Badut Basah

Andai saja hujan ini hadir di tengah perjalanan kita dari kemarin akan jadi kesempatan besarku untuk menimba kenangan bersamamu dibawah rintik manja (Gambar: Ilustrasi)
"Maaf untuk rasa nyaman sesaat waktu itu." Kata Frans menengok wanita di sampingnya. Wanita yang berdiri anggun di depan pagar megah itu  tertawa kecil. Canda pria ini masih sama gurihnya seperti dulu. Dia bagai digelitik kembali pada kenangan pendakian gunung dengan pria beralis tebal ini. 

Dia teringat suatu kala di bawah pohon yang rindang. "Ini air buatmu Tin." Pinta Frans sambil menyodorkan minuman ke arah Itin. Wanita anggun itu meneguknya pelan dan mulai merasa meraba sesuatu yang lain di sela botol air yang diterimanya. "Terimakasih Frans. Ini fotomu kan?" Kata Tini sambil menyerahkan botol air dan satu cetak foto yang sengaja diselipkan Frans kepadanya. 

"Kamu pegang saja fotonya Tin. Siapa tau lama-lama jadi suka jika dilihat terus." Timpal Frans santai dan disambut senyum gurih dari Itin. Wanita yang terlihat lekas beranjak dari duduknya melap singkat celananya yang sudah dari tadi bersentuhan langsung dengan tanah. Dia berdiri lalu menunduk lagi mengambil tas miliknya sambil menyelipkan  foto Frans ke tas disamping pria itu. 

"Ayo kita berangkat. Senja tidak menunggu kita lama untuk menutup aurora manjanya bang." Itin meraih tangan Frans yang masih duduk. Frans menyodorkan 5 jemari kekarnya mendengar perkataan wanita tinggi langsing dengan sejuta ekspresi gairah di atasnya. Mereka melanjutkan perjalanan. 

Di persimpangan jalan mereka bertemu anggota-anggota lain yang memasang wajah lelah namun dengan semangat yang sama seperti tadi pagi waktu mereka memutuskan berdua-berdua menaiki gunung. Anak-anak tangguh  tamatan SMA  Pancasakti itu merayakan kelulusan mereka dengan menaiki puncak gunung. Mendaki dengan kaki sendiri, melewati rindangnya hutan belantara dan menyusup masuk menghirup udara segar,jalan yang menanjak dan licin adalah kenikmatan dari petualangan baru yang pernah mereka rasakan. Wajah lelah dari pria  tinggi gemuk yang biasa menyebut dirinya sebagai pria sixpect tertunda langsung mengeluarkan peralatan kemah untuk segera menjadi tempat istirahat di malam itu. Itin membantunya mengeluarkan perabotan dari tas besar yang dibawa pria gembul ini. 

"Frans, kamu istirahat gih sana. Biar aku saja yang selesaikan sisanya." Sahut Itin setelah kemah yang mereka bangun telah ditancap pasak dan tiangnya. "Akh, Itin kamu tahu filosofi lebih besar pasak daripada tiang kan? Ini bukan hanya tentang perbandingan pendapatan dan pengeluaran yang banyak melangsingkan orang-orang di luar sana tetapi aku mau menjadi tiang yang menancap kokoh dan hanya perlu pasak untuk melengkapinya. Yah, aku tiang yang hanya perlu kamu dampingi. Atau kamu sengaja agar aku menepi dan bersanding dengan bulan jomblo di atas itu?" Kata Frans sambil menatap rembulan yang muncul samar di balik pohon-pohon cemara. 

"Aku baik-baik saja Tin. Kamu saja yang istirahat." Katanya pelan ke arah wanita disampingnya yang lagi-lagi dengan senyum simpulnya hanya menggeleng kepala mendengar gombalan berkelas. Dia seperti biasa melanjutkan merentang atap kemah menyempurnakannya hingga akhir. 

