Terantuk di Alinea Terakhir


Setelah menjungkirbalik pikiranku dengan pengalaman, aku  mengangkat daguku lebih tinggi dan berjalan ke arah rumah tak berpagar itu. Rupanya aku disambut dengan kepulan wangi pisang goreng yang biasa di goreng bersama dengan pekerja di setiap akhir pekan seperti ini (Gambar: Istimewa)
Langkahku tegap memeluk pagi yang menghantarku ke kantor berukuran sedang itu. Kerikil-kerikil pada setapaknya sejenak membuat bibir tak berbalut lipstikku merekah memandang rumah yang tak disadari dunia telah bergulat dengan banyak warna di dalamnya, sampai sajak ini tiba di paragraf pertamanya dan sesekali dari rumah yang adalah kantor tempat kerjaku juga, menampakkan tawa renyah dari kami atau sekedar sapa hangat dari segelintiran sapa yang terlebih dahulu ditekankan oleh bosku. Pria yang berani keluar rumah dan pergi ke lorong-lorong membuka kameranya dan memotret nenek tua bergigi bayi lengkap dengan sirih dan senyum lebarnya. 

Pria yang kemudian menundukkan kepala dengan pelan dan bersalaman dengan sejuknya pekarangan pantai di sore hari. Pemandangan serupa yang tak hanya berujung di senja tetapi juga sampai pada potret anak ingusan yang dia dekati lalu ikut memburu tikus bersama anak-anak dengan tatapan polos itu, kiranya adalah gambaran bagaimana teduhnya kantor kami, tetapi lagi,aku lebih suka menyebutnya rumah. Karena memang itu adalah rumah kami. Dan tentang penjelasan panjang mengenai bosku ini, jawabannya adalah akulah asisten yang selalu bersama dengannya. Menghampiri pekerja di kebun atau sekedar itu tadi, memotret reaksi manusianya dalam pikiranku yang selalu kukagumi secara diam-diam. 

Karena aku tau pasti, pengungkapan akan pujian baginya hanyalah bumbu yang tak selalu dianggap penting olehnya. Yah, mungkin baginya paling penting adalah melihat, meniru dan mengaplikasikan kata-kata itu. Tapi entahlah, aku tak paham jalan pikirannya sejak dia hanya menatapku sejenak dan memberi senyum tak berbahasa di senja dalam rintiknya di bulan November kali lalu kala aku memuji tawa lepasnya yang berbau kasih kepada pedagang terang bulan di pinggir jalan itu.
  
Setelah menjungkirbalik pikiranku dengan pengalaman, aku  mengangkat daguku lebih tinggi dan berjalan ke arah rumah tak berpagar itu. Rupanya aku disambut dengan kepulan wangi pisang goreng yang biasa di goreng bersama dengan pekerja di setiap akhir pekan seperti ini. 
 
''Silahkan makan tuan putri''. Sahut bapak Ako  seperti anak lainnya yang mengistimewakanku di setiap kesempatan. Mungkin karna akulah satu-satunya wanita sepanjang perjalanan rumah ini terbentuk sejak perusahaan ini dirintis oleh bosku dan mengulurkan tangannya ke arahku di bawah rintik-rintik di jalanan kota  bertahun-tahun lalu dan menawarkan pekerjaan menjadi asisten ini. Hingga aku dan dialah yang mencari rumah ,lalu membersihkan tempat ini. Hingga kusaksikan sendiri bagaimana dia memilih pekerjanya seperti Yesus yang persetan dengan formalitas untuk memungut murid-muridnya. 

Hingga kini dapat kamu saksikan pak Ako yang berbadan gempal imut pecinta masakan, lalu Riki anak muda pecinta alam dan suka tantangan baru, hingga Dedi penggagas rumah bermodel bagai serambi yang hanya mempersilahkan pemiliknya untuk duduk bersila berbentuk lingkaran. Mereka adalah pemuda dan tua yang dipersilahkan bosku dari jalanan, dari Dedi yang melepas masa kanak-kanak untuk membantu orangtuanya menjual kue basah berwarna hijau di jalanan dengan senyum hangat yang menikmati hidupnya dan kisah lain yang ditawarkan masing-masing mereka.
 
