Fenomena Hedonisme dan Label Hits Orang Muda

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Fenomena Hedonisme dan Label Hits Orang Muda

MARJIN NEWS
3 December 2017

Teknologi ibarat pisau, bisa dipakai untuk memotong bahan makanan bisa juga dipakai untuk merampas hak milik orang lain (Foto: Dok. Pribadi)
Tidak bisa dipungkiri, era global sekarang ini kian menyusup menerobos setiap segmen kehidupan manusia. Perkembangan teknologi yang menyuguhkan banyak pilihan dan tawaran ini pun berhasil mengambil alih perhatian kita, terutama generasi milenial yang begitu intim menjalin hubungan dengan teknologi.  

Pengaruh modernisasi saat ini sungguh membawa dampak yang begitu besar bagi negara-negara di dunia termasuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) kita tercinta ini. Manusia bergerak maju, bukan bergerak mundur sama halnya dengan pola komunikasi kita yang selalu mengalami perubahan seiring dengan perkembangan teknologi.

Demikian pula dengan pergeseran sikap serta mentalitas sebagai warga negara untuk dapat hidup sebagai tuntutan masa kini, tuntutan ini akan terus bermetamorfosis setiap tahunnya sesuai dengan perkembangan zaman itu. 

Tantangan pun tak bisa di kompromi lagi. Tuntutan itu perlahan merubah pola pikir dan terus menggiring seseorang untuk lebih meng-eksplore dan lebih berkembang. Namun sehemat penulis, masih ada segelintir orang yang tidak dapat memanfaatkan perubahan dan perkembangan zaman ini dengan baik sehingga fungsi dari perkembangan zaman itu tadi mulai menampakan sisi buruknya dalam kehidupan.

Saat ini remaja Indonesia dimanjakan dengan berbagai fasilitas serba serbi teknologi modern. Gadget dengan dilengkapi berbagai fitur media sosialnya menjadi Tuhan baru yang setiap saat dipujanya. Konsekuensi yang paling nyata dari fenomena ini adalah adanya pembagian strata sosial yang terbentuk dengan sendirinya dalam diri setiap orang. Media sosial, secara tidak langsung mulai membedakan dan menciptakan kategori masyarakat kelas atas, menengah hingga kelas bawah. 

Pergeseran budaya akibat dari perkembangan zaman ini semakin berpengaruh terhadap pola dan gaya hidup manusia modern. Gaya hidup mewah berasaskan kesenangan yang dalam bahasa Yunani disebut Hedonis sangat memprihatinkan, namun itu adalah konsekuensi logis dari hal tersebut di atas.
Sebenarnya banyak hal yang menjadi faktor penyebab kalangan remaja kita hidup dalam lingkaran hedonisme. Faktor lingkungan, pendidikan, pergaulan dan lain-lain. Beberapa sumber mengatakan bahwa gaya hidup Hedonis adalah mereka yang cenderung mencari kebahagian dengan kesenangan-kesenangan dan sebisa mungkin menghindrai perasaan-persaan atau sesuatu yang tidak menyenangkan. 

Berlomba-lomba untuk mendapati kesenangan dengan tidak mempertimbangkan efek dari apa yang dilakukaan adalah salah satu pekerjaan baik  demi menyandang Label “Hits”. Kata Hits ini dalam kalangan remaja mengandung banyak makna dan banyak pengorbanan, tak lain salah satunya mulai dari perjuangan untuk  menipu latar belakang, tidak menerima diri, munculnya sikap individualis bahkan materialistis. 

Hits itu sebenarnya merupakan sebuah istilah dalam dunia komputer yang berasal dari kata ‘hit’. Hit merupakan sebuah proses permintaan file ke web server. Hit adalah salah satu cara untuk melacak berapa banyak halaman atau file dilihat. Hits biasanya bisa dihitung dengan mencari tahu berapa banyak IP atau ID unik yang melihat konten postingan di internet. 

Jadi, istilah hits itu berkaitan erat dengan perilaku pengguna media sosial untuk mengukur seberapa populer file atau postingannya ke internet.

Pelaku Hedonis menganggap bahwa kesenangan dengan tolak ukur seberapa hits diri seorang pengguna media sosial itu adalah sebuah kebahagiaan. Bahagia apabila apa yang sedang diinginkannya itu dipenuhi, bahagia apabila sudah memakai barang Branded, bukan kebutuhan yang dipenuhi melainkan keinginan. 

Hawa nafsu yang begitu dahsyat telah menutupi mata hati seseorang. Eksistensi terus dikejar, namun terkadang harga diri diabaikan. Kehidupan yang serba kompetitif dengan terang benderang semakin sangat jelas nampak ke permukaan. 

Perilaku hedonis merupakan sesuatu yang bertolak belakang dengan ajaran Agama Katolik. Jika kita mengacu kepada kutipan ayat Kitab Suci, Galatia (5: 19-24) yang berbunyi: “Perbuatan daging telah nyata, yaitu ; percabulan kecemaran, hawa nafsu, perseteruan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri pesta pora, kemabokan. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu seperti yang telah kubuat dahulu bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dari Kerajaan Allah. Tetapi buah Roh adalah: kasih, sukacita, damai sejahtera kesabaran, kemurahan, kebaikan. Tidak ada Hukum yang menentang hal-hal itu. Barangsiapa menjadi milik kristus ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya”, jelas sekali tengah menjadi cobaan nyata yang tengah kita hadapi sekarang ini.

Memahami tentang hedonisme sebagai sebuah paham untuk belajar mengenai kebahagiaan yang sebenarnya bukan hanya kesenangan sesaat. Sangat disayangkan apabila Tuhan dijadikan resep obat yang ampuh ketika kita direndung masalah. Doa hanya di jadikan untuk memuaskan kebutuhan. Kebahagiaan yang seringkali dikategorikan adalah bukan kebahagiaan yang hakiki, kata Kids Zaman Now. 

Gaya hidup hura-hura bukan lagi menjadi sesuatu yang baru, orang tidak perlu merasa dikejutkan atau terkejut ketika melihat orang di sekitarnya dengan gaya hidup yang demikian. Keresahan pun semakin merasuk hati dan pikiran kita. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah bagaimana kita menyikapi persoalan yang tidak sepele ini? Menyongsong fenomena alami bonus demografi tahun 2045 mendatang, harus kah kita diam lantas berpangku tangan melihat realita kehidupan anak-anak muda kita?

Solusi
Harus kita akui bahwa teknologi merupakan salah satu anugerah yang wajib kita terima sebagai bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Teknologi ibarat pisau, bisa dipakai untuk memotong bahan makanan, bisa juga dipakai untuk merampok, membunuh dan menjadi alat bantu memaksakan kehendak pribadi tanpa memperhatikan dunia di sekitarnya.

Oleh karena itu, bagi penulis penting bagi kita semua untuk membangun komitmen menentukan pilihan pemanfaatan teknologi ini secara bijak. Sebuah pepatah Latin berbunyi, “Alteri vivas oportet, si vis tibi vivere: Jika engkau mau hidup untuk dirimu sendiri, hendaknya engkau juga mau hidup untuk sesamamu”.

Oleh: Mega Jehaman
marjinnews.com Malang