"Hey Guys, ayo datang santap mie rebus ini." Ajak Dewa memanggil yang telah mengerjakan tugas masing-masing. Membuat 3 kemah, siapkan peralatan tidur,atau hanya sekedar merenung hidup di bawah remang-remang malam kehabisan pekerjaan. Dewa yang bertugas menyalakan api unggun membuat hutan beraroma dengan wangi khas mie soto yang diseduhnya dengan air panas. Uapnya mengundang selera. Group yang berjumlah 6 orang mendekat dan melahap santapan dalam suasana hangat dan dekat sambil bercerita tentang gunung yang terdiri dari bukit-bukit berpuncak rimbun,rindang, dan lembab dalam perjalanan mereka. 

"Aku nginjak katak tadi". Sahut Melan hati-hati. Semua tertawa terbahak-bahak. Hal sederhana yang menimbulkan gaduh. "Jodohmu jelek. Haha". Sahut yang lain. Mitos yang mereka percaya sebelum naik gunung yang diawali dari pencarian di google dimana menginjak katak menjadi peristiwa dengan sangsinya sendiri membuat mereka terbahak-bahak. Hal nyeleneh itu benar-benar terjadi. "Masih mending kamu Lan," sahut Rizal dari sudut lain dengan secangkir kopi yang dihirupnya sejenak. 

"Boro-boro dapat jodoh. Aku selama ini dilarang pacar merokok aku berhenti merokok, dilarang begadang aku berhenti begadang, dilarang naik gunung lagi saya  berhenti pacaran. Kami putus." Semua tertawa. Rizal yang adalah pendaki gunung berpengalaman dan pertama kali mengutarakan ide akan perjalanan ini turut meramaikan malam itu.

"Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali. Kiri kanan kulihat saja banyak jomblo merana." Alunan gitar Frans dan lirik miris itu mengantar mereka pada peraduan bulan yang kini ditemani bintang.  

Itin tertawa kecil dan merentangkan kedua tangan mungilnya terlihat merasakan sensasi basah dari hujan yang hadir sebagai kenikmatan. Mereka sampai di puncak disambut tetes hujan. "Andai saja hujan ini hadir di tengah perjalanan kita dari kemarin akan jadi kesempatan besarku untuk menimba kenangan bersamamu dibawah rintik manja." Sahut Frans yang tiba-tiba hadir di sampingnya. 

"Menunjukkan perhatian dan kasih lebih dari kekarmu yang buatku tersiksa Tin, kamu wanita tangguh yang buat aku risih. Aku ingin menjagamu." Lanjut Frans yang membuat Itin menoleh. "Dasar badut." Kata Itin tegas menatap Frans sahabatnya itu sambil mengenang Frans yang selalu hadir dalam nuansa membawa tawa baginya lalu Itin memeluknya erat. "Tuhan mungkin sedang tertawa melihat kita _sok-sokan_ bergulat dalam kisah dramatis ini. Terimakasih untuk candamu. Prioritas bahagia untuk orang lain yang kau bawa serta. Besok-besok pergilah ke luar dan lebih lagi merasakan sensasi yang lain. Kamu tau keputusanku Frans."

Frans terdiam. Dia merintih di bawah hujan yang semakin menjadi-jadi. "Yah Itin, aku adalah badut basah yang siap kau basuh dalam doa-doamu. Keputusanmu selalu membuka cela bagiku untuk menjadi badut yang luluh lantah, mencemburui Tuhan."

"Sudah, sudah. Rupanya hujan bulan November semakin membawamu kesana kesini." Sahut Itin sambil melepaskan pelukan mencoba mencairkan suasana. "Sebenarnya yang harus saya salahkan itu gerimis ini atau biara yang kau pilih itu? Aku hanya badut yang mau memberikan tambahan senyum selain niat sucimu. Tidak salah kan?" Mata Frans seakan tidak membiarkan Itin berbicara. "Aku sudah lama menyadari hadirmu dari kata yang paling sederhana. Nyaman. Yah, kamu memberiku kenyamanan. Mazmurmu di gereja atau sekedar senyum kecil yang kau lempar kepada bapak tua di lorong gang kompleks kita. 

Kamu memberi keteduhan dari sahajamu yang memaksaku menikmati rengekan manja dari anak-anak panti di samping rumahmu. Dan yah, kau tau aku lebih melihatmu  sebagai badut yang lebih menghibur dari diriku. Kita tertawa lepas bersama kan waktu itu?. Aku hanya bisa menghadiahkan diri sebagai badut untuk sedikit menggodamu dari pilihan yang kau nyatakan sejak kita kelas 1 SMA dulu." 