Oh iya, aku lupa menjelaskan bagaimana perusahaan ini bekerja. Perusahaan ini membuat sereh wangi menjadi bahan berkualitas dengan proses seduhan yang sederhana  lalu menjadi bahan mentah yang diekspor ke luar negeri menjadi barang yang gampang kau temui pada parfum yang membuktikan wangi sereh mungil ini, make- up, minyak-minyak bayi dan barang lainnya yang biasa kau temukan di mall besar, toko, pasar dan warung. Menjangkau semua lapisan.
 
Setelah kami santap bersama pisang goreng renyah itu, semua lalu bergegas ke kebun dengan sukacita.  Meninggalkan aku dengan bos berbadan tegap  dengan tinggi 165 cm itu. Membuatku agak mendongak bila harus berbicara dengannya.
 
"Hana, kamu disini bersihkan rumah yah? Aku akan pergi ke luar kota hari ini dan kembali besok pagi. Sayur untuk makan siang hari ini sudah aku letakkan di dapur,tinggal kamu beli dengan tempe dan tomat lalu campur sedikit dengan lombok di belakang dapur yang sudah memerah hari ini." Jelasnya singkat. Pria jago masak ini sangat peduli dengan urusan dapur walaupun yah, dia akan keluar kota. Dan seperti biasa, semua berlalu dengan semestinya. Dia berlalu dengan mobil avanza putihnya.
 
Aku mulai menyapu lantai dan sesekali merapikan foto kusam kami dari zaman dimana sereh wangi itu ditanam,dipupuk dan bertumbuh dengan baik berbalut wajah semangat kami. Lalu perlahan aku menjinjit kakiku  menggapai rak buku di ruang bosku. Buku-buku motivator berjudul "l'am a leader" masih terbuka di atas rak itu. Dan penasaran dengan halaman terakhir yang dia baca, aku mulai mengangkat pelan tanganku, tapi "bruuukk". Buku-buku itu jatuh tepat di atas  kepalaku. Sakit.

Perlahan ku pungut satu persatu buku yang tercecer di lantai yang sudah kubersihkan itu. Dan mataku tertuju pada satu buku kecil kusam yang paling menonjol diantara buku-buku besar dan bersampul rapi lainnya. Dengan sedikit hembusan napas,ku tiup hati-hati buku mungil itu.

"Who Am l?"
Sampul  berjudul singkat itu lagi-lagi menarik minatku untuk membaca ratusan buku yang selalu setia dibaca dengan secangkir kopi pahit bercampur pisang goreng setiap harinya entah di pembuka hari atau peraduan senja menunggu malam oleh bosku. Aku mulai bergetar ketika kulihat tulisan itu adalah tulisan tangan yang sama persis dengan laporan singkat yang harus ku ketik untuk kepentingan kantor yang diberi bosku. Tetapi jiwa berontakku muncul lagi untuk menggali jawaban panjang  atas pertanyaan singkat di sampul buku mungil itu.

Aku adalah pria ingusan yang terlahir istimewa dengan gelarku sebagai anak bungsu di tengah keluarga besarku. Anak ingusan yang sempat merasakan gerahnya bermain karet di jalanan dan kembali ke rumah disambut mesra mama yang langsung menyuruhku makan atau ayahku yang biasa mengajakku ke kebun hanya untuk sekedar melihat hasil tanamannya dan pulang kembali ke rumah dan berkali-kali memaksaku mandi. Anak kecil.
 
Aku mungil dalam pengertian ketika tiba-tiba kelas 5 SD aku dihadapkan pada sakit tak bertuan setelah ayah meninggalkanku bukan barang sekejap. Tapi untuk selamanya. Dan lebih menyakitkan adalah air mata polos itu adalah air mata tanpa makna yang tak tahu betul akan arti kehilangan  dari kebersamaan yang telah kami rajut bersama kakak-kakakku yang Tuhan anugerahkan berpasang-pasangan 3 laki-laki dan 3 wanita. Hal yang aku pahami sedikit dari perbincangan kakak-kakakku waktu itu hanyalah ayahku seorang yang bertanggungjawab akan kepergiannya yang seakan tidak berusaha merajuk waktu  untuk sedikit menunggu setidaknya aku tiba dewasa dalam pengertian akan hidup ini. 

