Urgensitas Kerjasama Dalam Beragama

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Urgensitas Kerjasama Dalam Beragama

7 November 2017

Akan tetapi, tak jarang karena pluralitasnya agama yang dianut masyarakat Indonesia berubah menjadi lahan yang subur untuk bersarangnya kontroversial di antara umat beriman (Gambar: Istimewa)
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengarkan orang berbicara tentang kehidupan yang bercorak multireligius. Multireligius adalah hal yang berkaitan dengan pluralitas agama. Di Negara Indonesia terdapat enam agama besar yakni; Islam, Kristen Katolik, Kristen Protestan, Hindu, Budha dan Konghucu. 

Keberadaan agama ini merupakan sesuatu yang tidak dapat dilepaspisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesaia. Banyaknya agama yang dianut oleh masyarakat Indonesia telah menghantar bangsa ini selalu memupuk nilai-nilai positif yakni mencintai solidaritas. 

Akan tetapi, tak jarang karena pluralitasnya agama yang dianut masyarakat Indonesia berubah menjadi lahan yang subur untuk bersarangnya kontroversial di antara umat beriman. Konflik sering terjadi dengan mengatasnamakan perbedaan agama. 

Di sini seolah-olah eksistensi agama menjadi wadah yang menakutkan yang berintensi untuk saling memecah-belah dengan menghasut sesama umat beriman. Konflik tentu saja bukan merupakan bentuk relasi yang baik antara umat beragama untuk  mencintai solidaritas.

Eksistensi konflik dan solusi distorsi sosial
Konflik yang terjadi di Indonesia memang tidak terlepas dari eksistensi agama yang menjadi salah satu bagian dari multikultural bangsa Indonesia. Pandangan mengenai keberadaan agama menjadi pusat kontroversial, telah menjamur dalam perspektif masyarakat Indonesia. Berbagai macam kejahatan dengan mengatasnamakan agama yang berbeda, mulai dari penistaan agama hingga monopoli kekuasaan. 

Diantaranya: Menjelang peringatan kemerdekaan RI, 17 Agustus 2017, yang baru saja berlalu, kita dikagetkan oleh sebuah peristiwa pembakaran umbul-umbul “merah putih” oleh salah satu ustaz di salah satu pesantren di Bogor. Tentu ini sangat mencemaskan. Pembakaran ini jelas sebuah penistaan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tingkah yang kebablasan ini tidak berasal dari ruang hampa. Artinya ada ideologi atau pemahaman tertentu yang melestarikanya. 

Kita tahu saat ini bermunculan banyak kelompok keagamaan yang lebih mendesak simbol-simbol keagamaan dalam tafsiran picik mereka. Radikalisme yang kemudian melahirkan aksi terorisme menjadi kecemasan masyarakat yang setiap waktu bisa saja meledakan kericuhan dan mengusik kenyamanan (KOMPAS. SAID AQIL SIROJ. 5/09/17).

Perbedaan perspektif masyarakat Indonesia mengenai eksistensi agama menjadi sulit untuk dirubah karena sudah semakin membuadaya dalam diri setiap individu. Perbedaan pandangan ini dikatakan membudaya karena dalam tindakan praksis, kita sulit membuka diri untuk menerima yang lain sebagai bagian dalam kehidupan, bahkan kita sering menanyakan keberadaan orang lain dengan menggunakan kata tanya, “mengapa” dan “kenapa” dia ada. Keberadaan dari agama lain seolah menjadi batu sandungan bagi langkah hidup.

Dalam kehidupan kita sebagai umat beriman, kita harus selalu menyadari akan multikultural yang ada. Yang dimaksudkan dengan keyakinan dan kesadaran adalah bagaimana perspektif kita sebagai dasar pijak untuk melangkah tanpa melampaui batas-batas kebebasan. Pendasaran ini akan semakin kuat apabila pandangan kita selalu berorientasi pada pemikiran yang positif. Pemikiran positif yang dimaksudkan ialah pemikiran yang menghilangkan prasangka buruk mengenai keberadaan agama-agama lain. 

Dalam praktek kehidupan yang notabene kerap diwarnai dengan kemajemukan, kita diajak untuk mengikutsertakan diri kita sebagai bagian dari kemajemukan sekaligus sebagai pengendara kemajemukan itu ke arah yang lebih baik dengan meminimalkan sikap dan tindakan kontroversial yang kian memuncak. Konflik bukan merupakan solusi yang tepat untuk memecahkan persoalan mengenai kemajemukan melainkan melalui cara kerjasama yang berpretensi untuk menciptakan nuansa kehidupan bersama yang harmonis di tengah perbedaan.

Dalam konteks negara Indonesia yang majemuk (SARA) bentuk kerjasama antarumat beriman adalah cara yang mesti diterapkan. Baik kerjasama yang difasilitasi oleh masyarakat asing maupun inisiatif dari kita sendiri. Relasi seperti ini akan lebih bertahan dalam menghadapi berbagai macam ancaman karena selalu tumbuh dari kebutuhan yang mengakar dalam setiap refleksi yang dibuat oleh masing-masing kelompok umat beragama. 

Kendati demikian, Forum yang berbaur kerjasama seperti salah satunya yaitu Forum Kerjasama Antar-umat Beragama (FKUB) sejatinya dapat memberi kontribusi yang intensif guna membangun relasi yang baik antara umat beragama khususnya tatkala agama masih terlampau dalam kungkungan kecemasan dan kecurigaan untuk saling mendekati. Forum seperti ini sangat membantu untuk membangun toleransi dan mengatasi konflik (Paul Budi Kleden: Agama Dan Terorisme, hlm 19). 

Forum kerjasama di atas tentu mempunyai dampak yang sangat luar biasa bagi daerah yang multicultural dibandingkan dengan daerah yang bukan majemuk. Dikatakan demikian karena berbagai macam ide atau pengalaman yang berbeda dari setiap individu akan dicetuskan sehingga dapat menciptakan keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat. 

Oleh karena itu, sebaiknya diberbagai tempat, forum kerjasama antara umat beragama yang demikian sangat penting dibangun mengingat FKUB mempunyai peran yang hakikat dalam kehidupan kita sebagai masyarakat yang multikultural.   

Hemat saya, kerjasama adalah fundamen yang harus dibangun dalam kalangan masyarakat. Kerjasama yang dimaksudkan adalah kerjasama yang bukan untuk melakukan tindakan kekerasan melainkan kerjasama untuk membangun negara Indonesia yang cinta damai. Kerjasama yang dilakukan sebenarnya bukan hanya bertujuan untuk memecahkan konflik, melainkan lebih dari itu, untuk saling memahami dan saling menghargai keberadaan orang lain. Negara Indonesia adalah negara yang bersifat multikultural dan itu merupakan kekhasan bangsa Indonesia sendiri. 

Oleh karena kekhasannya ini maka bangsa Indonesia menjadi bangsa yang menarik bagi bangsa-bangsa lainnya di dunia. Akan tetapi semunya itu menjadi tercoreng oleh tindakan masyarakatnya sendiri yakni dengan melakukan penistaan, kekerasan dll. Oleh karena itu, ada baiknya kita selaku warga negara yang beriman, kita membangun sikap toleransi di antara kita sehingga tercipta kehidupan bersama yang harmonis, tentram dan damai. Penulis meminjam kata Paul Budi Kleden; “Kerjasama antara umat beragama adalah solusi yang tepat dalam membangun masyarakat yang adil dan sejatera”.  

Oleh: Arfey Silfester
San Camillo, 28 Oktober 2017