Kata Frans sejujur-jujurnya dengan serius terlihat jauh berbeda dari biasanya. Itin yang merasakan dengan sungguh lalu menunduk diam yang tiba-tiba saja ada dalam kebingungan menghadapi badut nakalnya. Wanita yang memilih membiara setelah kabar kelulusan seminggu lagi terselamatkan dengan teriakan Rizal. "Sudah main hujan-hujanan. Mari kesini nikmati kopi pahit untuk pertemuan termanis kalian lebih jauh sudah saya suguhkan." Itin menggapai tangan Frans dan melempar senyum ke arahnya lalu berlari ke arah warung kecil di sudut sana berbaur bersama teman-teman. 

*****

Itin kembali dari ingatan itu dan tiba-tiba disuguhkan sebuah kado berukuran sedang dengan bungkusan warna coklat. Warna kesukaan wanita itu. "Ini buatmu Tin, jadi seorang suster yang baik." Katanya ikhlas. Itin sekali lagi memeluknya. "Jadilah badut basah yang siap diguyur hujan deras agar lebih siap menyajikan pelangi yang lebih manis. Hidup ini perlu memberimu banyak kesan Frans." Bisik Itin tulus. Frans mengangguk pelan dalam dekapan Itin. 

Itin membuka gerbang biara lalu menutupnya kembali dengan tatapan kasih dibaliknya kepada pria yang datang menjenguknya kali ini. Frans berlalu dengan damai.

Dibukanya kado dari Frans di depan salib mungil di kamar teduhnya. Buku diary bertulis "Badut Hidup" di sampulnya ditemani sepucuk surat. Itin yang kini dipanggil Suster merapikan kerudungnya dari rambut indah yang tak sengaja bergerai manja di telinganya lalu membuka pelan surat itu. 

"Terimakasih untuk hadirmu Suster. Sekarang saya paham hidup ini bukan hanya tentang tawa saja. Seperti katamu ada banyak sensasi hidup di luar sana yang bisa dinikmati. Selamat bertugas untukmu yang kudengar minggu bulan depan akan pergi terlibat melayani pribadi-pribadi yang kebetulan terlahir dalam kemiskinan di ujung Afrika. Semoga diary "Badut Hidup" ini diisi dengan perjalanan serumu bersama tantangan yang ku tahu pasti selalu kau bawa dalam sukacita. Syalom. Jangan lupa berjumpa dengan badut basah dalam setiap basuh doa-doamu suster cantik.  akh aku tak ingin berhenti menggodamu. Hehe. Tenang saja, aku mencintaimu dan mencintai pilihanmu juga. Salam kasih Suster Itin."

Suster Itin menyapu tetes haru sambil menyadari senyum lebar dari bibirnya. 
"Akh, aku sudah tau dari awal kau tak perlu penjelasan panjang dariku akan langkah yang ku ambil. Akan kubagikan kasih yang kuterima dari Tuhan dan dari badut basah yang bisa meleleh seperti dirimu untuk melukiskannya pada setiap pribadi yang kujumpai. Akan ku lebur tawa,tangis, haru, lega dan hidup bersama mereka. Seperti katamu di awal paragraf, kau memang membuatku nyaman. Nyaman karna cintamu disuguhkan dengan cara yang berbeda dan kau pun tahu,aku selalu siap mengasihimu dengan caraku sendiri. Sampai berjumpa selalu dalam ruang rindu di setiap doa pria hebat." Suster Itin mendesah pelan. Dia tersenyum melihat gambar Mother Theresa di samping jendela,"Ada badut yang lebih nakal dari Frans kan?". 

Dia berjalan siap menuju kapel mendengar lonceng gereja berbunyi. Natal sudah dekat, dan seperti biasa dia tidak kaget. Dia merasa disirami hadiah natal setiap hari. Nikmat misteri.

Oleh: Tini Pasrin
marjinnews.com Malang

COMMENTS

PUISI$type=carousel$sn=0$cols=3$va=0$count=5

POJOK REDAKSI$type=grid$count=3$m=0$sn=0$rm=0

Name

Artikel,140,Bali,116,Bedah Buku,1,Ben Senang Galus,1,Bencana Alam,1,Berita,157,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,3,BPJS,1,Budaya,41,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,180,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,568,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Dari Kami,3,Demokrasi,22,Denpasar,18,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Donny Isman,1,DPR RI,4,E-KTP,4,Editorial,36,Ekonomi,6,Ekspresi,1,Ende,6,Entrepreneur,1,Feature,36,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,11,Focus Discussion,4,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,gaya hidup,8,Gedged,1,Gempa,6,Gereja,3,Gereja Katolik,3,Gerindra,1,GMKI,1,GMNI,3,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hiburan,26,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,60,Human Trafficking,4,IBT Expo,1,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,1,Indonesia,1,Indonesian Idol,8,Inspirasi,15,Internasional,16,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,5,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jawa Timur,1,JK,1,Jogyakarta,2,Jokowi,18,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,275,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,4,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,kecelakaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,2,Kemanusiaan,62,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,156,kepemudan,8,kerohanian,2,Kesehatan,8,Ketahanan Nasional,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,61,KPK,12,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,51,Kritik Sastra,4,Kupang,24,Labuan Bajo,51,Lakalantas,9,Larantuka,1,Lembata,2,Lifestyle,6,Lingkungan Hidup,15,Literasi,14,lombok,1,LP Cipinang,1,Luar Negeri,5,Mahasiswa,42,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,4,Malang,3,Manggarai,112,Manggarai Barat,20,Manggarai Timur,24,Marianus Sae,1,Marion Jola,3,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,7,Media,2,Media Sosial,3,Medsos,2,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Milenials,59,Motang Rua,1,Muda Petani,1,musik,1,Narkoba,8,Nasional,286,Natal,19,Ngada,7,Novanto,2,Novel,16,NTT,233,Nyepi,2,Olahraga,11,Opini,411,Orang Muda,15,Otomotif,1,OTT,2,Papua,15,Pariwisata,26,Partai Politik,25,Pasangan,18,Paskah,2,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,Penerbangan,4,penyanyi,1,Peradi,1,peradilan,1,Perdamaian,1,Perempuan,20,Perindo,1,Peristiwa,1105,Peritiwa,2,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,41,Pilkada,102,Pilpres 2019,23,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,22,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Pojok Redaksi,36,Polisi,25,politik,90,Politikus,7,POLRI,5,PP PMKRI,1,Pristiwa,31,Prosa,1,PSK,1,Puisi,87,Puteri Indonesia,2,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,4,Refleksi,15,reformasi,1,Regional,6,Religi,2,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,26,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,9,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,2,Sekilas Info,23,seleb,1,Selebritas,18,Sidoarjo,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,20,Sospol,40,Start Up,1,Suara Muda,61,Sumba,8,Surabaya,36,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,11,Tentang Mereka,45,Tenun Manggarai,1,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Togar Situmorang,7,Tokoh,18,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,1,traveling,10,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,2,Viral,3,Wisata,5,Wisuda,1,WNA,1,Yulius Benyamin Seran,1,
ltr
item
MARJINNEWS.COM: Badut Basah
Badut Basah
https://3.bp.blogspot.com/-MRwpWN_gqCQ/WjKMtCfhxWI/AAAAAAAAAVI/1vYsoVXqYwUJh4uDCb7Yf-UZcUEcT1naACLcBGAs/s320/Suster%2BMarjin%2BNews.jpg
https://3.bp.blogspot.com/-MRwpWN_gqCQ/WjKMtCfhxWI/AAAAAAAAAVI/1vYsoVXqYwUJh4uDCb7Yf-UZcUEcT1naACLcBGAs/s72-c/Suster%2BMarjin%2BNews.jpg
MARJINNEWS.COM
http://www.marjinnews.com/2017/12/badut-basah.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2017/12/badut-basah.html
true
971126874416220402
UTF-8
POSTINGAN LAIN Not found any posts LAINNYA Selengkapnya Reply Cancel reply Delete Oleh Home PAGES Kiriman Baca Semua Rekomendasi untuk Anda LABEL ARCHIVE CARI Semua Kiriman Tidak Ditemukan Apa yang Anda Cari Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 Jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Pengikut Ikuti THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy
close