CINTA DAN LUKA
Cari Berita

CINTA DAN LUKA

MARJIN NEWS
9 December 2017

Butiran debu tanah menyelimuti tanah. Terombang ambing mengikuti arah angin yang begitu kencang. (Foto: Istimewa)
November  2017…
Aku ingin memelukmu erat dan melepaskan lelahku bersamu, menjadi keong yang selalu di cap sebagai hama pemakan padi. Aku ingin seperti keong, mencintaimu sampai akar akar hatiku dan di cap sebagai cinta tanpa henti.

Butiran debu tanah menyelimuti jalan raya. Terombang ambing mengikuti arah angin yang begitu kencang. Sepatuku pun tak luput terkena debu dengan derasnya angin yang tak terlihat itu.

Pagi yang cerah dengan sinar mentari menghantarku dalam perjalan menuju kampus. Aku berjalan mengikuti gerbang belakang kampus  melewati lorong–lorong di ruangan para mahasiswa  stikes belajar. Mataku  melihat-lihat adakah orang lain di sekelilingku  sampai akirnya kaki kecilku terantuk oleh batu yang tak kulihat itu. 

Tepat di depan ruangan kartini, tempat para mahasiswa matematika sering berkumpul bersama membagi tempat tawa dan penuh kebahagian , aku berjalan dengan alunan suara angin menemani perjalananku sementara itu mataku tertuju pada suatu wanita cantik, anggun, polos, tak lupa super sibuk itulah yang kulihat dari dirinya. 10 menit aku  memandang wajahnya tanpa henti, tanpa kedipan mata dan entah mengapa rasanya sakit, seakan  air mata tak tak sanggup lagi dan pada akhirnya jatuh membasahi pipihku.

Bela, yaaa Bela ituhlah namanya. Nama yang indah seakan menjawab semua yang ada pada dirinya. Hatiku begitu sakit ketika selalu berpapasan dengannya tapi kupikir “tidak perlu“. Senyumku akan tetap kulemparkan untuk dirinya, bagaimana pun dia tak bersalah apa–apa.

Jam pertama perkuliahan pun dimulai seperi biasa aku menyapa dengan senyum dan mengucapkan, “selamat pagi teman-teman, Tuhan menyertai kalian hari ini". Kecuali dirinya, Leo.

Tidak seperti biasanya, waktu itu aku tak begitu mengiraukannya,  aku memilih duduk posisi pojok paling depan. Suasana pun akhirnya berlangsung tegang sampai beberapa hari berikutnya.

02 novermber 2017 pukul 21.43 WITA, ponselku berdering hingga beberapa menit berikutnya. Dari ruangan makan aku berlari menuju tempat biasanya hanpphone di cas. Dengan semangat rumus phytagoras aku membuka sebuah pesan dan berharap itu pesan dari Leo, tetapi kenyataan  berkata lain, itu bukan dia.

“Hoiii …"  isi pesan tersebut. Mataku tertuju dengan sebuah nama yang tak asing bagi kami mahasiswa/I matematika. Kenzo, kaka tingkat yang kini sedang magang. Aku sedikit heran karena tak biasaanya dia menyapaku meskipun hanya sebuah pesan singkat. 

Dengan respon yang sama “hoii juga …" dia membalas santai, “hahaha … lagi apa?".

Chat pun berlangsung begitu lama hingga beberapa kali aku mencoba untuk menjawabnya, hingga pada akhirnya  dia bertanya dan pertanyaannya sedikit aneh untukku.

“Bagaimana kamu dengan Leo?" tanpa  berpikir panjang pun menjawab “kita baik – baik saja kak , eh ternyata dia adalah teman angkatan kaka sewaktu SMA dulu" beberapa menit berikutnya handphone ku  berbunyi, lagi–lagi itu adalah balasan darinya, “yakin baik-baik saja? Bukankah minggu kemarin Leo pergi bersama bela berdua ke  pusat perbelanjaan?"

Jantungku seakan berhenti , air mataku jatuh dan aku terdiam. Suara kecilku memanggil sebuah nama, Leo. Perasaanku lumpuh bagikan kaki yang tak lagi bisa berjalan. Persaanku saat itu campur aduk seperti rumus kalkulus.

"kenapa Leo?" tanyaku dalam hati. Selama satu tahun aku seperti tidak bisa membedakan antara kebohongan dan kebenaran. Air mata membasahi pipiku, semua perjuangan untuknya sia–sia, semua harapan dan kepercayaan yang kuberi untuknya hanyalah tipuan angin yang datang untuk bersinggah di kulitku, namun ia seperti enggan untuk sekedar merasakan bagimna rasanya angin.

“aku berharap begitu kuat"
“mencintai dengan begitu hebat"
“menyayanginya dengan begitu tulus"
“mengorbankan hidupku untuknya"
“mempercayai dirinya"
“dan  memilihnya menjadi penyemangatku"

Dring ….ng….ng….., dring….ng…ng…. dengan begitu rasa malas dan kecewa aku mengangkat sebuah telepon berdering. “Hallo sayang happy anniversary sayang ya..". Tanpa sadar air mata ini membasahi pipiku kata–kata manis dari bibirnya membuatku mempercayainya.

“Tidak, tidak, tidak. Dia berbohong kepadaku dia mengkianatiku". Tanpa sadar handphone ku jatuh dan tak akfif lagi. Kemudian dengan  hati yang terluka aku membukan dan mengirimkan sebuah pesan untuknya.

"Siapa aku? Kenapa kamu berbohong sayang? Tidakah dirimu melihat semua pengorbananku untukmu? Apakah aku sampah bagimu?" 

Lagi–lagi Leo meminta maaf untuk semua perbuatanya, aku pun hanya bisa menangis melihat semua pesan yang dia kirim untuku, hati ini sudah cukup terluka kau menghianatiku begitu dalam. Hingga aku harus pergi darimu untuk membuatmu bahagia dan akhirnya inilah puisi cintaku  untukmu leo sang penjaga hati.

kamu…
aku telah meneteskan air mata,
karena kakimu mulai melangkah untuk pergi meninggalkanku
aku hanya bisa memandangmu dengan pilu
kita tiba satnya kita menjauh , berpisah untuk kebahagianmu
hati ini terasa lelah, sunyi, dan sepi
membekas pelukan indahmu
kamu..
tidak semua hal tentangmu harus kuketahui
lalu karna itu
aku mundur dari perasaan cintaku yang begitu dalam
kamu…
seperti hujan yang jatuh berkali–kali
seperti sinar yang selalu terbit seperti fajar pagi
seperti tanah yang di injak beribu kaki
dan seperti rasa yang selalu menggelut di ujung hati
tak perna budar meski terabaikan
tak perna leti meski tak terhiraukan
dan tak perna pasrah meski tak terima
itulah kisah cintaku yang ingin sejati
selamat berpisah sayang
aku akan menantimu sampe kamu kembali untuk berubah

Oleh: Alisia Marselah H. Jahu
Mahasiswi Perodi Pendidikan Matematika STKIP ST. Paulus Ruteng