selalu ada waktu di setiap hariku, untuk jemari menjelajah lini masa akun sosial medianya. Atau kadang tak sengaja fotonya melintas diberandaku. 

Untuk meyakinkan diri, aku beranjak dari kursi duduk ku lalu mendekatinya. 
Hal pertama yang terlintas adalah harus bagaimana aku menyapa? 
Sungguh aku jatuh cinta, sampai aku sendiri lupa harus berkata apa. Aku berusaha menenangkan diri, bersantai sejenak lalu mencoba memulai perbincangan.

"Enu, selamat malam" sapaku singkat sembari menyodorkan tangan kanan.
"Iyo kae, selamat malam juga" dia menjawabku dan suatu yang paling indah terlihat diantara senyum dan matanya yang tiba-tiba ikut menyapa. 

Pada pertemuan itu, sedikit hal yang kami bincangkan. Karena memang waktu yang mengharuskanku untuk segera kembali duduk diantara teman-temanku. Yang pasti, sesingkat itu aku bertemu dengannya, sesederhana itu juga aku jatuh cinta padanya. Sungguh, aku jatuh cinta. 

Waktu pun jatuh di ujung malam, ada rintik yang jatuh dengan terengah-engah seperti lelah dengan dirinya sendiri. Ada keluh dari wajah orang orang itu karena harus berteduh hingga hujan reda, mesti tak tahu harus berbust apa. Dan ada mata yang selalu memandang pada indah itu mesti tak tahu harus bagaimana mendekati kembali. 

Ketika itu, Aku hendak mengajaknya beranjak bersama sang fajar penyeka sejuta senandung sendu tentang angan-angan. Ada mau dan ragu yang harus aku pilih. Ah, sudahlah. Biarkan dia kembali dengan saudari yang bergandengan itu. 

Satu persatu kata pamit terucap dari mulut yang hendak pulang, bersetubuh dengan hujan yang tak kunjung henti. Hingga gadis itu beranjak dari tempat itu, sekata pamit pun tak terucap darinya. Aku mengerti cinta memang suka becanda. 

Demikianlah pada malam itu malam yang mempertemukan, malam yang tak dijanjikan, dan padanya aku jatuh cinta. Karena dan untukmu, indah dari keindahan, sempurna dari kesempurnaan, kuciptakan puisi cinta tanpa titikku. 

I fall in love

You are a grasshopper, coffee and vague night.
Teach me to love without interruption, so I love you without a period. 
‎For you my beautiful girl, really this is a beautiful night.
 ‎
The rain did not stop giving the rhythm of a growing sense of being.
I found you beautiful amongst the midnight head that night. There are a million restless and boisterous that I have to redeem for you. 
‎As the morning was about to return, I met in conversation If your heart needs comfort, approach me without a hesitate. 
 ‎
‎For you my red girl, I am about to invite you to move from restlessness to your solitude. In order to hurry we walk with a sense that one rhythm. 
 ‎So that we are not, drifting away in stale and dead memories. With you my sweet girl, really I'm in love.  
 ‎
Thank you for the meeting without that promise. I admire, love you.

Oleh: Catatan Pena Biru (VP)
Yogyakarta, November 2017