Halimah, Aku Mencintaimu Dalam Diamku

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Halimah, Aku Mencintaimu Dalam Diamku

21 December 2017

Biarlah Sang Pencipta yang mengatur dan waktu yang akan menjawab ini semua."Seperti kemarau yang merindukan hujan, aku mengininkanmu dalam diam." (Foto: Ilustrasi)

Cewek manis serasa manis seperti kopi Colol itu selalu saja terbayang didalam kesepianku. Wajahnya yang cantik, senyumannya yang manis selalu saja terlintas dalam setipa hentakan nafas yang aku hembuskan.

Sekali lagi dia itu, adalah racun dalam rasaku yang tak bisa pudar direndam ruang dan waktu
Aku mengenalnya saat acara itu.
Ya, pada saat turnament itu.

Sampai sekarang rasa yang terbalut didalam dadaku, seakan menjadi dahaga dalam rasa yang ingin ku ucap.
Dia manis, cantik dan mempesona.

Aku mengaguminya, ibarat seperti mengagumi sosok Tina dalam serial drama Bolywood" Kuchu-Kuchu Hota hae".
Aku memang suka dengan film india yang diperankan oleh Sharu Khan bintang ternama India itu.

Dia, si Halima itu telah merasuk jiwa dan pikiranku. Aku dilema antara ingin mengungkapkan apa yang menggema didalam hatiku ini.

Di satu sisi aku merasa takut, mungkin saja ucapan itu akan kembali dia lontarakan.
Saat ini, aku merasa bingung. Akan berbuat apa dan harus bagaimana.

Rasa cinta, sayang, dan kekagumanku terhadap dirinya sungguh melampaui batas.
Aku harus menelan pil pahit dan tidak bisa apa - apa, ketika diriku tau bahwa dia sudah ada yang punya.

Dia sekarang menjadi milik orang lain. Namun, rasa yang ku alami ini tetap saja menggelora.
Tak pernah terlewatkan pena ini menggoreskan kata indah bagiku tentangmu Halima. 

“Cinta” ya, itulah kata yang masih asing bagiku. Aku tahu, cinta adalah sebuah rasa kasih sayang, bukan sebuah rasa permainan. Dan di dalamnya perlu sebuah kedewasaan. 

Aku mengenalmu saat itu. Pertama aku mengenal sosok kamu, yang aku tangkap dari sinyalku adalah decak kekaguman. Aku pandang kau sebagai orang yang berbudi pekerti luhur, santun dalam perilaku dan lisan. Dan, entah datangnya dari mana, rasa ini semakin tumbuh subur di hatiku.

Aku tau kita berbeda, kau tak akan pernah punya rasa yang sama denganku. Aku adalah laki - laki biasa, dengan penampilan sederhana, dengan paras yang tidak rupawan. Aku tidak pernah berfikir, kelebihan apa yang ada pada diriku, sehingga aku hanya bisa mengagumi dan mengagumi.

Dapat melihatmu adalah kenikmatan tersendiri, dapat berbincang walau satu kata denganmu adalah suatu karunia yang terindah. Dan seperti yang terjadi pada waktu itu, kau tersenyum dan mengangguk kepadaku adalah bagaikan suatu mukjizat bagiku.

Tapi, kadang kekecewaan dalam hatiku itu timbul, ketika kau memasang goto bersama pasangan mu di fb. 

Wahai Halimah...

Inilah caraku mencintaimu, mencintaimu dengan penuh kekecewaan, aku tak dapat berkata apa apa untuk membela diriku, karena aku mencintaimu dalam diam. Biarlah Sang Pencipta Hidup yang mengatur dan waktu yang akan menjawab ini semua.

"Seperti kemarau yang merindukan hujan, aku mengininkanmu dalam diam."

Halimah...

Sejak awal pertemuan itu, aku merasa ada yang aneh pada diriku kala melihatmu. Ada sesuatu yang bergetar dalam diriku. Entah apa, aku tidak tahu dan tak pernah ingin tahu. Aku anggap saja semua itu bagian dari angin lalu.

Halimah...

Aku suka mencuri-curi kesempatan untuk melihatmu. Melihatmu tersenyum dan tertawa, adalah salah satu pemandangan favorit bagiku. Aku pernah berharap, kala aku menoleh untukmu, kala itu juga kau sedang memandangku. Bukankah itu mustahil?

Halimah...

Aku tidak pernah menginginkah rasa ini tumbuh. Tapi perasaan ini tak pernah bisa memilih kepada siapa ia akan berlabuh. Aku juga tidak begitu yakin kau akan meresponku. Tunggu, merespon? Ah aku ini bisa saja. Sekedar melirikku saja kau tidak pernah. Apalagi merespon?

Halimah...

Aku juga tahu, seleramu tinggi. Sedangkan aku hanya Laki-laki tanpa kelebihan yang kau inginkan. Paras tampan tak ada padaku. Kepopuleran juga bukan milikku. Lantas, alasan apa yang bisa membuatmu jatuh padaku? Tidak ada.

Halimah...

Hari-hari kulewati dengan memandangimu dari kejauhan. Bukankah hanya itu yang bisa kulakukan? Aku ini seorang pengagum, bahkan bisa dikatakan pengagum rahasia yang tidak kau ketahui. Bagaimana bisa aku mendekatimu , bahkan mendapatkanmu –dengan caraku seperti ini?  Waktulah yang bisa menjawab.

Halimah...

Senyum pertama yang kau berikan kepadaku. Sungguh, aku mengingat semua itu. Bahkan aku bisa memperkirakan berapa derajatkah sudut senyumanmu. Aku harap semua ini akan berlangsung lama. Kau tersenyum padaku, sesuatu yang istimewa.

Halimah...

Bukan hanya senyum, bahkan kau mulai mengajakku bercanda pada waktu itu. Sungguh semua ini bagai mimpi. Aku tidak pernah menyangka bisa seakrab ini denganmu. Kau yang dulu ku puja lewat kata hati, sekarang sudah ada di depan mata.

Halimah...

Tatapanmu lain, aku merasakan itu. Sudut matamu itu yang tak pernah lepas dari pandanganku. Aku merasa ada yang aneh ketika kau melihatku. Ketika kau mengajakku bicara. Ketika aku beberapa kali menangkapmu sedang memandangku. Mungkin ini kebetulan. Mungkin juga ini memang kenyataan.
Namun aku takut, semua ini hanya opiniku belaka.

Halimah...

Aku takut jika kau menganggap semua ini tak berarti apa-apa. Aku takut jika perasaan yang menggebu ini tak mungkin bisa terbalaskan. Jika pada akhirnya kau memang tak memiliki rasa itu terhadapku, aku hanya ingin kau tahu.

Bahwa disini, aku mengagumimu dalam diam.
Aku sampai di bagian ini, dan jemariku semakin fasih menulis apa saja tentang mu.
Malam ini aku ingin berbicara pada bintang tentang tema kerinduan yang hanya sanggup melintasi langit malam.
Bahawa aku, telah kehilangan banyak hal, tapi aku pasrah , apakah aku akan kehilanganmu atau tidak.

Aku tidak ingin terlihat seperti orang bodoh yang memaksakan jalan cerita.
Aku hanya ingin menikmati rasa cintaku yang terpendam, bahwa aku tidak pernah berani memiliki kemampuan untuk mengungkapkan padamu. Maaf, ternyata aku sepengecut ini.

Kisah ini akan terasa semakin berat membebani lidah, ku tidak menyangka bahwa sudah genap bebepa bulan untuk waktu bayanganmu. Aku memeberanikan diri, memutuskan urat rasa maluku untuk menceritakan pada dirimu. 

Aku memutuskan menceritakan ya walau aku tahu mungkin sehabis cerita ini akan ada menjadi patah hati. Aku tahu itu.

Halimah....Jujur Nona ewm...

Aku Jatuh cinta....

Bisingnya suara hujan diluar semakin sedih mengantarkan cerita ini, aku menarik nafas yang terasa sesak. Dan mendung ini seakan benar-benar meniruku. Sebab sesuatu yang akan tertahan di bola mataku sudah terkumpul dan siap tumpah bagaikan banjir bandang di Reo.

"Aku jatuh cinta, pada seseorang yang hanya sanggup aku gapai lewat mimpi, dan bayangannya saja".

Penulis: Remigius Nahal