Dia adalah kapten yang telah membawa kapal kami berlabuh dengan baik, ayah meninggalkan 3 rumah untuk diwariskan bagi kami anak laki-lakinya. Entahlah,mungkin persiapan matangnya untuk anak-anak justru membuat dia terlihat tersenyum dalam pejamannya yang terakhir. Aku tak paham baik ayah, tapi rumah kita adalah keluarga yang utuh seharusnya. Itulah berontakku kini, jika aku membayangkan dengan jernih lagi senyum damai itu ke hadirat Tuhan. Andai bisa ku tukar 3 rumah itu dengan 3000 ribu tahun lagi bersamamu, akan ku pastikan bahwa akulah si bungsu yang siap menopangmu pada usia rentamu dan membasuh bilur-bilurmu. akh, coretan panjang jika berbicara tentangmu ayah.

Aku lalu mengembara dalam pendidikan yang cukup menggelitik. Aku berdiri sebagai anak SMA yang penuh perhitungan pada semester awalku di kelas satu. Mungkin karna segala perhitunganku itulah aku memutuskan berhenti sekolah. Yah, aku sudah berdiri sebagai pria pekerja dan bersekolah. Bayangan akan 3 tahun SMA ditambah 4 atau 5 tahun kuliah dalam formalitas membuatku jenuh bahkan sebelum menjalaninya, mempertimbangkan uang hasil kerjaku selama ini dari penjualan ikan yang menjanjikan keuntungan setiapk harinya dikali beberapa tahun lagi bila aku lebih giat Sangat menggiurkan.

Niat itu bukan mainan semata dari zaman labil yang sering dipasangkan orang-orang akan usiaku. Aku pergi belajar merayu ibu-ibu di pinggir jalan untuk membeli ikan-ikan segarku,ikan-ikan tanpa pengawet. Akh, jiwa jualku kambuh lagi. Tiga tahun kiranya bukan usia muda aku bergulat dengan kebiasaanku. Aku sungguh menikmatinya dulu. Menikmati hasil dari keringatku yang bukan hanya sekedar sejumlah uang hasilk pertimbangank singkat melepas sekolahku tetapi juga berhubungan dengan masyarakat dengan cara-cara yang kutemukan sendiri dalam pengalaman.
 
Mata bulat gadis dengan lekukan pipi yang menimbulkan kekaguman itu menghentikan aku dari motorku. Dia adalah cinta monyet yang orang katakan sekarang, tetapi seakan ku ingkari waktu itu. Tak semudah itu lepas dari tatapannya. Ikan-ikan segar yang masih tak siap untuk diberi ke pembeli sudah mulai was-was ketika aku berhenti. Baju putih abu-abunya menarik mata. "Hallo Itin, kamu apa kabar?". Tanyaku pelan. 

"Kamu jual ikan sekarang? Kamu ganteng Ver. Kamu punya kemampuan. Kamu harus melanjutkan sekolahmu." Aku malu, sapaanku disambar dengan peringatan keras. tetapi sejak itulah aku mulai benar-benar merasa pendidikan itu penting. Berawal dari diriku yang tak karu-karuan berpakaian yang selalu kubandingkan dengan rapi cantiknya wanita bertahi lalat itu,yang  sungguh jauh berbeda. Malu, aku malu. Egoku mulai muncul. Aku harus mengejar ketertinggalan akan pengakuan dimatanya. Yah, cinta masih berkuasa diatas segalanya. Dia adalah penggerak paling mutlak.
 
