Aliansi Mahasiswa NTT-Bali (Amanat-Bali) Menggelar Unjuk Rasa Kecam Kemendikbud

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Aliansi Mahasiswa NTT-Bali (Amanat-Bali) Menggelar Unjuk Rasa Kecam Kemendikbud

21 December 2017

Kami mengecam pernyatan Mendikbud tersebut, karena dinilai telah menimbulkan ketersinggungan bagi masyarakan NTT umumnya dan kami para mahasiswa NTT khususnya. Dan Mendikbud telah memberi stigma buruk terhadap kualitas pendidikan di NTT"  teriak Efraim, Koordinator Lapangan (Korlap) aksi tersebut dalam orasinya. ( Foto: RN)

Denpasar, marjinnews.com. Kecaman terhadap pernyataan Kemendikbud RI, Muhadjir Efendi, seperti yang tertulis di harian Jawa Pos edisi 4 Desember 2017 terkait komentarnya atas rilis hasil penelitian PISA terus bergulir.

Seperti kita ketahui dalam kutipan yang dimuat di harian Jawa Pos tersebut Mendikbud RI  mengatakan bahwa jangan-jangan sampelnya diambil dari Siswa-Siswi NTT semua, sehingga Indonesia menjadi urutan ke 72 atau terendah dari hasil penelitan PISA tersebut.

Atas komentar tersebut kemudian memantik respons dari masyarakat NTT karena dinilai pernyataan Mendikbud tersebut memberi stigma buruk terhadap pendidikan di Bumi Flobamora.

Aksi kecamanpun kemudian muncul dari kalangan mahasiswa NTT yang kuliah di Bali. Mereka merasa tersinggung dan menilai pernyataan dari Mendikbud ini telah merendahkan harkat dan martabat orang NTT lebih khusus dalam bidang Pendidikan.

Hari ini, Rabu 21 Desember, sekitar 100 lebih  mahasiswa asal NTT di Bali yang  yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa NTT- Bali ( Amanat-Bali) menggelar aksi demonstrasi di depan monumen perjuangan Bali Bajra Sandhi,  Renon, Denpasar.

Aliansi ini terdiri atas gabungan dari mahasiswa-mahasiswi asal NTT yang sedang mengenyam pendidikan di Pulau Dewata.

“Kami mengecam pernyatan Mendikbud tersebut, karena dinilai telah menimbulkan ketersinggungan bagi masyarakan NTT umumnya dan kami para mahasiswa NTT khususnya. Dan Mendikbud telah memberi stigma buruk terhadap kualitas pendidikan di NTT"  teriak Efraim, Koordinator Lapangan (Korlap) aksi tersebut dalam orasinya.

Para mahasiswa ini menilai, bahwa apa yang telah dilontarkan oleh Muhadjir Efendi telah melukai hati orang NTT. "Maka dari itu Mendikbud harus turun langsung ke NTT untuk meminta maaf secara langsung kepada masyarakat NTT. Sekaligus melihat langsung kondisi pendidikan yang tengah terjadi di NTT". Teriak Yansen salah satu mahasiswa NTT dalam orasinya.

"Kami sangat terluka dengan apa yang telah disampaikan oleh Pak Mendikbud. Seperti yang termuat di harian umum Jawa Pos edisi 4 Desember 2017 lalu, yang mengatakan jangan sampai sampelnya di ambil dari siswa-siswi NTT semua dalam merespons Penelitian PISA". Teriak Rian salah satu mahasiswa NTT-Bali yang saat ini sedang mengambil jurusan Hukum di Universitas Warmadewa Denpasar.

"Kemudian meminta kepada Gubernur NTT sebagai orang nomor satu di Nusa Tenggara Timur agar memberikan komentar setidaknya menyenangkan situasi karena saat ini ada pihak yang pro dan ada pihak yang kontra dalam menyikapi pernyataan Kemendikbud ini". Ujar Desi, dalam orasinya.

Terdapat Empat tuntutan mereka dalam aksi tersebut yakni, 

1. Mendesak Mendikbud untuk memberi klarifikasi terkait pemberitaan Jawa Pos, 4 Desember 2017, terhadap hasil survey PISA( Programme for Internasional Student Assessment yang dikorelasikan dengan siswa-siswi NTT.

2. Mendesak Mendikbud untuk menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat NTT serta langsung, secara khusus terhadap seluruh siswa- siswi NTT yang dirugikan atas pernyataan itu.

3. Mendesak Gubernur NTT, Bapak Frans Lebu Raya untuk mengeluarkan pernyataan menanggapi " Kisruh" akibat statement dari Mendikbud, Muhadjir Efendi.

4. Mendesak Pemerintah Pusat untuk lebih memperhatikan kualitas pendidikan di NTT.

Laporan: Remigius Nahal
marjinnews.com Bali