Abad Pengemis

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Abad Pengemis

13 December 2017


Para pengemis ini rela berbuat apapun, demi mendapatkan tujuannya. Mereka rela korupsi, menipu dan bahkan membunuh untuk memperoleh pengakuan dan kebahagiaan. (Foto: Istimewa)

Tampaknya, kita hidup di abad pengemis. Jutaan, bahkan milyaran orang, hidup sebagai pengemis di berbagai belahan dunia. Jangan salah.

Mereka bukanlah pengemis uang, melainkan pengemis pengakuan dan kebahagiaan.

Seorang pengemis pengakuan selalu haus akan pengakuan. Mereka ingin diakui dan dikenal luas sebagai orang yang hebat dan berhasil, terutama dari keluarga dan orang sekitarnya.

Mereka akan bersedih dan patah hati, bahkan bunuh diri, jika gagal mendapatkan pengakuan. Penolakan itu sama beracunnya seperti sianida.

Gejala ini dengan mudah dilihat di beragam sosial media yang ada. Lahirlah lalu sekelompok masyarakat yang dikenal sebagai banci sosial media.

Mereka selalu menampilkan hal-hal yang mengundang perhatian di akun mereka, supaya mendapatkan perhatian maupun pengakuan di dunia maya. 

Jika gagal, sakit hati dan penderitaan adalah buahnya.
Bagi para banci sosmed, yang sekaligus pengemis pengakuan, penolakan itu bagaikan tamparan keras di pipi. Rasanya menyakitkan, tidak hanya secara fisik, tetapi pada batin.

Penolakan menimbulkan rasa malu yang luar biasa. Pengakuan bagaikan udara: mereka tidak bisa hidup tanpanya.
Ada juga tipe pengemis lainnya, yakni pengemis kebahagiaan.

Orang-orang ini selalu mencari cara untuk mendapatkan kebahagiaan, semahal apapun dan sekecil apapun yang bisa didapatkan.

Mereka meminta pasangan mereka untuk membahagiakan mereka. Mereka meminta negara dan pasar untuk membahagiakan mereka dengan barang-barang ataupun penghargaan yang semu.

Para pengemis ini rela berbuat apapun, demi mendapatkan tujuannya. Mereka rela korupsi, menipu dan bahkan membunuh untuk memperoleh pengakuan dan kebahagiaan.

Semua cara diperbolehkan, asal tujuannya didapat. Para pengemis pengakuan dan kebahagiaan ini, sesungguhnya, adalah sekumpulan orang-orang licik dan tak bahagia.

Padahal, hidup itu tidak perlu pengakuan ataupun kebahagiaan. Hidup itu sendiri, jika dipahami secara tepat, adalah kebahagiaan yang sesungguhnya.

Pengakuan sosial itu sifatnya semu dan sementara, bahkan beracun, karena menciptakan ketergantungan. 

Pengemis pengakuan dan pengemis kebahagiaan adalah orang-orang yang tidak paham akan hakekat kehidupan yang sesungguhnya.

Seorang sahabat pernah bertanya kepada saya, apakah tujuan dan makna hidup ini? Jawaban saya singkat: untuk HIDUP!

Artinya, tujuan kita hidup adalah untuk hidup sepenuhnya dengan segala tantangan dan kenikmatan yang ada. Di dalam diri kita, ada energi semesta yang abadi. 

Tubuh dan pikiran hanyalah sampah dari luar yang dikumpulkan dari perjalanan hidup kita.

Ada jenis pengemis lainnya yang biasa ditemukan di jalan-jalan raya, yakni pengemis uang. Saya menduga, mereka hanya mengemis uang. 

Pengakuan dan kebahagiaan sudah mereka dapatkan dari hidup yang mereka jalani. Mungkin lebih baik menjadi pengemis uang, daripada menjadi pengemis pengakuan dan kebahagiaan.

Mungkin…

PenulisReza A.A Wattimena