Angin, I Love You

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Angin, I Love You

24 December 2017

Aku hanya berharap kau menjadi “Matahari” yang selalu hadir memberikan cahaya disetiap pagi tanpa pernah hilang sedikitpun dari dunia ini. (Foto: J.W.Babur)

Seseorang yang selalu aku kagumi, ibarat seperti “Angin” . Yaa.. tak pernah menyentuh namun aku bisa merasakannya. Dia tak pernah jauh, dia selalu terasa dekat disini.. didalam hati.

Walau aku tak pernah menatap matanya, namun aku tau cahaya matanya lebih terang dari cahaya bintang dimalam hari. Bahakan, walau pun aku tak pernah melihat senyumnya, namun aku tau, lengkung senyumnya pasti lebih indah dari lengkung bulan sabit di malam hari.

Hey “Angin” , dapatkah kau merasakan apa yang sekarang ku rasakan ?? dapatkah kau peka terhadap sebuah perasaan ??

Hey “Angin” , bisakah aku menyentuhmu ?
Bisakah aku melihat senyuman mu ? Dan bisakah aku menatap matamu ?

Hey “Angin” , bisakah aku memilikimu setelah aku berusaha membuktikan cintaku?

Tapi aku takut memberitahumu bahwa aku mencintaimu.
Aku takut, setelah kau tau bahwa aku mencintaimu, kau malah membenciku dan pergi dari hidupku.

Mungkin tak sepantasnya aku memilikimu, biar saja aku pendam harapan itu jauh di dasar hatiku dan aku cukup dengan diam – diam mengagumimu.

Ketika aku merindukanmu, aku hanya bisa memejamkan mataku dan merasakanmu ada disampingku. Yaa.. hanya itu.

Tak banyak kata yang bisa ku sampaikan, hanya ini.

Walaupun berlembar – lembar kertas kutulis dengan namamu. Apakah kau akan peka ?

Walaupun beribu – ribu kata cinta kurangkai dengan sebait puisi. Apakah kau juga akan peka ?

Sekalipun kau tau, mungkin kau justru malah membenciku dan hilang dari hidupku.

Aneh memang, hanya sekejab saja aku mengenalmu tanpa pernah melihat bagaimana parasmu. Aku sudah bisa mencintaimu.

Aku sama saja mencintai “Angin” . Mungkin aku merasakanmu terlalu indah, sampai aku lupa jika kamu tak bisa ku miliki dalam dunia nyata.

Ya, hanya ku pendam saja perasaan itu. Lebih baik memendam perasaan itu dari pada memberitaukannya tapi kau malah pergi.

Tak apa, lebih baik aku menahan sakit dari pada harus kehilangan kamu dari hidupku.

Cinta itu tidak harus memiliki kan ? Cinta itu cukup melihat org yg kita cinta bahagia. Meski dia bahagia bukan bersama kita.  Itu jauh lebih baik kok.. :)

Ketika aku duduk terpejam merasakan kesendirian ditengah keramaian,

Kau datang mengulurkan tanganmu dan memberiku nafas disetiap sela langkah hari hariku..

Kau datang tanpa ku tau seperti apa wujudmu.

Kau datang tanpa ku tau seperti apa senyummu.

Setidaknya, walau dengan sebuah perkenalan singkat, kau memberiku sebuah kelegaan didalam sebuah kesesakan yang seolah menjerat hari hari yang ku genggam…

Apakah kau akan selamanya menjadi “Angin” dihidupku?
Yang hanya datang tanpa bisa dilihat, namun bisa dirasakan.

Apakah kau hanya sebuah “Pelangi” yang hanya muncul sesekali di dalam hidupku, dan perlahan pergi menghilang meninggalkanku kembali sendiri?

Aku hanya berharap kau menjadi “Matahari” yang selalu hadir memberikan cahaya disetiap pagi tanpa pernah hilang sedikitpun dari dunia ini…

Namun yang ku tahu, sekarang kau adalah “Angin”.

Aku yang berdiri menunggumu pun tak pernah tahu kapan “Angin” itu datang.

Kadang ia datang…

Namun terkadang dia menghilang…

Dia tidak pernah bisa dipahami dan mungkin dia juga tak berharap untuk dipahami…

Sekarang, setelah “Angin” itu tahu bahwa aku mengaguminya.

Dia tampak mejauh, dan perlahan- lahan pergi, menghilang dari hidupku.

Dan barulah aku sadar, ternyata “Angin” itu hanya singgah sejenak di kehidupanku, lalu pergi berhembus ke hati yang lain, mencari sebuah ruang hati yang tepat untuk ia singgahi.

Hay “Angin” , aku akan selalu berdoa di setiap aku melipat tanganku di dalam gereja dan berharap semua lalu perjalananmu berhenti di dalam sebuah pelabuhan yang tepat untuk kau singgahi.

Tapi ingatlah aku ketika kamu merasa sendiri.

Karena aku akan tetap disini.

Menunggumu.

Untuk menyapaku kembali… :)

Penulis: Remigius Nahal