Tentang Engkau, Aku Merindu: Lirik Prosa Constan Aman
Cari Berita

Tentang Engkau, Aku Merindu: Lirik Prosa Constan Aman

8 November 2017

Tak perlu disembunyikan lagi engkau memang abstrak untuk ditebak namun selalu merona dalam jiwa (Foto: Vindy Kakul/marjinnews.com)
Pesona jiwaku, apa kabarmu, berharap kau masih sesejuk angin timur di taman kerinduan, bermekar bak kelopak putih bersemadi di atas tiang-tiang cinta nun jauh di pelupuh hati,
Yah, aku masih berjuang mengenalmu walaupun keyakinan itu sebenarnya telah lama berpaling,
namun dari dirimu t’lah kutemukan sepijak kisah keramat yang tak kunjung tamat oleh perputaran masa,
barangkali inilah yang dinamakan dengan keyakinan irasional,
Ah, Kadang aku larut dalam egoku yang tak pernah malu dengan perasaan konyol itu,
Tak perlu disembunyikan lagi engkau memang abstrak untuk ditebak namun selalu merona dalam jiwa.
Konyol bagi akalku, namun benakku tetap yakin dan bangga akan arti dari sebuah memiliki yang kuraih saat cinta hampir terkaram di dasar jiwamu,
Entah itu dalam mimpi, entah lewat harapan ataukah lewat khayalan-khayalan hampa yang selalu bergentayangan tiap kali sepi bermusim,
Seandainya aku berteguh dengan waktu, mungkin t’lah terukir sejarah indah yang terus bersemai hingga masih terjilid rapih.
Entahlah
Biarkan waktu yang bersaksi,
Dan kita tak mampu mengelak dari perputarannya,
Kadang kita berjuang untuk menolaknya
Namun memilih menjadi bagiannya sudah menjadi sangat berarti,
Sekarang kita berada dipersimpangan antara kini dan nanti
Namun tentang engkau, aku tetap merindu.

*********
Senja kembali membiaskan cahaya jingganya,
Berpendar menyelimuti lorong-lorong hampa kebisuan,
memenuhi dunia yang sejenak terlelap ditelan sepi,
Aku berpatung diri,
Membiarkan angin terus berhembus mengiringi raga yang dingin. sebenarnya tak ada yang lebih dingin dari rindu yang kian membeku
Kucoba merasakan semilir kehadiranmu,di atas ambang kabut senja, sembari terus menyapa bayanganmu yang t’lah terpancar jelas di awan,
Namun kecemasan selalu membuatku ragu
Bahwasannya di atas langit masih ada langit yang tak mungkin untuk diraih,
Kini dan di sini,
Bersama alunan senja, aku selalu melukiskan paras cantikmu,dalam balutan kanfas keheningan dan menggoreskannya dengan tinta jingga yang Tuhan t’lah sematkan dalam kilauan sun set yang lembut selembut senyumanmu, 
Imajiku selalu yakin, engkau sedang bertahta di balik peraduan senja,
Kubingkiskan sepotong senja ini untukmu,
dengan doa yang tak pernah putus asa,
lewat dering tasbih yang memanggil hati dijadikanya sunyi,
ingin tetap mencintaimu walaupun terkadang basa-basi.
justru masih tentang engkau aku sangat merindu

*** 
Malam mengabarkan kisah diantara mimpi-mimpi menjuntai,
Penuhi setiap jengkal isi kepala tanpa bisa temukan rahasia di balik semesta,
Menuntun onggokan suka-duka datang bergantian penuhi ruang kamar setiap detail imajinasiku
Hadir bersama bayangan-bayangan baru-melekat erat di dinding tanpa penyekat 
Seolah menyeret dan mengikat sebagian jiwa—hingga tak mampu lagi berkelana. 
Kemudian menyergap dan menyekap dalam gelap—membuatku terkurung dalam tanda tanya—dimanakah kiranya aku berada. 
Sementara aku hanya bisa menebak—diantara dua tebing pikiran tanpa jembatan—yang bisa membuatku terjungkal, ketika melangkah.
Mungkin harus kutegaskan dalam goresan-goresan. 
Sebab kita hadir layaknya seorang musafir kemudian sama-sama meramu kisah di padang belalang, 
melintasi tempat dimana kita pernah penuhi janji
akan indahnya hari tua bersama Diandra mahkota yang kita impikan
walaupun terkadang dunia membenci,
bersama bait-bait puisi kita telah tempuhi bersama
dalam jengkal-jengkal rindu yang selalu mengalun

Lirik Prosa: Constan Aman
Pemulung kata di gubuk tua-bukit pepaya