Aku lalu mendaftarkan diri di sekolah yang memberiku kesempatan langsung naik di kelas 3 SMA. Menyenangkan, bahwa aku hanya perlu menyerahkan sejumlah uang 200 rbuan waktu itu yang kurasa sanggup kubayar dari hasil penjualanku. Semua aman terkontrol. Kini aku adalah pemilik seragam abu-abu. Tapi aku janggal dalam alasanku, wanita bertahi lalat itu kini telah hilang kabar. Tapi yah, mungkin aku harus mengiayakan cap dunia bahwa itu hanya sekedar cinta monyet. Aku adalah pria pengembara yang selalu mencari alasan untuk menikmati setiap keputusanku.
 
Entahlah, dalam kisahku selalu ada 'tetapi' besar. Tamat SMA aku tak digubris kakakku akan niatku melanjutkan pendidikanku yang sudah mulai membuatku ketagihan sejak hari dimana aku merelakan diriku jatuh pada kesempatan yang diberi waktu sendiri. Aku paham baik ini hanyalah hasil alam yang telah menunjukkan lebih lama dalam 3 tahunku untuk bekerja. Kakakku mungkin dan memang tak berani investasikan seseorang dengan keputusanku yang tak menentu. Tapi aku berontak kala itu, aku menangis. Sudut pandangku hanyalah ku ukur dari niatku bukan pada perjalanan panjangku yang memang wajar bila direspon seperti ini. Bayangkan uang yang kuminta bisa ku tanggung sendiri untuk biaya pendaftaran awal masuk perguruan tinggi tetap tak digubris. Aku merasa bahwa Sungguh kejamnya keputusan polosku dulu.
 
Tuhan memang selalu mengingkari dunia jika kita punya keyakinan. Aku yang berniat ternyata didengar Tuhan. Tak tanggung-tanggung lewat jalan mulut kakak yang pulang kampung dari kota metropolitan,aku diajaknya kuliah ke kota Jakarta. Dan setelah meluruskan niatku, aku tanpa keraguan kemudiam memantapkan niat dan pergi. Dan tentang kakak-kakakku rupanya kepergianku ke kota besar sedikit mengunggah nurani mereka. Aku diberi pelukan dan airmata perpisahan.
 
Rupanya menjadi pekerja dan berpendidika berlanjut dalam kuliahku. Semua berjalan lancar sesuai dengan pribadiku yang menerima diri diproses. Hingga skripsiku tiba untuk dikerjakan. Aku mendapat kabar baru dari kakakku yang tak kalah rumitnya dengan judul skripsi matematika yang menjadi jurusan pilihanku. Aku diharuskan pulang karna mama semakin tak berdaya dengan sakit panjangnya. Mama terserang  stroke.
 
Aku pulang dengan segala piluku. Membayangkan wajah tak berdaya mama yang dimakan usia dan skripsi yang harus segera kutuntaskan.
 
Seminggu di kampung dengan segala melankollis yang dihadirkan dari suasana menegangkan itu, membuatku berpikir bahwa aku harus kembali ke jantung Indonesia menyelesaikan tugasku. Mama walau tak berdaya tapi tak menimbulkan kekhawatiran bagiku. Aku lalu ke kota kabupaten,untuk booking tiket pesawat yang kutargetkan menghantarku besok. Aku yang memakai motor dari kampung merebahkan diri di kasur kos temanku hendak melepas lelah.

Tetapi rupanya aku harus dibangunkan lagi dengan telefon dari kampung yang mengabarkan mama sudah sekarat. Aku melaju dengan kencang tanpa hiraukan dinginnya kota Ruteng. Rumah sudah penuh dengan orang-orang. Aku yang sendiri dengan motorku perlahan masuk ke rumah yang kulihat sebagai sayatan yang teramat dalam. Aku mendekati ranjang ibu yang terlihat tertatih dengan napasnya. Dengan lututku yang lemas, aku meringkuk disampingnya. Meminta maaf akan segala kesalahanku dan ucapan-ucapan lain yang susah ku artikan. Dan perlahan aku mundur dan meminta diri kepada kakak-kakakku dengan niatku berangkat besok. 

Dengan pengertian yang mungkin tak seluruhnya ikhlas, aku hanya yakin bahwa mama akan kuat seperti sebelumnya dengan cap-cap orang akan sakit parahnya itu. Entahlah,aku berlalu  dengan segala yakinku kali ini akan niat menyelesaikan skripsiku demi masa depan dan tanggungjawab sebagai pria sejati untuk segera menyelesaikan apa yang sudah kumulai dalam pendidikanku.
 
