Artikulasi Politik Perempuan dalam Pembangunan di Desa

Sebagaimana yang telah disampaikan oleh penulis diatas bahwa, arena politis seperti musyawarah desa juga dapat direformulasi ulang tergantung pada aspek kultural yang berlaku dalam komuitas masyarakat (Foto: Dok. Pribadi)
Dalam beberapa waktu belakangan ini, desa tetaplah menjadi topik yang hangat untuk dibicarakan. Dalam beberapa ulasan yang membahas tentang desa, topik yang (bahkan) mainstream akan selalu berbicara soal kewenangan desa, kualitas aparatur desa, narasi terkait prosedur yang ideal, regulasi dan lain sebagainya. Namun satu hal yang bagi penulis terkesan luput dari berbagai ulasan tersebut adalah soal intensitas pembangunan desa yang mampu memperlihatkan sebuah tipikal pembangunan yang melampaui segregasi atau pemisahan porsi keterlibatan gender (perempuan dan laki-laki) untuk mengakomodasi seluruh kepentingan pelaku pembangunan di desa. Untuk itu, pada kesempatan ini penulis sendiri mengajak sidang pembaca yang terhormat untuk bersama-sama kembali memikirkan komposisi keterlibatan seluruh pelaku pembangunan di desa dalam kacamata gender. 

A Glossary Of Term In Gender And Sexuality (2005), mendefinisikan gender sebagai sebuah konsep yang merujuk pada perbedaan peran dan tanggungjawab antara laki-laki dan perempuan yang dikonstruksi secara social, dapat berubah-ubah dan mempunyai perbedaan luas di dalam dan di tengah-tengah budaya. Lebih lanjut bahwa, segregasi (pemisahan) berdasarkan gender adalah sebuah fakta yang dapat ditemukan dalam masyarakat kita sehari-hari. Apalagi jika kita berbicara soal Manggarai (Flores, NTT) yang pada dasarnya menganut budaya patriarkhi yakni budaya yang melihat kedudukan seseorang di tengah masyarakat ditentukan berdasarkan garis keturunan Ayah (laki-laki). 

Tak pelak maka, pemisahan semacam ini juga akan berimplikasi pada porsi yang dipunyai oleh individu dalam melakoni perannya di dalam masyarakat, yang dalam konteks tulisan ini adalah soal peran atau keterlibatannya dalam pembangunan desa. Sebagai sebuah budaya, perbedaan porsi keterlibatan antara perempuan dan laki-laki untuk ikut ambil bagian dalam merencanakan serta melaksanakan sebuah pembangunan di Manggarai; sudah barangtentu menjadi fakta yang tetap dirawat dan diberlakukan secara turun temurun, bahkan hingga saat ulasan sederhana ini disusun.
    
Contoh yang sangat sederhana misalnya dalam dinamika berrumah tangga yang (juga lumrah dalam masyarkat) selalu menempatkan perempuan untuk mengurusi segala urusan internal rumah tangga semisal memasak, mencuci, membersihkan rumah dan lain sebagainya. Pun sekiranya disaat kita berbicara soal keterlibatannya dalam pembangunan desa, hal yang persis sama juga akan berlaku. Misalnya dalam pelaksanaan musyawarah desa.

Forum ini, meski tidak hadir untuk mengamini segregasi yang berlaku dalam sebuah komunitas masyarakat, tetaplah tidak mampu melampaui aspek kultural (baca: patriarkhi) tersebut. Laki-laki adalah pihak yang akan mendominasi kuantitas atau pun kualitas (kesempatan) untuk bersuara dalam sebuah forum musyawarah desa. Sedangkan perempuan adalah entitas yang langka. Sekali pun dalam sebuah forum musyawarah itu terdapat perempuan, mereka dihadirkan tidaklah lebih dari sekedar untuk menyediakan dan menghidangkan kebutuhan serupa minuman atau makanan bagi para peserta musyawarah. Ini persis merupakan kewajiban reumahtangga; dapur adalah arena hiruk pikuknya. 

Pada titik ini, penulis hadir bukan untuk menyuarakan penghapusan terhadap budaya serupa. Pun penulis tidak berniat memaksakan keterbatasan wawasan penulis untuk menguraikan beberapa pemikiran para intelektual dan aktivis yang menyuarakan keadilan gender seperti Julia Kristeva, Luce Irigary, Judith Butler, dkk yang melihat genealogi konsep gender sebagai bagian dari relasi kuasa dalam menjelaskan pokok persoalan ketidakadilan gender akibat konstruksi social pun aspek kultural yang ada. Untuk itu, penulis membatasi pembahasan terakait gender dalam beberapa narasi singkat diatas. Pada posisi ini, penulis tidak lebih dari sekedar membutuhkan kerendahan hati dari sidang pembaca yang terhormat untuk mampu melihat fakta bahwa aspek kultural (patriarkhi) semacam ini sangatlah efektif dalam menciptakan subyek yang apolitis.      

Sebagaimana yang telah disampaikan oleh penulis diatas bahwa, arena politis seperti musyawarah desa juga dapat direformulasi ulang tergantung pada aspek kultural yang berlaku dalam komuitas masyarakat. Reformulasi arena politis ini, sebagiamana dalam konteks Manggarai kemudian menyebabkan pihak yang dirugikan (perempuan) terhempas pada sudut emperan depolitisasi. Tanpa memberikan kesempatan bagi perempuan untuk berposisi sebagai sebuah identitas politik dalam sebuah arena politik (musyawarah desa), maka untuk mengartikulasikan kepentingan perempuan juga tampak seperti ilusi yang naif. Lebih jauh lagi bahwa, menjadikan perempuan sebagai identitas politik yang mampu memberikan tekanan atau resistance bagi kekuasaan (pemerintah desa) juga tak lebih dari sekedar narasi berjudul jauh panggang dari api. 

Dengan konteks persoalan diatas, maka penulis di sini menawarkan sebuah paradigma yang barangkali sudah merupakan paradigma yang sangat usang pada mata dan dalam pikiran para pembaca sekalian, sehingga butuh kesudian dan kesedian pembaca semua untuk bisa mempertimbangkannya dengan seksama. Penulis di sini mengutip Alain Badiou sebagai penegasan teoritis dalam membangun kesadaran politik untuk menciptakan subyek yang radikal. Alain Badiou, dalam Ignasius Jaques Juru (2016) dengan sangat jelas memprovokasi kesadaran politik ini melalui pernyatannya bahwa “Manusia adalah makhluk yang mampu mengenali dirinya sendiri sebagai korban. Di momen seperti itu ia menolak menjadi sampah. Ia ada bukan menuju mati tetapi ia ada menuju emansipasi, Dia adalah demos”. 

Mengenali diri sebagai korban serta mampu memaknai keberadaannya menuju emansipasi, diharapkan mampu menarik perempuan dari sudut emperan depolitisasi itu untuk kembali ke dalam arena politik. Kesadaran diri sebagai demos (juga) ini lah yang kiranya perlu untuk diprovokasi, mampu memprovokasi warga masyarakat desa yang dalam hal ini adalah kaum perempuan itu sendiri sebagai korban yang didepolitisasi akibat budaya patriarkhi yang turut mereformulasi ruang politis serta membajak demokrasi yang hadir dalam forum musyawarah desa itu sendiri. Hanya melalui provokasi kesadaran politik inilah, maka kaum perempuan mampu mendefinisikan dirinya sebagai bagian yang tak terpisahkan dari jalannya sebuah pembangunan serta lebih jauh mampu menempatkan dirinya sebagai sebuah identitas politik yang juga adalah pelaku pembangunan itu sendiri. 

Lebih lanjut untuk menggambarkan prospek manifestasi kesadaran politik yang ditawarkan oleh Badiou tersebut, penulis di sini mencoba menghadirkan kembali konsep “momen hegemoni” yang ditawarkan oleh salah seorang pemikir pasca Marxis Antonio Gramsci sebagiamana yang dikutip Mouffe dalam Donny Gahral Adian (2011:72). 

Meski Gramsci sendiri menitikberatkan pemikirannya dalam menumbuhkan kesadaran politik menuju hegemony ini pada kelas buruh, penulis sendiri melihat adanya relevansi teoritis dalam menciptakan momen hegemony (fase ketiga dalam pemikiran Gramsci) dalam perjuangan politik kaum perempuan. Untuk itu, penulis tidak mengikutsertakan fase pertama dan kedua (momen ekonomi primitive dan ekonomi politik) sebagai dasaran untuk memperkuat emansipasi politik perempuan karena penulis melihat relevansi tantangan yang dihadapi oleh kaum perempuan (Manggarai) akibat budaya patriarkhi itu terletak pada ketiadaan akses politik itu sendiri. 

Bahwa kaum perempuan didepolitisasi, mereka tidak melawan melalu tuntutan kesetaraan diantara kelompok professional atau menolak ketertindasan dari segi ekonomis lagi (fase satu dan dua); melainkan kesetaraan dalam partisipasi politik sebagaimana yang dijelaskan dalam fase ketiga demi menciptakan momen hegemony. Menurut Gramsci (bid, 73) hegemony itu hanya akan berhasil ketika sebuah kelas dapat menanggalkan kepentingan sektoralnya. Dalam hal ini, yang dimaksudkan Gramsci adalah kelompok perempuan misalnya, dapat membahasakan kepentingan mereka dalam kosakata kelompok lain seperti kelompok petani, kelompok lanjut usia, transmigran dan lain sebagainya. 

Artinya kaum perempuan tidak semata-mata berjuang demi kepentingan kaum perempuan saja, ia harus mampu keluar dari kepentingan sectoral itu sendiri sehingga kepentingan yang diperjuangkan menjadi universal dan menjadi kepentingan serta perjuangan semua kelompok yang tersingkirkan. Misalnya kaum perempuan dapat mengartikulasikan kepentingannya melalui tuntutan untuk “pemberian bantuan yang sama bagi mayarakat dengan tingkat pendapatan yang sama”, atau tuntutan untuk “mempermudah akses modal usaha untuk masyarakat yang bukan PNS”, dan lain sebagainya. 

Hal ini dianggap penting bagi penulis, karena mampu mengakomodasi perjuangan dan kepentingan (bukan hanya kaum perempuan) warga masyarakat serta menjadikan perjuangan dan kepentingan tersebut semakin universal. Dengan demikian, maka embrio kekuatan politik yang dimiliki dapat dimetamorfosis menjadi kekuatan yang hegemonic dan diperhitungkan karena mampu menghadirkan resistensi yang besar bagi penguasa yang dalam hal ini adalah pemerintah desa itu sendiri. 

Melalui momen hegemoni ini, entitas perempuan mampu mengartikulasikan kepentingan politiknya serta menjadi sebuah identitas politik yang berpotensi mengcounter dominasi serta menempati posisi yang diametral dalam berhadapan dengan kekuasaan atau pemerintah desa itu sendiri. Melalui emansipasi seperti ini, kaum perempuan akan menjadi basis kekuatan politik yang mampu mengartikulasikan kepentingan kolektifnya dalam menentukan arah pembangunan di desa, mampu mengimbangi kekuasaan (pemerintah desa) serta mampu menjadi identitas politik yang kokoh untuk merombak distribusi kekuasaan yang dimonopoli. 

Oleh: Cristian Syukur
Mahasiswa Ilmu Pemerintahan STPMD APMD Yogyakarta
Anggota Komunitas URDOXA

COMMENTS

Name

Artikel,140,Bali,114,Batam,1,Bedah Buku,1,Ben Senang Galus,1,Bencana Alam,1,Berita,151,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,3,BPJS,1,Budaya,41,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,176,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,545,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Dari Kami,3,Demokrasi,22,Denpasar,18,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Donny Isman,1,DPR RI,4,E-KTP,4,Editorial,35,Ekonomi,5,Ekspresi,1,Ende,6,Entrepreneur,1,Feature,36,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,11,Focus Discussion,4,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,gaya hidup,4,Gedged,1,Gempa,6,Gereja,3,Gereja Katolik,3,Gerindra,1,GMKI,1,GMNI,4,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hiburan,26,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,59,Human Trafficking,4,IBT Expo,1,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,1,Indonesia,1,Indonesian Idol,8,Inspirasi,13,Internasional,16,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,5,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jawa Timur,1,JK,1,Jogyakarta,2,Jokowi,18,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,273,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,4,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,kecelakaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,2,Kemanusiaan,62,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,155,kepemudan,8,kerohanian,2,Kesehatan,8,Ketahanan Nasional,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,60,KPK,12,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,51,Kritik Sastra,4,Kupang,24,Labuan Bajo,51,Lakalantas,9,Larantuka,1,Lembata,2,Lifestyle,6,Lingkungan Hidup,15,Literasi,14,lombok,1,LP Cipinang,1,Luar Negeri,4,Mahasiswa,42,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,4,Malang,3,Manggarai,113,Manggarai Barat,20,Manggarai Timur,24,Marianus Sae,1,Marion Jola,3,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,7,Media,2,Media Sosial,3,Medsos,2,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Milenials,52,Motang Rua,1,Muda Petani,1,musik,1,Narkoba,8,Nasional,278,Natal,19,Ngada,7,Novanto,2,Novel,16,NTT,206,Nyepi,2,Olahraga,11,Opini,403,Orang Muda,15,Otomotif,1,OTT,2,Papua,15,Pariwisata,26,Partai Politik,25,Pasangan,16,Paskah,2,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,Penerbangan,4,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,20,Perindo,1,Peristiwa,1046,Peritiwa,2,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,41,Pilkada,102,Pilpres 2019,23,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,22,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Pojok Redaksi,35,Polisi,25,politik,90,Politikus,6,POLRI,5,PP PMKRI,1,Pristiwa,31,Prosa,1,PSK,1,Puisi,85,Puteri Indonesia,2,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,4,Refleksi,15,reformasi,1,Regional,6,Religi,2,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,27,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,9,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,2,Sekilas Info,23,seleb,1,Selebritas,18,Sidoarjo,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,19,Sospol,39,Start Up,1,Suara Muda,49,Sumba,8,Surabaya,36,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,11,Tentang Mereka,44,Tenun Manggarai,1,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Togar Situmorang,7,Tokoh,17,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,1,traveling,9,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,2,Viral,3,Wisata,4,Wisuda,1,WNA,1,
ltr
item
Muda Membaca Dunia: Artikulasi Politik Perempuan dalam Pembangunan di Desa
Artikulasi Politik Perempuan dalam Pembangunan di Desa
https://1.bp.blogspot.com/-NxXompw29Oo/WiaRUSnhBgI/AAAAAAAACUE/As868Eox4Pwksa-hzrNl7oDxxe7Do6mHQCLcBGAs/s320/C%2BSyukur.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-NxXompw29Oo/WiaRUSnhBgI/AAAAAAAACUE/As868Eox4Pwksa-hzrNl7oDxxe7Do6mHQCLcBGAs/s72-c/C%2BSyukur.jpg
Muda Membaca Dunia
http://www.marjinnews.com/2017/12/artikulasi-politik-perempuan-dalam.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2017/12/artikulasi-politik-perempuan-dalam.html
true
971126874416220402
UTF-8
POSTINGAN LAIN Not found any posts LAINNYA Selengkapnya Reply Cancel reply Delete Oleh Home PAGES Kiriman Baca Semua Rekomendasi untuk Anda LABEL ARCHIVE CARI Semua Kiriman Tidak Ditemukan Apa yang Anda Cari Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 Jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Pengikut Ikuti THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy