Balada Penantian, Puisi-puisi Constan Amand
Cari Berita

Balada Penantian, Puisi-puisi Constan Amand

MARJIN NEWS
2 December 2017

Di akhir musim yang dinantikan, ketika burung pipit tak lagi mendendangkan kidung kesunyian, sebelum bunga naga bergegas bergegas ke rahim fajar, dan langit tak mengepakan sayapnya, dengan mata buta aku menatap rumah-Mu (Gambar: Istimewa)
Ketika burung pipit tak lagi mendendangkan kidung kesunyianAdventus: di suatu pagi

/1/
Pada suatu pagi pertama di awal bulan yang terakhir
Saat mentari belum bermekar
Kicauan pipit-pipit mungil membucah
Kali ini tak biasanya
Bersama daun-daun tua melayang-layang menghalangi cakrawala
menanti tunas baru memekarkan kuncup mungil
alam serasa terlahir kembali

/2/
Di suatu pagi yang sudah biasa
Ketika langit menjelma jadi gelap
Dan gerimis muda menghalangi pesona cakrawala
Sorakan pipit-pipit muda kembali membucah
Kali ini nadanya penuh parau
Dari sarang yang sederhana itu
Mereka menantikan kabar sang fajar
Segera mencercah keangkaraan nasib yang lama tak berpaling
sebelum fajar baru tak ragu menyalakan api keriangan

/3/
Pada pagi yang terakhir
Di akhir musim yang dinantikan
Ketika burung pipit tak lagi mendendangkan kidung kesunyian
sebelum bunga naga bergegas ke rahim fajar
dan langit tak mengepakkan sayapnya
dengan mata buta aku ke rumah-Mu
Mengheningkan batin menyambut sabda-Mu berpintu
“hati-hatilah dan berjaga-jagalah
Jangan sampai sabda-Ku berlalu”
Itulah kata-Mu yang kudengar
Lalu kubuka kelamin mataku menatapi mezbah kudus-Mu
 Kutemukan sebait sajak penantian itu
“Maranatha
Di palungan-Mu
aku selalu menanti”
(bukit pepaya jelang Desember 2017)

Aku dan Nafas-Mu

Telah bertahun-tahun aku dijelma oleh paruh usiaku
Dalam rintihan pertiwi yang terus tersakiti
jadi lusuh ingatanku bukan pula sebab amnesia waktu
tapi Engkau yang berhembus dalam diriku oleh karena nafas-Mu
aku adalah sebongkah tanah liat yang bernyawa dalam hembusan nafas-Mu

aku adalah nafas-Mu
yang menjarah dalam kerinduan gurun kefanaan
debu dan  tanah terus melabrak membuat aku terengah-engah di paru suci-Mu
Nafas-Mu memberi jelmaan hidup baru
Bukan seperti pengemis tua yang mengganti baju
Ataupun seperti  orang yang kedinginan yang sedang mandi untuk yang terakhir kalinya
Aku terlahir dalam kesucian-Mu, bening bagai telaga tak berair namun ikannya merinai
Sejuk bagai angin yang menjarahi embun di pelupuk mata
Sebab nafas-Mu adalah surga bagi nyawaku

bila lekas nafasku kembali ke rahim-Mu
pastilah nafas-Mu tak lagi kucari
aku selalu ingat kesucian-Mu dalam selawat yang t’lah Engkau hembuskan
dalam angin yang telah melepaskan tubuhku dari kefanaan
dan dalam paru-paru-Mu yang suci aku tak mungkin berpaling kembali
nafas-Mu adalah keabadianku
(Maumere 2017)