Dengan mengejar waktu besok paginya, aku lagi-lagi melaju dalam kecepatan tinggi untuk sampai diujung barat Manggarai dari ujung tengah.
 
Aku berhenti di persimpangan jalan dalam setengah perjalanan. Hpku bergetar dari saku celana dan ada telefon masuk. "Mama sudah meninggal." Kata kakak sepupuku pelan dan gusar. Aku meneteskan air mata. Kenapa kalian pergi semua. Ayah pergi dengan bekas senyuman, tapi tahukah engkau  ibu? Kenapa nafas itu tak kau hembuskan tepat di depanku tadi hanya untuk sekedar dunia paham bahwa aku juga disampingmu di saat nafas terakhirmu. Aku melaju lagi, bukan untuk kembali ke kampung membagi kesedihanku tetapi ke ibukota Jakarta untuk membulatkan niatku selesaikan skripsiku. Aku tak mau terjebak nostalgia kesedihan dan kepahitan mengenang senyummu ibu.

Aku menangis dan memaki bosku. Dan kuremas dengan keras buku diary itu. Sungguh kejam dia tak merelakan setidaknya satu hari  hidupnya untuk sedikit kembali walau hanya sekedar mengecup kening ibunya. Aku tak paham dan aku menangis sendu.
 
Tempat tidurnya yang tak jauh dari rak buku itu membawaku pada pembaringan. Tak apalah aku melepas lelah dari gulatan pikiranku. Toh bos yang tiba-tiba menjadi gurat tak baik dalam hatiku sebagai hasil pemikiran polosku,baru kembali besok pagi.

Selimut tebal yang membungkus kulitku mengagetkan aku ditengah malam. Akh, aku ketiduran dan tak tau diri. Dan mataku mengarah kepada pria  yang kelihatan sexy dengan baju santai namun kelihatan berpikir keras disudut meja sana. Rupanya bosku datang lebih cepat dari ucapannya. Aku malu mendapati diri bersandar dibahu kamarnya. Tapi segera ku pasang tampang tak suka dan menanggalkan begitu saja selimut yang dia pasangkan untukku dan berlalu. 
 
Diary itu tiba-tiba sudah kulihat dimejanya bersama lipatan terakhir yang kulihat.  Aku berlalu. Dia pasti paham baik jika dia melihat dari sudut pandangku. Tapi akh, terserah. Aku berlalu dengan sekali lagi meneteskan airmata, entah kasihan atau mengasihinya namun membencinya di saat yang bersamaan.
  
Aku berjalan menyusuri pantai sambil sesekali membiarkan kakiku disapu ombak kecil yang menepi. Senja itu aku izin tak masuk kerja lewat pesan singkatku.
 
Pria berbaju putih ku lihat samar-samar dengan mantap kearahku. Akh, bosku. Aku memalingkan perhatian ke arah lain.
 
"Hidup ini tak gampang untuk dijadikan drama Han, yang gampang saja sutradaranya mengarahkan kita menjadi siapa dan bagaimana. Kita ini perasa sekaligus pemikir. Kitalah aktor utama hidup ini. Semua pengalaman pahit itu bisa kuceritakan dengan senyum sekarang. Aku menerima diriku sebagaimana adanya pada setiap setapak yang kulalui. Kalau engkau mau bertanya mengapa aku bisa setegar sekarang ini,jawabannya adalah aku ingin memotivasi dunia bahwa dari rahim kesusahan apa pun, hidup adalah gairah yang jatuh ke ujung bumi yang perlu dipupuk dan diserap gairah itu sendiri entah apa pun wujud pupuk itu."
 
"Aku menyelesaikan skripsi dan lulus  tepat waktu. Dan ku minta kakakku datang sebagai perwakilan wujud kehadiran orangtuku. Aku menghadiahkan liburan sebulan untuk mereka di Jakarta dengan uangku. Aku hanya ingin membagikan sedikit dari luapan rasa cintaku di hari wisuda itu, yang entahlah hasil dari rindu akan kedua sosok bapa mama dan juga bukti keputusanku tidak kembali ke pangkuan mama di kala itu  yang aku paham baik kini bahwa dia pergi tanpa mau membekaskan luka tepat di depan anak bungsunya". Lanjutnya buatku menahan airmata.

"Mengapa aku memilihmu diantara sejuta kriteria di luar sana untuk menjadi bagianku? Kami tau kenapa?. Aku jatuh hati padamu sejak kuperhatikan engkau dari sudut kota dimana dengan mesra kau payungi anak kecil yang kehujanan dan kelihatan lapar di samping jalan itu. Dan membiarkan dirimu dikenai rintik-rintik tak berperasaan yang membasahimu.  Namun kau tetap setia dengan senyum manismu menemani anak itu melahap habis roti yang kau bawa serta. Aku tau kamu adalah wanita yang bisa diajak ke masa depan, memanusiakan manusia biasa yang punya sisi gairah dan kadang butuh malaikat untuk menjembatani hidupnya. Atau sekedar berbagi harap dalam setiap perjumpaan dengan pribadi lain." Ungkapnya selesaikan celoteh yang tak biasanya sepanjang ini. Dia yang sering mencapku sebagai Anies yang pandai  berteori, kini terjebak dalam kalimat panjang. Rupanya cap dalam pribadinya sebagai Ahok yang sigap dalam tindakan,kini dibumbui dengan kehadiran Anies dalam dirinya.

Aku terantuk pada alinea terakhir saat kuceritakan ini. Bingung menguraikan sepenggal senja dalam romansa. Walau aku terantuk, Tapi engkau tahu itu adalah usahaku untuk meneruskan perjalanan ini seperti perkataan Mata Najwa yg dulu sering kau tonton di serambi setiap sore dengan headset putihmu bersama pisang goreng yang renyah di setiap akhir pekanmu,bahwa aku siap terantuk bersama segala kurangku untuk sedikit terbentur olehmu agar aku mampu terbentuk dan siap bangun kisah ini bersamamu untuk sekedar paham bahwa engkau di masa lalumu telah mengalami kerasnya hidup dan genggaman tanganmu serta kecup manismu di bibir pantai kala itu menawarkan masa kini dan masa depan kita yang telah kau nyatakan siap kau arungi bersamaku yang kau tau pasti telah ku simpan gumpalan-gumpalan rindu untuk mendekapmu selama ini. 

Dan entahlah, aku bukan lagi tertarik dengan setiap keputusan bijakmu di kantor atau keputusan cerdasmu untuk membangun sendiri perusahaan ini tanpa terikat jerat-jerat dari bosmu yang lain, tetapi aku lebih tertarik kepada masa lalumu dimana engkau siap bangkit dan selalu punya daya untuk membagikan kasih dari keputusanmu sendiri,melihat patahan itu bukan sebagai alasan merengek tetapi sebagai jarum yang menyatukan setiap kepingan-kepingan itu menjadi jahitan yang berkelas. Terima kasih kesempatan, tak akan ku buat kisah ini terbentur di tengah paragraf tanpa mau terbangun  walau mungkin akan terantuk lagi. Karena engkau meyakinkanku jalan ini adalah persimpangan yang bisa membawa kita kepada hidup merdeka dengan segala hasrat suci dari setiap suguhan hidup. mencintaimu pangeran tak berkuda. Pangeran kodok. Bernyanyi nyaring setiap malam melelapkan aku di bahumu yang kini dengan gampang kau usap air mata ku jika sesekali aku mengingat perjalanan panjangmu yang tak membuatmu lelah tetapi semakin menapaki setapak ini dengan setia. Ajarkan aku.

Oleh: Tini Pasrin

COMMENTS

Name

Artikel,140,Bali,111,Bedah Buku,1,Ben Senang Galus,1,Bencana Alam,1,Berita,146,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,3,BPJS,1,Budaya,41,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,175,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,539,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Dari Kami,2,Demokrasi,22,Denpasar,18,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Donny Isman,1,DPR RI,4,E-KTP,4,Editorial,34,Ekonomi,5,Ekspresi,1,Ende,6,Entrepreneur,1,Feature,36,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,11,Focus Discussion,4,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,gaya hidup,4,Gedged,1,Gempa,6,Gereja,3,Gereja Katolik,3,Gerindra,1,GMKI,1,GMNI,3,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hiburan,25,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,62,Human Trafficking,4,IBT Expo,1,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,1,Indonesia,1,Indonesian Idol,8,Inspirasi,13,Internasional,16,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,5,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jawa Timur,1,JK,1,Jogyakarta,2,Jokowi,18,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,272,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,4,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,kecelakaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,2,Kemanusiaan,62,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,154,kepemudan,8,kerohanian,2,Kesehatan,8,Ketahanan Nasional,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,60,KPK,12,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,51,Kritik Sastra,4,Kupang,24,Labuan Bajo,51,Lakalantas,9,Larantuka,1,Lembata,2,Lifestyle,6,Lingkungan Hidup,15,Literasi,14,lombok,1,LP Cipinang,1,Luar Negeri,4,Mahasiswa,41,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,4,Malang,3,Manggarai,112,Manggarai Barat,20,Manggarai Timur,24,Marianus Sae,1,Marion Jola,3,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,7,Media,2,Media Sosial,3,Medsos,2,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Milenials,52,Motang Rua,1,Muda Petani,1,musik,1,Narkoba,8,Nasional,275,Natal,19,Ngada,7,Novanto,2,Novel,16,NTT,200,Nyepi,2,Olahraga,11,Opini,400,Orang Muda,15,Otomotif,1,OTT,2,Papua,15,Pariwisata,26,Partai Politik,25,Pasangan,16,Paskah,2,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,Penerbangan,4,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,20,Perindo,1,Peristiwa,1032,Peritiwa,2,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,41,Pilkada,102,Pilpres 2019,23,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,22,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Pojok Redaksi,34,Polisi,25,politik,90,Politikus,6,POLRI,5,PP PMKRI,1,Pristiwa,31,Prosa,1,PSK,1,Puisi,85,Puteri Indonesia,2,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,4,Refleksi,15,reformasi,1,Regional,6,Religi,2,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,26,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,9,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,2,Sekilas Info,23,seleb,1,Selebritas,18,Sidoarjo,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,19,Sospol,39,Start Up,1,Suara Muda,45,Sumba,8,Surabaya,36,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,11,Tentang Mereka,44,Tenun Manggarai,1,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Togar Situmorang,6,Tokoh,17,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,1,traveling,9,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,2,Viral,3,Wisata,4,Wisuda,1,WNA,1,
ltr
item
Muda Membaca Dunia: Terantuk di Alinea Terakhir
Terantuk di Alinea Terakhir
https://4.bp.blogspot.com/-16szbt1STwI/WhHsw3cVkII/AAAAAAAACH8/AjuHD1a_JvEkrzbfVDyPu9X7w3Zo1b62gCLcBGAs/s320/siluet-orang-laki-pantai%2BMarjin%2BNews%2BTini%2BPasrin.jpg
https://4.bp.blogspot.com/-16szbt1STwI/WhHsw3cVkII/AAAAAAAACH8/AjuHD1a_JvEkrzbfVDyPu9X7w3Zo1b62gCLcBGAs/s72-c/siluet-orang-laki-pantai%2BMarjin%2BNews%2BTini%2BPasrin.jpg
Muda Membaca Dunia
http://www.marjinnews.com/2017/11/terantuk-di-alinea-terakhir.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2017/11/terantuk-di-alinea-terakhir.html
true
971126874416220402
UTF-8
POSTINGAN LAIN Not found any posts LAINNYA Selengkapnya Reply Cancel reply Delete Oleh Home PAGES Kiriman Baca Semua Rekomendasi untuk Anda LABEL ARCHIVE CARI Semua Kiriman Tidak Ditemukan Apa yang Anda Cari Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 Jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Pengikut Ikuti THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy